
Malam, usai makan malam, Shanum yang baru saja selesai membersihkan diri, menghampiri sang asisten yang tengah mengerjakan deadline sembari menonton televisi di ruang tengah.
Wanita itu kemudian duduk seraya berkata.
"Nik, besok tolong kamu temui tuan Ben di taman bawah, dan serahkan ini padanya" Dia meletakkan tas Mikayla di atas meja.
"T-tuan Ben?" Pandangan Nonik yang tadi menatap Shanum, beralih ke barang yang di letakkannya lalu kembali lagi memusatkan sepasang iris pada sosok yang sudah duduk sambil memainkan gawainya.
"Iya, kenapa?" Tanya Shanum tanpa menatap sang asisten.
"Siapa tuan Ben?" Nonik bertanya balik.
"Daddynya Mikayla"
"Daddynya Kay?"
"Hmm! Ada apa?"
Tentu saja Nonik terkejut, sebab nama itu mengingatkan dia dengan sosok suami dari atasannya itu. "Namanya Ben, Nona?" Memastikan sekali lagi.
"Iya, Nonik. Namanya tuan Ben Dixon Harefa"
"Apa! B-Ben Dixon Harefa?"
Shanum menatap asistennya yang tampak tergagap.
"Iya"
Sedetik kemudian, wanita itu melihat perubahan di wajah Nonik yang otomatis membuatnya keheranan.
"Ada apa Nik, kenapa wajahmu mendadak pucat? Kamu masih sakit? Kalau iya lebih baik ke dokter sekarang"
"T-tidak nona, saya hanya merasa sakit sedikit. I-ini sudah biasa"
"Kalau nggak kuat jangan di tahan"
"Kuat kok, kuat" Balasnya menyembunyikan raut wajahnya.
Ben Dixon Harefa?
Bagaimana bisa namanya mirip dengan tuan Ben, suaminya nona Shanum?
Ah, semoga hanya namanya saja yang mirip, orangnya, tentu saja bukan tuan Ben milik nona.
Tapi, bagaimana kalau orangnya juga sama?
Apa yang harus ku lakukan?
Oh ya Tuhan... Apa aku bicarakan ini dengan bu Anita dan pak Emir?
Tidak-tidak, aku harus memastikan dulu seperti apa tuan Ben daddynya Mikayla, jika bukan, untuk apa aku beri tahu bu Anita.
Aku harus temui pria itu untuk mengembalikan barangnya yang tertinggal.
Diam sejenak... Nonik masih sibuk dengan pikirannya mengenai Ben.
Ah jangan, jangan! No... Aku tidak boleh menemui daddynya Mikayla. Kalau benar Ben itu adalah Ben suaminya nona Shanum, aku pasti akan mati di tempat. Tuan Ben jelas mengenaliku, lalu apa jadinya kalau dia meminta penjelasan tentang ingatan nona padaku, aku harus jawab apa?
Jawab jujur, takut salah di mata bu Anita. Jawab tidak tahu, itu tidak mungkin, jelas-jelas aku tahu segalanya, dia pasti tak akan percaya. Aku kan sudah bekerja lebih dari tujuh tahun di keluarga pak Emir.
Sangat tahu tentang kecelakaan yang membuat nona amnesia.
Ahh.. Kenapa mendadak pikiranku sekacau ini?
Rumit ... Sangatlah rumit!!
Wanita itu menggerakkan bola matanya dengan gelisah.
Tunggu!!
Berarti tadi tuan Ben sudah bertemu dengan nona Shanum saat jemput Kay, iya kan?
Lalu saat nona menelfonnya untuk memberitahu kalau barangnya tertinggal di sini, pria itu sepertinya biasa saja.
Apa dia bukan tuan Ben?
Ya pasti bukan, dan kalau tuan Ben punya anak, sudah pasti anak itu masih berusia tiga atau empat tahun, sedangkan Mikayla berusia lima tahun. Setidaknya begitu kalau tuan Ben sudah menikah kembali. Perlu waktu untuk memiliki anak dengan perempuan lain.
