
Setelah pembicaraan malam itu, Shanum yang sudah tinggal di rumah Ben melakukan aktivitas layaknya seorang ibu. Meski sedikit canggung dan ada keraguan, akan tetapi hatinya memilih bertahan dalam situasi ini.
Ia mencoba percaya meski berlawanan dengan akal sehatnya. Wanita itu tak bisa menangkis sebab ada banyak hal yang membuktikan bahwa Ben adalah suaminya, sedangkan Mikayla adalah putrinya.
Ia pun akan berusaha untuk mengingat dirinya dan masa lalunya.
"Aku bantu ya!" Tawar Ben yang melihat Shanum tengah memasak sarapan.
"Tidak usah, kamu tunggulah di meja makan, aku akan menyiapkannya sendiri"
"Kalau begitu aku bantu bangunin Kayl sekaligus memandikannya"
"I-itu juga tidak perlu" Sambar Shanum cepat, tak berani menatap kilat teduh suaminya. Dan otomatis membuat alis Ben berkerut seketika.
"M-maksudku, Kayl kan perempuan, jadi mommynya yang akan bantu dia mandi"
Lelaki itu tersenyum lalu berucap.
"Baiklah, aku akan bantu beres-beres rumah"
"Memangnya kamu tidak pergi bekerja?"
"Nanti agak siang"
"Oh" Balas Shanum singkat. Wanita itu kembali berbalik menghadap kompor, melanjutkan aktivitasnya membuat tiga kebab untuk sarapan. Dia juga menyeduh susu untuk Mikayla, serta teh untuk Ben.
Sementara mamahnya Ben beserta adiknya sudah pindah ke rumah yang ada di bawah lantai rumah milik Ben. Nonik sendiri akan menyusul tinggal bersama atasannya.
Selesai membuat sarapan, Shanum langsung membangunkan sang putri. Membantunya mencuci muka, lalu membawanya ke ruang makan.
Mereka melakukan sarapan bersama sambil mendengarkan celotehan anak perempuannya. Tak ada kata yang keluar dari mulut Ben maupun Shanum selama sesi makan malam, keduanya hanya diam lalu menganggukkan kepala di sertai senyum simpul untuk merespon cerita Mikayla.
***
Di siang harinya, Ben yang sudah pergi bekerja, hanya ada Shanum dan Mikayla di rumah. Mereka menghabiskan waktu dengan bermain bersama, membaca buku dongeng, lalu bercerita banyak hal tentang Anita dan Emir yang tak lain adalah orang tua Shanum.
"Mamommy ke toilet dulu, ya!"
"Iya" Sahut Mikayla yang saat ini tengah mewarnai boneka barbbie pada buku gambarnya.
Hanya selang lima belas detik setelah beranjaknya Shanum menuju kamar mandi, bel pintu berbunyi membuat Mikayla menghentikan kegiatan asyiknya.
Anak kecil itu lantas bangkit kemudian berjalan ke arah pintu.
"Hai my beautifull daughter" Ujar wanita cantik nan seksi setelah pintu terbuka.
Mikayla mendongak, sebab level mata mereka terlampau sangat jauh.
"Tante Amerika?"
__ADS_1
"Aduh sayang, kan sudah di bilangin, panggil mommy Erika, okay anak manis!"
"Nggak mau!" Tolak Kayl dengan nada tegas setegas sang daddy saat melarangnya melakukan kenakalan.
"Daddy mana?" Tanya Erika main masuk begitu saja.
"Daddy tidak ada!"
"Kalau granny, aunty, sama uncle, di mana mereka? Mommy Erika bawain banyak oleh-oleh dari Amerika buat Kayl dan juga mereka"
"Mereka juga tidak ada, granny sudah pindah. Kalau mommy Shanum ada di kamar mandi"
Tawa Erika pecah saat mendengar ucapan gadis polos berusia lima tahun itu.
"Mommy Shanum itu jahat, dia sudah meninggalkan kamu sejak kamu masih bayi sayang, entah ada dimana wanita itu berada, dan mungkin saja dia sudah mati"
"Tante Amerika tidak percaya? baiklah, akan Kayl panggil"
"Dasar anak kecil" Erika menggelengkan kepala, mengira ucapan Mikayla hanya candaan semata.
Dengan PDnya dia melangkah menuju ruang makan, meletakkan barang bawaanya di atas meja. Sementara Mikayla berlari menuju ke arah kamar mandi.
Saat Erika baru saja keluar dari ruang makan, sepasang netranya menangkap Mikayla tengah berjalan bersisian dengan seorang wanita seusianya. Pandangan Erika lalu baeralih ke wajah wanita yang menggandeng tangan mungil milik Mikayla.
"S-Shanum?" Kedua mata indah itu saling bertemu pandang. Erika dengan sorot terkejutnya, sedangkan Shanum menyorot tak paham.
"Shanum" Mimik mulutnya tak mengeluarkan suara.
