Ikatan Cinta

Ikatan Cinta
Rasa sesal


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah pertemuan Shanum dengan Mikayla yang kedua kalinya.


Sampai detik ini, wanita berhijab itu masih merasa bersalah sebab sudah meninggalkannya padahal sudah di pesan untuk menunggunya sebentar.


Rasa bersalah itu kian memuncak ketika membayangkan raut kecewa di wajah Mikayla saat tahu-tahu dirinya sudah tidak ada di tempat.


Hingga rasa bersalahnya membuat Shanum sering mengunjungi perpustakaan negara di sela-sela jam istirahat makan siang. Dia juga rela menunggu di taman tempat pertama kali mereka bertemu. Wanita itu sangat berharap bisa bertemu lagi dengan Mikayla.


Menundukkan kepala, ia menatap arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu pukul lima sore.


Setiap pulang dari kampus, dia memang tak langsung pulang, dia akan menunggunya sampai pukul setengah enam. Berbeda dengan sang asisten yang pulang lebih dulu atas permintaannya.


Mendesah pelan, wanita itu bergumam lirih. "Sepertinya Kay nggak akan kesini. Ini sudah sore, apalagi cuaca sudah mulai dingin. Mungkin besok aku akan kembali lagi duduk di sini"


Ia bangkit, sedikit menyentakkan hembusan nafas frustasinya.


Melangkah dengan berat meninggalkan area taman untuk menuju railway station.


Selama dalam perjalanan pulang, ia terus melamun, memikirkan gadis bernama Mikayla yang persekian detik mampu merusak jaringan kerja di otaknya. Ia bahkan tak bisa berkonsentrasi saat memberikan materi pada mahasiswanya karena bayangan Mikayla terus berkelebat bebas di sekelilingnya.


Hingga tiba-tiba suara ponsel membuyarkan fokusnya.


Mommy calling ...


"Mommy?" keningnya mengkerut begitu menatap layar ponsel yang berkedip.


Ia sedikit ragu untuk menggeser ikon terima mengingat situasi di dalam kereta begitu berisik dan penuh sesak. Shanum bahkan tak mendapat tempat duduk, ia berdiri dengan puluhan orang bahkan ratusan yang saling berdesakan.


"Hallo mom!"


"Kenapa lama angkatnya Sha?"


"Maaf mom, Sha lagi desak-desakkan di kereta, susah buat angkat telfon jadi agak lama"


"Kenapa nggak naik taxi aja?" tanya Anita yang entah seperti apa raut cemasnya.

__ADS_1


"Lebih nyaman naik ini mom"


"Desak-desakan gitu kamu bilang lebih nyaman?"


"Bukan gitu maksudnya" Sergahnya kilat. "kalau naik kereta kan banyak temannya mom, lebih murah juga"


"Kamu ini, ada-ada saja" Dari balik telfon, nada Anita terdengar mencebik, memantik bibir Shanum terulas tipis.


"Kenapa jam segini belum pulang? Nonik saja sudah sampai di rumah"


"Sha ada urusan mom"


"Urusan apa sampai Nonik nggak ikut denganmu"


"Dia harus masak buat makan malam, jadi ku suruh pulang dulu"


"Apa ada yang kamu sembunyikan dari mommy?"


"Nggak ada, mom"


"Iya, mungkin hanya mirip saja"


"Tapi kamu nggak merasa terganggu kan?"


"Enggak kok mom"


"Benar?"


"Benar mommy, don't worry. Okay!"


Jelas Anita merasa khawatir sebab dia tahu kalau sang putri sempat mengandung namun anaknya tak bisa di selamatkan. Ia juga takut kalau kehadiran anak yang menganggap Shanum sebagai mommynya, akan berpengaruh pada kondisi kesehatannya, terutama ingatannya. Karena jika ada hal yang berhubungan dengan masa lalu berkelebat dalam ingatannya, Shanum pasti akan merasa pusing.


"Ya sudah mom, nanti sambung lagi ya, keretanya sudah di station dekat apartemen Sha"


"Sudah sampai?"

__ADS_1


"Hmm, tinggal turun dari kereta terus jalan sebentar sudah sampai di apartemen"


"Ya sudah, kamu hati-hati! Kalau ada apa-apa, segera hubungi daddy sama mommy"


"Okay"


Panggilan terputus setelah mengucap salam.


Pikir Shanum, Nonik pasti sudah memberitahukan pada Anita perihal anak perempuan yang membuatnya harus mengunjungi perpustakaan setiap jam istirahat makan siang dan menunggunya di sebuah taman setiap pulang kerja.


Langkah Shanum yang agak sedikit buru-buru karena waktu maghrib sudah tiba, tahu-tahu sudah sampai di unit tempat tinggalnya.


Tak perlu mengetuk pintu sebab dia membawa cardlock apartemen mewahnya.


"Gimana non, ketemu dengan Mikayla?" Sang asisten langsung bertanya sesaat setelah Shanum menutup pintu utama.


"Enggak" Sahut Shanum melepas sepatu, lalu berjalan menuju dapur untuk mencuci kedua tangan.


"Sepertinya sudah hukum alam kalau di sengaja ingin bertemu, nggak akan ketemu, giliran nggak di sengaja pasti bertemu"


"Ya begitulah nona, jadi sebaiknya nona Shanum nggak usah menunggunya, nanti kalau takdir mempertemukan kalian kembali, pasti akan ketemu kok"


"Mungkin begitu" Tiba-tiba rasa sesal kembali menyergap. Andai waktu bisa kembali pada moment pertemuannya saat di perpustakaan, Shanum pasti akan meminta nomor ponsel Mikayla, jadi jika dia merindukannya, dia bisa kapan saja menelfonnya. Dan tentunya akan ada banyak kesempatan bertemu lagi dengan anak yang sangat menggemaskan itu.


"Aku ke kamar dulu, Nik"


"Iya nona"


"Sudah adzan maghrib, masaknya bisa berhenti dulu dan di lanjut setelah ibadah"


"Siap nona"


Wanita itu beranjak dari dapur, kemudian melangkah memasuki kamar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2