Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
19


__ADS_3

Hari semakin sore, Mikayla terus memaksa Shanum untuk datang ke rumahnya, karena tak memiliki alasan untuk menolak, Nonik juga terus membujuknya agar menuruti kemauan Kay, akhirnya dengan berat hati Shanum memenuhi undangan gadis kecil itu.


"Ini alamat rumah daddy" Kay menunjukkan kertas notice yang bertuliskan alamat rumahnya.


"Di rumah ada siapa?" tanya Shanum menatap Kay penuh lekat.


"Tidak ada, daddy lagi pergi, genma sama onty pergi, uncle menginap di rumah teman"


"Jadi tidak ada seorang pun di rumah?"


"Iya" Jawab Kay lengkap dengan anggukan kecil.


"Kalau begitu, kita bobo di rumah mommy saja ya"


"Bobo di rumah daddy aja, Kay bawa card locknya kok. Nanti malam-malam daddy pulang kita bisa bobo sama-sama"


"Bobo sama-sama?"


"Tidak apa-apa non" Sambar Nonik memantik sepasang mata Shanum untuk menatapnya. "Tuan Ben sudah menyetujuinya, dia akan sampai di Hongkong pada pukul delapan malam nanti"


"Tapi Nik_"


"Setelah tuan Ben sampai di rumah, dia akan mengantar nona pulang"


Lalu hening, ketiganya sama-sama diam hingga beberapa saat.


"Ayo mom" Ajak Kay menggoyangkan lengan Shanum.


"Iya, tapi mommy nggak bisa bobo di rumah Kay ya"


"Kenapa? Besok kan minggu, mommy nggak kerja, daddy juga. Kita bisa lari pagi sama-sama biar ramai"


"Ayolah nona, tuan Ben bukan orang jahat, dia pasti sediakan kamar untuk nona"


"Nonik!" Shanum mencebik dengan tatapan menghujam.


"Kalau putri kalian memaksa, mau bagaimana lagi?" Ucap Nonik tanpa sadar.


"Putri kami?"


"M-maksud saya, Kay nona"


"Lama-lama bicaramu ngelantur seperti Kay"


"Anak ini memang pembawa virus"


"Kay bukan bakteri aunty Nonik" Kay ikut menyela.


"Aunty cuma bercanda sayang"


"Okay, ayo ke rumah Kay" Shanum pun menyerah.


"Maaf saya tidak ikut nona?"


Kedua mata Shanum memindai wajah sang asisten. "Why?"

__ADS_1


"Saya masih ada pekerjaan, lagi pula kan hanya nona yang di ajak"


"Tidak Nik"


"Iya nona" Sergahnya cepat. "ayo pergilah! Saya ambilkan tas kalian sekalian siapkan baju ganti untuk nona"


"Apa maksudmu baju ganti?"


"Nona akan menginap, perlu baju tidur bukan"


"Tidak! Aku tidak akan menginap"


"Tapi kalau Kay memaksa gimana?" bisik Nonik di telinga Shanum.


"Aku tidak akan mau"


"Okay, baiklah jika anak cerdas ini terus memaksa sampai menangis kejer, siap-siap saja nona memakai kemejanya tuan Ben"


"Apa kamu bilang?" Shanum mendelik.


"Maaf nona, bercanda" Balasnya seraya bergegas lari dari hadapan sang bos.


****


Selama dalam perjalanan, Kay tak berhenti mengoceh dan Shanum selalu menjawab apapun pertanyaan Mikayla.


Keduanya benar-benar semakin dekat, bahkan seperti ibu dan anak yang sudah tinggal bersama selama bertahun-tahun.


Wajah yang nyaris mirip membuat sopir taxi meyakini kalau mereka adalah orang tua dan anak kandung.


Menit berlalu, taxi telah sampai di apartemen mewah kelas atas. Begitu turun, mendadak jantung Shanum berdetak sangat kencang, ia membatu dengan perasaan seakan sudah mengenal lokasi ini.


Tiba-tiba bayangan gedung yang masih dalam tahap pembangunan terlintas samar di ingatannya. Ada sosok pria juga yang tersenyum padanya sambil merangkul bahunya.


Apa ini?


Siapa pria itu?


Aww ... Kepalaku ...!!


"Ayo kita masuk!" Mikayla menarik tangan Shanum menuju gedung yang menjulang tinggi.


"Ini rumah daddynya Kay?"


"Iya, kata daddy rumah ini daddy beli buat mommy"


"Buat mommy?"


