
Rerimbunan pepohonan di sepanjang tepi sungai menciptakan bayangan yang bermain-main di permukaan air. Matahari mulai meredup, memberikan suasana yang tenang dan damai. Air sungai mengalir dengan lembut, mencerminkan awan putih yang berarak di langit biru. Suara anak-anak bermain di kejauhan menambah keakraban di udara.
Ima dan Raka duduk berdampingan di atas rumput hijau di tepi sungai. Sebuah kesunyian melingkupi mereka untuk beberapa saat, hingga akhirnya Ima memecah keheningan itu, "Mengapa kau tak pernah menceritakan tentang hubunganmu dengan ibuku?"
Raka menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Ima dengan mata yang teduh. "Aku takut itu akan mengubah pandanganmu tentangku," jawabnya dengan lembut.
Ima mendekatkan diri, ingin mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Raka. "Aku hanya ingin tahu kebenarannya, Raka."
Raka menatap air sungai yang berkilauan. "Dulu, Ana, Lina, dan aku adalah sahabat karib. Kami sering menghabiskan waktu bersama, bermain, tertawa, bahkan terkadang menangis bersama," ia mulai bercerita.
Mereka terdiam sejenak saat sekelompok anak-anak mendekat ke tepi sungai, melepaskan perahu kertas ke dalam air. Kilauan mata anak-anak tersebut mengingatkan Raka dan Ima akan masa kecil mereka yang penuh dengan keceriaan.
"Ana dan aku memiliki hubungan yang spesial," lanjut Raka, matanya tampak jauh, seolah tenggelam dalam kenangan. "Kami berdua sering datang ke sini, tepat di tempat ini, membuat perahu kertas dan berlomba melepaskannya."
Ima merasakan kehangatan dalam kata-kata Raka. "Lalu apa yang terjadi?"
Raka menelan ludah, tampak berat membuka luka lama. "Kami berdua jatuh cinta. Tapi ada sesuatu yang memisahkan kami, sesuatu yang begitu dalam hingga hubungan kami retak. Ana memutuskan untuk menjauh dari hidupku, dan aku... aku hanya bisa menerima keputusannya."
Mimik wajah Ima berubah, dari rasa penasaran menjadi simpati. "Mengapa kau tak pernah memberitahuku? Aku berhak tahu, bukan?"
Raka mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku ingin memberitahumu, tapi aku takut. Takut kamu akan membenciku karena masa laluku dengan ibumu."
Ima mengambil tangan Raka dan menggenggamnya erat. "Raka, masa lalu adalah masa lalu. Yang penting adalah bagaimana kita menghadapi masa depan."
Raka menatap Ima dengan penuh harapan. "Apakah kamu yakin bisa menerima semua ini? Bahwa aku pernah memiliki hubungan dengan ibumu?"
Ima tersenyum, "Seperti yang tante Lina katakan, dalam hidup kita perlu kesabaran untuk melihat segalanya tumbuh dan berkembang. Mungkin saatnya kita berdua melihat ke depan dan membiarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu."
Keduanya kembali menikmati pemandangan sungai dengan anak-anak yang bermain di sekitarnya. Di tengah kehangatan matahari senja, hati mereka menemukan kedamaian, menerima kenyataan dan bersiap untuk masa depan yang lebih cerah.
__ADS_1
Sore itu, langit berubah menjadi palet warna oranye dan merah muda, menciptakan suasana yang dramatis. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan yang segar. Ima dan Raka berada di balkon rumah Ima, tempat yang memberikan pemandangan kota yang indah dengan lampu-lampu yang mulai berkedip.
"Ima," Raka memulai, suaranya bergetar, "Ada sesuatu yang perlu kau ketahui. Sesuatu yang bahkan Ana mungkin belum pernah ceritakan padamu."
Ima menoleh, matanya menatap tajam ke mata Raka, mencoba mencari apa yang tersirat di balik kedua bola mata itu. "Apa itu, Raka?"
Raka menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara rendah, "Untuk keselamatanmu, kau harus menjauh dari Ana."
Ima terkejut, tubuhnya menegang. "Mengapa kau mengatakan hal seperti itu? Dia ibuku!"
Raka menunduk, jari-jarinya bermain dengan rantai kalung phoenix yang selalu ia kenakan. "Ada bahaya yang mengintai keluargamu, Ima. Aku hanya ingin melindungimu."
Ima tampak bingung dan kesal. "Jadi, semua ini tentang masa lalu kalian berdua? Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?"
Raka menggigit bibirnya, tampak berjuang dengan emosinya. "Aku berharap tak perlu menceritakan ini padamu. Tapi aku takut, Ima. Aku takut sejarah akan berulang dan kau akan menjadi korban."
Mata Ima memerah, tangan gemetar. "Beritahu aku, Raka. Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan ibuku?"
