
Langit sore itu mendung, serupa dengan ekspresi wajah Yusuf. Ia berjalan dengan langkah berat menuju taman, sepatunya yang sudah agak lusuh menghempaskan dedaunan kering yang tergeletak di jalan setapak. Suara berisik kicauan burung memberi kesan kontras dengan perasaan hatinya yang tenggelam dalam kebingungan.
Ketika ia mendekati sebuah bangku di taman, suara perbincangan antara dua orang mampu ia dengar dengan jelas. Raka, dengan postur tubuhnya yang tegap, berdiri di samping Ima yang tampaknya terkejut dengan pembicaraannya. Ima menggigit bibir bawahnya, tanda kegelisahan.
"Kamu yakin, Raka?" Ima bertanya dengan suaranya yang lembut namun penuh kecurigaan.
Raka menghela nafas panjang, "Aku pikir kamu berhak tahu, Ima. Tapi ingat, ini bukan rahasiaku untuk diceritakan."
Sebuah angin sejuk bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan di atas mereka. Rambut Ima yang panjang bergerak mengikuti arah tiupan, menambah dramatisasi pada suasana. Raka, dengan wajah penuh keseriusan, menatap Ima.
"Ana adalah..." Raka ragu-ragu, mencari kata-kata yang tepat, "...bukan seperti yang kamu pikirkan."
Sebelum Ima bisa bertanya lebih lanjut, suara tangisan anak kecil mengalihkan perhatian mereka. Seorang anak berumur sekitar lima tahun dengan wajah pucat menatap es krim yang baru saja jatuh dari tangannya, lalu dia menatap kedua tangannya yang penuh dengan cairan manis berwarna-warni. Matanya mulai berkaca-kaca, pipinya memerah, dan bibir bawahnya bergetar.
Tanpa berpikir panjang, Yusuf mendekati anak kecil tersebut. "Hei, jangan menangis. Kita bisa beli yang baru," katanya dengan lembut.
Anak kecil itu mengangkat wajahnya, menatap Yusuf dengan mata yang penuh harapan. "Benarkah, Kak?"
Yusuf tersenyum, menunjukkan kerutan halus di sudut matanya. "Tentu." Ia mengulurkan tangan, menunjukkan jalan menuju penjual es krim yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Raka dan Ima, yang menyaksikan aksi Yusuf, saling berpandangan. Ima dengan cepat memahami bahwa Yusuf telah mendengar pembicaraan mereka. Wajahnya pucat, kontras dengan langit senja yang kini mulai berwarna merah jambu.
"Mungkin kita harus bicara," kata Ima dengan nada berat.
Raka mengangguk. "Mungkin juga saatnya untuk aku pergi."
Dengan langkah ragu, Ima mendekati Yusuf yang kini tengah duduk di bangku dengan anak kecil tadi, keduanya asyik menikmati es krim.
Yusuf menatap Ima, matanya penuh pertanyaan. "Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?"
Ima menunduk, "Aku... aku takut."
Mereka berdua terdiam, hanya suara gemericik air dari kolam kecil di taman yang terdengar, memberikan latar musik alami pada momen berat tersebut. Setelah apa yang terasa seperti sejam, Yusuf akhirnya berbicara.
__ADS_1
"Kita akan melewatinya bersama, Ima."
Ima tersenyum lemah, "Terima kasih, Yusuf."
Hawa dingin pagi menyergap setiap inci kulit Yusuf saat ia berjalan cepat melintasi jalan-jalan kota. Gedung-gedung tua dengan arsitektur kolonial berdiri dengan megah, menciptakan bayangan yang panjang di atas jalan berbatu. Di kejauhan, asap dari kopi yang diseduh di warung-warung pinggir jalan naik, menyatu dengan kabut tipis yang melayang.
Yusuf mengepalkan tangannya dalam saku jaketnya, rahangnya mengeras, dan matanya menyala dengan ketegangan. Pikirannya penuh dengan kebingungan dan kemarahan atas apa yang baru saja ia dengar dari Raka.
Seorang nenek dengan rambut putih yang kusut dan kulit yang keriput melintasi jalannya. Ia berjalan dengan sangat lambat, menggunakan tongkat kayu yang tampaknya sudah lama menemaninya. Yusuf, yang tengah terbenam dalam pikirannya, hampir saja melangkah melewatinya, tetapi kemudian melihat kesulitan yang dialami sang nenek.
Tanpa berpikir dua kali, ia menghampiri nenek itu dan berkata, "Ibu, izinkan saya membantu Anda menyeberang."
Nenek itu menatap Yusuf dengan mata yang berkilauan karena katarak, namun penuh kehangatan. "Terima kasih, Nak," katanya dengan suara parau.
Yusuf menawarkan lengannya dan dengan hati-hati membantu sang nenek menyeberang. Di tengah jalan, dengan lalu lintas yang masih sepi di pagi hari, mereka berjalan perlahan, seakan waktu berhenti untuk mereka.
