Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
Suara dari balik telfon


__ADS_3

Menyadari sang cucu tak lagi berada dalam genggaman tangannya, Merry langsung panik, tubuhnya lemas dan gemetar secara bersamaan.


Kepalanya terus menoleh ke kanan, kiri, depan belakang, sampai ke seluruh arah.


Namun nihil. Tak ada anak kecil yang menyerupai Mikayla, mulutnya juga tak berhenti memanggil-manggil nama Kayl berharap tiba-tiba anak itu menyahut panggilannya.


Hingga hampir tiga puluh menit tak kunjung menemukan cucunya, Merry langsung menghubungi Ben untuk mengabarkan bahwa Mikayla telah hilang.


Tak menunggu lama, panggilan pun tersambung.


"Yes ma"


"Ben, c-cepatlah kemari sayang, Kayl hilang"


"Apa maksud mama?" tanya Ben bingung.


"Kayl hilang Ben!" sentaknya dengan intonasi tinggi.


"Kay hilang? hilang gimana mam?"


"Ya Kay nggak ada di gandengan mama"


"Astaga, gimana bisa nggak ada si ma?"


"Mama nggak nyadar nak, tahu-tahu Kay nggak ada di dekat mama"


"Mama dimana sekarang?" Nadanya terdengar sangat cemas.


"Mama ada di pasar murah, di Sam sui po"


"Okay, Ben kesana sekarang"


"Cepat ya mama tunggu"


"Iya ma"


Panggilan terputus, pria itu dengan gugup meraih jaket lalu mengenakannya, ia mencari dompetnya yang tiba-tiba menghilang. Tak mau membuang waktu untuk mencari barang berharga miliknya, Ben akhirnya menyambar kunci mobil dan ponsel yang masih tergeletak di atas nakas.


Tanpa membawa dompet, dia keluar dari apartemen dengan langkah seribu.


Tentu saja dengan kondisi batin yang kecemasannya berada di level teratas.


Selang lima belas menit, mobilnya sudah sampai di area pasar, ia kembali menghubungi mamanya lewat sambungan telfon.


"Iya Ben?" Ucap Merry dari balik telfon. Suaranya terisak karena menahan tangis kehilangan cucu satu-satunya.


"Ben sudah di area pasar, mama dimana?"


"M-mama ada di stand seven eleven Ben"


"Okay, tunggu sebentar"


"Cepat ya Nak"


"Hmm" Dia mematikan sambungan telflon sambil berlari mencari sang mama.


"Mama!" Panggil Ben ketika sudah berada di depan Merry.


"Ben, Kay nggak ada, Kayl hilang Ben" Adunya sembari menangis.


"Tadi hilangnya di sebelah mana?"


"Tadi mama lihat-lihat sandal, terus nyobain sebentar, tahu-tahu tangan mama udah nggak gandeng Kayl"


"Mama sudah lapor petugas patroli?"


"Sudah, mereka sedang mengecek CCTV"


"Okay sekarang kita ke post keamanan"

__ADS_1


Saat hendak melangkahkan kaki, mendadak ada seorang petugas berseragam biru muda menghampiri mereka.


"Mohon maaf bu, cucu anda tidak bisa terlacak di karenakan lokasi pasar sangatlah ramai, tapi kami sedang berusaha melacak seluruh cctv di area stasiun"


"Berapa lama, pak?" Tanya Ben menahan diri.


"Butuh waktu hingga beberapa jam. Tapi kami akan berusaha agar anak bapak bisa segera di temukan, beberapa petugas kami juga sedang mencari di area pasar"


"Baiklah, kami akan menunggu"


"Bisa di tunjukkan fotonya?" Tanya pak polisi.


Tak menjawab, Ben justru langsung membuka ponsel di tangan kirinya kemudian memperlihatkan foto Mikayla.


"Ini anaknya pak"


"Bisa kirim ke nomor ponsel saya"


"Bisa" Ben segera mengirim foto putrinya.


"Baik, bapak dan ibu bisa tunggu di rumah, kami akan mengabari secepatnya"


"Terimakasih, pak"


"Sama-sama. Permisi"


Setelah kepergian dua polisi dari hadapan mereka, Ben mengajak Merry pulang ke rumah. Ini Hongkong negara kecil dan maju, bukan hal sulit bagi polisi menemukan Mikayla. Dalam waktu tak kurang dari 1×24 jam, Ben yakin putrinya sudah di temukan.


"Kita pulang ma" Ben memapah tubuh Merry yang terlihat sangat lemas. Mereka berjalan menuju mobil berwarna putih susu milik pria yang kini berusia tiga puluh tiga tahun.


"Gimana kalau Kayl nggak ketemu, Ben"


"Kay anak pintar ma, dia pasti pulang"


"Kayl bawa dompet kamu, semoga dia meminta tolong ke orang buat telfon kamu. Ada kartu nama di dompetmu kan?"


