
Langit berwarna biru cerah dengan beberapa awan tipis terpampang indah, menciptakan bayangan di taman kota yang penuh dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga yang baru saja mekar. Sinar matahari yang hangat menyinari setiap sudut, menciptakan atmosfer yang nyaman bagi setiap orang yang berjalan-jalan di taman tersebut. Ima, dengan langkah-langkah ringannya, berjalan di jalur pejalan kaki, menikmati segarnya udara pagi. Rambut panjangnya yang hitam berkilauan diterpa cahaya matahari, dan matanya yang coklat tampak menatap dengan rasa kagum pada keindahan alam di sekitarnya.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada sosok yang duduk di salah satu bangku taman, Raka. Pria dengan rambut pendek hitam itu sedang asyik membaca buku. Saat mata mereka bertemu, Raka tersenyum, menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Hei, Ima! Tak disangka kita bertemu di sini," kata Raka dengan nada riang, sambil menunjukkan ekspresi wajah yang tulus.
"Hai, Raka. Iya nih, aku sedang menikmati udara pagi. Apa kabar?" jawab Ima, duduk di samping Raka, matanya tertuju pada buku yang sedang dibaca Raka.
"Sama, aku sedang mencari inspirasi dari buku ini," ujar Raka sambil menunjukkan sampul buku tersebut. Ia menyesap napasnya, menikmati aroma tanah basah yang masih tersisa setelah hujan semalam.
Ada jeda sejenak, kedua sahabat tersebut terbenam dalam percakapan mereka, terutama soal kehidupan masing-masing. Kemudian, entah bagaimana, topik percakapan beralih ke masa lalu Ana, ibu angkat Ima.
"Kau tahu, Ana dulu adalah teman baikku saat kita masih remaja," kata Raka dengan nada berat, wajahnya tampak agak pucat, dan kedua tangannya tampak gemetar sedikit.
"Wah, serius? Aku tak pernah mendengar ibu bercerita tentangmu," sahut Ima dengan kening berkerut, merasa heran. Dalam hatinya muncul berbagai pertanyaan mengenai hubungan mereka berdua.
Sebuah tiupan angin ringan menghembus, membuat rambut Ima bergerak perlahan, sedangkan matanya semakin dalam menatap Raka, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Raka dan Ana.
Raka tampak ragu sejenak, bibirnya bergerak-gerak mencari kata-kata yang tepat. "Ada banyak hal yang mungkin belum kau tahu tentang masa lalu ibumu. Tapi percayalah, dia selalu memiliki alasan untuk setiap pilihannya," ujarnya dengan serius.
Sebelum Ima bisa bertanya lebih lanjut, suara tawa anak-anak mengalihkan perhatian mereka. Seorang anak kecil dengan rambut keriting berlari ke arah balon yang terbang bebas di udara, namun ia terjatuh dan balonnya terlepas. Tanpa ragu, Raka berdiri dan berlari cepat mengejar balon tersebut, sambil berusaha menangkapnya. Ima hanya bisa menatap dengan kagum.
Beberapa saat kemudian, Raka kembali dengan balon di tangan dan anak kecil tersebut berlari mendekatinya dengan wajah berseri. "Terima kasih, kak!" ucap si anak kecil dengan mata berbinar.
Raka hanya tersenyum, "Sama-sama. Hatimu harus selalu ceria seperti balon ini, ya."
Ima tersenyum melihat kebaikan hati Raka. Mungkin, pikirnya, ada banyak hal yang belum ia ketahui tentang masa lalu ibunya, namun satu hal yang pasti, ia tahu betul bagaimana menilai seseorang dari perbuatannya. Dan untuk saat ini, dalam hati kecilnya, ia merasa Raka adalah orang yang baik.
Ima dan Raka duduk berdampingan di sebuah kedai kopi pinggir taman. Kedai kopi ini menawarkan pemandangan taman yang indah dengan kolam kecil yang dikelilingi oleh bunga-bunga berwarna-warni. Air gemericik dari kolam memberi nuansa menenangkan. Di kejauhan, anak-anak bermain layang-layang, sementara beberapa pasangan muda duduk di tepi kolam, saling berbagi tawa.
__ADS_1
Namun, suasana hati Ima jauh dari damai. Ia merasa gelisah, sebuah kombinasi dari penasaran dan khawatir.
"Kau bilang, Ana adalah teman baikmu waktu remaja?" tanya Ima, mencoba menggali informasi lebih lanjut. Matanya menatap Raka dengan intens, mencoba membaca setiap ekspresi di wajahnya.
Raka mengangguk pelan, jari-jarinya memainkan cangkir kopi di hadapannya. "Ya, kami sangat dekat. Tapi waktu berjalan dan banyak hal yang mengubah hubungan kami," jawabnya dengan ragu.
Ima memperhatikan kalung yang dikenakan Raka. Kalung berbentuk burung phoenix, terbuat dari perak dengan mata berbentuk batu safir biru yang mempesona. "Kalungmu indah," ucap Ima, mencoba mengalihkan pembicaraan sejenak.
Raka tersenyum tipis, tangannya instingtif menyentuh kalung tersebut. "Terima kasih. Ini hadiah dari seseorang yang sangat berarti bagiku," katanya dengan nada melankolis.
"Apakah dari Ana?" tanya Ima dengan tajam.
