
Langit malam telah gelap pekat, dengan bintang-bintang berkedip seolah ikut merayakan pesta Ima. Lampu taman yang menyala lembut memberi aura magis pada pesta, memperindah suasana dengan cahaya temaramnya. Gelak tawa dan suara anak-anak riang mengisi udara, namun sesuatu tampak berbeda ketika pintu gerbang terbuka perlahan.
Semua mata tertuju pada seorang pemuda yang berdiri dengan postur tegap di ambang pintu. Pakaian casualnya, jeans dan kemeja kotak-kotak, mencerminkan keanggunan sederhana. Namun, yang paling mencolok adalah matanya yang dalam, tampak mencari seseorang di antara keramaian.
Ana, yang sedang berbicara dengan beberapa tamu, mendadak terdiam. Matanya membelalak, dan napasnya tampak tersengal. Seolah tanpa sadar, ia berjalan mendekati pemuda tersebut.
"Arman?" bisik Ana, hampir tak percaya.
Pemuda tersebut, Arman, menunjukkan senyum lembut. "Halo, Ana," sahutnya dengan suara serak, "Sudah lama sekali."
Sejenak, keduanya berdiri saling memandang, terbenam dalam kenangan silam. Suasana pesta seolah lenyap, digantikan dengan aura nostalgia dan emosi yang mendalam.
Ima, yang melihat interaksi tersebut, mendekat dengan rasa penasaran. "Bu, siapa dia?" tanyanya pelan.
Ana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Ini adalah Arman, temanku dari masa lalu."
Arman mengulurkan tangannya ke Ima. "Selamat ulang tahun, Ima. Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Ana." Ujarnya dengan senyum hangat.
Ima menerima uluran tangan Arman, "Terima kasih. Tapi, aku belum pernah mendengar tentangmu sebelumnya."
Arman tersenyum sedikit, lalu menoleh ke Ana, "Sebenarnya, ada banyak hal tentang masa lalu ibumu yang mungkin kamu tidak tahu."
Ana tampak ragu sejenak, lalu berkata, "Arman dan aku dulu sangat dekat. Kami saling mendukung saat menghadapi masa-masa sulit di kehidupan kami."
Ima, dengan pandangan tajam, bertanya, "Mengapa aku baru mendengar tentangnya sekarang?"
Sebelum Ana menjawab, Arman berbicara, "Karena ada beberapa bagian dari masa lalu yang terlalu menyakitkan untuk dikenang. Namun, aku datang malam ini bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk berterima kasih."
Ana menunduk, menahan air mata. "Terima kasih untuk apa, Arman?"
Arman menghampiri Ana dan memegang bahunya dengan lembut. "Terima kasih telah ada untukku saat aku merasa sendirian dan hilang. Kamu adalah sahabat yang luar biasa, dan aku berutang banyak padamu."
Mata Ana berkaca-kaca. "Aku juga berutang banyak padamu, Arman. Kamu adalah bagian dari kenanganku, bagian dari jalan yang aku tempuh."
Di tengah suasana haru, angin malam berhembus lembut, menggetarkan dedaunan dan menambah nuansa dramatis pada momen tersebut. Lampu taman yang menyala semakin menonjolkan siluet Ana dan Arman, dua sahabat yang terpisah oleh waktu namun kembali bersatu oleh takdir.
__ADS_1
Ima, meski awalnya bingung, kini merasa hangat melihat ibunya berbagi momen dengan teman lamanya. Ia memeluk Ana dan berkata, "Terima kasih telah memperkenalkannya padaku, Bu."
Arman tersenyum, "Terima kasih telah menerimaku, Ima. Aku harap kita bisa saling mengenal lebih baik."
Malam itu, pesta ulang tahun Ima tidak hanya menjadi perayaan bertambahnya usia, tetapi juga menjadi perayaan persahabatan, kenangan, dan cinta yang abadi.
Dibawah naungan pohon besar yang rimbun, di sebuah sudut yang agak terpisah dari keramaian pesta, dua kursi bambu disusun berhadapan. Di sana, Ana dan Arman duduk berdampingan, terbenam dalam gelombang kenangan masa lalu. Dari kejauhan, bunyi tawa dan musik pesta menjadi latar belakang yang samar, sementara gemerisik dedaunan dan desiran angin malam menambah kedamaian suasana.
Arman menyesap minumannya perlahan, "Kamu tahu, Ana, saat aku melihatmu lagi setelah sekian lama, rasanya seperti waktu tak pernah berjalan."
Ana tersenyum, mengingat masa-masa indah mereka. "Aku juga merasa begitu, Arman. Banyak hal yang telah berubah, namun ada bagian dari kita yang selalu tetap sama."
Mereka berdua menatap langit yang diterangi oleh bintang-bintang. Arman menarik nafas dalam, "Kamu ingat saat kita sering duduk di tepi sungai, berbicara tentang impian kita?"
Ana mengangguk, "Tentu saja. Kita sering bercita-cita tentang hidup yang lebih baik, sebuah masa depan di mana kita bisa bebas dan diterima."
Arman menoleh, matanya bersinar, "Dan kau tahu? Impian itu bukanlah sekadar angan-angan. Setelah kita berpisah, aku bertemu dengan seorang teman yang mengubah hidupku."