"Ada ma"


****


Di tempat lain, Shanum yang tengah menormalkan detak jantung mendadak di buat kecewa oleh anak yang belum genap lima tahun.


"Yah, kok nggak ada" Kata Mikayla karena tak mendapati foto pernikahan orang tuanya di dompet Ben.


"Biasanya ada di dompet daddy kok"


Sepertinya rasa penasaran Shanum harus ia telan bulat-bulat.


"Pasti daddy mengambilnya mom, soalnya daddy rindu mommy setiap hari, dan kata daddy kalau lihat foto mommy, rindunya akan sembuh"


"Tapi sebenarnya mommy Kay ada dimana?"


"Di depan Kay" Jawab bocah itu tanpa pikir. Kedua matanya terus menatap Shanum penuh lekat.


"Tapi aku bukan mommymu"


"Kenapa mommy bilang begitu, mommy lupa sama anak mommy? Lupa sudah melahirkan Kay?"


"M-melahirkan?" Kening Shanum mengernyit.


Benar, mendengar semua ucapan anak ini membuatku stres sampai kepalaku mendadak pusing.


"Okay, mana nomor ponsel daddymu, mommy telfon sekarang"


"Ini" Dia menyodorkan kertas berukuran kecil.


Shanum menerimanya menggunakan tangan kanan.


"Ben Dixon Harefa" Gumamnya lirih. Dia terpaku menatap dalam-dalam kartu nama yang juga ada deretan nomor cantik tertera di sana.

__ADS_1


Ben Dixon Harefa, ada apa dengan nama ini, kenapa jantungku seliar ini?


Ben Dixon, Ben Dixon.


Ia terus mengulang nama itu dalam hati.


"Mommy!" Shanum tersentak kaget, padahal panggilan Mikayla sangat lembut.


"Iya sayang"


"Telfon daddy sekarang"


"O-okay!" Dia tergagap, wajahnya memerah sementara sorotnya tampak sekelam malam. Dengan gerakan lambat, wanita itu meraih ponselnya yang masih ada di dalam tas.


Pelan ia mengetik nomor ponsel yang sangat mudah untuk di hafal. 989 888 62.


Ibu jarinya seakan bergetar ketika menekan tombol dial.


Satu detik, dua detik, hingga berganti menjadi tiga detik, suara bas dari seorang pria persekian detik menggetarkan jantungnya.


Mencelos, jantung itu bahkan seperti terlepas dari tempatnya begitu ia mendengarnya.


"Hallo"


"H-hallo"


"Iya" respon Ben.


"A-apa ini daddynya Mikayla? Tuan Ben Dixon Harefa?"


"Benar, apa anak saya bersama anda?"


"Iya, putri anda ada di rumah saya, dia aman dan baik-baik saja"


"Okay, terimakasih sudah menolong dan menjaga anak saya" Mungkin Ben sedikit heran dengan suara wanita di balik panggilan telfonnya. Selain bisa berbahasa Indonesia, suara itu juga seperti tak asing baginya. Tapi karena yang ada dalam pikiran Ben hanyalah Mikayla, iapun mengabaikan suara yang tiba-tiba membuat jantungnya seketika berdebam tak tahu aturan.


"Daddy, Kay ada di rumah mommy" suara Kay tiba-tiba terdengar di telinga Ben.


"Kay"


"Ya daddy"


"Dimana kamu sayang?"


"Kay ada di rumah mommy" ulangnya dengan penuh penekanan.


"Mommynya siapa Kay"


"Mommynya Kay"


"Jangan buat ulah di sana, daddy segera jemput okay" tegasnya sebelum kembali bersuara. "Nona, bisa beri tahu alamat nona dimana, saya segera datang untuk jemput Mikayla"


"Daddy jangan buru-buru jemput Kay ya, Kay masih pengin main lama-lama sama mommy"


"Tapi nak, itu bukan mommy Kay, mommy nggak ada disini sayang"


"Pokoknya daddy jangan jemput Kay, Kay mau main dulu sama mommy"


Sambungan di putus sepihak oleh Kay. Shanum sendiri tercenung sebab masih menetralisir perasaan aneh yang ada di hatinya saat ini.


"Mommy" Panggil Kay ketika melihat wanita cantik di depannya hanya termangu dengan pandangan kosong.


"Jangan kasih tahu daddy alamat mommy sekarang, kasih tahunya nanti sore aja"


"Iya" jawab Shanum apa adanya. Fokusnya benar-benar menghilang entah kemana.


Beberapa detik kemudian, tanpa sepengetahuan Mikayla, diam-diam Shanum mengirimkan pesan ke nomor yang baru saja ia hubungi.


"Kay aman di rumah saya. Biarkan dia main di sini sampai sore. Tuan bisa menjemputnya setelah dia puas bermain. Saya akan jaga anak tuan baik-baik"

__ADS_1


"ini alamat rumah saya. Greenland Hills Gedung A, lantai 8 unit B. Tsim Tsa Tsui"


Bersambung


__ADS_2