Ibuku Ternyata Seorang Waria

Ibuku Ternyata Seorang Waria
Gelisah dan Keputusan


__ADS_3

Lantai kayu berwarna coklat muda di ruang tamu rumah Ana sedikit berderik ketika dia berjalan mondar-mandir. Tangan kanannya memegang surat Dinda dengan erat, sementara jari tangan kirinya menari-nari di dekat dagu, sebuah tanda bahwa pikirannya sedang berkecamuk. Setiap langkahnya menciptakan irama yang teratur, seolah mencerminkan detak jantung yang tak menentu. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela menciptakan bayangan Ana yang panjang di lantai, bergerak mengikuti ritme langkahnya.


Dari sudut ruangan, Ima dan Yusuf saling berpandangan. Keduanya bisa merasakan kegelisahan yang memenuhi ruangan. Ima menyentuh lengan Yusuf dan berbisik, "Kau merasa ada yang tidak beres dengan Ibu, bukan?"


Yusuf mengangguk, "Aku belum pernah melihatnya sebegitu gelisahnya. Apa kira-kira yang tertulis di surat itu?"


Mereka berdua kemudian memutuskan untuk mendekati Ana, ingin menenangkannya dengan cara mereka sendiri. "Ibu," kata Ima dengan lembut, menghentikan langkah Ana, "Kenapa Ibu tampak begitu cemas?"


Ana menatap kedua mata anak angkatnya yang penuh kekhawatiran. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba merangkai kata-kata dengan baik. "Surat ini... dari seseorang yang sangat spesial di masa lalu saya," ujarnya, suaranya bergetar.


Sebelum Ana melanjutkan, Yusuf, dengan senyum manisnya, berkata, "Tahukah Ibu apa yang kami lakukan saat merasa cemas atau sedih dulu?"


Tanpa menunggu jawaban, Yusuf dan Ima mulai menyanyikan lagu kesukaan Ana saat mereka masih kecil. Suara keduanya mengisi ruangan, mengusir kegelisahan yang sempat menguasai. Ana, terpesona, merasa hangat dan dibanjiri oleh kenangan masa lalu. Dia mengenang saat-saat ketika mereka menyanyikan lagu tersebut bersama, di saat-saat sulit atau bahagia.


Ima menghampiri Ana dan memeluknya erat, "Kami selalu ada untuk Ibu. Jangan lupa itu."


Ana membalas pelukan Ima dan dengan suara bergetar berkata, "Terima kasih. Aku memutuskan untuk menghubungi Dinda. Ada banyak hal yang perlu kami bicarakan."


Yusuf, dengan semangatnya, berkata, "Kami mendukung keputusan Ibu. Jangan takut menghadapi masa lalu."


Ana tersenyum lembut, merasa dikuatkan oleh kedua anak angkatnya. "Kalian benar. Saatnya menyelesaikan apa yang belum selesai."


Sambil duduk di sofa, Ana mengambil ponselnya dan mulai mengetik nomor yang tertulis di surat tersebut. Hatinya berdebar-debar, tetapi dengan dukungan Ima dan Yusuf, dia merasa siap menghadapi apa pun yang akan datang.


Rumah Ana dipenuhi dengan aroma vanila dan kayu manis dari lilin aromaterapi yang baru saja dinyalakan. Lampu gantung di atas meja makan memancarkan cahaya lembut, menambah nuansa hangat dan menenangkan di ruangan tersebut. Di kejauhan, suara desiran air dari kolam kecil di taman belakang rumah menambah ketenangan suasana.


Ana duduk di meja riasnya, memandang refleksi dirinya di cermin. Dengan gerakan perlahan, ia mengambil sebuah sisir dan mulai menyisir rambutnya yang hitam panjang. Dia berusaha merapikannya dengan sempurna, berharap memberikan kesan yang baik saat bertemu dengan Dinda.

__ADS_1


Sementara itu, di ruang keluarga, Yusuf dan Ima tengah duduk di sofa, membuka sebuah album foto tua berwarna coklat yang mereka temukan di rak buku. Lembar demi lembarnya mereka balik, dan di setiap foto, terdapat potret Ana dan Dinda yang tampak begitu akrab dan bahagia.


"Melihat foto-foto ini, sepertinya Ibu dan Dinda sangat dekat ya," ujar Ima sambil menunjukkan foto di mana Ana dan Dinda sedang tertawa lepas di pinggir pantai.


Yusuf mengangguk, "Mereka tampak begitu bahagia. Aku berharap pertemuan nanti berjalan dengan baik."


Tiba-tiba, Ana muncul dari belakang mereka, "Foto mana yang kalian lihat?" tanyanya dengan nada ringan, tetapi matanya penuh rasa ingin tahu.


Ima menunjukkan salah satu foto yang menampilkan Ana dan Dinda dengan latar belakang gunung. "Ibu tampak sangat muda di sini."


