Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Rahasia Raka


__ADS_3

Matahari pagi menyinari taman kota dengan lembut. Burung-burung berkicau riang, dan aroma bunga-bunga segar menyebar di udara. Beberapa orang sudah mulai beraktivitas; ada yang joging, ada pula yang sibuk dengan matras yoga mereka. Di salah satu bangku, Ima duduk menunggu Raka yang akan segera datang.


Tak lama, Raka muncul dari kejauhan, mengenakan kaos putih dan celana pendek, rambutnya sedikit acak-acakan akibat angin pagi. "Maaf membuatmu menunggu," katanya sambil tersenyum.


"Ah, tidak apa-apa. Udara pagi ini sangat menyenangkan," balas Ima sambil menunjuk sekitar taman yang penuh dengan pepohonan rindang.


Mereka berdua memutuskan untuk berjalan mengelilingi taman, menikmati kesegaran udara pagi. Di tengah perjalanan, Ima bertanya, "Jadi, apa yang membuatmu memutuskan untuk pindah ke kota ini?"


Raka menatap jauh ke depan, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Saya ingin melarikan diri dari masa lalu saya, dari kesalahan dan penyesalan."


Ima menoleh ke arahnya, "Tapi, bukankah setiap orang memiliki masa lalu? Bukankah itu yang membuat kita menjadi diri kita sekarang?"


Raka menarik napas dalam-dalam, "Tentu, tapi ada beberapa kesalahan yang terlalu sulit untuk dihadapi." Gerakan tubuhnya tampak kaku, dan mata coklatnya yang biasanya hangat kini tampak teduh.


Sebelum Ima dapat merespon, sebuah teriakan kecil mengalihkan perhatian mereka. Seorang anak kecil berteriak karena balon merah hatinya terbang bebas di udara, dihempas angin.


Tanpa berpikir panjang, Raka berlari mengejar balon tersebut. Gerakan kakinya cepat, matanya fokus pada balon yang semakin menjauh. Beberapa orang di taman menoleh, terpesona dengan tindakan spontan Raka.


Setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, Raka berhasil menangkap balon tersebut. Anak kecil itu berlari mendekat, wajahnya berseri-seri, "Terima kasih, Kak!" ujarnya dengan suara riang.


Raka tersenyum, "Sama-sama. Hati-hati ya," katanya sambil menyerahkan balon kepada anak kecil itu. Ekspresi wajah Raka tampak lembut, matanya berbinar, dan senyumannya tulus.


Ima mendekat, "Itu sangat baik darimu," katanya.


Raka menggaruk tengkuknya, tampak malu, "Ah, hanya insting saja. Tidak tega melihat anak kecil itu sedih."


Mereka melanjutkan jalan-jalan mereka, namun suasana kini tampak lebih ringan. Meskipun Raka masih belum sepenuhnya terbuka tentang masa lalunya, tindakannya yang tulus menunjukkan bahwa di balik dinding pertahanannya, tersembunyi sisi lembut yang penuh dengan empati.


Dekat sebuah kolam di tengah taman, berdiri pohon besar yang rindang dengan daun-daunnya yang berdesir diterpa angin. Di bawahnya, bangku kayu tua menawarkan tempat berteduh bagi siapa pun yang ingin menikmati ketenangan. Inilah tempat Ima dan Raka memutuskan untuk duduk, terlindung dari sinar matahari yang mulai menyengat.

__ADS_1


Ima menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma tanah dan dedaunan yang segar. "Tempat ini selalu menjadi favorit saya. Ada sesuatu yang menenangkan di sini," katanya sambil menatap refleksi awan di kolam.


Raka memandang pohon besar di depannya, "Saya tahu apa yang Anda maksud. Ada kedamaian di sini, seolah kita bisa berbicara dengan alam."


Sejenak, keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun, kemudian Ima dengan lembut bertanya, "Raka, Anda berkata ingin memulai awal baru di kota ini. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Raka menarik napas dalam-dalam, wajahnya tampak tegang. Mimiknya menunjukkan keraguan, bibirnya bergetar sedikit sebelum dia berbicara. "Ada bagian masa lalu saya yang sulit untuk dihadapi. Kesalahan yang saya buat, orang-orang yang saya lukai tanpa sengaja."


Ima menatap Raka dengan mata penuh simpati, "Kita semua membuat kesalahan, Raka. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa berubah atau mendapatkan kesempatan kedua."


Raka memainkan jari-jarinya, "Saya tahu. Tapi ada beberapa luka yang sulit untuk sembuh. Beberapa kenangan yang terlalu menyakitkan untuk diingat."


