
Selesai mengirim pesan, Shanum meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur.
Meski jantungnya bergetar, konsentrasinya buyar, tapi tetap harus fokus sebab ada anak kecil yang merengek minta bermain dengannya.
"Okay, Kay mau main apa?" Tanya Shanum, duduk bersila menghadap Mikayla.
"Mommy nggak punya, slame ya, atau kertas origami, atau puzzle?"
"Nggak punya"
"Nggak apa-apa mom, kita main sambung kata aja, besok-besok main di rumah Kay, Kay punya banyak mainan"
"Gimana cara main sambung kata?" Tanyanya dengan fokus menatap Mikayla.
"Mommy nggak bisa main sambung kata? Daddy jago loh"
"Oh ya?"
"Kay selalu kalah kalau main sama daddy"
"Baiklah, kita main sambung kata. Kasih tahu mommy gimana cara mainnya"
"Mainnya gampang, nanti Kay sebutin satu kata misalnya garam, nah mommy cari kata yang depannya di awali dengan suku kata ram, jadinya rambutan kan?"
Shanum mengangguk, mendengarkan baik-baik penjelasan Mikayla.
"Terus nanti ganti Kay yang cari kata dari awalan tan. Gitu mommy" Tambahnya serius. "Mommy paham?
"Okay, paham"
"Okay, sekarang kita mulai. Dari mommy dulu"
"Lanjutin kata yang contoh tadi boleh?"
"Yang rambutan tadi?" Tanya Mikayla.
"Hmm"
"Boleh" Kepala Mikayla mengangguk.
"Mommy ambil tanah"
"Nahkoda" Sambung Kay cepat.
"Da" Shanum agak sedikit berfikir. "Datang, boleh?"
"Boleh, kan yang penting ada artinya" Jeda sejenak. "Kay tangga"
"Ga, ya?"
"Iya mommy"
"Garam lagi boleh?"
"Nggak boleh, yang sudah di sebutin nggak boleh di sebut lagi, harus cari yang lain"
"Ga_" Wanita itu kembali berfikir setelah mendengar sahutan Kay.
"Ayo mommy! Mikirnya nggak boleh lama-lama"
"Mommy bingung"
"Ya harus usaha, daddy juga cepat-cepat langsung dapat"
"Mommy nyerah aja deh"
"Garpu kan bisa" Celetuk anak itu seolah tanpa berfikir.
Iya yah?? Gitu aja kok lama mikirnya.
"Sekarang mommy lagi dari pu"
"Pu?" diam hingga beberapa saat ... "Pulau"
"Kay Lautan"
"Tanduk" Sahut Shanum kilat. Sepertinya dia sudah mulai bisa mengikuti permainan Mikayla tanpa banyaj berfikir.
"Duka"
"Kabel" Wanita berusia tiga puluh tahun itu tersenyum penuh bangga.
__ADS_1
"Belajar"
"Jari" Lanjut Shanum.
"Rindu mommy" Mikayla langsung menghambur ke pelukan Shanum. Shanum yang tidak siap otomatis terhuyung dan jatuh dengan posisi tidur.
Tak sampai di situ, Kay lantas menciumi pipi Shanum bertubi-tubi hingga dia tergelak kegelian mendapat serangan itu.
"I miss you mommy!" ucap Kay di sela-sela kecupannya.
"Kangen banget sama mommy ya?"
"Eungh" gadis kecil itu mengangguk kemudian menempelkan salah satu sisi wajahnya di dada Shanum.
Entah kenapa suasana yang tadinya riang mendadak sendu.
"Sudah berapa lama Kay nggak ketemu mommy?"
"Sejak Kay masih bayi"
"Masih bayi?" Shanum menata bantal di bawah kepala, dia sedikit tertegun mendengar jawabannya. Sedetik kemudian menunduk untuk mencari tahu seperti apa ekspresi wajah Mikayla, sementara tangannya berada di punggung anak itu dan tangan lain mengusap belakang kepala.
