
Paginya, cuaca yang mulai jatuh pada musim dingin, nyatanya tak membuat Shanum betah bergumul dengan selimut hangatnya. Karena semalam tidur sangat larut, pikiranpun tak setenang biasanya sebab ada banyak hal yang seolah berebut masuk memenuhi isi kepalanya, wajah wanita itu pun tampak begitu kuyu.
Duduk di tepian ranjang, matanya terpejam sembari menghirup napas dalam-dalam. Sedetik kemudian, ia menoleh ke arah jam yang tergeletak di atas nakas.
05:12...
Sudah hampir setengah enam, tapi matahari masih belum menampakkan sinarnya. Shanum lantas teringat kalau dirinya belum sempat mandi sejak semalam.
Bergerak bangkit, kakinya melangkah menuju walk in closet.
Di sana ada beberapa deretan loker dengan penampakan pintu kaca. Sangat terlihat jelas, pengelompokkan pakaian yang tertata sangat rapi, baik yang di gantung maupun yang terlipat.
Fokusnya kini beralih pada beberapa stand yang di isi dengan pakaian wanita. Otomatis, dia langsung mengarahkan kakinya lalu mengulurkan tangan menggeser kaca dengan perlahan.
"Pakaian wanita?" Gumamnya nyaris tanpa suara.
Ia mengerjapkan mata kemudian menahannya hingga beberapa detik, merasa apa yang tampak di hadapannya saat ini sangatlah tidak asing baginya.
"Benarkah aku pernah tinggal di rumah ini?"
"Tapi bagaimana ceritanya sampai aku lupa semuanya?" Salah satu tangannya menyentuh pakaian yang menggantung.
"Enam tahun lalu, itu artinya Nonik tahu segalanya"
Nonik yang sudah bekerja di keluarga Emir hampir delapan tahun, sudah pasti mengetahui seperti apa masa lalu atasannya itu.
"Aku harus pulang sekarang, aku ingin penjelasan dari Nonik" Tanpa menutup kembali kaca pada loker yang menyimpan pakaiannya, ia bergegas keluar, lalu menyambar pasmina yang teronggok di atas kasur.
Tak butuh waktu lama, Pasmina itu sudah melekat rapi menutupi rambutnya.
Tanpa berpamitan pada si pemilik rumah, Shanum berjalan dengan mengendap-endap berniat meninggalkan rumah ini.
Saat langkahnya tepat di depan kamar Mikayla, ia melirik sejenak dan berfikir.
Dia tidur sendiri? Tidur di mana daddynya?
Hening tak ada suara apapun yang terdengar. Shanum melempar pandangan ke ruangan lain yang masih gelap sebab lampu memang belum menyala.
__ADS_1
Detik berikutnya wanita itu melangkah memasuki kamar mikayla yang tak tertutup.
"Dia anakku?" lirihnya sambil mengusap wajah Mikayla. "Aku harus tahu semuanya hari ini juga, jika Nonik tidak bisa menjelaskan semua ini, aku akan pulang ke Jakarta dan meminta daddy mommy untuk menjelaskannya"
Kembali fokus pada wajah si gadis mungil, ia kembali bersuara.
"Entah bagaimana ceritanya, jika memang benar aku mommymu, maafkan aku karena melupakanmu. Aku janji akan cari tahu segalanya" Shanum lantas mengecup kening Mikayla yang masih tertidur pulas, sebelum kemudian beranjak pergi.
Di ruang tengah, Dia mendapati sosok Ben tengah tidur di atas sofa. Ia memperlambat langkahnya agar pria itu tak terbangun dan misi melarikan diri bisa berhasil.
Rasa penasaran yang terus bergelayut, membuatnya tak sabar ingin segera bertanya pada Nonik.
