Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
Shock


__ADS_3

"Maaf, daddynya Mikayla?" Ucap Shanum sedikit ragu.


Tak ada jawaban dari Ben, dia masih terbuai dalam euforia wajah istrinya yang tampak semakin cantik.


Wanita itu mengernyit dengan perasaan agak was-was. Bukan tanpa alasan, Shanum merasa risi dengan tatapan pria yang menurutnya adalah orang asing.


"Ehem"


Ben tersentak mendengar deheman wanita di depannya.


"Apa anda tuan Ben Dixon Harefa, daddynya Mikayla?" Tanya Shanum dingin.


"Maaf, iya saya Ben" Pria itu menangkupkan kedua tangannya di dada. Dia sangat tahu kalau wanita seperti Ralline Shanum pasti tak akan pernah mau bersalaman.


Bahkan selama berteman dulu, Shanum sama sekali tak pernah melihat wajahnya lebih dari satu menit jika mengobrol. Sampai ketika telah sah menjadi istrinya, barulah dia tahu wajah cantik dengan tanpa hijab itu.


"Saya Shanum" Balasnya sembari menangkup tangan.


"Dimana Mikayla?"


"Dia baru beberapa menit yang lalu tertidur setelah bermain, sebentar saya bangunkan"


Ben tak begitu fokus dengan ucapan Shanum karena tiba-tiba, sekelebat bayangan pernikahan, malam pertama mereka, dan kenangan-kenangan manis yang pernah mereka lalui terus berputar ulang dengan gerakan lambat di otaknya.


Bayangan rambut panjang yang terkadang membuat Ben merasa terganggu jika sedang bercinta pun terlintas bebas memenuhi isi kepalanya.


"Tunggu!" Cegah Ben ketika Shanum berbalik dan sudah melangkah sekitar tiga langkah menjauh darinya.


"Iya?" Wanita itu berbalik dengan tatapan fokus menatap pria tegas yang masih berada di ambang pintu.


"Tolong jangan di bangunkan!" katanya meski ragu. "Boleh saya masuk dan menggendongnya?"


Kening Shanum mengerut keheranan.


"Maaf, tapi tidak baik seorang pria masuk ke rumah seorang wanita"


"Jangan khawatir, saya tidak akan macam-macam"


Shanum tampak diam, dan otomatis membuat Ben kembali bersuara.


"Saya tidak tahu jika dia bangun nanti, dia justru tidak mau pulang dan mungkin akan memaksa anda untuk ikut bersama kami karena dia benar-benar mengira anda mommynya"


Shanum sedikit bimbang, sebagian dari pikirannya membenarkan ucapan Ben mengingat sedari tadi, Mikayla terus mengatakan kalau dirinya harus ikut pulang ke rumah daddynya.


"Saya akan menggendongnya dan tidak akan membuatnya terbangun"


"Sangat sulit nona Shanum, Mikayla tak semudah itu di kendalikan"


Lalu hening, Shanum diam seperti berfikir.


Andai Nonik tak keluar untuk membeli obat di apotek karena mendadak sakit perut efek datang bulan, dia pasti akan mengijinkan Ben memasuki kamarnya.


Tapi tak ada siapapun di rumah, selain itu rasanya aneh memasukkan pria asing ke dalam kamar.


Apalagi sedari tadi Shanum mencurigai tatapan Ben yang menyorot penuh arti. Membuat jantungnya meronta-ronta, dan tentu saja ada sedikit kekhawatiran yang tiba-tiba singgah.


"Saya bukan kriminal, nona. Saya tahu batasan seorang pria dan wanita yang bukan suami istri"


"Maaf, bukan maksud saya berprasangka buruk pada anda"


"Saya maklum, tapi percayalah, saya tidak ada niat apapun kecuali membawa putri saya pulang"

__ADS_1


Merasa tak enak hati, Shanum akhirnya mengangguk kemudian berucap. "Silahkan masuk, kamar saya ada di sebelah sana" Dia menunjuk ke arah kamar dengan tangannya.


"Assalamu'alaikum"


Shanum sempat tertegun dengan ucapan salam Ben sebelum melangkah menerobos pintu apartemen. Ia menatap Ben yang ternyata juga seorang muslim.


"Wa'alaikumsalam"


Sejujurnya hati dan pikiran Ben di penuhi banyak pertanyaan.


Ada apa dengan istrinya? Kenapa lupa dengan dirinya? Bagaimana bisa lupa dengan putrinya? Kejadian apa yang sudah menimpanya selama lima tahun ini hingga dia sama sekali tak mengenali dirinya?


Apa, kenapa dan bagaimana, seolah kata itu berebut masuk memenuhi isi kepalanya.


Apa dia amnesia?


"Silakan masuk, tuan Ben!" Kalimat itu terucap hingga dua kali dari mulut Shanum.


Menelan ludah, lamunan Ben buyar.


Ia lantas mengangguk.


Pelan ia mengikuti langkah Shanum yang berjalan sekitar dua langkah di depannya menuju kamar.


Ada apa denganmu Sha?


