Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Obrolan di Warung


__ADS_3

Hari itu awan mendung menggelayuti langit kota. Angin kencang berhembus, menari-nari di antara dedaunan yang kian rimbun di tepi jalan. Sebagai perantau di kota ini, Ima selalu menemukan kenyamanan di sebuah warung kecil di sudut jalan. Warung milik Nenek Siti, tempat Ima sering mampir untuk membeli nasi.


Ketika Ima melangkah masuk, bel pintu warung berdentang, memberi tahu semua orang tentang kedatangan pelanggan baru. Di dalam, seorang pemuda duduk dengan pandangan yang jauh. Di tangannya, sebuah buku puisi dengan sampul kulit tua terbuka. Angin semilir dari jendela membuat halaman buku puisinya bergoyang-goyang.


"Sedang membaca siapa, Nak?" tanya Ima sambil melangkah mendekat, rasa ingin tahunya memuncak.


Pemuda itu menoleh, matanya yang coklat gelap bertemu dengan mata Ima. "Ah, ini Rumi. Saya suka bagaimana ia menggambarkan cinta dan alam." Jawabnya dengan senyum tipis.


Ima tersenyum balik, "Rumi? Ah, saya juga suka. Terutama bagaimana ia menghubungkan cinta dengan spiritualitas."


Sejenak, keduanya tenggelam dalam obrolan tentang puisi dan keindahan kata-kata. Namun, angin kencang yang masuk melalui jendela warung tiba-tiba membuat beberapa kursi dan meja terbalik. Nenek Siti, dengan rambut putihnya yang terurai dan keriput di wajahnya, tampak panik.


"Oh, tidak! Angin hari ini benar-benar keras," keluh Nenek Siti, mencoba mengangkat meja dengan susah payah.


Tanpa ragu, Ima berdiri dan berjalan mendekati nenek. "Biarkan saya bantu, Nek," katanya sambil mengatur kembali kursi dan meja.


Raka, pemuda misterius itu, juga segera bangkit. "Saya akan membantu juga," ujarnya sambil menunjukkan ekspresi kepedulian yang mendalam. Ekspresi wajahnya saat itu sangat jelas menunjukkan kehangatan; alisnya sedikit berkerut, dan sudut bibirnya menaik, menunjukkan senyum yang tulus.


Ketika meja dan kursi sudah kembali rapi, Nenek Siti tersenyum lega. "Terima kasih banyak, Nak," ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung Ima dan Raka dengan lembut.


"Ah, tidak masalah, Nek. Ini warung favorit saya, jadi saya merasa seperti di rumah sendiri," jawab Ima dengan tawa ringan, matanya bersinar penuh keceriaan.


Raka mengangguk setuju, "Saya baru beberapa kali ke sini, tetapi suasana dan kehangatan warung ini benar-benar membuat saya kembali lagi."


Mereka bertiga tertawa, meski di luar sana angin masih berhembus kencang dan dedaunan bergoyang tak karuan. Di tengah-tengah kota yang ramai dan penuh kebisingan, warung kecil Nenek Siti menjadi oasis kecil yang penuh kedamaian. Sebuah tempat di mana pertemuan tidak terduga bisa berubah menjadi awal dari sebuah persahabatan.

__ADS_1


Angin masih berhembus, tetapi sudah lebih lembut daripada sebelumnya. Daun-daun di luar warung bergerak perlahan, mengikuti irama tiupan angin. Suara gemericik air dari akuarium kecil di pojok warung menambah kesan damai di tempat itu.


Raka, dengan lembut, menutup buku puisinya dan menaruhnya di atas meja. "Terima kasih, sudah mau membantu tadi," katanya sambil menatap Ima.


Ima memutar rambutnya yang hitam legam, "Oh, sama-sama. Lagipula, Nenek Siti sudah seperti keluarga bagi saya. Sudah lama saya sering mampir ke sini."


Raka tersenyum, "Saya baru pindah ke kota ini. Sebenarnya, saya merasa sedikit kesepian. Tapi berbicara dengan Anda, membuat saya merasa sedikit lebih hangat."


Ima melihat ke mata Raka yang memancarkan kejujuran. "Oh? Dari mana asal Anda?"


"Dari sebuah kampung kecil di Jawa Tengah," jawab Raka sambil memainkan jari-jarinya di atas meja. "Sebuah tempat yang tenang, dengan sawah hijau yang luas dan udara yang segar."


"Pasti indah sekali," sahut Ima sambil memikirkan betapa beruntungnya bisa tinggal di kota besar namun tetap memiliki kenangan tentang keindahan pedesaan.