"Ah iya, saya Shanum. Mommynya Kayl" Shanum mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri saat wanita di hadapannya hanya terpaku dengan tatapan kosong.
Diamengabaikan juluran tangan Shanum, dan malah sibuk dengan lamunannya "Imposible! Shanum tidak mungkin di sini" Batin Erika berkata. "Dia hilang ingatan, dan Fabian bilang, Amnesia Shanum itu permanen, tidak bisa di sembuhkan sebab saraf-saraf di otaknya sudah rusak parah, jadi tidak mungkin dia ingat"
"Hallo" Shanum memanggilnya lengkap dengan kening mengerut. Wanita dengan balutan dress seksi itu bergeming tanpa mengindahi panggilan Shanum.
"Tunggu!" Alis Erika menukik tajam, masih bergelayut dengan lamunan serta pemikirannya. "Shanum tidak tahu siapa aku, itu artinya dia belum mengingat masa lalunya"
"Tapi bagaimana bisa dia ada di sini? Setelah enam tahun lamanya, kenapa dia kembali? Sepertinya aku harus tanyakan pada Fabian, dia pasti tahu segalanya. Tapi_" Dia menggantung kalimatnya sejenak, menelengkan kepala ke arah kiri. "Tapi sudah sangat lama aku tidak berkomunikasi dengan pria itu, apakah aku masih menyimpan nomornya?"
"Aah... Sialan!"
"Nona!" Panggil Shanum lagi dengan raut bingung yang masih bertahan di wajahnya.
"I-iya"
"Maaf, apa nona kerabat tuan Ben?"
"What!! Tuan Ben? Siapa sebenarnya dia? hanya mirip dengan Shanumkah, kenapa dia memanggil Ben dengan sebutan 'tuan'??
Beribu pertanyaan dalam hatinya, seolah-olah membuat Erika tak mampu berfikir jernih.
__ADS_1
"Nona!"
Fokus Erika buyar.
"Maaf, apa kamu ini Shanum?" Tanya Erika akhirnya. Ia berusaha keras menyingkirkan ekspresi gugup.
"Iya, saya Shanum" Wanita itu kembali mengulurkan tangannya. "Saya mommynya Kayl"
"Apa? M-mommynya Kayl?"
"Iya" Jawab Shanum tersenyum ramah. "Nona siapa?"
"A-aku, aku Erika, calon istrinya Ben!"
Wajah Shanum berubah seketika usai mendengar ucapan wanita yang kecantikannya bak artis Amerika. Jantungnya berontak seakan tak terima jika Erika adalah calon istri pria yang mengaku suaminya.
Ya, Erika memang seorang actrees internasional dengan beragam film super hero bergenre thriller yang sudah ia bintangi. Perannya sebagai pemain antagonis, membuat ketenarannya semakin di atas puncak meski di setiap film wajahnya tetutup oleh topeng. Kadang topeng yang menutupi sebagian wajahnya, yaitu hanya di bagian mata, terkadang juga menutupi seluruh wajah.
"C-calon istri tuan Ben?"
"Iya"
"Bukan, dia itu tante Amerika yang maksa-maksa Kayl panggil mommy" Sambar Mikayla dengan lantang. "Dia bukan siapa-siapa, mommy, tante Amerika ini memang tidak tahu malu. Jelas-jelas daddy tidak suka kalau tante datang"
"Kayl, tidak boleh bicara seperti itu, nak. Tidak sopan namanya" Tegur Shanum membuat Kayla langsung terdiam. Setelah itu ia kembali menatap Erika.
"Maaf nona Erika, Kayl masih kecil, tolong jangan di masukkan ke hati atas ucapannya"
Alih-alih merespon perkataan Shanum, Erika justru pergi tanpa sepatah kata. Membuat Shanum kembali di rundung keheranan sekaligus bingung.
Sejujurnya hati Shanum seperti patah saat Erika mengatakan bahwa dirinya adalah calon istri Ben, tapi ia berusaha menepis apa yang ia rasakan.
Erika sendiri buru-buru keluar dari apartemen Ben.
"Ini tidak boleh terjadi, aku sudah menyingkirkannya jauh-jauh dari hidup Ben, aku hampir berhasil memiliki Ben, dia tidak boleh menghalangiku"
"Tidak boleh"
Erika yang tadi menghentikan langkahnya di depan pintu, menggelengkan kepala, sedetik kemudian menoleh ke belakang, menatap pintu yang sudah tertutup rapat.
"Jika aku tidak bisa memiliki Ben, aku akan menghancurkan hidupmu, Shanum"
Bersambung..
Karena cerita ini lama breaknya, saya kehilangan ide dan alur yang sudah pernah ada di angan-anganku. Jadi maaf kalau lama updatenya sebab harus mengingat-ingat kembali apa yang ada di kepalaku.
Big hug my readers.
Semoga terhibur dengan cerita receh saya.. 😘😘😘
__ADS_1