"Kay nggak pernah ketemu mommy" Lirih Kay.
"Tapi kenapa Kay tahu wajah mommy?"
"Kan daddy kasih lihat foto-foto mommy, foto yang pas daddy sama mommy menikah, foto pas daddy mommy liburan, pas mommy hamil Kay, ada banyak foto mommy di rumah Kay"
"Kenapa mommy pergi?" Pertanyaan Shanum membuat Kay langsung mengangkat pandangan.
"Kata daddy mommy tersesat dan nggak bisa pulang, tapi mommy jangan takut, ada Kay sekarang, nanti daddy jemput kita, kita pulang ke rumah daddy"
"Tapi aku bukan mommymu"
Keduanya beradu pandang, menatap dengan sorot nanar.
"Tapi wajahmu mirip sama mommy"
"Hanya mirip saja, nak"
Lalu hening, masih dengan tatapan saling mengunci, mengekori gerakan bola mata yang tampak gelisah.
Dan entah kenapa, mendengar permintaan gadis kecil itu membuat dada Shanum seperti terhimpit hingga merasa sesak luar biasa.
"Siapa nama mommynya Kay?" tanya Shanum setelah terdiam hampir satu menit.
"Namanya Ralline Sha_"
Kalimat Kay terpenggal oleh suara ketukan pintu kamar.
Nonik, dia tahu-tahu berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar. Secara bersamaan, dua pasang mata itu memindai tubuh wanita yang juga mengenakan penutup kepala.
"Makan siang sudah siap non" ucapnya ramah.
Alih-alih menjawab, Shanum justru menjatuhkan pandangan ke wajah Kay.
"Kita makan dulu yuk"
Kay hanya mengangguk untuk meresponnya.
Karena merasa iba, Shanum tak membiarkan Mikayla berjalan kaki. Dia menggendong tubuh mungil itu hingga ke meja makan.
"Kay duduk sini!" Ucapnya sambil mendaratkan kaki Kay di kursi makan.
"Thankyou mommy, I love you!" Kay mengecup salah satu pipi Shanum yang tingginya nyaris sejajar, sebab saat ini anak itu tengah berdiri di atas kursi.
Nonik yang berdiri di belakangnya merasa terharu sekaligus kasihan. Entah bosnya atau Mikayla yang ia kasihani, yang jelas ia turut hanyut dalam situasi yang membingungkan ini.
***
"Ben, ini sudah pukul empat lebih, hampir setengah lima, kamu jemput Kay, sana!"
"Entah kenapa ma, Ben teringat Shanum" bukannya merespon sang mama, pria itu malah mengeluhkan isi hatinya. "Kenapa Mikayla terus saja mengatakan kalau dia lihat mommynya, sedang berada di rumah mommynya. Sakit rasanya ma"
"Ben, mama saranin sebaiknya kamu berkunjung ke rumah bu Anita dan pak Emir, katakan padanya kebenaran tentang Kay. Jangan pikirkan reaksi mereka, atau jangan takut mereka akan ambil Kay dari kita, pikirkan kebahagiaan putrimu. Dia berhak bertemu dengan mommy kandungnya"
"Iya ma, Ben akan ke sana minggu depan"
"Kenapa harus minggu depan, kenapa tidak besok saja? Kamu sudah siap pasport, tidak perlu visa juga untuk berkunjung sebentar ke kediaman mertuamu"
"Apa mama lupa kalau Ben bekerja? Memiliki tanggung jawab besar dalam mengurus pekerjaan"
__ADS_1
"Kamu kerja di perusahaan pamanmu, bekas perusahaan papa, pasti paman memberimu cuti sehari dua hari"
"Meski di perusahaan paman, tetap tidak bisa! Apalagi sekarang ada banyak pekerjaan"
"Ya sudah terserah kamu, yang pasti kamu harus ke sana, katakan kalau anak kalian masih hidup"
"Iya"
"Pergi jemput Kay!" perintah Merry.
