Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
18


__ADS_3

Tak ingin membuang waktu ataupun berlama-lama, begitu ada kesempatan Ben langsung menuju ke Indonesia.


Ia bahkan melakukan perjalanan pada waktu dini hari.


Tepat pukul 07:30 Wib, pesawat yang take of di bandara international Hongkong pada pukul dua, telah mendarat dengan selamat di bandara Internasional Jakarta pagi ini.


Pria itu bergegas keluar dari area bandara untuk menyelesaikan urusannya. Karena lima jam kemudian, ia akan kembali ke Hongkong menggunakan pesawat yang sama dengan pesawat yang ia tumpangi barusan.


Selain urusan pekerjaan, Ben juga tak ingin meninggalkan Shanum dan Mikayla terlalu lama, itu sebabnya dalam waktu dua puluh empat jam dia sudah harus kembali ke negaranya dengan harapan membawa rekam medis milik sang istri. Tak hanya itu, Ben juga menginginkan agar mertuanya bersedia menjelaskan apa yang terjadi pada Shanum selama lima tahun dan penyebab kecelakaan yang di alaminya.


Selama dalam perjalanan menuju rumah keluarga Daniswara, ingatan Ben jatuh pada saat dirinya di usir dari rumah sakit oleh Anita tanpa sebab.


"Mau apa kamu kemari?"


"Apa maksud mommy?"


"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali untuk menemui putriku"


Ben yang saat itu tak tahu apa-apa hanya bisa diam dengan pikiran bercabang.


"Berikan pada kami anak yang Shanum lahirkan, kami akan membesarkannya meski tanpa kamu"


"Kenapa aku tidak boleh menemui istriku sendiri?"


Alih-alih menjawab, Anita justru tersenyum smirk tanpa menjelaskan apapun.


"Serahkan bayinya Shanum pada kami"


"Bayi kami sudah tiada!" Jawab Ben spontan.


"Oh jadi kamu membunuh bayimu karena dia perempuan?"


Ben semakin tak mengerti.


"Pergi dari hadapanku sekarang juga!" Sentak Anita.


"Pak, kita sudah sampai di tempat tujuan" Ucapan dari sang sopir persekian detik mampu mengacaukan lamunan Ben. Reflek sepasang netranya mengedar dan memusatkan irisnya pada rumah yang tak ada perubahan sama sekali.


Setelah bernegoisasi dengan sopir agar menunggunya, Ben akhirnya turun.


Dengan perasaan sedikit berdebar, pria itu menekan Bel rumah dan tak menunggu lama seorang satpam membuka pintu gerbang.


"Selamat pagi pak Damang?"


"T-tuan Ben!"


Damang yang sudah bekerja hampir sepuluh tahun jelas tahu siapa pria yang saat ini berdiri di depannya.


"Pak Damang masih ingat dengan saya?" Ben tersenyum ramah.


Tak mendapat respon karena Damang sepertinya masih shock, Ben pun kembali bersuara.


"Saya ingin bertemu dengan daddy dan mommy, pak"


"T-tapi pak Emir baru saja pergi, tuan"


"Kalau begitu saya ingin bertemu mommy"


"Apa bu Anita sudah tahu kalau tuan Ben akan datang?"


"Belum" Jawab Ben singkat.


"Kalau begitu, saya akan beritahu bu Anita terlebih dulu"


"Saya masih menantunya, pak. Di ijinkan atau tidak, saya akan tetap masuk dan pak Damang tidak perlu meminta ijin dari mommy untuk memasukkan saya kedalam rumah istriku"


"Tapi tuan Ben"


"Saya hanya ingin menemuinya sebentar, bukan untuk membuat onar"


Usai mengatakan itu, Ben langsung menerobos pintu gerbang meski Damang berusaha mencegahnya.


Setelah langkahnya sampai di depan pintu, belum sempat ia mengetuk, pintu itu tahu-tahu terbuka.


Seorang ART yang belum pernah Ben lihat muncul dari dalam rumah.

__ADS_1


"Siapa anda?" tanyanya bingung.


"Saya suaminya Shanum" Jawab Ben to the point. "Dimana mommy Anita?"


"Ibu ada di dalam"


"Bilang padanya kalau menantunya ada di sini"


"Baik"


Sang ART yang tak tahu menahu, hanya menurut dan mengiyakan perintah Ben.


Tak lama kemudian Anita muncul di hadapannya dengan wajah penuh benci. Ia sebenarnya terkejut bahkan tercengang, tapi berusaha menutupinya serapat mungkin.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya sarkas tanpa ekspresi.


