Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Saat Ima Sakit


__ADS_3

Langit mendung dengan gemuruh halus dari awan gelap di kejauhan. Rintik hujan mulai jatuh, membasahi bumi yang kering. Di sebuah rumah kayu sederhana di tepi jalan setapak, Ana duduk di samping ranjang Ima, anak angkatnya yang tengah demam. Dari jendela kamar yang terbuka, aroma tanah basah dan suara desiran hujan masuk, menciptakan suasana yang menenangkan namun memilukan.


"Ibu, kepalaku sakit sekali," keluh Ima dengan suara lemah, mata yang setengah tertutup menunjukkan rasa tidak nyaman.


Ana, dengan lembut, mengusap kening Ima menggunakan telapak tangannya yang hangat. "Tahan sebentar ya, sayang," kata Ana dengan suara bergetar, berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya yang mendalam. Dia meraih selembar kain bersih, mencelupkannya ke dalam air dingin, lalu memerasnya dan menempelkannya ke dahi Ima.


Ima menatap wajah Ana, mencari keberanian dan penghiburan. Wajah Ana tampak letih, namun matanya yang besar dan cokelat itu selalu memancarkan kasih sayang. "Ibu, bisa baca dongeng yang kemarin tidak?" pinta Ima dengan suara serak.


Senyum tipis muncul di bibir Ana. "Tentu, sayang." Dia mengambil sebuah buku dongeng dari rak sebelah ranjang dan mulai membacakan kisah tentang seorang putri yang tersesat di hutan.


Seiring dengan cerita tersebut, Ana mulai mengingat masa kecilnya. "Tahu tidak, Ima?" Ana menatap mata Ima yang membulat penuh rasa ingin tahu. "Dulu, Ibu juga sering mendengar dongeng ini dari Nenekmu. Saat itu, kami tinggal di sebuah desa kecil di pinggir hutan."


Ima menggerakkan jari kecilnya, menyentuh tangan Ana, "Benarkah, Ibu?"


Ana mengangguk, "Iya, setiap malam, ketika bintang-bintang berkelipan di langit, Nenek selalu duduk di beranda, dengan latar belakang pepohonan rindang dan suara gemericik air dari sungai kecil di belakang rumah. Dia akan memanggilku dan mulai menceritakan kisah-kisah ajaib."


Rumah itu terasa begitu hidup dengan kenangan tersebut. Ima bisa membayangkan Ana yang masih kecil, duduk di beranda bersama neneknya, ditemani cahaya bulan dan nyanyian jangkrik. Mimik wajah Ana berubah, matahari sepertinya mulai bersinar meski hanya sejenak di balik awan mendung masa lalunya.


"Setiap kali mendengar cerita itu, aku selalu merasa aman dan dicintai," lanjut Ana, matanya berair. "Hal-hal sederhana seperti mendengarkan cerita di malam hari, melihat bintang-bintang, atau merasakan hembusan angin malam... itulah yang membuat hidup terasa berharga."


Sebuah angin sejuk menerobos masuk melalui jendela, membuat gorden bergerak lembut, seolah-olah mendengarkan cerita Ana. Ima, meskipun demam, terlihat sedikit lebih baik dengan mata yang berbinar-binar.


"Jadi, Ima," kata Ana sambil menggenggam tangan Ima erat, "meskipun saat ini kamu merasa tidak enak badan, selalu ingat bahwa setiap momen dalam hidupmu adalah berharga. Setiap rasa sakit, setiap tawa, setiap air mata, semuanya adalah bagian dari cerita hidupmu yang indah."


Ima tersenyum lemah, "Terima kasih, Ibu. Aku mencintaimu."


Ana menundukkan kepalanya, mencium kening Ima, "Dan Ibu mencintaimu lebih dari apa pun, sayang."


Keduanya saling berpelukan, tenggelam dalam kedamaian dan kasih sayang, meskipun di luar hujan semakin deras dan angin bertiup kencang. Meski cuaca tidak bersahabat, namun di dalam rumah itu, ada cinta yang mampu menghangatkan hati.


Hari itu matahari bersinar terik, menciptakan bayangan panjang dari setiap pohon dan bangunan di jalanan. Tidak ada awan yang menghalangi cahaya matahari, tetapi semilir angin yang sejuk membuatnya terasa nyaman. Kicauan burung-burung terdengar di kejauhan, menciptakan harmoni dengan gemerisik daun-daun yang diterpa angin.

__ADS_1


Ana dengan hati-hati menggendong Ima yang masih lemas, sementara Yusuf berjalan di samping mereka dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran. Gedung puskesmas berdiri megah dengan dinding putih yang mulai mengelupas di beberapa bagian, namun masih tampak rapi dan bersih.


"Mba Ana, ayo cepat. Dokter Rini sedang tidak terlalu sibuk," kata seorang perawat berambut pendek yang mengenali mereka. Dia mengarahkan mereka ke ruang pemeriksaan.


Dokter Rini, seorang wanita paruh baya dengan rambut dikepang dua, menatap Ima dengan cermat. "Apa yang dirasakan Ima?" tanyanya dengan lembut.


"Demam tinggi, Dok, dan lemas," jawab Ana, wajahnya tampak cemas. Mimik wajahnya menunjukkan seberapa mendalam kekhawatirannya, alisnya bertaut dan matanya memerah.


Dokter Rini mengangguk, mengambil stetoskopnya untuk memeriksa Ima. "Kita mungkin perlu melakukan beberapa tes, Bu Ana, untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi."


