
Seiring dengan mentari pagi yang mulai naik, Ana duduk di veranda belakang rumahnya, menikmati secangkir teh hangat. Udara pagi yang sejuk membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga yang baru saja mekar di taman. Suara burung berkicau riang dari pepohonan, melengkapi suasana pagi yang damai.
Ima, dengan cepol rambutnya yang khas dan pakaian dapurnya, sedang asik di dapur. Tangan kecilnya sibuk menguleni adonan roti, sementara bibirnya bergumam kecil mengikuti irama lagu yang sedang diputar dari radio dapur. Ia ingin menciptakan roti yang sempurna untuk memberikan kejutan kepada Yusuf.
"Semoga kali ini adonannya tidak terlalu keras," gumam Ima sambil menatap adonan yang berada di depannya.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu pagar depan berderit pelan. Ana menoleh dan melihat seorang pria paruh baya dengan seragam tukang pos berdiri sambil memegang sebuah surat bersegel lama. Wajahnya berseri-seri, seperti biasa setelah menyelesaikan rutinitas paginya mengantar surat.
"Selamat pagi, Bu Ana!" sapa tukang pos dengan semangat. Senyumnya menampakkan deretan gigi yang masih rapi.
"Selamat pagi, Pak Budi. Anda membawa surat untuk saya?" tanya Ana dengan ekspresi yang penuh keingintahuan sambil meletakkan cangkir tehnya.
"Benar sekali, Bu. Ini surat yang tampaknya sudah lama," kata Pak Budi sambil memberikan surat tersebut. Matanya melirik sejenak ke arah dapur, "Wangi sekali, Bu. Apakah sedang memanggang roti?"
Ana tersenyum. "Oh, itu Ima. Dia sedang berlatih membuat roti. Terima kasih, Pak Budi."
Seiring dengan pergi nya Pak Budi, Ana membuka surat tersebut dengan perlahan, hatinya berdebar. Surat itu tertulis dengan tulisan tangan yang rapi, membuat Ana langsung mengenali siapa pengirimnya. Namun, sebelum dia sempat membaca lebih lanjut, Ima muncul dari dapur dengan wajah yang cerah.
"Ibu, lihat ini!" serunya sambil menunjukkan loyang berisi roti yang baru saja dipanggang. "Bagaimana menurut Ibu? Harum, kan?"
Ana tersenyum, meski pikirannya masih tertuju pada surat itu. "Wangi sekali, Sayang. Saya yakin Yusuf akan suka. Kamu memang hebat."
Ima memperhatikan ekspresi ibunya yang agak berbeda. "Apa yang Ibu pegang?" tanya Ima dengan tatapan tajam.
"Oh ini? Hanya surat lama," jawab Ana sambil berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Mimik wajah Ana yang berubah saat membaca surat itu tidak luput dari perhatian Ima. "Dari siapa surat itu, Ibu?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Ana menarik napas dalam-dalam, "Dari teman lama, Sayang. Tapi, kita bicara nanti ya? Sekarang ayo kita coba roti buatanmu!"
__ADS_1
Ima mengangguk, namun hatinya masih penasaran tentang misteri surat yang dipegang ibunya.
Dengan jari-jari gemetar, Ana memegang surat tersebut. Kertasnya sudah menguning, menunjukkan bahwa surat itu sudah lama tertulis. Seiring gerakan perlahan membuka lipatan surat itu, matahari pagi yang memasuki ruang tamu menyoroti wajahnya, membuat bayangan wajahnya tampak sedikit memanjang di lantai.
"Ana," mulai surat itu dengan tulisan tangan yang feminin dan penuh gaya, "Entah bagaimana kamu saat membaca surat ini. Aku harap kamu baik-baik saja. Sudah lama kita tidak berkomunikasi."
Ana merasakan denyut jantungnya semakin cepat. Dia ingat betul tulisan tangan ini. Dinda. Sahabatnya yang dulu selalu ada di saat suka dan duka, ketika mereka berdua masih berjuang dengan identitas mereka sebagai waria.
"Ingatkah kamu saat kita pernah berjanji bahwa apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama? Saat itu, kita berada di tepi pantai, menatap matahari tenggelam dan berbagi mimpi-mimpi kita. Namun, aku tahu, keadaan memisahkan kita."
Dekapan hangat udara pagi yang menyentuh kulit Ana, membuatnya merasa nyaman. Namun, isi surat tersebut membawa perasaan campur aduk. Kenangan lama berkecamuk dengan emosi saat ini.
Sejenak, suara Ima dan Yusuf mengalihkan perhatiannya. Di dapur, Yusuf yang awalnya ingin membantu Ima malah menumpahkan tepung ke seluruh lantai.
"Yusuf! Lihat apa yang kau lakukan!" sergah Ima dengan mata yang membelalak, namun senyum khasnya tetap terpancar.
