Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
29


__ADS_3

Melihat sendiri bahwa Shanum sudah kembali ke dalam hidup Ben, Erika menjadi gelisah sekaligus tak tenang, bayang-bayang tentang kejadian beberapa tahun silam pun tak luput dari ingatannya. Tak serta merta merasa bersalah, dia justru kembali ingin mencelakai Shanum.


Menarik napas berat, wanita itu duduk di kursi balkon apartemennya. Sorot matanya kosong, sementara salah satu tangannya membolak-balikkan ponsel di atas pangkuan.


Dia lalu teringat Fabian yang sudah bekerja sama untuk memisahkan Ben dan Shanum.


Detik itu juga Erika mencoba menghubungi pria itu setelah kurang lebih empat tahun lamanya tak saling berkomunikasi.


Ketika panggilan tak tersambung, Erika dengan kasar melempar ponselnya ke lantai.


"Sh***ttt Fabian, dimana kamu?" Geramnya frustasi. "Dasar lelaki bodoh, kenapa mengganti nomor tidak memberitahuku?"


"Hhhh kenapa juga wanita itu harus kembali ke pelukan cinta pertamaku?"


Beberapa detik berlalu, Erika mengambil ponselnya kembali. Meski di lempar dengan sangat keras, namun tak membuat benda itu tercerai berai atau bahkan rusak, sebab ada cassing yang melindungi menutupi badan ponsel.


"Akun media sosial! Ya, semoga saja dia masih menggunakan akun facebooknya"


Dengan cepat jarinya menari di atas layar ponsel, mencari-cari nama Fabian di daftar pertemanan aplikasi Facebook.


Setelah hampir lima menit, ia akhirnya menemukan akun yang dia cari. Sayangnya akun itu sudah lama sekali tak ada aktifitas apapun.


"Hufftt... Benar-benar ya, Fabian! Bagaimana aku bisa menghubunginya sedangkan aku tidak memiliki akses sama sekali"


"Dimana kamu Fabian, kamu harus menjelaskan kenapa Shanum bisa sampai di sini"


Terdiam, sepasang manik hitam Erika bergerak gelisah. Mencari cara agar bisa berkomunikasi dengan Fabian.


Mendesah pelan, wanita dengan rambut pirang kembali bermonolog. "Ini semua karena aku terlalu sibuk membuat Ben jatuh cinta padaku, aku terlalu membuang-buang waktu untuk menarik perhatian anak sialan itu sampai-sampai aku lupa kalau Shanum masih hidup, dia bisa kembali kapan saja. Dan sekarang, aku benar-benar kehilangan kendali atas kekuatanku"


"Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang? Semua sudah terlambat"


Tiba-tiba ia menemukan sebuah ide.


"Shanum, aku harus minta nomor ponsel Fabian ke dia. Tidak mungkin kalau wanita sialan itu tidak punya nomor Fabian"


"Aku akan menghubungi telfon rumah apartemen Ben"


"Ya" Dengan menggunakan ponselnya, ia langsung melakukan panggilan. "Semoga saja Shanum yang mengangkatnya" Imbuhnya seraya menempelkan ponsel di telinganya.


"Halo" Ucap wanita dari sebrang telfon.


"Shanum"


"Iya, saya Shanum. Maaf anda siapa?"


Menelan ludah Erika sedikit gugup. "S-saya Erika"


"Oh, nona Erika"


"Maaf, kemarin saya langsung pergi begitu saja. Saya baru ingat kalau ada urusan penting"


"Tidak masalah" Jawab Shanum dengan santainya. Berbeda dengan Erika yang justru sulit mengendalikan detak jantungnya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah mengingat semuanya Shanum? Karena ku dengar kamu kehilangan ingatanmu. Maaf aku bertanya hal privasi padamu"


"Aku belum mengingatnya, nona"


Mendengar jawaba Shanum, Erika sedikit lega, tapi tetap harus waspada.


"Maaf, apa nona Erika ini calon istrinya tuan Ben?"


"S-soal itu, jangan terlalu di fikirkan, Sha. Tadinya kami memang berencana menikah, tapi karena kamu sudah kembali, entah pernikahan itu akan kami lanjutkan atau tidak"


"Maaf kalau kehadiranku membuat kalian terusik"


"Ti-tidak- tidak. Kita adalah teman baik, termasuk Fabian, sepupu kamu"


Kening Shanum mengernyit begitu mendengar nama Fabian di sebut oleh Erika.


"Nona kenal Fabian?" Tanya Shanum masih dengan kebingungan di raut wajahnya.