Ima tampak terpukul dengan pengakuan tersebut. Namun, di balik rasa syok dan takjub, ia merasa semakin yakin akan kebenaran hatinya. "Raka, Ana adalah ibuku. Aku takkan menjauh darinya hanya karena masa lalumu. Aku berhak tahu lebih banyak dan berhak membuat keputusan untuk diriku sendiri."
Raka mengangguk dengan berat. "Aku mengerti, Ima. Tapi, berhati-hatilah."
Malam itu, Ima memutuskan untuk memasak makan malam spesial untuk Ana. Dapur penuh dengan aroma masakan yang menggugah selera, dari ayam panggang hingga saus tomat yang kental. Setiap detail masakan merupakan ungkapan cinta Ima kepada ibunya.
Ketika Ana pulang, aroma masakan menyambutnya di pintu. "Apa ini?" tanyanya dengan senyum lebar.
"Sebuah makan malam spesial untuk ibu tersayang," jawab Ima sambil mencium pipi Ana.
Mereka duduk berdampingan, menikmati makan malam dengan suasana yang hangat. Meski begitu, ada sesuatu yang mengganjal di hati Ima. Pertemuan sore itu dengan Raka, peringatannya, semuanya berkecamuk di pikirannya.
__ADS_1
Namun, untuk saat ini, Ima memutuskan untuk menikmati saat-saat berharga bersama ibunya. Karena baginya, cinta dan kepercayaan adalah segalanya.
Sinar bulan memancar melalui jendela kamar Ima, menerangi wajahnya yang tampak sedikit pucat. Malam itu, pikirannya penuh dengan pertanyaan dan kebingungan. Mengapa Raka begitu khawatir? Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu antara Raka dan Ana?
Ima beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ruang keluarga. Di sana, dia menemukan Ana yang tampak tengah termenung, duduk di sofa dengan cahaya lampu yang redup. Gerak tubuh Ana menunjukkan kelelahan, namun mata coklatnya masih bersinar dengan kekuatan dan keteguhan.
Dengan langkah pelan, Ima mendekat dan duduk di sebelah Ana. "Ibu," katanya dengan suara yang lembut, "Ada yang ingin aku tanyakan."
Ana menoleh, wajahnya memperlihatkan rasa penasaran namun juga kekhawatiran. "Ada apa, sayang?"
Ima mengambil napas dalam-dalam, mencari kata-kata yang tepat. "Aku bertemu dengan Raka beberapa hari yang lalu. Dia... Dia memperingatkan aku untuk menjauh darimu."
Mimik wajah Ana berubah dalam sekejap, dari rasa penasaran menjadi ketakutan. "Mengapa dia memberitahumu itu?"
"Sebenarnya aku tak tahu dengan pasti. Tapi dia bilang ada bahaya yang mengintai keluarga kita. Apa ibu tahu apa yang dimaksud Raka?"
Ana terdiam sejenak, tangannya menggenggam tangan Ima dengan erat. "Dulu, saat kami masih muda, ada insiden yang hampir merenggut nyawaku. Raka terlibat di dalamnya. Mungkin dia merasa bersalah hingga sekarang."
Ima menatap Ana dengan mata berkaca-kaca. "Tapi ibu, mengapa ibu tak pernah memberitahuku ini? Aku berhak tahu."
Ana memeluk Ima dengan erat. "Aku tahu, sayang. Tapi aku takut. Takut kau akan membenci Raka atau bahkan membenciku."
Ima melepaskan pelukannya dan menatap Ana dengan penuh kehangatan. "Tidak akan pernah, Ibu. Bagiku, kau adalah segalanya."
Mereka berdua kemudian memutuskan untuk menenangkan diri dengan menonton film keluarga lama. Proyektor dinyalakan, dan gambar-gambar dari masa lalu muncul di layar. Mereka tertawa melihat momen-momen kocak dari masa kecil Ima, menangis saat melihat momen-momen haru, dan mengingat kembali betapa indahnya kebersamaan keluarga.
Dalam keheningan malam, dengan suara film lama yang berputar, keduanya merasakan kehangatan yang tak tergantikan. Meski masa lalu membawa luka dan misteri, kekuatan cinta keluarga selalu mampu menyembuhkan segala luka.
Ima menatap Ana dengan mata yang bersinar, "Terima kasih, Ibu. Karena selalu ada untukku, tak peduli apa yang terjadi."
__ADS_1
Ana tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Aku akan selalu ada untukmu, sayang. Selalu."
Malam itu, meski banyak rahasia dan luka yang belum sepenuhnya terobati, hati keduanya penuh dengan cinta dan pengertian. Mereka tahu bahwa, bersama-sama, mereka bisa menghadapi apapun yang datang menghampiri.