Ima tertawa terbahak-bahak sambil memungut sejumput tepung dan melemparkannya ke Yusuf, memulai perang tepung yang riuh dan penuh tawa. Gelak tawa mereka mengisi ruangan, menciptakan suasana yang hangat dan ceria.
Ana tersenyum melihat kedua anak angkatnya itu, sejenak melupakan isi surat yang membuatnya gelisah. Namun, saat matanya kembali pada surat itu, kenyataan kembali memaksanya untuk menghadapi masa lalu.
"Aku ingin bertemu denganmu, Ana. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan. Aku berada di kota ini selama beberapa hari lagi. Bisakah kita bertemu?"
Ana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Bertemu dengan Dinda tentu akan membawa banyak kenangan, dan mungkin juga perasaan lama yang belum terselesaikan.
Mendengar keributan di dapur, Ana memutuskan untuk bergabung dengan Yusuf dan Ima. Dia membutuhkan hiburan ringan sebelum mengambil keputusan apapun.
"Sepertinya kalian berdua membutuhkan bantuan di sini," kata Ana sambil mengangkat kedua tangannya yang penuh tepung, menantang mereka berdua.
Yusuf dan Ima menatap Ana dengan mata berbinar, "Tantangan diterima, Ibu!" seru Ima.
__ADS_1
Di tengah-tengah perang tepung, tawa, dan keceriaan, Ana merasa ada kedamaian. Namun, keputusan untuk bertemu dengan Dinda tetap menghantui pikirannya.
Berkelana di labirin pikirannya, Ana ditarik kembali ke masa lalu, saat pertama kali dia bertemu Dinda. Kedua gadis muda itu berada di sebuah kedai kecil yang dikelilingi oleh tanaman rambat dan lampu gantung yang menghasilkan cahaya lembut. Suasana malam yang hangat ditemani dengan aroma kopi yang menyebar ke seluruh ruangan.
Dinda, dengan rambut panjang hitam legam yang selalu diikat kuda, duduk di hadapan Ana, mata mereka saling bertemu. "Kau tahu, Ana," kata Dinda dengan ekspresi serius, "Kita mungkin berbeda dari yang lain, tapi itu tidak membuat kita kurang berharga."
Ana menatap Dinda dengan mata berkaca-kaca, "Terkadang rasanya sulit, Dinda. Setiap hari selalu ada tatapan, ejekan, dan cemoohan."
Dinda menggenggam tangan Ana dengan erat. "Tapi kita punya satu sama lain. Kita harus saling mendukung. Jangan biarkan dunia merobek kita."
Mereka berdua kemudian saling berpelukan, mencari kehangatan dan kekuatan dalam dekapan satu sama lain di tengah dinginnya malam.
Kembali ke kenyataan, Ana mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Betapa banyak yang mereka lalui bersama. Betapa berharganya kenangan-kenangan itu bagi Ana.
Sementara itu, di taman, Ima dan Yusuf sedang duduk di bawah pohon besar yang rindang. Di sebelah mereka, seorang kakek dengan rambut putih yang mulai menipis dan kulit yang keriput duduk sambil memandangi burung-burung kecil dalam sangkarnya. Setiap burung tampak ceria, berkicau dengan riang, namun tetap terkurung di balik jeruji.
Ima, dengan rasa penasaran yang khas, mendekati kakek tersebut. "Kakek, mengapa burung-burung ini tidak kau lepaskan saja? Bukankah mereka akan lebih bahagia di alam bebas?"
Kakek itu menoleh, matanya yang sayu menatap Ima, "Kadang-kadang, kebebasan memiliki harga. Saya merawat burung-burung ini sejak mereka masih bayi. Mereka belum tahu bagaimana hidup di alam liar, bagaimana mencari makan atau bahkan bertahan dari predator."
Yusuf menambahkan, "Tapi bukankah itu adalah takdir alami mereka? Untuk hidup bebas di alam?"
Kakek itu tersenyum, "Terkadang, apa yang kita anggap sebagai kebebasan bisa menjadi kurungan tersendiri. Mereka bebas dari bahaya di sini, bebas dari kelaparan. Namun, mereka kehilangan kebebasan untuk terbang bebas di langit."
Ima dan Yusuf saling bertukar pandangan, merenungkan makna kata-kata kakek tersebut.
"Kalian berdua masih muda," lanjut kakek itu, "Ada banyak hal yang akan kalian pelajari tentang kehidupan dan kebebasan. Yang penting adalah kalian selalu menghargai apa yang kalian miliki."
Seiring dengan angin yang bertiup lembut, membawa aroma bunga-bunga taman, Ima dan Yusuf duduk di samping kakek itu, mendengarkan kisah-kisahnya tentang hidup, cinta, dan kebebasan.
__ADS_1