"Iya" Sahut Kay sambil terus melangkah. Hingga tak terasa langkahnya sudah sampai di depan pintu apartemen bertuliskan Harefa's Familly. Shanum yang tak begitu fokus karena bayangan-bayangan tak jelas terus melintas di kepalanya, ia tak menyadari bahwa beberapa detik lalu telah menaiki sebuah lift.


"Ini rumah daddy, Kay buka dulu pintunya" Anak itu membuka tas karakternya dan mengambil card lock.


Hanya menempelkan saja untuk mengakses pintu agar bisa terbuka.


"Ayo kita masuk mom!"

__ADS_1


Shanum yang masih membeku, hanya mengangguk patuh mengekor mengikuti langkah Kay.


Memasuki ruang tamu, matanya menelisik setiap sudut ruangan. Tak ada bingkai foto terpajang di dinding, melainkan hanya dua buah lukisan. Satu lukisan bunga sakura dan satu lainnya lukisan sedikit lebih besar yang menampilkan sebuah masjid besar bernama Afaq Khoja, China.


Mikayla kembali menarik tangan Shanun menuju ruang tengah. Ada ruang untuk menonton televisi yang luas namun hanya terdapat satu sofa memanjang dan satu meja. Di pojoknya ada meja bundar dan dua kursi saling berhadapan. Di kursi itulah Ben biasa membaca koran sambil minum kopi saat pagi hari. Di sisi lainnya ada dua kamar bersebelahan yang pintunya tertutup rapat.


Berjalan melewati lorong dengan sisi bagian kiri adalah ruangan berjejer sebanyak tiga kamar. Persis saat melewati lorong hotel.


"Ini kamar aunty Alle, yang tengah kamar Kay, yang paling ujung kamar daddy. Terus pintu yang menghadap sini itu kamar mandi umum buat tamu"


"Kita ke kamar Kay aja ya, mommy bantu mandi, sudah sore"


"Habis mandi kita main ya"


"Okay"


Sejujurnya ada sesuatu yang mengusik ketenangan Shanum, namun sekuat tenaga ia berusaha menepisnya. Karena semakin ia mengingatnya kepalanya akan semakin sakit, matanya bahkan sampai memanas hingga mengeluarkan cairan bening ketika memejamkan mata.


Usai mandi, wanita itu menemani Kay bermain, tapi hanya sebentar karena jam sudah menunjukan waktu kian malam sementara Kay merengek kelaparan.


Dengan gesit Shanum memasak apa yang ada di dalam kulkas.


Lancang? Tentu saja tapi dari pada Kay kelaparan, ia pun memberanikan diri menghilangkan rasa tak enak hatinya. Toh, saat sang nenek menelfon melalui telfon rumah, neneknya bilang untuk menganggap rumahnya sendiri.


Sampai di jam 8:30 malam, Kay yang merasa kelelahan, tak butuh waktu lama untuk terlelap di kamarnya. Shanum lantas keluar dari kamar Kay setelah membantu menidurkannya. Ia hendak menuju ke kamar mandi umum yang melewati kamar milik Ben. Kamar yang saat ini pintunya terbuka lebar.


"Pasti Kay yang sudah membukanya" gumam Shanum.


Tepat melewati depan pintu, langkahnya tiba-tiba terhenti saat bola matanya menangkap sebuah photo besar menggantung di dinding.


Foto pernikahan?


Wajahnya?


Menelan ludah, Shanum memalingkan wajah ke belakang, berharap pria yang sedang ia tunggu tidak segera sampai di rumah.


Karena belum ada tanda-tanda kepulangan Ben, Shanum akhirnya memasuki kamarnya sebab begitu penasaran dengan sosok pengantin wanita yang bersanding dengan daddynya Mikayla.


Pelan, kakinya melangkah mendekat, mencermati wajah wanita yang ada di foto dengan senyum manisnya.


Semakin dekat lagi, spontan tangan kanannya membungkam mulutnya yang menganga.


"A-pa itu wajahku?" Lirihnya dengan raut terkejut campur Shock.


"Semirip itu?" Kepalanya menggeleng seakan tak percaya "Tidak mungkin"


Wanita itu kemudian melempar pandangan ke arah tempat tidur lalu beralih ke nakas. Ada bingkai foto kecil di sana. Foto wanita dan pria yang tengah duduk berdampingan di depan perapian.


"Ini?" Jelas Shanum kembali terkejut, sebab tahi lalat di area dada wanita yang ada di foto itu, dia juga memilikinya.


Larut dalam lamunan, tiba-tiba seorang pria muncul dan berdiri di belakangnya. Shanum sendiri belum menyadari bahwa ada Ben yang tengah diam terpaku sambil memperhatikan punggungnya.


Satu menit hingga dua menit, Ben akhirnya bersuara.


"Apa kamu lupa dengan semuanya?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2