Raka tampak terkejut sejenak, kedua alisnya bertemu, dan wajahnya memerah. "Mengapa kau bertanya demikian?" sahutnya, mencoba mengendalikan emosinya.
Ima menarik napas panjang, "Aku hanya merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan tentang hubunganmu dengan ibuku. Aku berhak tahu, bukan?"
Raka menunduk, menatap cangkir kopinya yang sudah hampir kosong. "Ada banyak hal yang mungkin lebih baik tidak kau ketahui. Aku datang ke sini karena aku peduli, bukan untuk membuatmu curiga."
"Dengan izin, nenek. Biar aku bantu menyeberang," kata Ima dengan ramah. Nenek itu tersenyum lebar, menunjukkan kerutan di wajahnya yang menandakan tahun-tahun penuh pengalaman.
"Terima kasih, nak," ucap nenek tersebut, merasa bersyukur.
Sambil menuntun nenek tersebut, Ima berbincang singkat. "Nak, terkadang dalam hidup, kita harus mempercayai naluri kita. Tak semua hal harus diungkapkan, tapi perasaan kita jarang salah," kata nenek itu bijaksana.
Setelah memastikan nenek tersebut aman, Ima kembali ke kedai kopi. Raka sudah berdiri, menunggu Ima. "Maaf, Ima. Mungkin saatnya aku pergi. Aku harap suatu saat nanti kau bisa memahami," katanya dengan lembut.
Ima menatap Raka, lalu mengingat perkataan nenek tadi. "Aku akan mencoba memahami, Raka. Tapi ingat, keluargaku adalah segalanya bagiku."
Dengan senyum yang penuh makna, Raka pergi meninggalkan Ima yang masih penuh tanda tanya. Namun, ada perasaan hangat yang mulai tumbuh di hatinya, kepercayaan bahwa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Langit senja mulai memerah, memberikan sentuhan keemasan pada pepohonan di jalanan. Gedung-gedung kota tampak seperti bayangan hitam, kontras dengan latar langit yang terang. Ima mengendarai mobilnya dengan perlahan, mengikuti alamat yang tertulis di ponselnya. Sesekali, matanya melirik ke kaca spion, memastikan tak ada sosok yang dikenalnya di belakangnya.
Tak lama kemudian, Ima tiba di sebuah rumah dengan pagar putih dan halaman yang penuh dengan tanaman. Ia memarkir mobilnya, lalu mengetuk pintu. Tak berapa lama, pintu terbuka menampakkan seorang wanita berambut panjang yang sudah mulai beruban, dengan garis-garis wajah yang menunjukkan kebijaksanaan.
"Kau... Ima?" tanya wanita tersebut, matanya memeriksa Ima dari kepala hingga kaki.
"Iya, tante Lina," jawab Ima dengan hormat. "Aku ingin berbicara tentang ibuku dan Raka."
Lina tampak ragu sejenak, namun akhirnya mempersilakan Ima masuk. Ruang tamunya dihiasi dengan foto-foto keluarga dan beberapa lukisan. Dari jendela besar, matahari senja memberikan sentuhan hangat pada setiap sudut ruangan.
Mereka duduk berhadapan di sofa. Lina menyesap tehnya, sedangkan Ima mencoba mengatur kata-katanya. "Aku tahu mungkin ini aneh, tante. Tapi aku benar-benar ingin tahu hubungan ibuku dengan Raka."
Lina menaruh cangkir tehnya, wajahnya tampak serius. "Ana dan aku adalah sahabat dekat dulu. Kami bertemu Raka saat masih remaja. Ia... ia seperti adik bagi kami."
Mimik wajah Ima tampak penasaran, ia memiringkan kepalanya sedikit, "Lalu, mengapa Raka memberitahuku untuk menjauh dari ibu?"
Lina menarik napas dalam-dalam. "Karena ada rahasia besar yang kami sembunyikan darimu, sayang. Tapi mungkin saatnya kau tahu."
Sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, suara gemericik air dari kolam di halaman belakang mengalihkan perhatian mereka. Di sana, ada beberapa pot bunga yang tampak layu. Lina tampak sedih melihatnya.
"Ayo bantu tante menanam bunga baru," ajak Lina, berusaha mengalihkan pembicaraan mereka sejenak.
Dengan cekatan, mereka berdua mulai menanam bunga di halaman. Angin senja yang sejuk meniup wajah mereka, membuat suasana menjadi lebih rileks.
Sambil menanam, Lina mulai bercerita, "Ketika kami muda, kami sering menanam bunga bersama. Ada satu hal yang selalu Ana katakan padaku, bahwa menanam bunga itu seperti kehidupan. Kita perlu kesabaran untuk melihatnya tumbuh dan berkembang."
Ima menatap tanah yang ia gali, lalu berkata, "Jadi, menanam ini adalah tentang kesabaran dan pertumbuhan?"
Lina mengangguk, "Tepat sekali. Sama seperti rahasia yang aku sembunyikan darimu. Ada waktunya untuk setiap kebenaran terungkap, sayang. Dan mungkin, saatnya sudah tiba."
__ADS_1
Ima menatap Lina dengan mata yang penuh harapan, menunggu setiap kata yang akan diucapkan oleh teman lama ibunya itu. Namun, untuk saat ini, kedua wanita tersebut memilih untuk menikmati momen menanam bunga, menyadari bahwa ada waktunya untuk setiap kebenaran terungkap.