Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Latihan Intensif


__ADS_3

Sorotan matahari sore menyinari lapangan di dekat sekolah Ima, tempat para siswa berkumpul untuk latihan drama. Ima, yang baru saja ditunjuk sebagai pemeran utama dalam pertunjukan sekolah mendatang, merasa deg-degan. Tanggung jawab besar itu terasa menumpuk di pundaknya. Ia duduk di tepi panggung, memandang ke arah panggung yang menjadi tempat aksinya nanti.


Suara gemerisik daun-daun pohon dan aroma bunga-bunga yang mekar di sekitar lapangan menenangkan pikirannya. Ia meraba sehelai bunga yang tumbuh di sampingnya, merasakan lembutnya kelopak bunga di jari-jarinya. Rasanya seperti pesan alam bahwa segalanya akan baik-baik saja.


Ana, ibu angkat Ima, duduk di sampingnya, melihat keraguan di wajah anaknya. Dengan lembut, Ana menyentuh bahunya dan berkata, "Ima, kamu pasti bisa melakukannya. Kamu telah berlatih keras selama ini dan memiliki bakat alami untuk berakting. Percayalah pada dirimu sendiri."


Ima menoleh ke arah Ana dengan senyum kecil. "Terima kasih, Ibu Ana. Tapi, saya masih merasa sangat gugup. Ini peran besar, dan semua orang di sekolah pasti akan menonton."


Ana tersenyum hangat. "Itu karena kamu luar biasa, Ima. Kamu mendapatkan peran ini karena kamu adalah yang terbaik. Sekarang, mari kita latihan lagi. Saya akan menjadi lawan bicaramu."


Mereka mulai latihan dialog, merenungkan dan menghayati perasaan karakter mereka. Suara gemercik air sungai di dekatnya menciptakan latar belakang yang menenangkan. Ana dengan cermat memerhatikan gerakan tubuh Ima, memastikan setiap ekspresi dan gerakan sesuai dengan karakternya.


Sesaat kemudian, mereka berhenti sejenak untuk menghirup udara segar. Ima mengangkat wajahnya ke langit biru yang cerah, menikmati sentuhan angin lembut di wajahnya. "Ibu Ana, bagaimana saya bisa mengatasi rasa gugup ini?"


Ana menjawab, "Rasa gugup itu wajar, Ima. Bahkan aktor terkenal pun merasakannya sebelum naik ke atas panggung. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola gugup tersebut menjadi energi positif. Ingat, kamu adalah karakter ini, dan kamu akan membawanya hidup."


Ima mengangguk. "Anda benar, Ibu Ana. Saya akan berusaha yang terbaik."


Mereka melanjutkan latihan dengan semangat yang lebih besar. Ana memandu Ima melalui berbagai emosi yang harus diekspresikan oleh karakternya. Mereka mengulang-ulang dialog sampai Ima merasa nyaman dengan setiap kata dan gerakan.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, matahari mulai merunduk di balik pepohonan, menciptakan bayangan yang panjang di lapangan. Ima merasa lebih percaya diri dan siap menghadapi tantangan besar yang menunggunya. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian; dia memiliki dukungan penuh dari Ana dan cinta yang melingkupinya seperti cahaya matahari yang lembut.


Saat mereka berjalan pulang ke rumah, tangan mereka saling tergenggam erat. Ima merasa lebih kuat, lebih siap, dan lebih percaya diri. Dalam kebersamaan mereka, Ima merasa tidak ada yang tidak mungkin, bahkan memerankan peran utama dalam pertunjukan sekolah yang akan datang.


Suasana alam yang indah dan nasihat bijak dari Ana telah memberinya kekuatan yang dibutuhkannya untuk mengatasi rasa gugupnya. Dengan tekad yang kuat, Ima siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di hari-hari mendatang, termasuk pertunjukan drama yang akan menjadi penampilan yang luar biasa.