"Aku tidak akan membuat keributan di rumah mommy, tapi sebelum menjawab pertanyaan mommy, boleh aku masuk dan membicarakan tentang Shanum?"


Wanita yang masih tampak cantik itu berdecak sinis. "Apa yang mau kamu bicarakan tentang istri yang sudah kamu usir dari rumahmu sendiri?"


"Akan lebih baik kita bicara di dalam sambil duduk santai. Bagaimana?"


Melipat tangan di dada, lagi-lagi Anita menerbitkan senyum miringnya.


"Lancang sekali kamu!" Ujarnya saat Ben tiba-tiba menyusup masuk. Melangkah menuju ruang tamu, dia duduk dengan gestur tenang.


"Benar-benar tidak sopan, per_"


"Kali ini mommy tidak bisa mengusirku" Potong Ben. "Karena kedatanganku kemari untuk memperjuangkan Shanum demi putri kami"


"Putri?"


"Duduklah jika ingin tahu betapa pintarnya anakku dan Shanum, mereka bahkan sudah bertemu di Hongkong dan sering menghabiskan waktu bersama"


"A-apa maksud kamu Ben?" tanya Anita tak mengerti.


"Duduklah, kita bicarakan baik-baik"


Karena rasa penasaran yang teramat mencekam, Anita pun duduk di sofa yang berseberangan dengan sang menantu.


"Jelaskan dulu ada apa dengan Shanum, kenapa dia tidak mengingatku dan putrinya yang kini berusia lima tahun?"


"Apa? Bukankah kamu bilang anak kalian sudah tiada?"


Kini ganti Ben yang tersenyum miring. "Aku membohongi mommy karena mommy sudah melarangku menemui Shanum"


"Suami yang sudah mengusir istrinya dari rumahnya, lalu menyuruhnya pulang ke rumah orang tuanya, apa pantas menemui putriku" Tatapan Anita begitu membunuh.


"Pria yang sudah mencampakannya, menyakiti fisik dan psikis sampai dia mengalami baby bloes, tidak pantas bersanding dengan Shanum"


"Siapa yang bilang aku menyakiti Shanum?"


"Aku tidak perlu memberitahumu siapa yang mengatakan itu padaku, yang jelas kecelakaan itu terjadi karena kamu"


"Tapi aku tidak pernah menyakitinya" Nada Ben meninggi dengan kilat mata menahan amarah. "Shanum bahkan sangat bahagia hidup bersamaku. Apalagi semenjak melahirkan Mikayla"


"M-Mikyla?" Ucap Anita dengan pandangan kosong.


"Ya, putrinya yang dia tinggalkan setelah beberapa hari di lahirkan"


"Asal mommy tahu" Tambah Ben, wajahnya memanas menahan emosi "aku bahkan tidak tahu saat Shanum pergi dari rumah, dia hanya meninggalkan pesan suara kalau dia akan pergi ke Indonesia karena daddy, mommy, kak Shanas dan kak Shei mengalami kecelakaan, dia juga berpesan padaku agar aku segera menyusulnya ke Jakarta setelah rapatku selesai. Sebelum pergi, Shanum menitipkan Kayl pada mama dan berpesan untuk menjaganya selagi dia menjenguk keluarganya. Tapi setelah sampai di Jakarta, keluarga mommy bahkan baik-baik saja. Sementara aku yang langsung menyusul Shanum, harus di kejutkan dengan kondisinya dan malah mendapat pengusiran dengan tanpa alasan. Bukankah itu artinya ada orang yang sengaja membuat kesalahpahaman di antara kita?"


"B-bagaimana bisa?"


"Rumah tangga kami bahagia dan baik-baik saja tanpa cela, kami berencana memberi kejutan atas kelahiran anak kami pada mommy, tapi sebelum kami melakukannya, Shanum lebih dulu terperangkap oleh siasat orang yang ingin merusak hubungan kami. Sekarang beri tahu aku siapa yang memberitahu mommy bahwa aku telah menyakiti Shanum?"


"F-Fabian" Jawab Anita tanpa berfikir.


"Fabian?" Alis Ben menukik.


"Dia juga bilang kalau kamu marah pada Shanum karena bayi yang di lahirkannya adalah bayi perempuan, sedangkan kamu menginginkan anak laki-laki" Lanjut Anita. "Itu sebabnya kamu mengusir Shanum dari rumahmu"


"Dan mommy percaya?"


