Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Hadiah Tak Terduga


__ADS_3

Senja di kota itu selalu indah. Awan-awan berwarna jingga dan ungu melayang malas di langit, menandakan hari sudah hampir malam. Jalan setapak yang dilapisi batu-batu bulat mengarah ke rumah sederhana dengan pagar putih yang selalu tampak bersih.


Ima melangkah dengan ritme yang ceria, menyusuri jalan tersebut. Ia baru saja menyelesaikan hari sekolah yang panjang dan berat. Sebagai siswa kelas 2 SMA, tugas dan tanggung jawab semakin bertambah. Namun, di tengah kelelahannya, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Mata coklatnya berbinar setiap kali ia melewati taman bermain yang selalu dipenuhi tawa anak-anak.


Ketika Ima sampai di depan rumahnya, sesuatu menarik perhatiannya. Seikat bunga mawar merah yang cantik terletak manis di atas keset pintu depan rumahnya. Daun-daun hijau muda menyelimuti batang-batang mawar tersebut, kontras dengan warna merah yang mencolok.


"Siapa yang meninggalkan ini di sini?" gumam Ima sambil mengangkat bunga tersebut. Ia merasakan halusnya kelopak mawar di jemarinya, lalu menemukan sebuah kartu kecil yang tergantung di tali.


"Dari: Raka," baca Ima dengan suara pelan.


Mata Ima membulat, bibir mungilnya sedikit terbuka, menunjukkan kebingungannya. Dengan gerakan cepat, ia membuka pintu dan masuk, membawa bunga tersebut.


Di dalam rumah, aroma kue coklat sedang dipanggang menguar dari dapur, menciptakan suasana yang hangat. Dari dapur, suara Ana, ibunya, terdengar.


“Ima, kamu sudah pulang? Coba lihat kue yang baru saja kubuat,” kata Ana dengan semangat.


Dengan ekspresi bingung yang masih terpatri di wajahnya, Ima memasuki dapur. "Ibu, lihat ini," kata Ima, menunjukkan bunga mawar di tangannya.


Ana memalingkan wajah dari oven, memandang bunga dengan ekspresi kaget. "Dari mana itu?"


"Dari Raka, Ibu," jawab Ima, suaranya penuh kebingungan. "Tapi aku tak tahu mengapa ia memberikanku ini."


Ana menarik nafas, mata coklatnya yang sama dengan Ima menatap bunga tersebut. "Mungkin dia hanya ingin berterima kasih atau menunjukkan tanda persahabatan, Sayang."


Tapi Ima tampak tidak yakin. Gerak tubuhnya kaku, dan matanya terlihat cemas. "Tapi mengapa? Kami hanya teman sekelas, Ibu."


Ana tersenyum, mengusap kepala Ima dengan lembut. "Kadang-kadang, anak-anak muda melakukan hal-hal tanpa alasan yang jelas. Mungkin dia hanya ingin membuatmu senang."


Ima menghela nafas, berusaha menenangkan diri. "Mungkin Ibu benar," katanya sambil tersenyum tipis.


"Yuk, kita makan kue yang baru saja kukerjakan. Aroma coklatnya sudah membuatku tak sabar," kata Ana sambil membuka oven, mengeluarkan loyang kue coklat yang menggoda.


Keduanya tertawa, mencoba melupakan kebingungan tentang bunga mawar. Namun, di balik tawa itu, rasa penasaran Ima terhadap niat sebenarnya Raka tetap mengganjal di hatinya.

__ADS_1


Dekapan malam menyelimuti kota. Lampu-lampu di rumah-rumah bermunculan, menenangkan hati yang gelisah. Di ruang tengah rumah Ima, suara-suara tertawa dan obrolan mengisi udara. Ima dan Yusuf duduk di sofa, sementara Ana duduk di kursi kesayangannya, menghadap jendela yang memberikan pemandangan ke taman belakang.


"Saat kalian membicarakan teman-teman kalian, saya teringat masa kecil saya," kata Ana dengan nada nostalgia, memegang cangkir teh hangat di tangannya.


Ima dan Yusuf saling berpandang, kemudian keduanya memandang Ana dengan rasa ingin tahu. "Ceritakan, Ibu," pinta Ima, menarik selimut tebal mendekapnya.


Dengan senyum manis, Ana mulai bercerita, "Ketika saya seumuran kalian, saya memiliki seorang sahabat bernama Lila. Kami adalah dua insan yang berbeda. Saya suka membaca, sedangkan Lila suka berpetualang."


Yusuf tertawa kecil, "Ibu seorang kutu buku?"


Ana mengangguk, "Benar sekali. Lila selalu menarik saya keluar rumah, mengajak menjelajahi hutan belakang kampung atau berenang di sungai yang jernih."


Ima mengernyitkan dahinya, "Tapi, Ibu takut air, kan?"


Ana tertawa, "Itulah kenapa Lila spesial. Ia adalah orang yang mengajarkan saya berenang. Saya ingat hari itu, matahari bersinar cerah, dan air sungai begitu jernih. Lila memegang tangan saya, menenangkan rasa takut saya dengan kata-kata yang menyejukkan."


