Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
Hubungan yang kian dekat


__ADS_3

"Bukankah kamu Nonik, asisten pribadi istriku?" Tanya Ben setelah bergeming sambil melempar tatapan intimidasi.


"T-tuan Ben"


"Ku pikir kamu juga melupakanku"


Dengan setengah mati Nonik berusaha menelan ludahnya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu jelaskan padaku?"


"S-saya ... Saya hanya asisten tuan, jadi sebaiknya tuan tanyakan langsung pada pak Emir dan bu Anita"


"Okay, saya tahu batasan seorang asisten" Ujar Ben masih dengan fokus penuh menatap wanita berkacamata minus. "Cukup katakan apa yang terjadi dengan ingatan istriku!" Tambahnya tegas.


"T-tuan saya_"


"Saya hanya bertanya satu hal, sisanya saya akan mengurusnya sendiri"


Setelah satu menit terdiam, Nonik akhirnya bersuara.


"N-nona Shanum mengalami Amnesia Disosiatif, tuan"


Seketika kening Ben mengerut.


"Amnesia yang membuat nona tidak mampu untuk mengingat berbagai informasi pribadi yang bahkan dinilai sangat penting. Pengidap amnesia jenis ini mengakibatkan lupa siapa nama dan segala hal yang erat kaitannya dengan privasinya sendiri termasuk identitasnya. Nona bahkan tak ingat siapa namanya, siapa orang tuanya, dan seperti apa kehidupan masa lalunya"


"Apa yang membuat dia amnesia?"


"Kecelakaan lima tahun lalu, tuan"


"Apa?" Tangan Ben reflek keluar dari sakunya.


"Iya tuan, kecelakaan yang mengakibatkan trauma, dan cidera parah pada otaknya"


"J-jadi selama lima tahun istriku kehilangan ingatannya?"


"Benar tuan!"


"Terimakasih untuk informasinya. Tolong jaga dia, kalau ada apa-apa segera hubungi saya"


Tanpa basa basi lagi, pria itu membuka tas milik putrinya lalu meraih dompet dan mengambil sebuah kartu nama. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi mendengar penderitaan sang istri selama lima tahun ini.


"Ini nomor ponsel saya" Ben menyerahkan kartu nama yang tersisa satu lembar di dompetnya. "Kamu bisa menelfon kapanpun kalian membutuhkanku"


"Baik tuan" Sahutnya sambil menjulurkan tangan.


"Saya permisi, selamat malam"


"Tuan Ben!" cegah Nonik saat Ben hendak berbalik.


"Ya?"


"Siapa Mikayla?"


Tak langsung menjawab, pria itu malah mengangkat salah satu sudut bibirnya. Menghela napas panjang seraya membuang pandangan ke atas tepatnya lantai delapan.

__ADS_1


"Dia putri kandung dari atasanmu"


"M-maksud tuan, putrinya nona Shanum?"


Ben mengangguk untuk meresponnya.


"Bu-bukankah anak kalian tidak bisa di selamatkan, itu yang saya dengar dari bu Anita?"


"Aku membohonginya"


"Apa?" Mata Nonik membulat sempurna.


"Naiklah, nonamu pasti mencarimu"


"Tapi tuan, apa yang harus saya lakukan setelah ini?"


"Tidak ada, cukup jaga istriku dan jangan katakan apapun padanya, bersikaplah biasa saja. Dan mengenai Kay, aku yang akan mengurusnya"


"Baik tuan"


Ben langsung berbalik dan beranjak dari hadapan Nonik.


Nonik sendiri masih diam ambigu di tempatnya.


Setelah sosok berpostur proporsional itu hilang dari pandangan, dengan hati penuh tanya wanita itu kembali memasuki gedung apartemen dan langsung menekan tombol lift.


Saat lift datang dan pintunya terbuka, ada Shanum yang hendak turun untuk mencarinya.


"Nonik, dari mana kamu?" Tanyanya masih berdiri di dalam lift.


"Maaf nona, tadi saya pikir nona turun begitu lama, jadi saya menyusul untuk mencarinya tapi setelah berkeliling taman saya tidak menemukan nona dan akhirnya berniat kembali naik"


"Maaf, tadi aku dan daddynya Kay sempat bicara sebentar jadi agak lama" Liftnya sampai di lantai delapan.


Nona Shanum punya anak, dan Kay adalah anaknya...


Kalau di lihat betul-betul, wajah Kay memang perpaduan antara nona dan tuan Ben. Tak hanya itu, kecerdasan dan gaya bicaranya juga mirip sekali dengan mereka berdua.


Tapi ...


Seperti apa reaksi nona ketika tahu tentang kebenaran ini?