Ana menatap Arman dengan penuh perhatian, rambut hitamnya yang panjang tergerai, diterpa cahaya bulan, "Siapa dia, Arman?"
Ana tampak terharu, "Itu luar biasa, Arman. Aku senang mendengarnya."
Arman menyesap minumannya lagi, "Farid selalu bilang, dengan dukungan yang tepat, setiap orang bisa bangkit dan mengubah takdirnya. Dan itulah yang aku lakukan."
Ana menatap Arman dengan mata berkaca-kaca, "Aku bangga padamu. Kau selalu punya kekuatan untuk berubah, dan aku senang kau menemukan seseorang yang mendukungmu."
Arman menatap Ana, "Dan bagaimana denganmu? Bagaimana kau bisa berada di sini, dengan dua anak luar biasa itu?"
Ana tersenyum, "Setelah kita berpisah, aku memutuskan untuk menata hidupku kembali. Aku mendapatkan pekerjaan yang layak dan memutuskan untuk mengadopsi dua anak yatim. Mereka adalah segalanya bagiku."
Keduanya terdiam sejenak, tenggelam dalam kenangan. Angin malam yang sejuk membelai wajah mereka, mengingatkan mereka akan masa lalu yang pahit manis.
Arman menghela nafas, "Kadang-kadang, saat aku menatap langit, aku merasa beruntung. Meski banyak hal yang telah terjadi, aku bersyukur masih bisa duduk di sini, bersamamu, mengenang masa lalu."
Ana memegang tangan Arman dengan lembut, "Aku juga, Arman. Terima kasih telah kembali ke hidupku, meskipun hanya untuk sebentar."
__ADS_1
Arman tersenyum, "Selalu ada alasan untuk kembali, Ana. Dan kali ini, alasan itu adalah kamu dan kenangan indah kita bersama."
Malam itu, di bawah langit berbintang, dua sahabat lama duduk berdampingan, mengenang masa lalu, dan merayakan kehidupan yang mereka jalani sekarang. Sebuah pengingat bahwa, dengan dukungan yang tepat, setiap orang bisa mengubah takdirnya.
Lampu taman mulai redup, memberi isyarat bahwa malam telah mendekati akhirnya. Bintang-bintang di langit tampak semakin terang, seolah menjadi saksi bisu atas pesta yang penuh makna. Suara musik dan tawa mulai mereda, namun kehangatan masih terasa di udara.
Di tengah-tengah halaman, Ima duduk di sebuah bangku, menatap langit dengan mata berbinar. Ana mendekatinya, menepuk pundak putrinya dengan lembut. "Bagaimana rasanya, sayang?" tanya Ana.
Ima menatap ibunya, "Aku merasa sangat beruntung, Bu. Malam ini benar-benar spesial."
Ana tersenyum, "Karena kamu memang spesial, Ima."
Dari kejauhan, Yusuf tampak ragu-ragu mendekati mereka. Di tangannya, terlihat rajutan biru muda yang tampaknya baru saja diselesaikan. "Ima," panggil Yusuf dengan suara yang sedikit gugup.
Ima menoleh, "Ada apa, Kak?"
Yusuf menggigit bibirnya, kemudian mengulurkan rajutan tersebut. "Ini untukmu. Maaf kalau hasilnya tidak sempurna. Aku mencoba yang terbaik."
Ima menerima rajutan tersebut dengan mata berbinar. "Ini sangat indah, Kak. Terima kasih."
Yusuf tampak lega, "Aku senang kamu suka."
Arman, yang sedang berbicara dengan beberapa tamu, mendekati keluarga tersebut. "Sebelum aku pergi, aku ingin mengucapkan terima kasih, Ana. Malam ini sangat berarti bagiku."
Ana memeluk Arman dengan hangat, "Terima kasih telah datang, Arman. Kedatanganmu memberikanku kesempatan untuk menutup bab lama dalam hidupku."
Arman tersenyum, "Selalu ada alasan untuk kembali, bukan? Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti."
Saat tamu mulai beranjak pulang, suasana menjadi semakin damai. Angin malam berhembus, menggoyangkan daun-daun pohon dan memainkan melodi alami yang menenangkan. Lampu taman yang berkedip-kedip menciptakan bayangan yang menari di tanah, seolah memberikan salam perpisahan kepada setiap tamu yang pergi.
Satu per satu, tamu meninggalkan pesta dengan wajah ceria dan hati yang hangat. Mereka membawa pesan tentang pentingnya menerima masa lalu dan bergerak maju dengan kasih sayang. Setiap pelukan dan ucapan selamat tinggal menjadi bukti betapa berharganya momen yang mereka bagikan bersama.
Ketika semua tamu telah pergi, Ana, Ima, dan Yusuf duduk bersama di bawah pohon rindang. Mereka saling berpelukan, merasakan kehangatan yang tak terkatakan. Malam itu, pesta ulang tahun Ima tidak hanya menjadi perayaan bertambahnya usia, tetapi juga menjadi perayaan kehidupan, kasih sayang, dan persahabatan.
Di tengah kegelapan, bintang-bintang di langit terus berkedip, seolah memberi pesan bahwa setelah gelap, pasti ada terang. Dan dalam kehidupan, setelah kesedihan, pasti ada kebahagiaan yang menanti.
__ADS_1