
"Pernikahan terpaksa, kamu bilang?"
"Iya, nona. Sebenarnya pernikahan itu untuk pak Fabian dan calon istrinya. Tapi mereka berdua sama-sama kabur di hari pernikahan, tepatnya dua jam sebelum akad di mulai. Karena keluarga nona tidak mau menanggung malu, jadilah nona Shanum dan tuan Ben yang menggantikan mereka. Nona Shanas dan nona Sheina lah yang mendukung pernikahan kalian, mereka tahu kalau nona dan tuan Ben berteman hingga saling menyukai satu sama lain, tapi kalian tidak berani mengakuinya, sedangkan keluarga yang lain hanya terpaksa menerima pernikahan kalian untuk menutupi perasaan malunya"
"Jadi daddy mommy tidak pernah setuju dengan pernikahanku"
"Bukan tidak setuju nona, tapi lebih tepatnya shock, sebab itu di luar dugaan mereka. Tapi setelah satu bulan lebih melihat nona Shanum begitu manis memperlakukan tuan Ben, begitu juga sebaliknya, akhirnya pak Emir dan bu Anita mempercayakan nona pada tuan Ben"
"Kenapa Fabian dan calon istrinya kabur di hari pernikahan mereka?" tanya Shanum penasaran.
"Karena mereka di jodohin, keduanya sama-sama tidak saling mencintai, alasan pak Fabian karena tidak mau di jodohkan, sementara si mempelai wanita karena baru lulus SMA. Mereka ke luar negri, pak Fabian ke London, sedangkan si perempuan yang saya dengar kabur ke Paris"
"Apa pernikahanku dengan tuan Ben bahagia?"
"Selama dua bulan nona dan tuan Ben tinggal bersama pak Emir dan bu Anita, menurut kacamata saya kalian bahagia, tapi setelah dua bulan, tuan Ben harus mengurus perusahaan keluarga tuan El di Macau, jadi kalian pindah. Dan saya lihat kehidupan kalian semakin bahagia apalagi saat mendengar tentang kehamilan nona"
"Lantas bagaimana aku bisa melupakan suami dan anakku, Nonik?"
"Apa tidak masalah jika saya bercerita semuanya?" Tanya Nonik memastikan. Ia takut kalau apa yang ia ceritakan justru akan membuat Shanum shock, dan akhirnya merasa pusing.
"Kenapa masalah? Aku ingin tahu semuanya"
"Tapi tolong nona jangan terlalu serius atau berfikir terlalu dalam, takutnya nanti kepala nona sakit"
"Itu hal yang wajar, Nonik. Ini rahasia besar bagiku, selain itu pun ada masalah di dalam kepalaku" Sahum seakan membuat Nonik yakin bahwa dia akan baik-baik saja setelah mendengar kisahnya. "Rasa sakit di kepala bisa ku tahan, tapi rasa keingin tahuanku, aku sudah tidak bisa mentolerir lagi"
Sebelum bercerita, Nonik menarik nafas panjang.
"Entah kebohongan atau kebenaran yang pak Fabian ceritakan pada kami" Kata Nonik sedikit tegang. "Yang pasti setelah bu Anita mendengar kesaksian dari sisi pak Fabian, bu Anita langsung membenci tuan Ben dan melarang tuan Ben menemui nona. Bu Anita juga mengatakan akan mengurus surat perpisahan kalian"
"Apa mommy melakukan itu?"
"Tidak nona, pak Emir melarangnya sebab saat itu, setelah tiga minggu nona terbaring koma, begitu sadar, nona kehilangan ingatannya sementara pak Emir berniat mencari tuan Ben dengan harapan tuan Ben akan bisa mengembalikan ingatan nona"
"Jadi daddy mencari tuan Ben?"
"Iya nona, tapi tidak berhasil, kami di bantu oleh tuan El, dan tuan El mengatakan, saat tuan Ben resign, dia akan pindah ke Amerika, kami pun meminta KBRI yang ada di Amerika untuk membantu pencarian, tapi nihil. Mereka mengatakan tidak ada warga Macau yang mengurus kepindahan atas nama tuan Ben. Kami sama sekali tidak berfikir kalau tuan Ben justru pindah ke Hongkong"
"Lalu apa lagi yang Fabian ceritakan pada daddy mommy?"
