
Setelah melintasi jalan tol dalam waktu kurang lebih lima belas menit, mobil yang Ben kendarai akhirnya sampai di apartemen miliknya. Ia tak langsung turun dari mobil ketika sudah memarkirkan di area bawah tanah.
Ia berpaling ke kiri menatap sang putri yang masih tertidur pulas di kursi depan samping kemudi.
Wajahnya yang polos dan sedikit mirip dengan mommynya, membuat Ben reflek menyunggingkan senyum lalu membelai lembut pipinya.
Ia lantas menggelengkan kepala menyadari kecerdasan putrinya itu.
"Kamu pintar nak, tak ingin kehilangan mommy untuk kesekian kali, diam-diam kamu mengikuti mommy sampai ke rumahnya"
Ben kembali tersenyum tipis teringat pesan Shanum yang mengkonfirmasi kalau dirinya sama sekali tak menculik Mikayla. Shanum mengatakan jika Mikayla sendirilah yang mengikutinya tanpa sepengetahuannya.
"Daddy tahu kamu terpaksa lepas dari gandengan tangan genma demi bisa tahu dimana tempat tinggal mommy, iya kan?"
"Kamu ingin membuktikan semua perkataan Kay ke daddy"
Ben kembali tersenyum.
"Daddy makasih Kay sudah pintar, karena kepintaran Kay, Kay menunjukkan kalau Kay tidak omong kosong bertemu mommy, karena kecerdasan Kay, daddy bisa bertemu mommy. Terimakasih sudah membuktikan semua perkataan Kay"
Kemudian hening...
Setelah cukup lama duduk di dalam mobil, dia pun keluar kemudian membuka pintu di sebelah kiri, lalu meraih tubuh Mikayla dan membawanya memasuki apartemen.
Di tengah-tengah langkahnya, mata Kay tiba-tiba terbuka.
"Daddy!"
Ben yang tadi melangkah tegap dengan pandangan fokus ke depan, langsung menunduk begitu mendengar panggilan putrinya.
"Sudah bangun?" Gadis kecil itu terheran, sedikit mengangkat kepala kemudian mengedarkan pandangan.
"Mommy mana?"
"Mommy nggak ikut pulang"
"Kenapa?" Mikayla menatap Ben dengan penuh intimidasi.
"Banyak kerjaan nak, tapi daddy janji suatu saat mommy akan pulang dan tinggal bersama kita"
"Kenapa nggak sekarang?"
"Karena mommy perlu waktu sayang"
"Perlu waktu?"
"Hmm" Salah satu tangan Ben menekan tombol panah ke atas di sisi lift. "Mommy harus menyelesaikan pekerjaan dulu, baru bisa pulang"
"Tapi kenapa?"Anak itu sepertinya masih belum puas dengan jawaban sang ayah.
"Kay jangan banyak bertanya, besok-besok pasti mommy ikut pulang, tapi untuk saat ini mommy harus tinggal terpisah dulu dengan kita"
Ting...
Lift datang dan pintunya langsung membelah menjadi dua. Pria itu melangkah masuk kemudian kembali melanjutkan kalimatnya.
"Tadi mommy juga pesan Kay boleh sering datang ke rumah mommy"
"Jadi Kay boleh datang kerumah mommy setiap hari?"
"Nggak setiap hari dong nak, Kay kan harus sekolah, mommy juga harus kerja, jadi datangnya setiap hari sabtu dan minggu"
"Daddy mau antar Kay ke rumah mommy?"
__ADS_1
"Tentu saja mau!" jawab pria itu bersamaan dengan bunyi lift yang telah sampai di lantai unitnya.
"Sekarang daddy percaya kan kalau Kay memang lihat mommy?"
"Iya sayang, dan daddy janji akan bawa mommy pulang"
"Tapi kenapa mommy nggak ingat Kay, dan bilang kalau mommy bukan mommy Kay"
Pertanyaan yang membuat Ben merasa kesulitan untuk menjawabnya.
"Daddy akan cari tahu nak" Sahutnya setelah setengah menit ambigu.
Dia memencet bel rumah dan tak lama pintu terbuka.
"Oh, my baby!" Suara Merry membuat Kay tersenyum.
"Genma"
Anak itu beralih ke dalam gendongan genmanya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja sayang"
"Kay kan sama mommy, jadi Kay baik-baik saja. Kay juga senang main-main sama mommy"
"Jangan berlebihan Kayl, dia bukan mommymu, dia hanya mirip dengan mommy Shanum"
"Dia tidak berlebihan ma" Sambar Ben menangkis ucapan mamanya. "Apa yang Kay lihat dan katakan memang benar, dia bertemu Shanum, dan beberapa jam ini dia bermain sama mommynya"
Wanita paruh baya itu tercenung, menatap putranya dengan sorot bingung.
"Apa maksudmu Ben?"
Alih-alih menjawab, Ben malah mengarahkan netra pada Kay yang masih menempel di gendongan Merry.
"Ya daddy" Anak itu dengan cepat turun dari gendongan Merry, membuat Merry makin tak mengerti.