Yusuf tersenyum, "Ibu pasti tampak lucu waktu itu."


Ana memukul ringan lengan Yusuf, "Hey! Tidak sopan mengolok-olok ibumu!" Tapi matanya berbinar dengan tawa. "Tapi benar, saya pasti tampak lucu."


"Namun," lanjut Ana dengan nada serius, "yang membuat persahabatan kami istimewa bukan hanya petualangan atau ketakutan saya terhadap air. Tetapi bagaimana kami saling mendukung. Ketika ayah meninggal, Lila-lah yang selalu ada untuk saya. Ia mengajak saya berbicara, mendengarkan dengan hati, dan kadang hanya duduk diam di samping saya."


Air mata mulai menggenang di mata Ima. Yusuf menggenggam tangan Ana erat, "Lila terdengar seperti orang yang hebat, Ibu."


Ana mengangguk, "Ia memang hebat. Persahabatan seperti itu sulit ditemukan. Kalian beruntung memiliki banyak teman di sekitar kalian. Pastikan kalian menjaga dan menghargai mereka."


Ima mendekap Ana, "Terima kasih, Ibu, telah berbagi kisah indah ini dengan kami."


Mereka bertiga berpelukan, tenggelam dalam kenangan dan kasih sayang yang mendalam. Di luar, bintang-bintang mulai berkelip, seolah-olah alam turut merayakan indahnya persahabatan dan cinta keluarga.


Saat pagi merekah, hembusan angin ringan bermain-main dengan dedaunan di halaman depan rumah Yusuf. Dari jauh, nyanyian burung memberi salam pada dunia yang baru terjaga. Yusuf, dengan kaus oblong berwarna abu-abu dan celana pendek, berdiri di pintu depan rumahnya, mengamati sekeliling, tangan kanannya memegang gelas jus jeruk. Pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang Raka, teman sekelas Ima yang baru-baru ini memberikan bunga mawar merah.


Yusuf memutuskan untuk memulai penyelidikannya di sekolah. Ia bertekad mencari tahu lebih banyak tentang Raka dan niatnya.

__ADS_1


"Sudahkah kamu mendengar tentang Raka?" tanya Yusuf kepada Bima, salah satu teman sekelasnya, saat jam istirahat.


Bima menaikkan alisnya, rambut coklat gelapnya yang pendek menambah kesan tajam pada wajahnya. "Raka? Oh, anak baru itu? Ya, aku tahu dia. Mengapa?"


"Saja," jawab Yusuf, mencoba tampak santai, "Aku hanya penasaran. Sepertinya dia dan Ima mulai akrab."


Bima tersenyum sinis, "Kamu cemburu, huh?"


Yusuf mengerutkan dahi, pipinya memerah. "Bukan begitu! Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang dia untuk melindungi adikku," katanya dengan cepat.


Bima tertawa, memukul bahu Yusuf dengan ringan. "Tenang saja, bro. Aku dengar dia baru saja pindah ke kota ini. Ayahnya mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan besar di sini. Tapi sepertinya dia kesulitan mendapatkan teman."


Yusuf merasa lega. "Makasih, Bima. Ini sangat membantu."


Bima mengangguk, "Tidak masalah. Hati-hati dengan rasa cemburumu, ya."


Yusuf tersenyum kecut dan beranjak pergi, meninggalkan Bima yang masih tertawa kecil.


Pulang sekolah, Yusuf melalui rute yang berbeda dari biasanya. Jalan setapaknya kali ini membawanya melewati rumah-rumah tua di pinggir kota. Pohon-pohon besar dengan dedaunan lebat memberikan keteduhan, sementara bunyi gemericik air dari saluran kecil di samping jalan menemani langkah-langkahnya.


Tiba-tiba, terdengar suara mengeluh dari salah satu rumah. Yusuf mendekat dan melihat seorang pria tua dengan rambut putih, sedang duduk di lantai garasi dengan ban sepeda yang tampak bocor di sebelahnya.


Tanpa ragu, Yusuf mendekati pria tersebut, "Pak Tua, apakah Anda membutuhkan bantuan?"


Pria tua itu menoleh, kedua matanya yang keriput memandang Yusuf dengan rasa syukur. "Ah, anak muda. Benar, aku kesulitan mengganti ban sepedaku. Bisakah kamu membantuku?"


Yusuf mengangguk dan segera membantu. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia melepaskan ban yang bocor dan menggantinya dengan yang baru.


Terima kasih, nak," ucap pria tua tersebut sambil menepuk bahu Yusuf, "Generasimu jarang yang masih mau membantu orang tua seperti saya."


Yusuf tersenyum, "Saya hanya melakukan yang seharusnya dilakukan, Pak."


Pria tua itu mengangguk, "Semoga Tuhan membalas kebaikanmu."

__ADS_1


Yusuf meninggalkan pria tua itu dengan perasaan hangat di hatinya. Ia mungkin belum mendapatkan semua informasi tentang Raka, tetapi hari ini ia belajar sesuatu yang lebih penting: kebaikan dan empati.


Saat Yusuf pulang, langit sudah mulai gelap. Namun, cahaya kebaikan di hatinya bersinar lebih terang dari biasanya.


__ADS_2