Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
24


__ADS_3

Keesokan harinya, Shanum bersiap untuk pergi ke kampus. Profesinya yang seorang dosen, membuatnya harus berhadapan dengan murid-murid yang super aktif dan kadang menjengkelkan. Tak sedikit pula mahasiswa yang menggoda Shanum karena setahu mereka wanita itu masih single.


Dan semalam, dia kembali tak bisa tidur karena ada banyak pertimbangan yang ia pikirkan. Apalagi setelah menelfon keluarganya dan mereka mengatakan jika keputusan ada di tangannya.


Di satu sisi ia merasa asing dengan Ben dan keluarganya, merasa aneh jika tiba-tiba harus tinggal bersama dengan suami dan anaknya. Tapi di sisi lain, seakan hati terus meronta untuk memilih dekat dengan mereka terutama Mikayla.


"Sudah siap, nona?" Suara Nonik membuatnya tersentak sebab ia tengah melamun.


"Sebentar lagi, Nik"


"Saya tunggu di ruang makan, non"


"Iya" jawab Shanum sendu, kemudian merapikan kembali pakaiannya sebelum keluar.


Bersamaan dengan ia menutup pintu kamar saat keluar, ponsel di dalam tasnya berbunyi. Ia lantas meraih benda itu untuk melihat siapa yang menelfon.


Tuan Ben??


Mengerutkan bibir, matanya bergerak gelisah dan bertanya-tanya ada apakah pria itu menelfon pagi-pagi begini.


Rasa ingin tahu membuat jarinya tanpa sadar menggeser ikon hijau.


"Halo"


"Hallo mommy" Ternyata Mikayla yang menelfonnya.


"Kay!"


"Kata daddy, mommy kerja, iya?"


"Iya sayang, kenapa?"


"Genma, uncle sama aunty sudah pulang, mereka pengin ketemu, nanti mommy datang sepulang kerja ya"


"Tapi mommy sibuk, mommy tidak bisa datang"


"Daddy juga sibuk, tapi bisa pulang ke rumah. Kenapa mommy tidak bisa? Inikan rumah mommy juga"


"Nanti mommy usahain ya"


"Bawa baju mommy sekalian ya, supaya mommy tidak perlu bolak-balik. Kita akan tinggal sama-sama"


Ucapan Mikayla membuatnya kembali di liputi perasaan bingung.


"Genma, uncle sama aunty juga mau pindah, jadinya nanti rumahnya sepi. Kayl sama siapa kalau bukan sama mommy"


"Mau pindah?"


"Iya, kan mommy sudah pulang jadinya pindah"


"Kenapa harus pindah, kan bisa tetap tinggal"


"Kata genma, mau pindah saja tinggal sama uncle dan aunty"


"Mau pindah kemana?"


"Tidak jauh dari rumah kita mom, cuma turun satu tangga. Jadi rumah genma di bawah, rumah kita di atasnya"


"Kayl, ayo kita berangkat nak" Mendadak Shanum mendengar suara Ben dari balik telfon.

__ADS_1


"Iya daddy" Sahut Mikayla. "Mommy, Kay sekolah dulu ya, nanti Kayl minta daddy buat jemput mommy. Mommy bisa siap-siap dulu sebelum daddy jemput"


Wanita itu tak mampu menjawab. Ia hanya diam sebelum kemudian kembali terdengar suara sang putri.


"Okay mommy bye-bye"


Menarik napas panjang, dia menutup sambungannya setelah mengucap salam dan berpesan untuk hati-hati.


"Kita berangkat, Nik" Ucap Shanum ketika sudah di ruang makan.


"Baik nona"


***


Pagi berganti siang. Selama mengajar tadi, Shanum benar-benar tak fokus, dan ini pertama kalinya ia merasa gelisah yang luar biasa. Selesai mengajar ia kembali ke ruangannya dimana di sana sudah ada Nonik yang tengah berkutat di depan laptop. Selain menjadi asistennya, yang di tugaskan oleh Emir untuk selalu mendampingi sang putri, dia juga di tunjuk oleh Shanum menjadi asisten dosen. Nonik akan menggantikan dirinya mengajar jika dia ada kepentingan yang memang tidak bisa di tinggalkan.


"Sudah selesai, nona?" Nonik melirik Shanum sekilas lalu mematikan laptop dan melipatnya.


"Sudah" Jawab Shanum sambil berjalan menuju kursi kerja.


"Nonik, bisa gantikan aku mengajar setelah ini?"


Nonik tak langsung menjawab, sebab ia merasa heran dengan permintaan atasannya.


"Kenapa, nona?"


"Aku akan pulang lebih awal dan mengemasi pakaianku_"


"Mengemasi pakaian?" Potong Nonik seraya melangkah menuju meja kerja milik Shanum. Ia lalu duduk di kursi yang ada di hadapan meja atasannya itu.


"Aku memilih untuk tinggal dengan mereka sesuai dengan solusi yang kamu berikan padaku kemarin"


"Tapi bukan itu harapan utamaku, Nonik. Meski ingatanku sulit untuk kembali, atau bahkan tidak ada kemungkinan untuk ingat, yang paling penting adalah Mikayla. Anak yang berasal dari rahimku sendiri, darah dagingku"


"Benar nona, dan saya yakin nona akan bahagia berada di tengah-tengah Mikayla dan tuan Ben. Begitu juga dengan tuan Ben dan Mikayla, mereka pasti akan sangat senang nona bersedia kembali dan tinggal bersamanya"


"Apa keputusanku ini tepat, Nonik" Tanya Shanum memasang wajah serius.