Sesampainya di depan pintu utama, ia bergegas membuka kunci namun tak berhasil. Alih-alih pintu terbuka justru sebuah alarm berbunyi dan lampu menyala secara berkedip. Itu menandakan jika pintunya di lengkapi oleh fitur anti maling tarbaik.
Alarm itu akan berbunyi jika seseorang berusaha membuka kunci selama satu menit, namun tak bisa terbuka.
Ben yang mendengar bunyi Alarm pun bangun lalu setengah berlari ke arah ruang tamu.
Pria itu menyalakan lampu, Shanum langsung berbalik begitu lampunya menyala terang, atensinya langsung menangkap sosok Ben tengah berdiri dengan tangan masih menempel pada saklar.
"T-tuan Ben?"
"Mau kemana pagi-pagi begini?"
"Pulang" Jawabnya gugup.
"Sepertinya keras kepalamu masih betah melekat dalam dirimu" Kelekarnya tanpa ekspresi. Wajah kusutnya yang baru saja bangun sama sekali tak mengurangi ketampanannya. "Di luar udara sangat dingin, kamu bisa pulang setelah sarapan?"
"Aku tidak bisa, karena ini rumah orang asing. Apalagi pemiliknya adalah pria yang tak beristri"
"Ckkk.." Pria itu berdecak, lalu menyugar rambutnya sambil membuang muka. "Andai ingatanmu tak hilang, kalimat itu tak akan keluar dari mulutmu"
Wanita itu terdiam, dia memang menyadari bahwa dirinya kehilangan daya ingatnya, namun sama sekali tak menyangka jika di masa lalunya ada sosok Ben dan Mikayla.
"Sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah bisa membuka kunci itu karena hanya sidik jari penghuni rumah ini yang bisa membukanya"
Menelan ludah, Shanum merasa terjebak dalam situasi yang dia sendiri tidak memahaminya.
__ADS_1
"Kamu mau berdiri di situ sampai nanti, atau mau membersihkan diri? Kamu belum mandi dari semalan, bukan? Mandilah, dan pilih baju yang ingin kamu pakai. Baju-baju itu adalah milikmu, kamu tak perlu ragu dan merasa canggung"
Setelah mengatakan itu, Ben kembali masuk menuju ruang tengah dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Shanun sendiri membeku namun sedikit agak kesal, Ia kemudian kembali berbalik dan melampiaskan kekesalannya pada tombol kunci yang tidak berhasil ia buka. Ia bahkan tak peduli jika Alarm kembali berbunyi bersamaan dengan kedipan lampu di atasnya.
Tak ada pilihan lain, wanita itu akhirnya kembali masuk ke kamar yang tadi malam ia tempati.
Berdiri di depan bingkai foto yang terpajang di salah satu sisi dinding kamar. Kepalanya terdongak, sepasang netranya mencermati foto berukuran besar dengan ketelitian di atas normal. Terus fokus lalu bergumam lirih.
"Benarkah wanita ini aku? Aku menikah dengan pria itu? Jadi aku pernah tinggal di sini?"
"Kamu tidak pernah tinggal di sini, karena belum sempat pindah ke sini, kamu sudah meninggalkanku dan Kayl"
Suara dari sisi lain mendadak terdengar, Shanumpun menoleh ke samping kiri.
"Bersihkan dirimu, aku akan persiapkan sarapan" Tambah pria itu datar.
Keduanya lantas sama-sama acuh, melangkah ke arah tujuannya masing-masing.
Shanum menuju kamar mandi, sedangkan Ben ke arah dapur.
Beraambung...
Yang mau lanjutannya, komen ya, nanti klu banyak aku lanjutkan.
Maafkan, kemarin memang benar-benar terbaring lemah, jadi berhenti update.
karena ini adalah kelanjutan dari bab sebelumnya, jadi yang lupa bisa baca dulu bab 20..
Saya sendiri lupa dan harus baca chapter sebelumnya. 😀😀😀
Selalu hidup sehat ya...
Regard
Anne
__ADS_1