Kita pernah memiliki hubungan yang sangat indah, ikatan cinta kita murni dan suci tanpa paksaan, rumah tangga kita bahkan sangat harmonis dan bahagia?


Kenapa sampai tidak mengingatnya.


Aku harus menyelidiki semuanya.


"Terimakasih"


Wanita itu membuka pintu lebar-lebar, memberi celah untuk pria asing memasuki kamarnya.


Sementara Ben, sepasang netranya di buat terhenyak dengan bingkai foto yang ada di atas nakas. Foto yang tadi juga sempat di lihat oleh putrinya.


Daddy, mommy? Pria itu menoleh ke belakang, menatap wajah Shanum dengan sorot tak percaya.


Hanya sekilas, ia lalu kembali mengarahkan atensinya ke bingkai foto yang menampakkan tiga orang di dalamnya.


Ada apa dengan istriku, dad, mom?


Kenapa dia lupa dengan suami dan anaknya?


Entah berapa kali pertanyaan itu ia ucapkan dalam hati.


"Bisa cepat sedikit, tuan" Ujar Shanum berusaha meluncurkan keberatan.


"Oh, iya maaf"


Merundukkan badan, dengan penuh hati-hati Ben meraih tubuh mungil putrinya.


Setelah gadis cantik itu sudah berada di gendongannya, dia berbalik setelah sebelumnya mengumpulkan kekuatan yang tadi sempat terkikis karena ternyata, Mikayla tak pernah mengada-ngada tentang pertemuannya dengan Shanum.


Menghela napas panjang, Ben membalikkan badan usai membuang napasnya secara perlahan.


"Terimakasih sudah menjaganya" Ucapnya berhenti sejenak.


"Sama-sama, tuan Ben"

__ADS_1


Ben pun melangkah keluar dari kamar Shanum.


Selagi melangkah, ia kembali berperang melawan pikirannya sendiri.


Kalian harus menjelaskan padaku? Kalimat itu ia ucapkan dalam hati yang ia tujukan pada ayah dan ibu mertuanya.


Jika benar Shanum kehilangan ingatannya, aku akan membuatnya mengingatku dan putrinya, dan kalian tidak ada hak untuk melarangku.


Aku butuh penjelasan kalian! daddy Emir, dan mommy Anita.


Tunggu! Karena aku tidak akan diam saja setelah lima tahun membungkam. Aku akan datang menuntut penjelasan.


Hanyut dalam pemikirannya, tahu-tahu langkah Ben sudah nyaris di luar pintu. Ia kembali menguatkan diri untuk berbalik.


"Sekali lagi terimakasih nona, dan maaf sudah merepotkan" Ujarnya tanpa ekspresi.


Shanum tersenyum, lalu berkata. "Saya senang bisa bermain dengan Kay, dia anak baik, lucu dan pintar"


Dia putrimu, Sha...


"Jika Kay ingin bertemu dengan saya, anda bisa mengantarnya ke sini di hari sabtu atau minggu. Kebetulan di hari itu saya tidak bekerja"


"Baik, terimakasih"


"Sama-sama" Jawab Shanum sangat sopan. Dia merasa bersalah sudah menilai buruk pria yang tingginya hampir mencapai 190cm itu.


"Saya permisi, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Ben kembali melanjutkan langkahnya. Ketika sudah benar-benar keluar dari apartemen, dan saat telinganya mendengar suara pintu ditutup, dia menghentikan langkahnya.


Aku tidak akan merenggut hak kalian untuk bertemu, aku pasti akan sering menitipkan Kay padamu, nona Shanum. Dan suatu saat, kamu akan menyadari kalau dia adalah putrimu.


Putri yang sangat kamu cintai, yang sangat kamu sayangi.


Bahkan, kamu melarangku untuk memarahinya.


Ingatan tentang persalinan pun mendadak hadir.


Ben yang tersiksa saat menemani Shanum melahirkan sebab selain di jambak rambutnya, lengannya pun bertubi-tubi mendapat cengkraman kuat bahkan cubitan.


"Ingat sayang, jangan pernah kamu marahi putriku, hanya aku yang berhak memarahinya karena aku yang merasakan sakit ini"


"Jika aku melihatmu memarahinya apalagi memukulnya, awas kamu sayang"


"Ingat, hanya aku dan hanya aku yang berhak marah padanya"


Itulah gerutuan-gerutuan Shanum saat melahirkan Mikayla ke dunia.


"Kamu pasti akan kembali pada kami, Sha. Dan aku menyesal kenapa diam sampai hampir lima tahun.


Ia menoleh ke belakang sebelum akhirnya kembali melangkah menuju lift.


Dari dalam, Shanum tahu jika Ben berhenti di depan apartemennya cukup lama. Dia mengintip melaui door viewer sebab merasa seakan tak rela jika dua orang itu pergi meninggalkan rumahnya.


Aneh?


Tentu saja dia merasa aneh, karena tiba-tiba wanita itu seperti sudah mengenal mereka sebelumnya, bahkan nalurinya seperti memiliki ikatan yang kuat. Ikatan kasih sayang dan cinta terhadap pria tampan dan gadis kecilnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2