Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
Draft


__ADS_3

Suasana tampak begitu sunyi, begitu canggung dan pastinya menegangkan.


Dua orang yang pernah menikah dan sempat terpisah cukup lama, kini duduk bersanding di sebuah kursi balkon yang hanya di batasi oleh sebuah meja.


Tatapan kedua sepasang suami istri itu terlempar jauh ke arah depan, mencermati beberapa gedung tinggi yang masih menyala terang.


Kepulan asap kopi hitam yang beterbangan, menguarkan aroma lembut hingga terendus oleh hidung masing-masing sekaligus menjadi teman mengobrol keduanya malam ini.


Cukup lama mereka saling diam, akhirnya salah satu di antara mereka pun bersuara.


"Apa tadi Kayl ada rewel saat mau tidur?" Tanya pria itu seraya menundukkan kepala.


"Tidak ada" Jawab Shanum lirih.


"Ku pikir karena saking bahagianya bertemu dengan mommynya dan bisa tinggal bersama, dia akan sulit untuk memejamkan mata, ternyata tidak"


"Kenapa berfikir begitu? Kayl ada dalam pelukan wanita yang melahirkannya, dia pasti akan merasa nyaman dan langsung bisa tidur"


"Begitu ya?" Ujar Ben tersenyum tipis.


Kembali hening. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Katamu mau bicara, kenapa diam?" Ucapnya setelah beberapa menit.


"Apa pernikahan kita bahagia?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Shanum, pria itu justru tersenyum miring.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Kenapa tidak langsung menjawab saja?" Tanya Shanum balik.


Pria itu kembali menyunggingkan senyum.


"Sangat bahagia" Sahut Ben kemudian.


"Tapi kenapa Fabian mengatakan kalau kamu sudah menyiksa batin dan fisikku?"


"Itu tidak benar, dan apa kamu percaya dengan apa yang dia katakan?"


"Awalnya memang sulit untuk percaya pada siapa, tapi setelah aku merenung, aku memilih tinggal di sini semua demi Mikayla"


"Aku tahu kamu bukan ibu yang tega, entah itu demi siapa, ini adalah keputusan yang tepat" Pungkas Ben, melirik Shanum yang tengah menunduk menatap jemarinya.


"Dan kamu masih setia menungguku?"


Tak langsung menjawab, Ben menatap istrinya penuh intens.


Sadar tengah mendapat tatapan dari pria di sampingnya, Shanum akhirnya memberanikan diri untuk membalas tatapannya yang masih sah menjadi suaminya.


Ben menangguk begitu pandangan mereka bertemu.


"Kenapa?"


"Karena kamu memintaku untuk tetap setia selamanya"


Mendengar jawaban Ben, Alis Shanum menukik tajam.

__ADS_1


"Aku meminta itu?"


"Iya" Ben kembali mengarahkan pandangan ke depan.


"Ada empat hal yang selalu ingin kamu dengar begitu kamu membuka mata di pagi hari"


"Empat hal?"


"Hmm"


"Apa" Tanya Shanum ingin tahu.


Sebelum menjawab, Ben meraih secangkir kopi yang sudah menghangat, lalu meneguknya. "Setiap bangun tidur" Ucapnya sambil meletakkan kembali cangkir berwarna putih ke atas meja. "Kamu selalu mengatakan, 'Sayang, jangan tinggalkan aku, bahagiakan aku, tetap setia untukku, dan jangan pernah menyakitiku"


Pikiran Ben jauh menerawang ke masa lampau, mengingat ucapan Shanum saat dulu yang sudah ia hafal bahkan sampai detik ini.


"Kamu juga memintaku untuk mengatakan itu dan berjanji"


"Janji apa?"


"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu membahagiakanmu, terus setia untukmu, dan tidak pernah menyakitimu"


Menelan ludah, wanita itu seakan tak percaya dengan apa yang Ben katakan barusan, selang lima detik Shanum berucap.


"Mendengar ucapanmu tadi, rasanya aku ingin sekali kembali mengingat masa laluku"


"Kamu pasti bisa mengingatnya, Sha"


Shanum tersenyum smirk. "Aku tidak yakin" responya menundukkan kepala.


Ben lagi-lagi menatap Shanum lekat-lekat. "Aku saja yakin kenapa kamu tidak?"


"Aku akan membuatmu mengingatku, itu janjiku"


"Aku akan berusaha untuk mendapatkan cintamu kembali" Tambah Ben tanpa ragu.


"Ada lagi yang ingin kamu bicarakan?"


"Nonik bilang aku pulang sendiri ke Jakarta setelah melahirkan, kenapa kamu membiarkanku pulang sendirian dari Macau ke Jakarta?"