"Sangat tepat. Dan jika nona merasa bermasalah, tak perlu segan untuk membaginya dengan saya. Seratus persen saya akan berusaha membantu nona menyelesaikan masalah nona"


"Terimakasih, Nonik"


Nonik mengangguk sebelum kemudian menyahut. "Sama-sama nona, saya ikut bahagia jika nona bahagia"


"Beruntung sekali aku memiliki partner kerja sepertimu"


"Saya pun beruntung memiliki bos seperti nona"


"Kamu bisa saja" Seloroh Shanum.


Keduanya pun tersenyum saling mendukung.


"Jam berapa nona akan ke rumah tuan Ben? Jika bersedia, nona bisa menunggu saya pulang dan saya akan mengantar nona"


"Tidak tahu, Nik. Menurutmu, kapan aku pergi?"


"Bagaimana kalau sebelum makan malam. Saya akan mengantar nona, dan kita bisa memasak untuk makan malam di rumah tuan Ben"


"Kata Kayl di sana ada genmanya, apa tidak lancang kalau kita yang masak"

__ADS_1


Lagi, Nonik menyunggingkan senyum teringat jika dia belum memberitahu sang nona bahwa ibu mertuanya adalah seorang yang humble.


"Bu Merry itu baik, dia bahkan mengenalku"


"Bu Merry" Mendadak ada kerutan di dahi Shanum.


"Ibu mertua nona, mamanya tuan Ben"


"Namanya Merry? Benarkan dia baik?"


Nonik mengangguk dengan ekspresi mantap.


"Dari mana kamu tahu kalau dia baik?"


"Dulu saya sering mendampingi bu Anita dan pak Emir mengunjungi nona ke Macau. Kami berkunjung kurang lebih sebanyak tiga kali" Nonik mengingat-ingat kejadian di masa lampau. "Yang pertama, saat nona baru dua minggu tinggal bersama keluarga tuan Ben. Karena tak terbiasa jauh dari nona, bu Anita begitu merindukan nona padahal baru dua minggu kalian berpisah, jadilah kami terbang dari Jakarta ke Macau. Yang kedua saat acara empat bulannan nona mengandung, yang ketiga saat usia kehamilan nona tujuh bulan. Dan kami akan kembali datang saat nona melahirkan, tapi belum sempat kami datang, kami malah mendengar berita menyakitkan mengenai kecelakaan nona" Suara Nonik menyendu saat mengatakan tentang kecelakaan itu.


"Saya senang karena akhirnya nona dan tuan Ben bisa di pertemukan kembali setelah hampir enam tahun" Tambah Nonik merasa bersyukur.


"Tapi meski begitu, perasaan khawatir tetap ada, Nonik"


"Saya rasa nona tak perlu mengkhawatirkan apapun, tuan Ben pasti akan bisa mengatasinya"


Nonik menatap dalam-dalam atasanya. "Apa yang nona khawatirkan?" selidiknya dengan tatapan intimidasi.


"Mengenai cerita versi Fabian yang kamu ceritakan kemarin"


"Nona bisa bertanya pada tuan Ben, untuk cerita versi tuan Ben sendiri mengenai KDRT yang tuan Ben lakukan. Dan apapun cerita dari tuan Ben, saya yakin itulah kebenarannya"


"Seyakin itu kamu dengan tuan Ben?" Tanya Shanum. Kini ganti dia yang menatap sang asisten penuh menyelidik.


"Iya nona, bahkan dia begitu jujur dan amanah saat mengabdikan dirinya pada tuan El. Tuan El lah yang memujinya sendiri, itu sebabnya saya sangat percaya pada tuan Ben. Selain itu tuan Ben juga sangat mencintai nona"


Menarik napas panjang, Shanum menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Aku percaya padamu Nonik. Aku yakin kamu tidak sembarangan dengan apapun yang kamu katakan tadi"


Hening selama sekian detik. Shanum memejamkan matanya dengan kedua tangan ia daratkan di atas perut. Nonik sendiri mencermati wajah teduh atasannya yang tampak kelam.


Semoga bahagia nona, ingatan nona bisa kembali agar nona bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya. Kami sangat penasaran dengan cerita versi nona sendiri. Kami sangat ingin tahu apakah pak Fabian yang menjadi penyebab semua ini.


Jika tuan Ben tidak pernah melakukan penyiksaan hingga nona mengalami depresi tingkat tinggi seperti yang di tuduhkan pak Fabian pada tuan Ben, itu artinya selama ini kami telah di bohongi oleh pria yang menumpang nama di keluarga Atmajaya.


"Selamat menempuh hidup baru, nona" Ucap Nonik setelah tadi sempat berinteraksi dengan batinnya.


Mata Shanum terbuka, memindai wajah Nonik yang bersemburat penuh senyum.


"Memangnya aku menikah" Kelekarnya.


"Apapun itu, nona akan menjalani kehidupan baru bersama suami dan anak kandung nona"


"Aku masih belum percaya mengenai ini semua Nonik"


"Tapi itulah kebenarannya, nona. Nona sudah menikah dengan tuan Ben, dan memiliki seorang putri"


Bersambung


Selain nulis di platform, saya juga punya pekerjaan di dunia nyata ya, jadi maaf kalau tidak bisa crazy up.


Semoga tetap setia menanti. 😙😙😙

__ADS_1


__ADS_2