"Ada apa Ben?" Dan apa maksud dari perkataanmu tadi?"
"Sudah Ben katakan kalau Kay memang bertemu mommynya?"
"What?" Merry mengekori langkah Ben yang terarah ke ruang makan. "Kay bertemu Shanum?"
"Memangnya siapa mommynya kalau bukan Shanum?"
"B-bagaimana bisa?"
"Ya, jadi selama ini Kay memang bertemu Shanum"
"Apa kamu bilang kak?" Allea yang baru saja memasuki area ruang makan ikut menyerobot. "Kay bertemu kak Shanum? Lalu kenapa Kakak tidak membawanya pulang?"
"I-iya Ben, apa Shanum tidak ingat dengan Mikayla?"
"Bukannya tidak ingat ma!" potong Allea cepat. Sementara Ben sibuk meneguk segelas air yang ia tuang ke dalam gelas bening. "Kak Shanum pasti pangling dengan wajah Kay, secara dia kan tahunya wajah Kay yang masih bayi, tentu saja tidak mengenali Kay"
"Tapi seharusnya dia ingat dengan namanya Alle. Dia sendiri kan yang memberikan nama itu pada keponakanmu"
"Nggak cuma Kay yang memiliki nama itu mama"
"Kalian bisa diam!" Seru Ben menginterupsi perdebatan mama dan adik perempuannya.
"Jangankan Mikay, dia pun lupa denganku"
"Apa?" Pekik dua wanita beda generasi di hadapan Ben. "Kenapa bisa lupa?" ucapnya kompak.
__ADS_1
"Kemungkinan besar Shanum mengalami amnesia"
"Amnesia?" lirih Merry seakan tak percaya.
"Ben akan menyelidikinya ma, Ben akan cari tahu semuanya, mulai dari dengan siapa dia tinggal di sini, kenapa dan untuk apa dia menetap di Hongkong, setelah itu baru Ben bisa tentukan apa langkah selanjutnya"
"Memangnya, tadi pas kamu jemput Kay, tidak ada siapapun di rumahnya?"
"Tidak ada, dia sendirian di rumah"
"Tapi apa mungkin dia itu kak Shanum kak?" tanya Alle menyorot ragu. "Bisa saja dia adalah orang yang mirip dengan kak Shanum kan?"
"Tidak Alle, dia sendiri yang mengatakan kalau dia bernama Shanum, ada foto daddy dan mommnya juga terpajang di meja nakas kamarnya"
"Oh my God!! J-jadi benar kak Shanum mengalami hilang ingatan?? Ahh kenapa seperti sinetron?"
"Alle!" Desis Merry dengan mata menajam. Ketika dirinya sedang serius, putrinya justru bercanda.
"Aku benar kan? Hilang ingatan, lupa sama masa lalu, iihh jadi penasaran gimana endingnya, happy ending atau sad ending? Akan ingat dengan anak dan suaminya lalu hidup bahagia bersama, atau malah ingatannya sama sekali tak bisa kembali?"
"Alle!" bentak Ben dan otomatis membuat Allea memberingsut takut.
Tiba-tiba ponsel di saku celana Ben berbunyi. Ingin tahu siapa yang menelponnya, pria itupun segera merogoh benda yang bergetar.
"Nomor baru?" Alis Ben menukik tajam. Dia memang belum sempat menyimpan nomor Shanum.
"Bukankah ini nomor Shanum?"
"Shanum menelfonmu, Ben?"
Spontan atensi Ben yang tadi menatap layar ponsel, kini berpindah ke wajah sang mama.
"Oh my God, jangan-jangan kak Shanum sudah mengingat kakak" Tebak Alle serius.
"Angkat Ben angkat!" Perintah Merry. "Loudspeaker mama pengin dengar suaranya"
"Halo?" Sapa Ben setelah mengangkat panggilannya.
"Tuan Ben?"
Tuan Ben? Alle membatin, ah berarti kak Shanum belum ingat.
"Iya?"
"Mmm tas milik Kay dan dompet tuan tertinggal di rumah saya, maaf tadi saya lupa"
"Tidak apa-apa, lalu kapan saya bisa mengambilnya?"
"Sekarang pun bisa"
"Tapi maaf, kalau sekarang saya tidak bisa. Bagaimana kalau besok malam saja, setelah saya pulang kantor, sekitar pukul tujuh?"
"Bisa, tuan"
"Baiklah sampai besok, saya akan datang ke rumah anda"
"Tapi maaf sebelumnya" Ucap Shanum merasa keberatan. Karena sikap Ben yang aneh, membuat Shanum ragu mendatangkan pria itu ke rumahnya. "Anda cukup menunggu di taman bawah apartemen saja, saya yang akan turun menemui anda nanti"
"Ok baiklah, sampai besok malam" Tak menunggu jawaban Shanum, Ben pun mematikan sambungannya. Dia cukup sakit meski hanya mendengar suaranya.
Wanita yang menyuruhnya agar selalu mengucapkan kata I LOVE YOU sebelum dan setelah bangun tidur justru melupakannya.
Bersambung
__ADS_1