"Karena yang mommy lihat Shanum datang ke Jakarta dengan tanpa kamu. Dan karena terlalu kalut, Shanum berjalan sambil melamun, dia tidak menyadari ada sebuah mobil yang melaju cepat dan akhirnya menabraknya hingga dia mengalami koma selama tiga minggu"

__ADS_1


"Apa juga Fabian yang menjelaskan kronologis kecelakaan itu?"


Anita mengangguk. Karena memang Fabianlah yang tahu mengenai tragedi itu.


"FABIAN" lirih Ben dengan penuh penekanan. Salah satu tangannya mengepal erat-erat.


"Mommy akan bertanya pada Bian, Ben"


"Jangan sekarang!"


"Kenapa?"


"Jangan bilang pada Fabian kalau aku datang kemari. Aku akan menyelidiki semuanya sendiri. Sekarang berikan catatan medis tentang kesehatan Shanum"


"Untuk apa Ben?"


"Aku akan berusaha supaya ingatannya kembali. Karena hanya Shanum yang tahu kebenaran soal Fabian"


"Kebenaran apa maksudmu? Fabian sepupunya, tidak mungkin dia yang membuat Shanum celaka"


"Tapi dia yang memfitnahku kalau aku sudah menyakiti Shanum dan bilang kalau aku menolak putri perempuan kami"


"Jadi kamu tidak pernah menolak bayi perempuan yang Shanum lahirkan?"


"Kalau aku menolaknya, mungkin aku sudah membuangnya ke panti asuhan, tapi faktanya aku membesarkan dan mendidik dia dengan penuh kasih sayang"


"Benarkah dia masih hidup?" Anita memastikan.


"Dia sangat pintar, dia berani ambil resiko demi untuk tahu dimana tempat tinggal Shanum"


"Maksudmu?"


"Mikayla sempat hilang di pasar raya, tapi setelah beberapa jam Shanum menelfonku dan memberitahu kalau Mikayla ada bersamanya?"


"M-mereka bertemu?" tatapan Anita begitu fokus menatap menantunya.


"Ya, tapi Shanum sama sekali tak mengingat kami"


"Dia akan mengalami pusing jika di paksa untuk mengingat masa lalunya" potong Anita cepat.


"Aku tahu mom"


"Jadi tolong jangan paksa Shanum, biarkan dia ingat dengan sendirinya. Karena jika kita memaksa, maka kemungkinan besar jaringan sel di otaknya akan mengalami kerusakan"


"Akan aku konsultasikan pada dokter terbaik di Hongkong"


"Mommy ambilkan rekam medis miliknya, tunggu sebentar!"


Anita bangkit lalu buru-buru melangkah menuju kamarnya.


Selang sepuluh menit, dia sudah kembali dengan membawa amplop coklat berukuran besar. Amplop itu berisi mengenai catatan dan beberapa hasil CT Scan gambar tiga dimensi dari tengkorak, otak, dan bagian terkait lain dari kepala.


Anita langsung menyerahkan amplop itu ke tangan Ben. "Ini catatan kesehatan Shanum. Semua mommy simpan menjadi satu di amplop itu"


"Makasih mom"


"Mommy akan beritahu daddy, dan menyusul Shanum ke Hongkong"


"Tapi tolong jangan beri tahu siapapun termasuk kak Shanas dan kak Shei, jangan sampai Fabian tahu tentang hal ini sebelum aku tahu apa motif Ben memfitnahku"


"I-iya mommy akan merahasiakannya" Jawabnya. "Maaf saat itu mommy emosi karena percaya pada Fabian"


"Aku mencintai putri mommy, tidak mungkin aku menyakitinya"


"Lalu seperti apa cucu mommy?"


Tak langsung menjawab, Ben merogoh ponsel yang ada di saku jaketnya, lalu membuka menu galeri dan mencari file bernama Kayl.


"Mommy bisa lihat di ponselku, ada foto Shanum juga saat kami mengisi waktu libur bersama-sama beberapa hari lalu"


Menerima sodoran ponsel dari tangan Ben, mata Anita berkaca-kaca. Ia langsung mencermati satu demi satu foto yang tampak menggemaskan.


Selagi Anita melihat-lihat potret Mikayla, Ben membuka Amplop untuk melihat catatan medis milik istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


Sering sakit-sakitan jadi jarang buka NT karena harus bedrest... 🙏🙏🙏


__ADS_2