
Sebuah angin sepoi-sepoi bertiup melalui jendela yang terbuka, menggoyangkan gorden berwarna pastel yang menghiasi ruang tamu. Di luar, pohon-pohon bergoyang riang, menciptakan bayang-bayang dinamis di lantai parket yang mengkilap. Cahaya matahari senja menembus ruangan, memberikan aura hangat yang bertolak belakang dengan suasana hati yang kini mencekam.
Di tengah ruangan, sebuah televisi berukuran besar menampilkan berita sore. Namun, suara televisi hampir tak terdengar karena perhatian sepenuhnya tertuju pada dua sosok yang duduk di sofa berhadapan.
Ana, dengan rambut panjangnya yang sudah mulai beruban, menatap Yusuf dengan penuh kecemasan. Ekspresinya campuran kekhawatiran dan kesedihan. Sementara itu, Yusuf, dengan raut wajah serius, menarik napas dalam-dalam, mencari keberanian untuk memulai percakapan.
"Ana," kata Yusuf dengan suara yang sedikit gemetar, "apa yang Raka katakan kepadaku, apakah itu benar?"
Ana menunduk, mengambil napas panjang, dan kemudian kembali menatap Yusuf. Matanya basah, "Yusuf, aku ingin kau tahu dari mulutku, bukan dari orang lain."
Yusuf mengatupkan bibirnya, berjuang menahan emosi yang menderu. "Lalu, mengapa kau tidak memberi tahuku? Apa aku tidak berhak tahu?"
Ana meraih tangan Yusuf, mencoba menenangkannya dengan sentuhan lembutnya. "Tentu saja kau berhak tahu. Tapi ini bukan tentang hak. Ini tentang melindungi kalian. Melindungi kalian dari kebenaran yang mungkin sulit kalian terima."
Di televisi, seorang reporter berbicara tentang seorang pria yang baru saja menyelamatkan seorang anak dari kebakaran besar. Gambar pria tersebut, dengan baju yang sudah kusam dan berlumuran abu, diputar berulang-ulang sambil memeluk anak kecil yang tampak ketakutan.
Yusuf menoleh ke televisi, matanya terpaku pada pria pemberani tersebut. "Lihat itu, Ana. Orang itu punya masa lalu, mungkin masa lalu yang sulit. Tapi apa yang dia lakukan hari ini, tindakan heroiknya, itulah yang orang-orang ingat."
Ana mengangguk perlahan. "Kau benar, Yusuf. Setiap orang punya masa lalu. Tapi aku takut, aku takut masa laluku akan mengubah cara kalian melihatku."
Yusuf merenung sejenak, kemudian berkata, "Kau selalu mengajarkanku untuk jujur, untuk berterus terang. Mengapa kau sendiri tidak melakukannya?"
Ana menghela nafas, mencari kata-kata yang tepat. "Ketika seorang ibu melihat anak-anaknya, dia hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Aku takut, jika kau tahu kebenarannya, itu akan membawa luka. Aku ingin melindungi kalian."
Yusuf memandang Ana dengan mata yang memerah. "Tapi kita adalah keluarga, Ana. Kita seharusnya saling percaya."
Ana mengusap air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Aku minta maaf, Yusuf. Aku seharusnya memberi tahumu."
Keduanya saling berpelukan, mencari kenyamanan dalam dekapan satu sama lain. Televisi di latar belakang terus memutar berita tentang pria pemberani tersebut, mengingatkan mereka bahwa setiap orang punya cerita, dan apa yang paling penting adalah bagaimana mereka memilih untuk hidup di masa kini.
__ADS_1
Hujan mulai turun dengan gerimis, menambah suasana kelabu yang sudah memenuhi rumah. Setetes demi setetes air membasahi bumi, memberi kehidupan pada tanaman di halaman dan menciptakan aroma tanah yang khas. Awan tebal menutupi cahaya matahari, membiaskan sedikit kesedihan yang terasa di udara.
Dari dalam rumah, suara gemercik hujan menjadi latar belakang bagi suasana hati Ima. Ia duduk di sofa, memeluk bantal erat-erat, seolah mencari pelukan hangat dari keluarganya. Wajahnya tampak murung, matanya menatap jauh ke luar jendela, melihat butiran hujan yang jatuh dari langit.
Yusuf, yang berdiri di ambang pintu ruang tamu, menatap adiknya dengan keprihatinan. "Ima," katanya dengan suara pelan, mendekati adiknya.
Ima menoleh, matanya yang sembab menunjukkan betapa banyak air mata yang telah ia tumpahkan. "Yusuf," bisiknya.
Yusuf duduk di samping Ima, memegang tangannya yang dingin. "Apa yang kau rasakan, Dek?" tanyanya dengan lembut.
Ima menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan kata-kata yang berkecamuk di dalam hatinya. "Aku merasa terjepit, Kak. Antara kamu dan Ana. Aku tidak tahu harus berpihak pada siapa."
Yusuf memandang Ima dengan rasa bersalah. "Maafkan aku, Ima. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti ini."