Tapi kenapa putrinya menganggap nona Shanum adalah mommynya? Apa memang semirip itu?
__ADS_1
Ini membingungkan, semoga saja dia bukan tuan Ben. Aku berharap itu Ben Dixon Harefa yang lain.
Dan untuk memastikannya, aku harus menolak perintah nona Shanum. Aku bisa beralasan perutku sakit dan tidak bisa berjalan.
Nona Shanum pasti mengerti dan akhirnya, dia sendiri yang harus turun.
Sementara nanti aku akan membuntutinya dari belakang. Dari kejauhan aku bisa tahu siapa tuan Ben itu.
Iya begitu akan lebih baik. Setelahnya baru aku bisa beri tahu bu Anita kalau benar itu adalah tuan Ben. Kalau bukan, tentunya aku tidak perlu mencemaskannya.
Sepanjang malam Nonik tak bisa tidur. Sampai pukul dua dini hari, barulah mata itu terpejam sempurna.
****
Pagi kembali menyapa, Shanum dan Nonik melakukan aktivitas seperti biasa.
Jarum jam yang terus berdetak ke arah kiri sama sekali tak berjeda barang sejenak.
Hingga tiba waktunya di malam hari tepatnya pukul 19:15 Waktu Hongkong, Shanum menadapat panggilan telfon dari Ben dan memberitahukan kalau dirinya sudah berada di bangku taman bawah apartemennya.
Dia pun segera pergi mengambil tas mungil milik Mikayla di ruang tengah.
Sesuai dengan rencana Nonik, Shanum sendiri yang akan turun menemui Ben.
"Apa daddynya Kay sudah menunggumu, nona?" Tanya Nonik, melihat Shanum melangkah sedikit gugup.
"Iya Nik, tadi dia menelfon katanya sudah di taman bawah"
"Maaf nona, saya tidak bisa turun"
"Tidak masalah, kamu istirahat saja"
"Terimakasih nona"
"Kamu ini, kenapa selalu berterimakasih, kamu sudah cukup lama bekerja denganku, anggap saja aku temanmu"
Nonik hanya tersenyum merespon atasannya. Senyuman yang terbit begitu kaku.
"Aku turun dulu, setelah itu kita bisa makan malam. Aku tidak akan lama"
"Iya nona, hati-hati"
Dengan gerak cepat, Nonik membuntutinya dan memilih menuruni anak tangga dari lantai delapan.
Karena tadi Shanum menunggu lift sedikit agak lama, jadi Shanum dan Nonik nyaris bersamaan sampai di lantai dasar.
Nonik terus mengikuti langkah Shanum tanpa sepengetahuannya.
Setelah satu menit berlalu, dia sudah berdiri di sebelah pohon kecil. Dari jarak yang tak terlalu jauh, juga tidak terlalu dekat, dia bisa melihat seorang pria yang duduk di sebuah bangku.
Karena pandangannya yang tertunduk, membuat Nonik belum bisa melihat pemilik wajah pria itu.
Dengan jantung berdebar, ia harap-harap cemas, terus memindai tubuh Shanum yang berjalan kian dekat dari pria yang mengaku bernama Ben.
Tepat ketika Shanum memanggilnya, detik itu juga wajah Ben terdongak, dan Nonik tentu saja ia terkejut dengan pemandangan yang baru saja ia lihat.
"T-tuan Ben?" Desisnya dengan suara teredam sebab tangannya reflek membungkam mulutnya sendiri.
"B-bagaimana bisa?"
"Fakta apa ini?"
Tubuh Nonik gemetar lengkap dengan keringat yang mendadak muncul membasahi setiap pori-pori kulitnya.
"Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan, setelah ini nona Shanum pasti akan sering bertemu dengan Mikayla"
Perlahan, ia melangkah lebih dekat agar bisa menguping pembicaraan suami istri itu. Setelah di rasa cukup aman, baik Ben dan Shanum tidak menyadari keberadaannya, dia menajamkan pendengaran.