Setelah berhasil menyeberangi jalan, nenek itu tersenyum, "Terima kasih, Anak Muda. Semoga Tuhan memberkati kamu."
Yusuf membalas senyuman dengan ringan. "Sama-sama, Ibu. Hati-hati di jalan."
Sambil berjalan, Yusuf memutuskan untuk menghadapi Raka. Ia harus tahu alasan sebenarnya Raka membeberkan rahasia tersebut. Setelah beberapa menit, ia tiba di kafe favorit Raka, sebuah tempat nyaman dengan kursi-kursi kayu dan aroma kopi yang selalu mengundang.
Raka duduk di pojok, menyesap kopi panasnya. Ketika Yusuf mendekat, Raka menatapnya dengan ekspresi campuran keterkejutan dan penyesalan.
"Kenapa kamu melakukannya?" Yusuf menatap Raka tajam, duduk di seberangnya.
Raka menarik napas panjang, "Aku pikir Ima berhak tahu. Tapi mungkin cara ku salah."
Yusuf memukul meja dengan telapak tangannya, membuat cangkir Raka bergoyang. "Kamu tidak punya hak, Raka. Itu bukan ceritamu untuk diceritakan!"
Raka memandang Yusuf, mata mereka saling bertemu, penuh emosi. "Aku tahu," suaranya patah. "Aku minta maaf."
Yusuf menatap Raka, matanya memerah. Ada sebentuk kekecewaan mendalam yang sulit dijelaskan. Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, Yusuf berkata, "Aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini."
__ADS_1
Dengan hati berat, Yusuf meninggalkan kafe tersebut, meninggalkan Raka yang tampak tenggelam dalam penyesalan. Tetapi, langkah Yusuf sekarang sedikit lebih ringan, menyadari bahwa menghadapi masalah adalah langkah pertama untuk menyelesaikannya.
Udara dalam rumah terasa berbeda. Biasanya penuh dengan tawa dan percakapan hangat, namun sekarang hening, seolah setiap sudut rumah menahan nafas. Cahaya matahari yang biasanya membanjiri ruang tamu kini tampak redup, tersaring oleh tirai yang ditutup rapat. Suara detik jam dinding terdengar begitu jelas, memecah kesunyian.
Yusuf duduk di sudut ruangannya, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Gedung-gedung kota berdiri menjulang, menciptakan bayangan di jalanan, mirip dengan bayangan masa lalu yang kini menghantui pikirannya.
Dari dapur, aroma makanan kesukaan Yusuf mulai menyebar. Ima, dengan harapan bisa meredakan ketegangan, memasak makanan favorit Yusuf sebagai tanda perdamaian.
Ima berjalan pelan menuju kamar Yusuf, membawa piring berisi makanan tersebut. "Yusuf?" katanya dengan ragu, mengetuk pintu kamar adiknya.
Tidak ada jawaban.
Dengan hati-hati, Ima membuka pintu dan memasuki kamar. "Aku membuatkan makanan kesukaanmu," katanya sambil menunjukkan piring yang ia bawa.
Yusuf menoleh, matanya tampak lelah. Namun, ia tidak berkata apa-apa, hanya memandang makanan itu dengan acuh tak acuh.
Ima duduk di sampingnya, menaruh piring di meja samping ranjang. "Aku tahu kamu marah," katanya dengan suara lembut, "tapi kita adalah keluarga. Kita perlu berbicara."
Yusuf menghela nafas. "Bukannya aku marah padamu, Ima. Aku hanya... bingung. Mengapa Ana tidak memberitahuku? Mengapa harus dari mulut Raka?"
Ima menggigit bibir bawahnya, mencari kata-kata yang tepat. "Mungkin Ana punya alasan sendiri. Ini bukan hal mudah untuk dibicarakan, apalagi dengan anak-anaknya sendiri."
Sejenak, ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara gemercik air dari akuarium kecil di pojok kamar yang terdengar.
Yusuf akhirnya berbicara, "Aku merasa dikhianati."
Ima menaruh tangannya di atas tangan Yusuf, mencoba memberikan kenyamanan. "Kita semua punya rahasia, Yus. Yang penting adalah bagaimana kita menjalani hari ini dan esok, bukan apa yang terjadi di masa lalu."
Mereka berdua terdiam, menyerap kata-kata Ima.
Dengan ragu, Ima berkata, "Ayo main permainan papan kesukaan kita. Mungkin bisa mengalihkan pikiranmu sejenak."
Yusuf menggeleng pelan. "Tidak sekarang, Ima."
__ADS_1
Ima menghela nafas, "Baiklah. Tapi ingat, aku selalu di sini untukmu."
Dengan perlahan, Ima meninggalkan kamar Yusuf, meninggalkannya dengan pikirannya yang kacau. Namun, di balik kesedihannya, Yusuf tahu satu hal: meskipun ada ketegangan, keluarga mereka tetap bersama, saling mendukung satu sama lain. Dan itu adalah kebenaran yang tidak bisa diubah oleh rahasia apa pun.