Ima menggeleng. "Bukan salahmu, Kak. Aku hanya... aku hanya ingin keluarga kita seperti dulu lagi. Tanpa rahasia, tanpa kesedihan."
Dari luar jendela, terdengar suara kucing yang merengek pelan. Keduanya menoleh, menyaksikan seekor kucing betina dengan bulu abu-abu sedang melindungi anak-anaknya yang baru lahir dari hujan di bawah semak-semak.
Yusuf mengangguk, matanya tertuju pada kucing tersebut. "Begitu juga Ana, Ima. Dia hanya ingin melindungi kita. Mungkin cara dia salah, tapi niatnya pasti baik."
Ima memandang Yusuf, mencari kebenaran di mata kakaknya. "Aku tahu, Kak. Tapi aku ingin kita semua bisa terbuka satu sama lain. Tanpa rahasia, tanpa ketakutan."
Yusuf menarik Ima ke dalam pelukannya, mencoba memberikan kenyamanan. "Kita akan melewati ini, Ima. Bersama-sama."
Ima menangis dalam pelukan Yusuf, membiarkan semua perasaannya keluar. "Terima kasih, Kak."
Mereka berdua duduk bersama, menyaksikan hujan yang semakin deras. Seekor kucing dan anak-anaknya, yang kini telah berlindung di bawah atap, mengingatkan mereka tentang kekuatan kasih sayang dalam keluarga.
Setelah hujan mereda, dan langit mulai cerah, Ima dan Yusuf berdiri, saling berpegangan tangan, bersumpah untuk selalu mendukung satu sama lain, tak peduli apa yang terjadi.
__ADS_1
Pagi yang cerah menyambut mereka, memancarkan sinar matahari yang hangat dan menggembirakan. Suara gemericik air di kolam taman menghadirkan suasana yang tenang, mengajak untuk merenung sejenak. Ima dan Yusuf berdiri di teras rumah, menatap satu sama lain dengan ekspresi yang penuh makna.
Yusuf membuka mulutnya pertama kali, suaranya lembut dan penuh penyesalan. "Ima, aku ingin minta maaf. Aku tahu aku sudah terlalu keras padamu, dan itu tidak adil."
Ima tersenyum lembut, mengangguk mengerti. "Terima kasih, Kak. Aku juga ingin meminta maaf jika aku membuatmu khawatir."
Yusuf menghampiri adiknya, memeluknya dengan erat. Mereka merasakan kehangatan keluarga yang selama ini mereka rindukan. "Kita adalah saudara, Ima. Tidak ada yang bisa mengubah itu."
Ima tersenyum, air matanya yang berkilau menunjukkan rasa leganya. "Aku tahu, Kak."
Mereka melepaskan pelukan dan berjalan bersama menuju taman. Anak-anak tetangga sedang bermain dengan riang, tertawa dan berlarian tanpa beban. Suasana itu menular, dan Yusuf dan Ima ikut tersenyum saat melihat mereka.
Ima menunjuk ke arah anak-anak tersebut. "Lihatlah mereka, Kak. Mereka bahagia karena mereka tidak memikirkan masa lalu atau masa depan. Mereka hanya hidup saat ini."
Yusuf mengangguk setuju. "Kita bisa belajar banyak dari anak-anak itu, Ima. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa memilih untuk bahagia di masa kini."
Ima menatap Yusuf dengan penuh penghargaan. "Kamu benar, Kak. Dan tentang Ana..."
Yusuf mengangguk, menunjukkan bahwa dia siap mendengarkan.
Ima melanjutkan, "Kita harus mendukung Ana. Apapun yang terjadi di masa lalu, dia adalah ibu kita yang mencintai kita dengan tulus."
Yusuf mengangguk sekali lagi. "Aku akan berusaha memahami dan menerima masa lalu Ana, Ima. Kita semua punya masa lalu yang mungkin tidak sempurna."
Mereka berdua duduk di tepi kolam taman, merenungkan kata-kata yang telah mereka bagikan. Suara burung-burung yang berkicau di pepohonan dan hembusan angin yang lembut menciptakan suasana damai di sekitar mereka.
Tiba-tiba, anak-anak tetangga datang berlarian, mengajak Ima dan Yusuf bergabung dalam permainan mereka. Tanpa ragu, mereka ikut bermain, tertawa, dan berlarian seperti anak-anak. Mereka lupa sejenak akan semua masalah dan rahasia keluarga mereka.
Saat matahari mulai merendahkan diri di langit, mereka berdua duduk di rerumputan, mengamati langit berubah warna menjadi oranye dan merah jambu. Yusuf merangkul Ima, dan mereka merasa kedamaian yang telah lama mereka cari dalam keluarga mereka yang kembali bersatu.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa mengubah masa lalu, tetapi mereka telah memilih untuk merangkul kebahagiaan di masa kini. Dalam taman yang tenang, mereka menemukan kembali makna sejati dari keluarga: dukungan, cinta, dan kemampuan untuk saling memaafkan. Dan di antara mereka, anak-anak tetangga mereka bermain, mengingatkan mereka bahwa kebahagiaan selalu ada di sana, jika kita hanya mau melihatnya.