"Iya. Aku, kamu, Ben, dan juga Fabian berteman baik" Dustanya, menatap kukunya yang berwarna biru muda. "Ah iya Shanum, aku kehilangan kontak Fabian, apa kamu bisa membuatku terhubung dengannya? Sudah lama sekali kami tidak saling berkomunikasi, jadi boleh aku minta nomor ponselnya?"


"Boleh, sebentar saya ambil ponsel saya"


"Okay!"


Beberapa detik kemudian, Shanum kembali menempelkan gagang telfon di telinganya.


"Halo, nona Erika?!"


"Yes, Sha?"


"Iya, iya"


Erika langsung menuliskan deretan nomor yang Shanum sebutkan. Saat nomor ponsel sudah lengkap, ia berdecak kegirangan.


Yes, aku dapat nomormu, Bian. Batinnya sebelum kemudian menutup panggilannya.


*****


Di malam hari, usai makan malam, Shanum mencoba mengajak Ben berbicara mengenai Erika.


Mendengar nama Erika, sontak saja wajah Ben berubah datar, atau lebih tepatnya sedikit terkejut. Sebab setahu Ben Erika masih berada di Amerika karena kontrak dengan porduser masih berjalan tiga tahun ke depan.


Dia yang biasanya mengabari Ben jika pulang ke Hongkong, tapi kali ini wanita itu sama sekali tak memberitahukannya.


"Erika?"


Shanum menganggukkan kepala untuk meresponnya. "Apa dia calon istrimu?" Tanya. Shanum kemudian.


"Calon istri?" Sudut bibir Ben terangkat menunjukkan senyuman sinisnya. "Apa dia yang bilang begitu?"


"Hmm"


"Dia bilang apa lagi?" Tanya Ben dengan mimik serius.

__ADS_1


"Tidak ada, tapi dia sempat telfon dan menanyakan nomor ponsel Fabian"


"Apa?" Jelas Ben tercenung. Dalam hatinya timbul berbagai pertanyaan.


Kenapan Erika bertanya soal nomor ponsel Fabian? Untuk apa? Apa dia mengenal pria itu?


"Tuan Ben!" Panggil Shanum, membuat fokus Ben goyah.


"I-iya!"


"Dia juga bilang aku, kamu, dan Fabian berteman baik dengannya"


"Berteman baik?" Untuk kesekian kalinya Ben terkejut.


"Iya"


"Lain kali, jangan berurusan sama dia, jangan di bukain pintu jika dia datang. Jika telfon, tolong jangan beritahu informasi apapun, mengerti" Tegas Ben dengan sorot serius, Dia menangkap seperti ada yang tidak beres antara Erika dengan Fabian.


"Kenapa?" Shanun membalas tatapan lawan bicaranya.


"Pokoknya, jangan berhubungan dengan wanita itu, firasatku mengatakan kalau kecelakaan yang menimpamu ada hubungannya dengan Erika dan Fabian"


"Maksudnya?" Tanya Shanum tak paham.


"Menurut penuturan polisi dari rekaman CCTV di area bandara, kecelakaan itu di sengaja oleh seseorang. Tapi entah kenapa dua hari setelah polisi mengatakan itu, mereka justru meralat ucapannya, dan bilang kalau itu murni kecelakaan"


"Kalau di sengaja, itu artinya ada seseroang yang ingin aku celaka?"


"Iya, Sha!"


"Lalu siapa Erika?" Tanya Shanum begitu ingin tahu.


"Andai saja kamu tidak kehilangan ingatanmu, kamu pasti muak dengan Erika"


"Muak? Kenapa bisa begitu?"


"Karena cemburumu di atas batas normal"


"A-aku cemburu?"


Ben mengangguk sambil mengulas senyum. "Kamu tahu segalanya tentang Erika, aku sudah menceritakan siapa dia"


"Tapi aku benar-benar lupa"


"Dia cinta pertamaku" Balas Ben


"Cinta pertama?"


"Ya. Dan kamu sangat cemburu padanya"


Lalu hening, Shanum sedikit gugup, sementara Ben pikirannya tertuju pada Erika dan juga Fabian. Sedikit banyak ia merasa menemukan sebuah informasi penting. Dia pun akan segera mencari tahu kenapa Erika tiba-tiba mengenal Fabian dan menanyakan nomor ponselnya.


Bersambung.

__ADS_1


Yakin mau lanjut??? Aku sebenarnya sudah tidak semangat, tapi demi reader setia akan aku usahakan ya.


__ADS_2