
Dua minggu berlalu, dan selama dua minggu itu, benar-benar tak ada kesempatan bertemu lagi dengan Mikayla. Entah karena alasan apa, Shanum bisa serindu itu pada sosok asing yang menyebut dirinya bernama Kay.
Tingkahnya, cara bicara serta pendiriannya, sungguh menunjukkan bahwa dia bukanlah anak sembarangan.
Karena ini hari minggu, Shanum masih bermalas-malasan di dalam kamar. Berbeda dengan Nonik yang sudah melakukan aktivitas pagi seperti memasak, mencuci pakaian, dan mandi.
Sang asisten bahkan sudah dua kali meminta bosnya untuk sarapan karena jam semakin mendekat di angka sembilan.
Baru saja Nonik kembali akan mengetuk pintu kamarnya, Shanum sudah lebih dulu membukanya.
"N-nona!" Kedua wanita itu berdiri saling berhadapan di ambang pintu.
"Maaf Nik, badanku sangat lelah"
"Tidak apa-apa, nona. Maaf kalau berulang kali saya mengganggu"
"Nggak apa-apa, aku tidak merasa terganggu kok" Shanum melangkahkan kaki menuju ruang makan, dia duduk setelah menarik salah satu kursi lalu mengulurkan tangan meraih selembar roti tawar.
"Hari libur begini enaknya kemana, Nik?" Wanita itu bertanya seraya mengoles selai di rotinya.
"Saya sarankan si, lebih baik nona istirahat saja di rumah, jika ingin keluar kita bisa pergi setelah jam makan siang"
"Tapi kemana?"
"Nona sendiri ingin kemana?" Nonik menuang air bening ke dalam gelas milik Shanum.
"Gimana kalau kita lihat pasar murah di sam sui po"
"Boleh, nona" Sahut Nonik lalu turut duduk di kursi lainnya.
"Berapa menit dari tempat kita ke sana?"
"Paling cuma sepuluh menit non"
"Okay, setelah makan siang kita pergi"
"Iya nona, nanti bisa sekalian kita belanja kebutuhan dapur"
"Hmm" Shanum hanya berdehem sebab mulutnya terisi penuh dengan makanan.
Menit berlalu, Nonik menatap heran wajah Shanum yang tampak seperti memikirkan sesuatu.
"Apa ada sesuatu yang mengusik pikiran nona?" Tanya Nonik memberanikan diri.
"Entah apa yang aku pikirkan, Nik. Yang jelas aku merindukan Mikayla"
"Sebenarnya seperti apa anak itu? Kenapa nona bisa terus memikirkannya sampai-sampai merindukannya?"
"Nggak tahu juga" jawab Shanum setelah menelan kunyahannya. "Anak itu sangat imut, lucu, dan juga pandai sekali bicara"
"Saya jadi penasaran bagaimana wajahnya, nona"
"Kalau kamu melihatnya, aku yakin kamu juga akan menyukainya"
"Oh ya?" Nonik mengangkat satu alisnya.
"Dia cantik, orang tuanya pasti bangga memiliki putri selucu Mikayla, sangat menggemaskan" tambah Shanum membayangkan wajah gadis kecil itu.
"Semoga saja, nanti nggak sengaja ketemu non"
"Ah itu yang aku harapkan, Nik. Sudah hampir satu bulan nggak ketemu, entah seperti apa sekarang wajahnya. Tapi anehnya, meski aku hanya sekilas bertemu dengannya, aku tidak lupa dengan wajahnya"
"Kira-kira apa yang membuat anak itu mengira bahwa nona adalah mommynya?"
__ADS_1
"Mirip mungkin"
"Selain itu nona?"
Shanum mengedikkan bahu merespon kelimatnya.
"Tapi kemana ibu kandung anak itu?"
"Pertanyaan yang sama, Nonik. Aku juga sangat penasaran kemana ibu kandungnya"
"Kalau bertemu, lebih baik kita bawa pulang saja non, kita tanyakan semuanya lalu rasa penasaran kita pasti akan tuntas"
"Husst... Ngaco kamu"
Nonik tersenyum meringis. Konyol memang, membawa anak orang pulang ke rumahnya. Bisa di bilang itu sebuah kejahatan, dan mereka bisa masuk penjara karena menculik anak orang.
"Aku sudah selesai" Shanum meraih gelas lalu meneguknya hingga tak tersisa.
"Lebih baik kita pergi sekarang supaya siangnya bisa istirahat" lanjutnya seraya bangkit dari duduknya lalu berjalan kembali ke kamar.
"Setuju nona"
"Hmm, bersiaplah"
"Siap" Nada Nonik sedikit meninggi.
****
Di kediaman Harefa, Mikayla yang ingin pergi berjalan-jalan tak mendapat respon baik dari daddy, aunty, serta unclenya.