Samar-samar ia sedikit bisa menangkap percakapan mereka.
"Kalau boleh tahu, dengan siapa anda tinggal di sini? Maksud saya tidak baik kalau seorang wanita tinggal sendiri" tanya pria itu ragu-ragu.
"Saya dengan asisten saya"
Ben tampak mengangguk kecil.
"Tadi ada salam dari Kay, dia memaksa untuk ikut, tapi saya melarangnya"
"Salam balik untuknya"
__ADS_1
Kembali kepala Ben terangguk pelan. "Apa dia boleh menginap di rumah anda?" Tanyanya sedikit melipat dahi
"Apa anda mengijinkan?"
"Tentu saja kalau anda tidak keberatan"
"Tapi_"
"Tolonglah, saya mohon!" potong Ben cepat.
Karena Shanum kehabisan kata-kata, dia pun menganggukkan kepalanya.
"Jika Kay ingin menginap, bawa saja kemari di hari sabtu, minggu sorenya anda bisa menjemputnya"
"Kenapa cuma satu malam? Saya akan mengantarkan Kay di jumat sore, saya ingin dia menginap dua malam di rumah nona?"
"D-dua malam?"
"Hmm"
"Tapi tuan"
Tidak hanya Shanum, Nonik pun sangat terkejut mendengarnya.
"Please nona Shanum, dia sangat merindukan mommynya, kalau saya bekerja, dia hanya tinggal dengan genma di rumah, jadi mau ya?"
"Saya tidak keberatan, lagi pula saya juga sangat menyukai Mikayla, tapi apa tidak ada masalah dengan mommynya?"
"Sama sekali tidak, karena kamulah mommynya?"
"Apa?" pekik Shanum.
"Tidak, maksud saya anda mirip mommynya"
"Oh"
Keduanya merasa canggung.
"Oh ya, anda bilang tinggal bersama asistennya, siapa namanya, saya tidak melihatnya?" Pria itu melirik ke atas gedung.
"Dia sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa ikut turun"
"Oh" Mata Ben menyorot curiga.
Apakah asistennya masih yang dulu?
Nonik?
Kalau benar, aku bisa bertanya padanya.
"Kalau begitu saya permisi naik, tuan Ben" Ucap Shanun membuat Ben sedikit terlonjak.
"Iya silahkan! Maaf sudah menyita waktu anda"
"Iya, permisi" Wanita itu menundukkan kepala lalu berbalik.
Ben yang sempat menatap punggung wanitanya sendu, tiba-tiba menangkap sosok yang tidak asing baginya. Dari samping, wanita itu sempat mengekori tubuh Shanum dengan bola matanya. Dia terus menatap sang atasan yang berjalan memasuki gedung A.
Wajahnya seperti Nonik.
Mengerutkan kening sambil menajamkan penglihatan.
Benar dia Nonik.
Tanpa pikir panjang, dengan langkah lebar Ben menghampiri wanita yang saat ini sudah mengayunkan kakinya dengan terburu-buru.
"Tunggu!!"
Merasa ada yang bersuara dari arah balik punggungnya, spontan tubuh Nonik pun berbalik.
Ia terhenyak dengan sosok pria berperawakan tinggi tegap, dan rahang tegas yang tahu-tahu berdiri tepat di hadapannya.
Gestur tubuhnya sangat santai, apalagi kedua tangannya tersembunyi di balik kantong celana, itu menambah kewibawaan dari sosok Ben yang teramat berwawasan luas dalam hal apapun.
"T-tuan Ben" Lirihnya, sangat lirih. Tapi meski Ben tak bisa mendengarnya, dia tahu kalau wanita di depannya baru saja menyebut namanya.
Bersambung
Semua nanti akan di ceritakan flashbacknya ya... Nantinya ingatan Shanum pasti akan kembali dan menceritakan siapa dalang yang menyebabkan dia kecelakaan.
__ADS_1
Karena kecelakaan itu adalah sebuah kesengajaan dari seseorang. 😀😀😀