Ana tersenyum, mengenang masa lalu. "Itu saat kami pergi berkemah di gunung bersama. Dinda selalu menjadi penyemangat saya. Dia selalu bilang bahwa kita harus menghargai setiap momen dalam hidup."


Yusuf, dengan mata yang bersinar, bertanya, "Apakah Ibu gugup untuk pertemuan nanti?"


Ana menarik napas dalam-dalam, menunjukkan ekspresi yang campur aduk. "Tentu. Tapi sekaligus merasa bersemangat. Ada banyak kenangan yang ingin saya ingat kembali bersama Dinda."


Ima, dengan tatapan lembut, berkata, "Kami mendukung keputusan Ibu. Apapun yang terjadi, kami akan selalu ada di sisi Ibu."


Setelah beberapa saat berbagi kenangan, Ana memutuskan untuk melanjutkan persiapan pertemuannya dengan Dinda. Dia memilih pakaian yang tepat, parfum yang lembut, dan memastikan segala sesuatunya sempurna.


Sementara itu, Yusuf dan Ima memutuskan untuk membuatkan camilan kesukaan Ana sebagai bentuk dukungan mereka. Mereka tahu bahwa pertemuan tersebut bukanlah hal yang mudah bagi Ana, tetapi dengan dukungan keluarga, mereka yakin Ana dapat melewatinya dengan baik.


Langit berwarna biru muda, dengan awan tipis yang berarak membingkai kota. Cahaya matahari pagi yang hangat menyinari jalan-jalan kota dan mengiluminasi kafe kecil yang terletak di sudut jalan. Dari dalam kafe, aroma kopi segar menyebar, menarik para pengunjung yang lewat. Di salah satu meja dekat jendela, Ana duduk, tangan kanannya memegang cangkir kopi sementara tangan kirinya bermain-main dengan sendok kecil.


Dekorasi kafe tersebut sederhana namun elegan, dengan lampu gantung berbentuk vintage dan dinding bata ekspos yang memberikan kesan hangat. Pohon-pohon besar di luar kafe menambah suasana alami dengan daun-daun yang bergerak perlahan akibat tiupan angin.


Mimik Ana menunjukkan kegelisahan. Matanya sesekali menatap pintu kafe, menunggu sosok yang sudah lama ia rindukan. Wajahnya tampak tegang, namun di balik itu, ada harapan yang menyala.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka dan munculah sosok wanita dengan rambut panjang berombak, mengenakan gaun sederhana namun anggun. Itu Dinda. Mata mereka bertemu, dan dalam sekejap, semua kegelisahan hilang, digantikan oleh kebahagiaan yang mendalam.


"Dinda," bisik Ana, suaranya penuh dengan emosi.


"Ana," Dinda membalas dengan suara yang lembut, kedua wanita itu berjalan mendekati satu sama lain dan berpelukan erat, seolah dunia di sekitar mereka menghilang.


Setelah beberapa menit, keduanya melepaskan pelukan. Dinda tersenyum, "Kau tampak tak berubah, Ana."


Ana menggigit bibirnya, menahan air mata, "Kau juga, Dinda. Selalu cantik seperti dulu."


Dinda tertawa ringan, "Terima kasih. Ayo duduk, banyak yang harus kita bicarakan."


Mereka berdua duduk berhadapan, berbicara tentang kenangan lama, tantangan yang mereka hadapi, dan bagaimana kehidupan membawa mereka ke titik ini. Setiap cerita, setiap kenangan, membawa kedua wanita itu lebih dekat lagi.


Sementara itu, di sebuah taman yang berjarak beberapa blok dari kafe, Yusuf dan Ima sedang bersantai di bawah naungan pohon besar. Mereka tertawa dan bermain dengan sekelompok anak-anak yang baru mereka temui. Suara tawa anak-anak menggema di taman, menciptakan suasana yang ceria.


Ima duduk di samping Yusuf, "Melihat anak-anak ini bermain membuatku berpikir betapa berharganya persahabatan dan keluarga."


Yusuf mengangguk, "Betul. Tidak peduli seberapa sulitnya hidup, selama kita memiliki orang-orang yang peduli, kita bisa melewatinya."


Ima tersenyum, "Seperti Ibu dan Dinda. Mereka memiliki satu sama lain di saat-saat sulit, dan itu yang membuat mereka kuat."


Yusuf memandangi langit, "Semoga pertemuan Ibu dan Dinda hari ini membawa kebahagiaan bagi keduanya."


Kembali ke kafe, setelah berjam-jam bercakap-cakap, Ana dan Dinda memutuskan untuk berpisah. Mereka berpelukan lagi, kali ini lebih lama, dengan janji untuk tetap berkomunikasi dan menjaga persahabatan mereka.


"Terima kasih, Dinda," kata Ana dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Dinda mengusap pipi Ana, "Terima kasih juga, Ana. Sampai jumpa lagi."


Kedua wanita itu kemudian berjalan ke arah yang berbeda, membawa kenangan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.


__ADS_2