Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
25


__ADS_3

Suara Bel berbunyi membuat penghuni rumah menerka-nerka kira-kira siapa yang datang di jam 18:30 waktu setempat.


Merry yang tengah mencuci sayuran untuk mempersiapkan makan malam, langsung mencuci tangannya kemudian mengeringkan dengan tisu dapur.


Ia lantas melangkah menuju pintu untuk membukanya.


Begitu pintu terbuka sempurna, wanita paruh baya itu terhenyak. Ia terkatup, menatap dengan saksama dua wanita yang tak asing baginya. Saking tak percaya, dia sampai mengerjapkan kedua mata hingga berulang kali, dia bahkan mengusap matanya berharap ini bukanlah halusinasi.


Dua wanita di hadapannya saat ini, yang entah kapan terakhir ia temui.


Salah satu di antaranya adalah menantunya sendiri. Shanum.


Kembali mengerjapkan mata, ia menelan ludah lalu berucap.


"Shanum"


"Selamat malam, Bu"


"S-selamat malam" Tatapan Merry terus fokus pada wajah sang menantu, wajah yang tak ada perubahan barang sedikit. Sekian detik kemudian, Ia melirik koper yang ada di samping Nonik. Wanita yang juga ia kenal.


Kedua bola matanya kembali memindai wajah Shanum, lalu Nonik secara bergantian.


"Ini benar-benar Shanum? Menantuku?"


"Iya bu Merry, ini nona saya, nona Shanum" jawab Nonik dengan seulas senyum.


"Ya Tuhan, Shanum!" Wanita itu lantas memeluk Shanum di iringi tetesan embun yang jatuh dari pelupuk matanya.


"Kenapa baru datang sekarang, nak?" Ucap Merry, salah satu tangannya mengusap punggung Shanum dengan lembut.


"Maaf bu"


"Sudah, jangan meminta maaf, Ben sudah menceritakan segalanya"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Allea muncul dari dalam dan menghampiri pintu rumahnya.


"Siapa m-mah?" Ucapan Allea bersamaan dengan sepasang netranya yang mendapati sosok kakak ipar tengah di peluk oleh sang ibu.


"K-kakak?" Lirinya nyaris tanpa suara, Iapun melangkah lebih dekat.


Ada rasa haru di hati Allea sebab ini seperti mimpi. Tak di sangka kalau kakak iparnya ternyata memang benar ada di sini.


Sementara dua wanita itu saling mengurai pelukannya setelah Allea berada di dekatnya.


"I-ini benar kamu kak? Kak Shanum?"


"Iya" Jawab Shanum sembari menganggukkan kepala.


"Kakak" Allea tanpa ragu memeluk Shanum. Wanita itupun membalasnya meski agak sedikit bingung.


Mereka adalah orang asing di pikirannya saat ini, tentu saja dia tercenung mendapat pelukan mendadak.


"Kita masuk dulu, nak" Sela Merry, otomatis pelukan mereka pun terurai.


Tepat ketika memasuki ruang tengah, Shanum tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat canda tawa Ben dan Mikayla yang baru saja keluar dari kamar. Mereka tengah bersenda gurau dengan posisi sang putri berada di gendongan punggung Ben.


Tak hanya Shanum, Ben juga terkejut dengan kedatangan wanita yang sampai saat ini masih bersemayam di dalam hatinya. Berbeda dengan Mikayla yang menampilkan raut bahagia sebab sang mommy ada di depannya.


Anak gadis itu langsung turun dari gendongan daddynya lalu berlari menghampiri Shanum.


"Mommy!" Kedua tangannya melingkar di pinggang sang mommy.


"Tadi Kayl minta daddy buat jemput mommy, tapi daddy bilang setelah makan malam jemputnya" Mikayla merenggangkan lingkaran tangannya, kepalanya mendongak agar bisa menatap wajah Shanum.


"Mommy di antar sama onty Nonik"


"Mommy bawa koper berarti mau tinggal di sini sama Kayl sama daddy, iya?"

__ADS_1


"Iya sayang, sesuai dengan permintaan Kayl"


"Yeeeyyy" Seru Mikayla riang. Tingkahnya itu mampu mengundang gelak tawa Merry, Allea dan Nonik. Sementara Shanum dan Ben kompak hanya menyunggingkan senyum tipis.


"Shanum, kamu bisa bawa kopermu ke kamar, kamarnya Ben, dan untuk sementara Nonik bisa tidur dengan Mikayla"


"Tidak perlu, bu" potong Nonik cepat. "Saya tidak ikut pindah, saya akan tetap menempati apartemen nona"


"Tidak, Nonik. Kamu harus pindah ke sini karena dalam tiga hari lagi saya akan pindah ke rumah saya sendiri"


"Itu bisa kita atur nanti mah" Sambar Ben. "Mari nona Shanum, ku antar ke kamar" Tambahnya canggung.


"Ayo Shanum! Istirahat dulu bila perlu, mama akan memasak, setelah itu kita makan malam sama-sama"


"Saya bantu masak, bu" kata Nonik menyela.


"Tidak perlu Nonik, kamu bisa duduk saja, atau main-main sama Kayl_"


"Iya kak, mamah biar aku yang bantu" ucap Allea.


"Tidak bu, Kayl pasti akan sibuk dengan mommynya, saya tidak bisa duduk diam"


"Ya sudah lebih baik kita masak sama-sama" Seloroh Allea lagi.


"Nanti aku bantu" Sambung Shanum.


"Tidak usah kak, kakak sama. Kayl saja"


"Iya, Kayl kangen banyak sama mommy" Celetuk gadis berusia lima tahun. "Ayo, daddy antar ke kamar, daddy bantu bawain koper mommy ya!"


Shanum dan Mikayla bersama-sama melangkah menuju kamar. Sedangkan Ben mengambil alih pegangan koper dari tangan Nonik.


Merry, Allea dan Nonik langsung mengarahkan kakinya menuju dapur.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2