"Ya, sangat indah. Tapi, saya meninggalkan satu hal yang sangat saya cintai di sana," kata Raka dengan nada sedikit bergetar. Mimik wajahnya berubah, bibirnya berkerut sedikit ke bawah menunjukkan kesedihan yang mendalam.


Raka menghela napas panjang, "Kucing saya, Milo. Saya membesarkannya sejak dia bayi. Tapi, saya harus meninggalkannya dengan nenek saya saat saya pindah ke sini."


Ima menaruh tangannya di atas tangan Raka yang sedang bermain dengan sedotan, "Saya mengerti perasaan Anda. Saya juga punya kucing di rumah orangtua saya. Namanya Luna. Saya selalu merindukannya."


Raka menatap tangan Ima yang menenangkannya, "Anda benar-benar mengerti perasaan orang lain ya."


Ima tersenyum, "Saya hanya berusaha memahami. Kita semua punya cerita, kan? Dan kadang-kadang, cerita itu membuat kita merasa lebih dekat dengan orang lain."


Raka menarik napas dalam-dalam, "Benar sekali. Terima kasih, Ima. Berbicara dengan Anda membuat saya merasa lebih baik."

__ADS_1


Dedaunan di luar warung mulai kembali tenang, seiring dengan redanya angin. Di antara keramaian kota, di sebuah warung kecil, dua jiwa yang awalnya asing menjadi lebih dekat karena berbagi cerita. Sebuah obrolan sederhana di warung, namun mengandung kedalaman emosi dan pengertian antara dua individu.


Angin malam mulai mereda, namun suara jangkrik dan gerimis ringan memberikan atmosfer yang hening dan mendalam. Lampu minyak yang dinyalakan Nenek Siti di warung menghasilkan cahaya redup, menciptakan bayangan yang bermain-main di dinding. Di meja, dua gelas teh hangat masih mengeluarkan uap, saksi dari percakapan mendalam antara Ima dan Raka.


"Saya tahu mungkin ini terdengar klise," Raka mulai berbicara, mengambil napas sejenak, "tapi saya pindah ke kota ini untuk memulai awal yang baru."


Ima menatap Raka dengan mata penuh pertanyaan, "Awal baru dari apa?"


Raka menatap gelas tehnya, seolah mencari kata-kata di dalamnya. "Dari kesalahan masa lalu, keputusan yang saya sesali." Mimik wajahnya tampak tegang, alisnya berkerut, dan mata coklatnya tampak gelap dengan bayangan kenangan.


Sejenak, warung itu dipenuhi dengan hening. Hanya suara gemericik hujan ringan yang memecah kebisuan. Ima, merasa harus memecah suasana, mulai berbicara tentang hal lain. "Tahu, Raka, beberapa bulan lalu saya berlibur ke pantai bersama Yusuf, adik angkat saya."


Raka menaikkan alisnya, rasa ingin tahunya terpicu. "Oh? Bagaimana ceritanya?"


Ima tersenyum, mengingat kenangan tersebut. "Kami berdua mencari kerang di tepi pantai. Yusuf sangat antusias, berlari-lari mengejar ombak sambil mencoba menangkap kerang yang terbawa air." Ima berhenti sejenak, tersenyum sambil mengingat. "Dia jatuh beberapa kali, basah kuyup, tetapi tawa kami menggema di pantai. Itu adalah salah satu momen terindah yang pernah saya alami."


Raka tersenyum, wajahnya tampak sedikit lebih ringan. "Terdengar menyenangkan. Saya juga punya kenangan serupa saat masih kecil, meskipun bukan di pantai."


Ima, penasaran, bertanya, "Di mana?"


"Di sawah belakang rumah nenek saya," Raka menjawab, sambil menyesap tehnya. "Saya dan sepupu saya sering bermain kejar-kejaran, menangkap ikan, dan terkadang jatuh ke lumpur. Sederhana, tetapi menyenangkan."


Mereka berdua tertawa, menikmati kenangan masa kecil yang penuh dengan kesederhanaan namun penuh makna. Namun, setelah tawa mereda, Ima kembali menatap Raka dengan tatapan serius, "Raka, saya tahu Anda memiliki masa lalu yang ingin Anda lupakan. Tetapi jika suatu saat Anda ingin berbicara, saya ada di sini."


Raka menatap Ima, matanya tampak berkaca-kaca. "Terima kasih, Ima." Suaranya bergetar. "Mungkin suatu hari nanti, saya akan menceritakannya."

__ADS_1


Percakapan mereka berlanjut hingga larut malam, dengan gelas teh yang telah dingin sebagai saksi bisu. Meskipun ada banyak hal yang belum diungkapkan, kedekatan antara mereka semakin terasa. Di tengah hujan dan suara jangkrik, dua jiwa berbagi cerita, kenangan, dan harapan untuk masa depan.


__ADS_2