Sebelum percakapan mereka berlanjut, suara bel es krim mengalihkan perhatian mereka. Seorang pedagang es krim dengan gerobak kayu berwarna biru mendekati mereka. "Es krim, Nak? Segar nih, cocok buat cuaca panas gini."


Ima tersenyum, "Kenapa tidak? Apa favoritmu, Raka?"


Raka tampak berpikir sejenak, "Dulu, saya selalu memilih rasa coklat. Bagaimana dengan Anda?"


Ketika pedagang memberikan es krim kepada mereka, Raka bertanya, "Tahukah Anda? Dulu, saat saya kecil, saya sering berlari mengejar gerobak es krim di kampung saya. Rasanya seperti mengejar kebahagiaan."


Ima tertawa, "Sama! Saya dan Yusuf selalu berlomba untuk mendapatkan es krim pertama. Kadang-kadang, kami bahkan berdebat tentang siapa yang mendapat bagian es krim yang lebih besar."


Raka tersenyum, "Kenangan manis, ya?"


"Ya, betul. Kadang-kadang, kita perlu mengingat kenangan manis seperti itu untuk melewati masa-masa sulit," jawab Ima dengan lembut.


Raka menatap Ima, "Terima kasih, Ima. Mungkin suatu hari nanti, saya akan memberi tahu Anda semua tentang masa lalu saya."


Ima mengangguk, "Saya akan menunggu cerita itu."

__ADS_1


Di bawah pohon rindang, dua jiwa berbagi kenangan, rahasia, dan es krim, mencari kedamaian di tengah kekacauan kehidupan.


Matahari sore mulai melukis langit dengan gradasi oranye dan ungu, menciptakan lukisan alam yang menakjubkan. Taman kota yang sebelumnya ramai kini mulai sepi, hanya beberapa keluarga muda yang masih bermain di area bermain anak dan pasangan-pasangan muda yang duduk di bangku taman.


Di bawah pohon besar yang sama, Ima dan Raka berdiri berhadapan. "Terima kasih untuk hari ini, Ima," kata Raka dengan nada yang penuh rasa syukur. Senyumnya hangat, namun matanya tampak sedikit berair.


Ima mengangguk, "Saya juga berterima kasih. Walaupun kita baru bertemu, rasanya seperti kita sudah mengenal satu sama lain sejak lama."


Raka menunduk sejenak, "Ada banyak hal yang ingin saya bagikan, tapi saya belum siap. Tapi, saya berjanji, suatu hari saya akan menceritakannya."


Ima menyentuh lengan Raka dengan lembut, "Saya akan menunggu, Raka. Setiap orang memiliki waktu sendiri untuk berbagi."


Raka mengangkat wajahnya, menatap Ima dengan mata yang tulus, "Kita bisa bertemu lagi, kan?"


"Pasti," jawab Ima dengan senyuman. "Bagaimana kalau minggu depan, di sini lagi?"


Raka mengangguk, "Itu kedengarannya sempurna."


Keduanya berjabat tangan, namun ada kehangatan dalam sentuhan itu, sebuah janji yang tak perlu diucapkan. Raka berjalan pergi, meninggalkan Ima yang masih berdiri, menatap langit sore yang semakin gelap.


Saat Ima mulai melangkah pulang, ia mendengar sesuatu yang jatuh di dekatnya. Menoleh, ia menemukan sebuah dompet kulit coklat di jalanan. Ia mengambilnya dan membukanya, berharap menemukan identitas pemiliknya. Di dalamnya, ada beberapa foto keluarga dan kartu identitas dengan nama "Hariyanto".


Dengan tekad, Ima memutuskan untuk mengembalikan dompet itu. Ia bertanya-tanya pada beberapa orang di sekitarnya, dan akhirnya menemukan seorang pria paruh baya yang tampak gelisah mencari sesuatu.


"Pak, apakah ini dompet Bapak?" tanya Ima sambil menunjukkan dompet tersebut.


Pria itu menoleh dengan mata berbinar, "Ya! Itu dompet saya! Terima kasih banyak, Nak!" katanya dengan lega.


Ima tersenyum, "Sama-sama, Pak. Hati-hati ya."

__ADS_1


Dengan dompet di tangan dan rasa syukur di hatinya, pria itu berjalan pulang, sementara Ima melanjutkan langkahnya dengan hati yang ringan. Meskipun hari itu penuh dengan emosi dan rahasia, kebaikan kecil seperti itu mengingatkannya tentang betapa berharganya setiap momen kehidupan.


Ketika matahari benar-benar tenggelam dan langit malam mulai menunjukkan bintang-bintangnya, Ima tiba di rumah dengan perasaan bahagia dan harapan untuk hari-hari yang akan datang.


__ADS_2