__ADS_1
"Pak Bian bilang kalau setelah melahirkan nona mendapat penyiksaan dari tuan Ben dan keluarganya, baik siksaan fisik maupun batin, sampai-sampai, nona mengalami babybloes"
"Penyiksaan?" Shanum mengerutkan kening seolah tak percaya "Bukankah pernikahan kami bahagia, kenapa aku mendapat penyiksaan"
"Itu karena nona melahirkan anak perempuan, sedangkan tuan Ben beserta keluarganya menginginkan anak laki-laki, itulah yang memicu tuan Ben menyiksa nona"
"Dia benar-benar menyiksaku?"
"Benar atau tidaknya, kami tidak tahu nona. Kami mendengar itu semua dari pihak pak Fabian"
"Kenapa kalian tidak mencari tahu sendiri dan malah langsung percaya pada Fabian?"
"Kami tidak bisa bertanya pada siapapun, termasuk nona, karena saat itu kami mendapat kabar dari pak Fabian kalau nona sudah di Jakarta, nona terbang dari Macau ke Jakarta tanpa tuan Ben, di saat itu juga pak Fabian memberitahu kami tentang kondisi nona yang tahu-tahu di rumah sakit karena mengalami kecelakaan hingga nona di nyatakan koma"
"Aku kecelakaan?"
"Iya nona, nona mengalami tabrak lari saat baru saja keluar dari bandara"
"Tabrak lari?" Benar-benar wanita itu merasa kian bingung. Sekelumit itu ternyata kisah hidupnya.
"Apa pelaku tabrak lari di hukum?"
"Jadi yang menabrakku masih belum mendapatkan hukuman sampai sekarang"
Anggukan kepala Nonik membuat Shanum geleng-geleng kepala.
"Satu hal lagi mengenai Mikayla, nona?"
Atensi Shanum yang tadi menatap lurus ke depan, kembali ia alihkan pada sang asisten.
"Tentang Mikayla?"
"Iya, nona"
"Apa?" tanya Shanum tak sabar.
"Tuan Ben bilang kalau Mikayla, bayi yang nona lahirkan sudah meninggal. Itu sebabnya saya terkejut saat bertemu pertama kali dengan tuan Ben. Di tambah Mikayla memanggil nona dengan sebutan mommy. Saya pikir Mikayla bukan anak nona, tapi tuan Ben menceritakan semuanya"
"Kapan?"
__ADS_1
"Saat nona mengembalikan dompet tuan Ben malam itu. Dan ternyata, tujuan tuan Ben menitipkan Mikayla pada kita kemarin, karena tuan Ben akan ke Jakarta untuk menemui bu Anita"
"Ke Jakarta?" Untuk kesekian kalinya Shanum di buat tercengang. "Jadi tuan Ben ke Jakarta dan sudah bertemu mommy?"
"Iya nona, tadi malam saya menghubungi bu Anita, beliau menceritakan kedatangan tuan Ben. Tuan Ben juga meminta rekam medis nona untuk di konsultasikan pada dokter di sini"
Lalu setelah itu hening.
Hingga sekian menit berlalu, Shanum tiba-tiba bersuara.
"Menurutmu aku harus bagaimana, nik?"
"Kenapa bertanya pada saya, nona?"
"Aku bingung, nonik"
"Kenapa harus bingung. Tuan Ben adalah suami nona sampai detik ini, dan Mikayla adalah putri nona"
"Dia pria asing dalam pikiranku saat ini"
"Kalau nona belum bisa menerima tuan Ben, setidaknya lakukan demi Mikayla"
"Melakukan apa?"
"Saya sangat tahu perasaan Mikayla, dia ingin sekali tinggal bersama daddy mommynya_"
"Jadi menurutmu aku harus tinggal bersama mereka?" potong Shanum memenggal kalimat Nonik yang kemungkinan belum selesai.
Kepala nonik terangguk pelan.
"Di rumahnya?" Tekan Shanum memastikan, bola matanya terus tertuju ke manik hitam lawan bicaranya.
"Iya nona"
Setelah mendengar jawaban Nonik, barulah dia melempar pandangan ke atas seraya menghela nafas berat.
"Demi Mikayla, nona"
Bersambung
__ADS_1