"Karena kamu percaya dengan semua ucapan seseorang yang sudah membohongimu"


"Membohongiku?"


"Ya" Sahut Ben. "Ada orang yang memberitahukanmu bahwa keluargamu mengalami kecelakaan. Tanpa menungguku yang saat itu sedang berada di luar negri untuk mengurus bisni, kamu nekad pulang sendiri, kamu menitipkan Kayl ke mama, meminta mama mengatakan padaku untuk segera menyusulmu jika aku kembali"


"Apa kamu langsung menyusulku setelah pulang dari luar negri?"


"Tentu saja, sesaat setelah kamu menelfonku dan bilang kalau kamu akan pulang, detik itu juga aku langsung kembali ke Macau, tapi sayangnya aku terlambat karena kamu langsung pergi tanpa menungguku, padahal waktu itu aku tidak mengijinkanmu pulang sendiri"


"Apa orang yang sudah membohongiku itu Fabian?"


"Itu yang harus aku cari tahu, Shanum"


"Kenapa Fabian? Dia sepupuku, kenapa tega melakukan itu?"


"Karena sepupumu mencintaimu"

__ADS_1


"Apa?" Shanum terhenyak. "Mencintaiku? Bagaimana bisa seorang sepupu mencintai sepupunya sendiri?"


"Dia hanya sepupu yang tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga mommy Anita. Dia hanya anak angkat tantemu"


Menelan ludah, Shanum benar-benar tak percaya. "Anak angkat?"


"Iya, dia bukan anak kandung tante Gracia"


"Dari mana kamu tahu kalau Fabian bukan anak kandung tante Gracia?"


"Darimu, dari siapa lagi?" Jawab Ben jujur. Memang Shanum sendirilah yang menceritakan kisah Fabian yang ternyata bukan anak dari tantenya.


"Dariku?" Shanum menegaskan.


Sementara Ben mengangguk mantap.


"Kamu bilang, saat usia Fabian tujuh tahun, tante Gracia menabrak motor yang Fabian dan papa mamanya naiki, kedua orang tua Fabian meninggal di tempat sementara dia selamat. Karena tante Gracia merasa bersalah, jadilah tante mengadopsi Fabian menjadi anaknya. Dan kebetulan saat itu tante Gracia belum memiliki anak setelah empat tahun menikah"


"Kenapa aku tidak tahu tentang ini? maksudku, setelah kehilangan ingatanku, tidak ada yang memberitahuku bahwa Fabian bukanlah sepupu kandungku?"


"Tanyakan itu pada mommy Anita atau papa Emir" Ben bangkit dari duduknya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tapi mungkin karena mereka terlalu sibuk mengurus bisnisnya dan memikirkan kesembuhanmu, jadi mereka tidak berfikir untuk memberitahumu"


"Ben menoleh ke belakang, mempertemukan netranya dengan netra kelam milik sang istri.


"Sudah malam, udara sudah sangat dingin di luar, masuk dan tidurlah. Kita akan bicara lagi besok"


"Jangan berfikir apapun, tentang siapapun, cukup fokus bahagiakan dirimu sendiri dan putrimu, sisanya aku yang akan mengurusnya" Imbuh Ben berusaha menenangkan wanitanya.


"Dimana kamu akan tidur?" tanya Shanum sebelum menyetujui perintan Ben untuk tidur.


"Aku akan tidur di sofa ruang TV. Kamu bisa tidur di kamar ini"


"Tidak perlu, aku akan tidur dengan Mikayla, kamu tidurlah di kamar ini"


"Tempat tidur Kayl tidak terlalu besar, kamu akan kesulitan bergerak nanti"


"Tidak masalah"


"Tapi aku masalah" Respon Ben.


"Masuklah, biarkan Kayl leluasa tidur sendiri, jangan khawatirkan apapun, tidurlah yang nyenyak"


"Baiklah. Selamat malam"


"Selamat malam"


Ketika Shanum hendak mengangkat nampan berisi dua cangkir kopi yang sudah mereka minum, Ben tahu-tahu mengulurkan kedua tangannya dan langsung menyentuh sisi-sisi nampan berwarna hijau.


"Berikan padaku, aku akan membawanya ke dapur"


"Terimakasih" Shanum membiarkan Ben melakukannya.


...****************...


Sesuai apa yang Ben perintahkan, Shanum pun langsung tertidur di kamar milik pria tegas itu. Setelah beberapa malam tak bisa tidur nyenyak, sekarang ia kembali merasakan nikmatnya berkelana di alam mimpi.


Semua ucapan Ben, seakan mampu membuatnya tenang dan nyaman.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2