Aahh... Tuan Ben pasti akan mengatasinya. Aku harus ingat pesannya untuk menjaga nona Shanum baik-baik.


Lantas apa yang akan tuan Ben lakukan?


Fyuuuhhh... Aku bisa pusing mendadak kalau terus memikirkan itu.


Mereka langsung menyantap makan malam begitu memasuki apartemen.


****


Kedekatan Shanum dan Mikayla sepertinya kian lebih. Semenjak malam itu, Ben selalu menitipkan Kay di rumah Shanum, bahkan Kay sudah menginap di rumahnya dan merasakan pelukan hangat dari mommynya.


Tak hanya Kay yang merasa nyaman berada dalam dekapan Shanum saat tidur, Shanum pun merasakan hal yang sama ketika menidurkan gadis kecil itu.

__ADS_1


Di malam berikutnya, Shanum justru merasa hampa ketika tidak ada Mikayla di atas kasurnya.


Benar-benar suasana yang berbeda, padahal sebelum Mikayla menginap di rumahnya, dia sama sekali tak pernah merasakan sunyi serta kehampaan seperti ini.


Tapi siapa sangka, Mikayla bahkan lebih sering menghabiskan waktu dengan Shanum ketimbang bersama Ben, Merry serta Allea dan Leo di hari libur. Anak itu juga selalu memanggilnya mommy.


Keakraban mereka terjalin begitu singkat, keduanya pun tak merasa canggung satu sama lain.


Mikayla memanggilnya mommy sementara Shanum tak keberatan. Yang terjadi justru sebaliknya, ia merasa bahagia dan nyaman dengan panggilan itu.


"Hari ini genma, onty Alle dan uncle Leo lagi pergi ke Shen zhen, jadinya di rumah nggak ada orang" Kata Kay sambil menikmati makan siang.


"Kalau daddy?"


"Daddy lagi pergi ke Indonesia"


"Indonesia?" garis kerutan di dahi Shanum kian tajam.


"Eughh.. Katanya daddy mau ke rumah oma Kay yang di sana"


"Oma Kay juga ada di Indonesia?"


"Loh kan ke rumah daddy mommynya mommy"


Salah satu ujung alis Shanum terangkat. Sudah biasa ia mendengar ucapan aneh dari Kay.


"Kata daddy sebentar lagi mommy boleh pulang, jadi nanti Kay ajak mommy ke rumah daddy ya"


"Mommynya Kay pulang?" Tanya Shanum. Ada gurat kesedihan sebenarnya di raut wajahnya. Shanum berfikir, jika mommynya kembali, itu artinya permainan mommy mommyan antara dirinya dengan Mikayla akan segera berakhir. Dan wanita itu seperti tidak bisa menerimanya.


"Nanti kita pulang ke rumah daddy ya. Kita tunggu daddy pulang, besok kan hari minggu, mommy gantian nginep di rumah daddynya Kay"


"Nggak bisa nak"


"Bisa, kata daddy juga boleh kok?"


"Memangnya daddy bilang apa?" Tanya Shanum penasaran.


"Daddy bilang kalau Kay boleh ajak mommy nginep di rumah"


"Kan mommynya Kay mau pulang"


Anak kecil itu tiba-tiba menghela nafas pasrah, memutar bola matanya dengan agak sedikit cemberut "Kan Kay sudah bilang kalau mommy itu ya mommynya Kay, mommy Shanum, mommy Shanum yang akan pulang dan tinggal di rumah daddy. Bareng sama Kay dan juga daddy"


Lagi-lagi kalimat Kay membuat Shanum merasa aneh sekaligus tak mengerti. Ia pun memilih diam sebab percuma saja jika mengelak.


Diam-diam, Nonik yang mendengar percakapan ibu dan anak ini karena mereka sedang sama-sama berada di meja makan, mengirim pesan pada Ben dan memberitahukan kalau Mikayla memaksa Shanun untuk bertamu ke rumahnya.


Hanya menunggu sekitar tiga menit, Nonikpun sudah menerima balasannya.


Tidak apa-apa, biarkan Shanum datang untuk menuruti permintaan Kay. Jika dia terus menolak, tolong bantu Kay membujuknya. Pelan-pelan aku akan mengembalikan ingatannya.


Setelah membaca balasan pesan dari Ben, pikiran Nonik pun beralih pada situasi di Indonesia.


Pasalnya saat ini Ben sedang berada di sana untuk meminta penjelasan dari Emir dan juga Anita. Selain itu, kedatangannya juga akan meminta rekam medis sang istri karena dia berniat mendatangi dokter di Hongkong untuk berkonsultasi mengenai masalah Shanum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2