
Hari pertama Shanum menjadi dosen di Universitas YMCA berjalan lancar, tak ada kendala baik saat memberikan materi dengan menggunakan bahasa inggris, ataupun dengan para murid.
Mereka bahkan sangat menghargai Shanum sebagai dosennya.
Tutur kata serta nadanya yang lemah lembut, juga ekspresi wajah yang terkesan menyenangkan, mampu menghipnotis perhatian mahasiswa sekaligus mahasiswi. Mereka bahkan langsung faham dengan penjelasan materi yang Shanum berikan.
Usai mengajar, Shanum melangkahkan kaki keluar kelas, ia langsung menuju ke ruangannya di mana ada Nonik sang asisten yang bertugas mengatur jadwal dan mempersiapkan materi yang akan di sampaikan di esok harinya.
"Bagaimana hari pertama nona? Lancar?"
"Lancar" Jawab Shanum melirik sekilas ke wajah Nonik yang di hiasi kacamata sedikit tebal.
"Mahasiswa gimana? Mereka tidak membuat kegaduhan kan?"
"Sama sekali tidak" Shanum tersenyum, ia mendudukan dirinya di kursi kebesaran yang sudah di sediakan di dalam ruangannya.
"Baguslah" Sahut Nonik singkat, kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Hari ini ada acara lain, Nik?"
"Tidak ada nona, paling ke perpustakaan negara untuk mencari buku buat bahan mengajar besok"
"Baiklah sepulang dari kampus, kita langsung ke perpustakaan"
"Baik nona"
Keduanya kembali fokus dengan pekerjaan masing-masing.
Namun persekian detik kemudian, di sela-sela istirahat mengajarnya, Shanum kembali teringat dengan sketsa wajah Mikayla juga celotehnya. Tanpa sadar, ia menunduk, menggelengkan kepala sembari tersenyum.
Anak itu benar-benar menggemaskan, sampai-sampai aku tak bisa mengusir bayangannya dari pikiranku. Dan entah kenapa mengingat dia justru membuatku merasa tenang.
Mikayla??
Nama yang cantik.
Ia masih bermonolog dalam hati, senyum tipis pun masih bertahan menghiasi wajahnya yang manis.
Hingga sore menjelang, dia bersiap-siap untuk pulang sebab aktivitas di kampus telah berakhir.
Dua wanita itu lantas keluar dari gedung kantor dan melangkahkan kakinya menuju MTR stasion.
Shanum memang sengaja tidak menggunakan kendaraan pribadi, karena menaiki kendaraan umum jauh lebih efisien dan lebih aman.
"Kita makan apa nanti malam, Nik?" Shanum bertanya ketika sudah berada di dalam kereta cepat yang akan membawanya menuju perpustakaan negara.
"Saya merendam jamur kuping, mau saya masak dengan chicken wings. Saya juga akan akan masak steam ikan, oseng sawi dan sop iga"
"Chiken wingsnya mau di masak gimana?"
"Oseng-oseng kasih saos tiram" Sahut Nonik membalas tatapan atasannya.
"Okay" Shanum mengangguk paham, kemudian hening sampai kereta berhenti di stasiun yang mereka tuju.
Keduanya bergegas turun, keluar dari area station dan perpustakaan langsung terlihat begitu mereka berada di luar gedung MTR.
Jarak perpustakaan yang kurang lebih seratus meter dari stasiun, bisa di tempuh hanya dalam waktu tak kurang dari sepuluh menit dengan berjalan kaki.
Hampir satu jam Shanum berada di dalam ruangan, sementara buku yang ia cari pun sudah berada di tangan Nonik, ia kembali di kejutkan oleh sikap anak kecil yang mengkui dirinya sebagai mommynya.
Tubuhnya berjengit ketika tiba-tiba ada sosok yang memeluk kakinya.
"Mommy"
Otomatis pandangan Shanum tertunduk mencari tahu siapa pemilik tangan yang melingkari pangkal pahanya.
"Mikayla?" Ucapnya menatap gadis kecil yang rambutnya di ikat tinggi.
"Mommy" Anak itu mendongak, masih dengan kondisi tangan melekat di salah satu bagian tubuhnya.
Shanum pikir, dia tak akan bertemu lagi dengan Mikayla, tapi nyatanya dugaannya keliru. Dia justru di pertemukan kembali dengan anak gadis yang sudah berhasil membuat otaknya berantakan.
Karena tak ingin membuat Mikayla terus mendongak, Shanum pun berlutut di hadapannya menyamakan tinggi level mata mereka.
__ADS_1
"K-kamu di sini?" Tanya Shanum sambil mengedarkan pandangan ke seluruh arah.
"Kay sama daddy lagi temani aunty Allea cari buku, terus Kay lihat mommy jadinya Kay samperin mommy"
"Lalu dimana daddymu?"
"Daddy lagi merokok, tadi Kay sama aunty" Katanya menjawab pertanyaan Shanum.
"Mommy tunggu sini ya, Kay panggil daddy dulu" Anak itu menarik tangan Shanum agar bangkit, lalu membawanya duduk di sebuah sofa empuk yang tersedia di ruang perpustakaan.
"Mommy sini aja sebentar, Kay nggak lama kok"
"Iya" Tanpa ragu wanita itu mengangguk lengkap dengan bibir tersungging.
"Sebentar aja, mommy jangan pergi" Ujarnya lagi sembari berlari, namun pandangannya menoleh ke belakang.
