Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
20


__ADS_3

Shanum yang tengah melamun, terlonjak ketika tiba-tiba mendengar suara dari arah balik punggungnya. Tak hanya itu, belakang kepalanya yang tertutup hijab pun di selimuti oleh hembusan nafas hangat dari pria pemilik kamar ini.


Wanita itu berbalik, kemudian mundur satu langkah sebab jarak keduanya terlalu dekat. Sepasang mata mereka lantas saling beradu pandang dengan kondisi batin yang mungkin berlawanan.


Menatap dalam diam dengan di penuhi tanda tanya. Shanum sedikit tercenung dengan penampilan pria di hadapannya.


Di bawah cahaya lampu, wajah Ben tampak begitu tampan. Garis rahangnya sangat dalam dan dingin, sementara bibir tipisnya terkatup menanti jawaban dari wanita yang tak lain adalah ibu dari anaknya.


"Apa kamu sama sekali tidak mengingatku?" Tanya Ben saat Shanum tak kunjung menjawab.


"J-jawaban apa yang harus ku berikan? Ini sangat membingungkan untukku" Sahut Shanum datar.


"Enam tahun lalu, kita pernah menikah, dan lima tahun lalu kamu melahirkan Mikayla"


Hening, Shanum mengira kalau Ben berbohong.


"Semula namamu Ralline Shanum Daniswara, dan setelah menikah, namamu menjadi Ralline Shanum Harefa"


"Apa karena wajahku sangat mirip dengan istrimu sehingga kamu mengatakan kalau kita pernah menikah?"


"Apa kamu sedang menuduhku berbohong?" Ben bertanya balik dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya.


"Karena aku merasa tidak pernah menikah denganmu"


Pria itu melempar pandangan pada foto besar yang terpajang di dinding dengan sudut bibir terangkat.


"Foto itu, jelas bukti kalau pengantin wanitanya adalah kamu"


Shanum memusatkan perhatian pada foto yang di tunjuk Ben. Sedetik kemudian tanpa mengatakan apapun, dia mengangkat kakinya, namun baru saja dua langkah melewati Ben, pergelangan tangannya tiba-tiba di cekal.


"Mau kemana?" Tanya Ben tanpa berbalik.


"Pulang"


"Ini sudah malam, aku tidak bisa mengantarmu. Kay sendirian di rumah"


"Aku bisa pulang sendiri"


"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian malam-malam begini, apalagi diluar hujan angin sangat lebat"

__ADS_1


"Aku bisa"


"Dan aku tidak bisa" Sergah Ben tak mau kalah. "Jika kamu ingin tahu kebenaran tentang masa lalumu, aku bisa membantu tanpa memaksa kamu untuk mengingatnya"


"Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja dengan cerita orang asing sepertimu"


"Bertanya pada Nonik atau daddy Emir dan mommy Anita pun percuma, karena jawaban mereka pasti akan sama denganku"


Bukan kalimat Ben yang membuat Shanum tertegun, tapi nama daddy mommylah, kenapa Ben bisa tahu.


"Kamu tahu nama daddy dan mommyku?" Shanum berbalik, menatap pria yang berdiri membelakanginya.


Pria itu berdecak, lalu melepas cekalan tangan yang mencengkram pergelangan lawan bicaranya. "Aku menantunya, konyol kalau tidak tahu siapa nama mertuaku sendiri"


"Mandilah, kamu bisa menempati kamar ini. Aku akan tidur di ruang tv" Tambah Ben sambil berjalan menuju walk in closet. Ia berniat mengambil pakaian tidur.


Menit berlalu, Shanum masih berdiri di tempatnya setelah Ben kembali dengan membawa handuk bersih dan piyama tidur.


"Di laci nakas ada album kenangan, kamu bisa melihat seperti apa masa lalumu. Jika masih belum percaya silakan tanyakan pada asisten pribadimu atau anggota keluargamu"


Usai mengatakan itu, Ben langsung melangkahkan kakinya dan menuju kamar mandi umum yang ada di luar kamar.


"Mandi dan istirahatlah, baju-bajumu masih tersimpan rapi di ruang ganti. Selamat malam, Ralline Shanum Harefa"


Jantung Shanum berdebar saat namanya di sebut.


Ralline Shanum Harefa?


Apa dia berkata jujur? Kita pernah menikah? Tapi kenapa daddy dan mommy tidak memberitahuku?


Tiba-tiba wanita itu teringat ucapan Ben.


"Album foto?"


Shanum langsung berjalan beberapa langkah lalu menarik laci pertama.


Tidak ada ...


Tangannya pun beralih pada laci ke dua.

__ADS_1


"F-foto?"


Tangannya terulur meraih semua album yang jumlahnya kira-kira lebih dari lima.


Ia membuka album pertama dengan sampul bertuliskan the wedding R and B.


Semua isinya tentang pernikahan dirinya dengan Ben. Satu hal yang membuatnya berfikir keras, yaitu tentang ekspresi keduanya yang menampilkan senyum terpaksa. Hanya satu foto yang tersenyum tulus penuh kebahagiaan. Foto yang juga terpajang di dinding dengan ukuran yang lumayan besar.


Kenapa?


Apa pernikahan ini adalah sebuah desakan?


Baik aku dan tuan Ben, daddy serta mommy sama sekali tak menunjukan ekspresi bahagia.


Tapi tidak dengan kak Shanas dan Sheina. Senyum mereka tampak sumringah.


Ada apa dengan pernikahan ini?


Kenapa keluarga Ben sama sekali tidak ada di foto itu.


Hanya ada Kellen, daddy Pandu dan mommy Nayla?


Apa hubungan Ben dengan mereka?


Wanita itu masih bermonolog dalam hati.


"Ini?" Shanum mendapati foto Pandu yang tengah membubuhkan tanda tangannya.


"Selain Daddy Aksa, daddy Pandu yang menjadi saksi di pernikahan kami?"


"Kenapa mereka menyembunyikan hal sebesar ini dariku?"


Selesai melihat album pernikahan, Shanum beralih pada album foto yang berisi tentang liburan Ben dengannya. Belum ada Mikayla di Album itu, tapi ada satu perbedaan dari album sebelumnya. Yaitu senyum bahagia di antara keduanya.


Dari foto yang memperlihatkan masa-masa kehamillan sampai dia melahirkan semua sudah Shanum lihat hingga tak sadar bahwa jam di dinding sudah menunjukkan waktu hampir di pertengahan malam.


Wanita itu bergegas tidur, namun tak ayal, dia justru tak bisa memejamkan matanya sampai pukul tiga dini hari.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2