Ben bangkit dari sofa, menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas ponselnya. Tak lupa juga ia membawa benda tipis itu.
"Ben berangkat ma"
"Hmm hati-hati"________
Selama dalam perjalanan, pikiran Ben seolah tak berhenti memikirkan wanitanya. Ia juga sangat ingin tahu seperti apa nona yang di anggap mommy oleh putrinya.
Semirip apa wanita itu dengan Shanum?
Satu pertanyaan yang terus melintas di kepalanya.
Rasanya ia sudah tidak sabar ingin segera sampai di Greenland Hills, hunian mewah kalangan kelas atas berparas hijau dengan kombinasi silver
Dengan kecepatan sedikit tinggi, mobil itu terus melaju membelah jalan tol yang mulai memasuki wilayah Tsim Tsa Tsui. Hanya butuh lima menit saja dia akan sampai di apartemen yang ia tuju.
Tersisa satu menit, mobil itu pun sudah mulai memasuki area apartemen. Petugas keamanan sedikit bertanya sebab Ben adalah orang asing yang baru di lihatnya.
Menurunkan kaca jendela, tampak petugas berjenis kelamin laki-laki sedikit merundukan badan.
"Permisi, bisa tunjukan identitas sebagai pemilik hunian?" Tanyanya, karena setiap pemilik apartemen tentu saja memiliki card sebagai akses agar bisa masuk.
"Maaf saya hanya tamu, ingin berkunjung ke flat A lantai 8 B"
"Atas nama siapa pemiliknya?"
"Saya tidak tahu, saya lupa bertanya"
"Baiklah, mohon tunggu sebentar"
Mendesah pelan, Ben menyandarkan kepala di sandaran jok mobil, ia belum bisa masuk sebab pintu besi masih menghalangi mobilnya.
Setiap apartemen, sebagian memang memiliki peraturan ketat demi keamanan para penghuni.
Lima menit kemudian, pintu besi terangkat. Petugas meminta Ben masuk dan memarkirkan mobilnya di area parkir pengunjung.
"Silakan pak, pemilik sudah menunggunya. Flat A ada di sebelah paling kiri"
"Terimakasih"
"Sama-sama"
Sampai ketika pria itu memarkikan mobilnya lalu turun dan melangkah menuju gedung bertuliskan A, jantungnya berdetak begitu hebat. Apalagi saat menekan pintu lift yang langsung terbuka, telapak tangannya bahkan berkeringat dingin ketika salah satu ujung jari menekan angka delapan.
Dengan setengah mati ia berusaha menetralisir perasaan yang mendadak tak nyaman. Efek dari detak jantung yang menggema begitu kuat di dalam sana, yang persekian detik mampu mengeluarkan cairan dingin yang otomatis membuat tubuhnya basah.
Ting...
Bunyi tanda lift telah sampai di lantai tujuan.
Menarik napas panjang, Ben mengangkat kakinya keluar dari dalam lift, lantas melangkah menuju pintu berlambang B.
Masih dengan tubuh gemetar, ia menekan bel yang anehnya debaran jantungnya justru kian kencang.
Selagi menunggu sang empu membuka pintu, ia mengusap pelipisnya yang basah karena keringat.
Baru saja pria tegas itu menarik napas panjang, ia bahkan belum sempat mengeluarkan karbondioksida, pintu di depannya terbuka menampilkan sosok Shanum yang otomatis membuatnya menahan napas.
Dia terhenyak tak percaya dengan pemandangan di hadapannya.
Shanum..
Mimik mulutnya bergerak mengucap nama itu dengan tanpa suara.
Sedangkan Shanum menerbitkan senyum mendapati pria yang wajahnya ada di identity card di dompet anak itu, yang sudah ia lihat sebelumnya.
Senyum yang Shanum sendiri tak tahu apa maksudnya, sebab ia juga sibuk mengontrol irama jantung yang berdetak tak karuan.
Mereka diam saling menatap dengan kondisi batin yang entah...
Bersambung
__ADS_1