Malam sehari sebelum pertunjukan, suasana terasa begitu tegang di rumah Ima. Dia duduk di meja belajar sambil melihat naskah dramanya, mencoba menghafalkan dialognya. Namun, ada kekhawatiran yang mengganggunya. Kostumnya yang indah, yang telah dirancang khusus untuk peran utamanya, tiba-tiba menghilang.


"Kak Ima, ada apa?" tanya Ana, yang melihat ekspresi khawatir di wajah Ima.


Ima menatap ke atas, matanya mencari-cari sesuatu yang telah hilang. "Ibu Ana, kostumku hilang. Aku yakin kemarin aku masih melihatnya di sini."


Mereka berdua mulai mencari kostum Ima di seluruh rumah. Ruang tamu, kamar tidur, bahkan di bawah tempat tidur pun mereka telusuri. Namun, kostum itu tak kunjung ditemukan. Ana mencoba memberikan semangat pada Ima. "Jangan khawatir, Ima. Kita akan menemukannya. Mungkin saja ada di tempat yang tidak terpikirkan sebelumnya."


Ima mengangguk, namun kecemasannya masih terlihat jelas. "Aku benar-benar tidak ingin mengecewakan semua orang besok. Kostum itu begitu penting bagi penampilanku."


Ketika mereka berdua merasa putus asa, pintu kamar Ima terbuka perlahan. Teman-teman sekamarnya, Maya dan Rani, masuk dengan wajah prihatin. "Ima, ada apa?" tanya Maya.


Ima menjelaskan situasi dengan nada khawatir. Rani tersenyum lebar. "Jangan khawatir, Ima. Kami akan membantumu mencari kostum itu."

__ADS_1


Bersama-sama, mereka mulai mencari kostum di sekitar rumah. Mereka meneliti setiap sudut dan ceruk, berharap menemukan petunjuk keberadaan kostum yang hilang. Suara kikisan langkah kaki di lantai kayu, tanda-tanda kecemasan yang terbaca di wajah mereka, dan rayuan lembut mereka pada Ima menciptakan atmosfer tegang di rumah tersebut.


Beberapa jam berlalu tanpa hasil yang memuaskan. Semangat Ima semakin merosot, dan Ana mencoba meyakinkannya. "Ima, kita tidak boleh menyerah. Kita pasti akan menemukan kostummu."


Ima mengangguk lemah. "Tapi bagaimana jika kita tidak menemukannya sampai besok pagi? Pertunjukan akan dimulai pukul sepuluh!"


Maya, yang tengah merenung, tiba-tiba tersadar. "Mungkin kita perlu memeriksa ruang ganti di sekolah. Mungkin kostummu tertinggal di sana."


Ima mengangkat kepala, wajahnya berseri-seri dengan harapan. "Iya, mungkin itu masalahnya! Tapi, bagaimana kita bisa masuk ke sekolah malam-malam begini?"


Rani tersenyum licik. "Tenang saja, kami punya kunci cadangan."


Mereka berempat mengambil kunci sekolah yang telah mereka simpan sebagai tindakan persiapan untuk pertunjukan besok. Dengan hati-hati, mereka bergerak menuju sekolah, di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang di langit.


Sesampainya di sekolah, mereka membuka pintu ruang ganti. Dan di sana, di belakang lemari yang tersembunyi, tergeletak kostum Ima. Suasana lega segera menggantikan kekhawatiran yang sempat menyelimuti mereka. Ima meraih kostumnya dengan penuh rasa syukur.


"Mereka ada di sini!" serunya, suaranya penuh kebahagiaan.


Ana, Maya, dan Rani tersenyum. Mereka merasa lega dan bahagia bisa membantu Ima menemukan kostumnya. Penuh semangat, mereka kembali ke rumah sambil berbicara tentang pertunjukan yang akan datang.

__ADS_1


Malam itu, Ima tidur dengan tenang, tahu bahwa dia memiliki teman-teman yang selalu siap membantunya dalam kesulitan. Kejadian ini juga mengingatkannya akan betapa pentingnya kerja sama dan persahabatan dalam menghadapi masalah, bahkan saat situasi paling genting sekalipun.


__ADS_2