Ana menggigit bibir bawahnya, "Berapa biayanya, Dok?"


Dokter Rini menarik napas panjang, "Saya akan coba memberikan potongan harga, namun tetap saja mungkin memerlukan biaya yang tidak sedikit."


Di pojok ruangan, Yusuf mulai merobek-robek kertas bekas yang dia temukan di dalam tasnya. Dengan telaten, dia mulai melipat kertas itu menjadi bentuk-bentuk sederhana. Beberapa saat kemudian, sebuah origami burung terbentuk di tangannya.


"Ima, lihat ini," kata Yusuf dengan semangat, mencoba mengalihkan perhatian adiknya dari pembicaraan yang sedang berlangsung. Mata Ima mulai berbinar saat dia melihat origami burung di tangan Yusuf.


Yusuf tersenyum, "Ini adalah burung phoenix, burung yang bisa hidup kembali dari abunya. Seperti kamu, yang pasti akan segera sembuh dan kembali bermain."


Ima tersenyum tipis, menatap origami burung di tangannya, lalu menatap wajah kakaknya yang penuh kasih sayang. "Terima kasih, Kak."


Ana, yang mendengar percakapan mereka, menatap kedua anaknya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Yusuf," bisiknya.


Dokter Rini, yang menyaksikan semuanya, menepuk bahu Ana dengan lembut. "Kita akan melakukan yang terbaik untuk Ima, Bu Ana. Jangan khawatir."


Pagi itu bertiup angin yang berhembus dengan aroma khas daun-daun kering. Langit berwarna oranye keemasan dengan cahaya matahari yang mulai naik dari ufuk timur, menyinari pepohonan yang daunnya mulai gugur. Di jalan-jalan desa, orang-orang mulai beraktivitas, membuka warung, menuju sawah, atau berjalan-jalan pagi.


Rumah Ana tampak sedikit sepi. Beberapa barang telah dia pindahkan ke halaman, berharap ada yang tertarik membelinya. Ada jam dinding tua, hiasan-hiasan, bahkan beberapa pakaian yang masih layak pakai.


Seorang tetangga, Bapak Hamid, mendekat dengan langkah gontai. "Mau menjual ini semua, Ana?" tanyanya dengan nada heran sambil memeriksa beberapa barang.

__ADS_1


Ana mengangguk, wajahnya tegar namun mata itu sulit menyembunyikan kecemasan. "Ada kebutuhan mendesak, Pak."


Bapak Hamid meraih jam dinding tua tersebut, "Berapa ini?"


"Seratus ribu saja, Pak," kata Ana dengan ragu, tangan-tangannya gemetaran sedikit.


Tanpa berpikir panjang, Bapak Hamid memberikan dua lembar uang seratus ribu kepada Ana. "Ambil saja, untuk Ima," katanya dengan suara parau.


Ana menunduk, berusaha menahan air mata. "Terima kasih, Pak Hamid," bisiknya dengan suara bergetar.


Seiring hari beranjak siang, beberapa barang berhasil terjual, tetapi masih jauh dari yang diharapkan. Ana memutuskan untuk pergi ke pasar dan mencoba bekerja lembur di warung tempatnya bekerja.


Di warung tersebut, langit sudah mulai gelap, lampu-lampu neon mulai menyala, dan aroma masakan mulai menguar. Ana bergerak cepat melayani pelanggan dengan senyum yang selalu ada, meskipun kaki dan tangannya merasa lelah.


Di tengah kesibukannya, dia teringat dengan Ima yang mungkin menunggunya di rumah. Jadi, saat jam istirahat, dia menelepon Yusuf.


"Bagaimana kabar Ima, Yus?" tanyanya dengan suara penuh kekhawatiran.


"Adik sedang tidur, Ibu. Kakak baru saja mendongeng untuknya," jawab Yusuf.


Ana tersenyum mendengarnya, "Terima kasih, Yus. Ibu pulang nanti malam ya, jangan lupa makan."


Malam hari tiba dengan langit berbintang dan suara jangkrik yang menandakan kedamaian. Setelah bekerja lembur, Ana pulang dengan kantong plastik berisi makanan untuk anak-anaknya. Meski lelah, hatinya hangat saat melihat Yusuf yang sudah menunggunya di depan pintu.


"Bagaimana hari ini, Ibu?" tanya Yusuf sambil membantu Ana melepaskan sepatunya.


Ana menghela napas, "Cukup baik, Yus. Kita sedikit lebih dekat dengan biaya yang dibutuhkan."


Mereka berdua masuk ke kamar Ima yang masih tertidur pulas. Ana duduk di samping ranjang, menyentuh pipi Ima dengan lembut. Dia kemudian mulai mendongeng, sebuah cerita tentang seorang raja yang berjuang untuk rakyatnya, mengajarkan pada Ima tentang keberanian, harapan, dan cinta yang tak terbatas.


"Suatu hari, kita akan melewati ini semua, sayang," bisik Ana di akhir cerita, memandangi wajah Ima yang damai.

__ADS_1


Yusuf, yang berdiri di ambang pintu, meneteskan air mata. Dia memeluk Ana dari belakang, memberikan dukungan dan cinta yang tak terkatakan dengan kata-kata. Di tengah kesulitan, keluarga kecil ini tetap kuat, bersama-sama menghadapi setiap rintangan dengan cinta dan harapan.


__ADS_2