Di hari minggu seperti ini, ketiga kakak beradik itu lebih memilih mengistirahatkan badan di rumah, sebab minggu-minggu sebelumnya mereka sudah menghabiskan hari libur dengan berjalan-jalan di Ocean Park.
Tinggal satu orang lagi yang belum menolaknya. Sang oma, dia akan memaksa Mery keluar dari sangkar untuk melepas penat.
Wanita paruh baya itu berencana mengajak sang cucu berbelanja ke pasar, membeli kebutuhan dapur untuk satu minggu ke depan.
"Sudah oma pikirkan kita akan kemana?" Tanya Mikayla.
"Sudah dong"
"Kemana oma?" Anak itu begitu antusias.
"Kita ke sam sui po"
"Hoyee, nanti Kay mau beli banyak barang"
"Kalau begitu minta uang yang banyak ke daddy"
"Sudah dong" Mikayla bahkan menunjukkan dompet daddynya.
"Loh dari mana Kay dapat itu?"
"Kay ambil di atas nakas, daddy bilang suruh bawa aja dan ajak oma jalan-jalan"
"Kalau begitu mari kita lets go" Ujar Merry menunjukkan raut binarnya.
"Lets go oma"
Dua wanita dari dua generasi itu pun keluar dari rumahnya.
Mereka langsung menuju ke stand pemberhentian bus karena Mikayla ingin menaiki bus bertingkat.
Sampai ketika tiba di tempat tujuan, mereka berdua tampak bahagia melihat barang-barang yang di jual murah tapi tetap menunjukan kualitas terbaiknya.
__ADS_1
Hingga satu jam lebih berlalu, sepasang manik bulat Mikayla tiba-tiba menangkap sosok wanita yang ia rindukan.
Shanum, dia tengah berbelanja di stand daging bersama asistennya.
Tanpa memperdulikan apapun dan tanpa pikir panjang, Mikayla melepas genggaman tangan omanya, lalu bergegas lari menghampiri Shanum.
Karena tak ingin Shanum tiba-tiba menghilang dari hadapannya, anak gadis itu pun secara diam-diam terus mengawasi dengan mata tajam serta mengikutinya tanpa sepengetahuan Shanum.
Sementara Merry belum menyadari jika cucunya telah menghilang dari beberapa menit lalu.
Mikayla sendiri terus membuntuti kemana langkah Shanum terarah, dua wanita itu sama sekali tak menyadari bahwa ada yang mengikutinya dari balik punggung mereka.
Bahkan ketika mereka tiba di apartemennya setelah dua jam berputar-putar mengelilingi pasar, mereka belum menyadari dengan sosok Mikayla yang menggemaskan.
Saat Shanum dan Nonik tengah menunggu lift, mereka mendengar suara anak kecil dari arah belakang.
"Mommy"
Panggilan Mikayla membuat mereka sontak membalikkan badan, disini barulah mereka sadar bahwa Mikayla ada di hadapan mereka saat ini.
"Mikayla?" Ucap Shanum terkejut. Ia melempar pandangan ke arah luar unit. Tak ada siapapun selain mereka bertiga.
Jadi siapa yang membawa anak ini sampai di apartemen miliknya?
Pertanyaan Shanum dari dalam hati.
Tak hanya Shanum yang merasa bingung, Nonik pun tak kalah terkejut dengan keberadaan Mikayla.
Jadi dia yang menganggap nona Shanum mommynya?
Lucu, sangat menggemaskan, tapi kenapa wajahnya mengingatkanku pada seseorang.
Siapa?
Nonik membatin sambil terus mengingat-ingat siapa yang mirip dengan wajah anak ini.
Merasa tak mendapat jawaban, Nonik pun mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik pikirannya.
"Kenapa bisa ada disini?" Tanya Shanum masih dengan raut tak percaya.
"Iya, Kay kan ikutin mommy dari sejak di pasar murah"
"Apa?" pekik Nonik membuat netra Shanum dan Mikayla kompak memindai dirinya. Mendapat tatapan dari dua wanita sekaligus, dengan cepat ia membungkam mulutnya sendiri.
"Maaf, kelepasan" Nonik merasa tatapan menyelidik dari dua wanita di depannya begitu menghujam. Maksudnya tatapan yang berasal dari satu pasang mata, sebab sepasang mata mereka begitu mirip dan tak ada perbedaan sama sekali.
"B-bagaimana ceritanya seorang anak kecil bisa mengikuti kita, n-nona?"
"Dia sangat cerdas, mudah baginya melakukan hal kecil seperti ini, Nonik" Bisik Shanum.
"T-tapi_"
Ting..
Bunyi lift membuat Nonik tak melanjutkan kalimatnya.
"Kita naik dulu" Ucap Shanum ketika melihat pintu lift terbuka.
"Kay ikut mommy"
"Tentu saja, ayo!"
Bersambung
__ADS_1