
Tak butuh waktu lama, lift tahu-tahu sudah berada di lantai delapan unit milik Shanum.
Nonik berjalan dua langkah di depan Shanum yang menggandeng tangan Mikayla.
Sembari melangkah, Mikayla yang sejak berada di dalam lift terus bercerita bagaimana dia melihat Shanum dan terlepas dari genggaman omanya demi bisa menghampiri mommynya.
"Kasihan oma, pasti cari-cari Kay nanti" Kata Shanum berhenti berjalan karena menunggu Nonik membuka pintu apartemen.
"Nggak apa-apa mommy, nanti mommy bantu Kay telfon daddy, Kay bawa dompetnya daddy kok, di dompet ada kartu nama daddy sama nomor ponsel. Nanti bisa minta daddy buat jemput kita"
Mendengar ucapan Mikayla, Shanum sedikit bisa bernapas lega. Setidaknya, setelah ini ia akan langsung menghubungi orang tuanya agar jangan panik karena putri mereka baik-baik saja.
"Okay, nanti mommy bantu telfon daddy ya"
"Iya mommy"
"Silahkan masuk!" ucap Nonik membuka pintu lebar-lebar.
Shanum dan Mikayla pun masuk lantas melepas sepatunya.
"Kay mau ke toilet mom"
"Iya ayo mommy antar" Terbiasa dengan panggilan mommy, secara natural Shanum pun turut memanggil dirinya mommy.
Entahlah, rasanya sangat bahagia bisa menyebut dirinya mommy untuk Mikayla.
Saat Shanum hendak melangkah, Nonik buru-buru mencegahnya dan membisikkan kata.
"Padahal kita sempat berharap membawa anak ini pulang nona, supaya kita bisa menginterogasinya, ternyata dia sendiri yang datang menghampiri kita tanpa kita culik"
"Hust, jaga bicaramu Nonik"
__ADS_1
"Maaf nona, ini benar-benar hari keberuntungan, rasa penasaran kita pasti akan segera terjawab hari ini juga"
"Sudah-sudah, kamu siapkan minum dan camilan untuknya, siapa tahu dia lapar"
"Tapi ini memang sudah lewat jam makan siang, non. Saya masak saja buat makan siang"
"Iya masaklah!"
"Mommy" tiba-tiba terdengar suara teriakan Mikayla dari balik kamar Shanum. Anak itu tadi memang melihat-lihat beberapa kamar termasuk kamar Nonik, saat mendapati ada foto Shanum dan kedua orang tuanya di atas nakas, ia langsung tahu kalau itu adalah kamar sang mommy.
"Kay" Shanum menekan tombol saklar agar lampu bisa menyala dan ada penerangan di balik kamar.
Ia melihat Mikayla tengah menatap bingkai foto berisi gambar dirinya dan daddy mommynya. Anita dan Emir.
"Kay juga punya foto opa dan oma"
Tercenung Shanum mendengar kalimat Mikayla.
Bagimana bisa anak asing mengatakan bahwa Anita dan Emir adalah opa omanya? Benar-benar di luar nalar.
"Kay kenal sama orang yang ada di foto itu?"
"Kenal dong, mereka kan mommy sama opa omanya Kay"
Tidak mungkin, pasti ada yang salah disini. Anak ini pasti ngelantur, dia hanya mengada-ada karena dia sangat cerdas.
"Kay mau pipis mom"
"Oh ya, mommy bantu ya"
"Iya"
__ADS_1
Setelah dari kamar mandi, Kay melepas tas berkarakter keropi dan menaruhnya di atas sofa. Anak itu kemudian langsung naik ke atas tempat tidur empuk milik Shanum.
"Kamar mommy bagus, tapi masih besar kamar daddy, nanti mommy ikut daddy sama Kay pulang ya, biar tahu kamar daddy terus bobo di kamar daddy"
"Nggak mungkin sayang, mommy kan bukan mommynya Kay"
"Enggak kok, mommy itu mommynya Kay. Kay nggak bohong, nanti kalau daddy kesini pasti daddy juga ngenalin mommy"
Shanum hanya tersenyum, mungkin ia bisa hilang kewarasan dengan kalimat-kalimat Kay yang sedari tadi terdengar ngelantur.
"Coba mana kartu nama daddy, mommy bantu telfon daddy sekarang"
"Sebentar Kay ambil di tas"
Mikayla turun dari ranjang, meraih tasnya yang tadi ia letakan di sofa.
Tak hanya kartu nama, anak itu bahkan membawa serta dompet milik Ben.
"Ini dompet daddy, di sini ada foto daddy sama mommy juga pas menikah"
Karena sangat penasaran, Shanum segera meminta Mikayla untuk memperlihatkan foto orang tuanya.
Wanita itu begitu ingin tahu seperti apa foto yang Mikayla maksud sampai dirinya di katakan mirip dengan mommy dari anak di hadapannya.
"Boleh mommy lihat fotonya?"
"Tentu boleh mommy"
Jantung Shanum berdetak kencang selagi menunggu Mikayla yang dengan pelan membuka dompet Ben.
Ia bahkan tak bisa menelan ludahnya sendiri yang bagai bongkahan batu di tenggorokan.
__ADS_1
Sangat sulit untuk di pahami.
Bersambung