
Selesai mandi, Shanum sudah mengenakan pakaiannya kemudian keluar dari area walk in closet.
Ia sempat terkejut karena sudah ada Mikayla di atas tempat tidur dalam posisi berbaring sambil bermain ponsel milik daddynya.
Anak yang masih mengenakan piyama lantas menoleh seraya tersenyum.
"Mommy sudah selesai mandinya?" tanyanya dengan nada khas anak kecil.
"Sudah, Kay sudah bangun?"
"Sudah, terus Kay ke daddy, kata daddy mommy bobo di kamar daddy"
Shanum mendekat, duduk di sisi ranjang sebelah Mikayla berbaring.
"Kay lagi apa?"
"Lihat foto-fotonya mommy sama daddy" anak itu menjawab sambil memperlihatkan layar ponsel.
Untuk ke sekian kalinya Shanum tercenung.
"Ini mommy sama daddy, kata daddy waktu itu Kayl belum lahir"
Mata Shanum yang sudah berpusat ke layar ponsel beberapa detik lalu mengerjap. Ada begitu banyak foto dirinya yang tersimpan di ponsel Ben dan juga album kenangan. Seakan membuatnya yakin bahwa itu benar-benar dirinya. Keyakinannya di perkuat oleh potret dua kakak kembarnya, Shanas dan Sheina.
"Ngomong-ngomong, Kay tinggal di sini bersama siapa lagi selain dengan daddy?"
"Kay tinggal sama granny, aunty Allea dan uncle Leo"
"Terus mereka ada dimana sekarang?"
"Mereka lagi ke Zhènzen ke tempat young granny"
"Young granny?"
Anak itu mengangguk. "Dedeknya granny"
Oh jadi young granny adalah adik dari neneknya Mikayla. Shanum membatin.
"Ada acara apa mereka kesana? Kenapa Kayl tidak ikut mereka?"
"Ada aunty yang mau nikah, granny juga mau nengokin grandpa yang tinggalnya di bawah tanah. Kata daddy rumah granpa di sana, tapi setiap Kayl datang kerumahnya, Kayl tidak pernah bertemu grandpa, Kayl cuma kasih bunga terus daddy berdoa buat grandpa, setelah itu pulang"
"Kayl nggak mau ikut karena pengin bobo di rumah mommy" tambahnya setelah tadi sempat mengambil nafas sejenak.
"Kalau begitu, sekarang mandi yuk, mommy bantu, okay"
"Iya"
"Anak pintar" Puji Shanum, tangannya mengacak rambut Mikayla lembut.
Selang hampir tiga puluh menit, Shanum sudah selesai memandikan Mikayla, saat tengah membantu mengenakan pakaian, Ben tiba-tiba membuka pintu kamar.
Dua wanita beda genarasi itupun menoleh.
__ADS_1
"Daddy!"
"Sudah mandi?" tanya Ben merujuk ke putrinya.
"Sudah, mommy bantu Kayl mandi tadi"
"Selesai pakai baju kita sarapan sama-sama ya"
"Daddy sudah selesai masak-masaknya?"
"Sudah"
"Okay daddy"
Selagi Ben dan Mikayla saling bicara tadi, Shanum hanya diam, tak berniat ikut nimbrung dalam obrolan anak dan ayah itu. Ia juga tak begitu fokus mendengarkan pembicaraan mereka, sebab fikirannya jauh berkelana dan ingin segera pulang untuk menginterogasi sang asisten.
"Selesai" Ucap Shanum begitu selesai menyisir rambut panjang Mikayla dan mengikatnya.
"Ayo mom, kita sarapan, daddy pasti sudah nunggu di meja makan"
Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan.
****
Selesai sarapan, Shanum bergegas pulang. Ia beralasan pada Mikayla bahwa dirinya ada pekerjaan mendesak. Meski di antar olehnya dan Ben, sementara Mikayla terus memaksa untuk ikut masuk ke apartemennya, tapi pada akhirnya anak itu berhasil di bujuk oleh Ben dan juga Shanum.
Menit berlalu, pikirannya yang seakan mengelilingi labirin karena banyak hal yang ia pikirkan, membuat langkah Shanum terasa berat padahal ia hendak memasuki apartemennya sendiri.
Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu menggunakan cardlock yang otomatis kuncinya akan terbuka. Melangkah masuk, Nonik belum menyadari kepulangan atasannya sebab ia berada di dapur karena baru saja selesai sarapan dan saat ini dia tengah mencuci piring bekas dia makan.
"Nona sudah pulang?"
"Sudah" Jawab Shanum. "Kamu sudah sarapan?"
"Sudah, nona. Ini baru saja selesai"
"Bisa kita bicara?"
Sebelum menjawab, Nonik sempat menelan ludahnya sendiri.
"B-bisa, nona" Nonik sudah bisa menebak raut wajah nonanya yang akan membahas soal Ben dan juga Mikayla. Dan selain itu, sang atasan juga pasti akan meminta penjelasan darinya.
"Kita bicara di kamarku" Shanum langsung berbalik tanpa menunggu jawaban sang asisten.
"Baik nona"
Setelah kedua wanita itu berada di kamar, Shanum langsung menuju ke balkon dan duduk di lantai sambil bersandar pada tembok. Ia juga memerintahkan Nonik untuk duduk di sampingnya.
Kini mereka sudah sama-sama duduk sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi yang memancar ke arahnya.
"Apa yang kamu ketahui tentang masa laluku, Nonik?"
Tak ada jawaban hingga beberapa detik, sebab Nonik teringat pembicaraannya dengan Anita dan juga Emir tadi malam melalui Video call.
__ADS_1
Nonik Flasback on...
"Apa yang harus saya katakan pada nona Shanum, bu?"
"Ceritakan saja apa yang ingin dia tahu, jawab saja apa yang dia tanyakan. Karena Ben juga sudah menemui saya tadi pagi"
"Apa?? Tuan Ben ke Jakarta, Bu?"
"Iya, Nonik. Dia mengatakan segalanya, dan mengenai putrinya, bayi yang Shanum lahirkan ternyata masih hidup"
"Jadi tuan Ben membohongi kita semua?"
"Iya, dia mengatakan seperti itu dalam keadaan marah. Dan kemarahannya itu karena saya tidak lagi mengijinkan Ben menemui Shanum. Kamu tahu sendiri cerita dari Fabian yang mengatakan kalau Shanum depresi dan mengalami baby blues karena Ben tidak terima anak yang dilahirkan adalah seorang perempuan"
"Iya bu, saya masih ingat"
"Dan ternyata apa yang di katakan Fabian itu tidak benar, Nik. Sangat berlawanan dengan cerita Ben sendiri. Dan Ben sudah meluruskan semuanya saat dia menemui saya"
"Jadi Mikayla benar-benar putri kandung nona Shanum?"
"Iya"
"Astaga... Saya nyaris tidak percaya, bu. Pantas saja Mikayla terus memanggil nona Shanum mommy, karena anak itu memang tahu wajah mommynya seperti apa"
"Iya, Ben pasti menceritakan tentang Shanum ke putrinya dan memperlihatkan fotonya"
"Ini benar-benar di luar dugaan, bu. Setelah terpisah beberapa tahun, mereka kembali di pertemukan. Dan pertemuan itu benar-benar tak di sangka"
"Jadi nonik, ceritakan saja apa yang ingin Shanum ketahui. Kalau saya dan pak Emir sudah tidak sibuk, kami akan mengunjungi kalian"
"Baik bu"
"Terimakasih, Nonik. Dan tolong jaga Shanum, jangan biarkan dia terlalu banyak fikiran"
"Iya bu"
Flasback of
"Nonik!" Wanita itu sedikit tersentak karena tengah melamun.
"I-iya nona?"
"Ceritakan mengenai masa laluku"
Sebelum memulai bercerita, nonik menarik napas panjang.
"Begini, nona" Ucapnya meski agak sedikit ragu. Takut yang ia ceritakan tidak berkenan di hati atasannya.
"Dulu, nona memang pernah menikah dengan tuan Ben"
Mendengar kalimat Nonik, secara spontan Shanum menoleh ke samping kanan, atensi langsung tertuju ke bola mata lawan bicaranya.
"Dan pernikahan kalian bisa di bilang karena terpaksa"
__ADS_1
"Apa? Terpaksa?"
BERSAMBUNG