Ia menatap gadis mungil yang berlari menjauh darinya masih dengan posisi duduk dan tangan berada di atas pangkuan.
Mikayla sendiri terus berlari, mencari sang ayah yang sedang berada di area bebas merokok, nafasnya terengah dengan dada naik turun.
Sementara kening Ben mengernyit ketika mendapati anak gadisnya berlari semakin dekat dengan butiran keringat memenuhi dahi.
"Daddy!"
"What's wrong, baby?" tanyan Ben sembari membuang puntung rokok yang masih tersisa setengah setelah sebelumnya mematikan bara api.
"Ayo kita ke mommy"
"Mommy?"
"Iya, mommy ada di sini, tadi Kay lihat mommy, ayo cepat kita samperin mommy"
"Tapi sayang, nggak ada mommy di sini"
"Ada, mommy yang kemarin temani Kay lihat burung merak"
"Itu bukan mommy, nak"
"Okay-okay, ayo kita ke mommy"
Karena Ben merasa sangat penasaran dengan sosok wanita yang Kay bilang adalah mommynya, pria itupun akhirnya menuruti permintaan sang putri.
"Dimana mommy?"
"Di sofa sana lagi duduk" Kay menjawab sambil terus mengarahkan kakinya ke tempat dimana dia meninggalkan Shanum.
"Di sofa sebelah mana?" Tanya Ben lagi dengan raut tak sabar.
"Di sa_" Mikayla menggantung kalimatnya sebab, sofa itu tampak kosong. Tak ada seseorang yang duduk di sana, membuat dia mengitari pandangan ke seluruh arah.
"Di mana Kay?"
"Tadi duduk di sini" Kay menunjuk sofa berwarna hitam.
"Kok nggak ada, tadi sudah di pesan buat jangan pergi"
Ben menatap sang putri dengan sorot nanar.
"Kay nggak bohong, daddy. Tadi Kay ketemu mommy, Kay minta mommy duduk disini soalnya Kay mau panggil daddy"
Merasa kasihan sekaligus iba, Ben berlutut di hadapan Mikayla. Tangannya memegang kedua sisi lengan putrinya.
"Itu bukan mommynya Kay, itu orang lain sayang"
"Itu mommy, mommy yang ada di foto, di kamar daddy"
"Okay, besok kita cari lagi, ya"
Bibir anak itu bergetar seperti tengah menahan sesuatu, sedangkan sepasang mata bulatnya sudah berkaca-kaca.
"Sudah ya, berdoa lagi semoga besok Kay bisa ketemu lagi sama mommy"
"Tapi kalau nggak ketemu lagi gimana, dad?"
__ADS_1
"Pasti bertemu lagi" Hibur Ben seraya mengangkat tubuh putrinya.
Dalam hati, Mikayla berharap sekaligus berjanji jika bertemu kembali dengan Shanum, dia tidak akan melepaskan begitu saja. Anak itu bahkan memantapkan hati untuk mengikutinya secara diam-diam sampai dia benar-benar tahu dimana tempat tinggal wanita yang wajahnya ada di album foto miliknya.
"Aduh kak, kemana aja si di cariin juga" Pungkas Allea mencebik.
"Sudah dapat bukunya?" Tanya Ben mengabaikan kalimat adik perempuannya.
"Sudah"
"Ya sudah kita pulang"
Bukannya merespon ucapan sang kakak, Allea justru tertarik dengan gurat sedih di wajah keponakannya.
"Ada apa dengan ponakan aunty? Kenapa wajahnya kusut?"
"Tadi Kay lihat mommy, tapi pas Kay pergi panggil daddy, mommy udah nggak ada" Racaunya menunduk lesu.
"Mommy? Mommy yang kemarin temani Kay?"
Anak itu mengangguk.
"Oh astaga, masa iya kak Shanum ada di sini. Imposible"
"No" Sentak Mikayla. "Kay nggak bohong autny. Kay benar lihat mommy"
"Ayo, kita pulang saja! Besok aunty bawa Kay ke rumah mommy"
"Aunty tahu rumah mommy?"
"Tahu"
"Alle!" desis Ben membulatkan sepasang irisnya.
Allea mliriknya sekilas. Sama sekali tak takut dengan sorot tajam milik Ben.
"Dimana? Ayo kita ke sana sekarang"
"Nanti, kalau aunty nggak kuliah, aunty ajak Kay ke Indonesia"
"Allea!" Ben kembali menyentakkan suaranya.
Gadis itu hanya tersenyum miring.
"Kita pulang dulu ya" Allea menggamit lengan Ben lalu melangkahkan kakinya.
Flash back...
"Nona!" Nonik merasa heran pada atasannya yang tampak aneh. Ia mengarahkan sepasang netranya mengikuti kemana arah mata Shanum memandang.
"Nona Shanum!"
"Oh, i-iya Nik. Sudah?"
"Sudah" jawabnya dengan hati penuh tanya. "Nona baik-baik saja?"
"Ya, aku baik"
"Kalau gitu kita pulang sekarang, sebentar lagi mau maghrib"
"T-tapi" Pandangan Shanum kosong, ia merasa sudah berjanji untuk tetap disini sampai Mikayla kembali dengan daddynya.
"Ada apa nona?" Tanya Nonik kian bingung.
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa"
"Mari kita pulang"
"Iya, ayo!"
Dengan ragu, Shanum melangkahkan kakinya, tatapannya terus terarah kemana Mikayla berlari beberapa detik lalu.
Bersambung
__ADS_1