
Selepas makan malam, Ben pergi mengantar Nonik ke apartemennya.
Selama dalam perjalanan, Nonik yang merasa penasaran tentang KDRT yang Ben lakukan pada bosnya, membuatnya memiliki inisiatif untuk bertanya secara langsung. Karena selama ini dia hanya mendengar cerita itu dari Fabian, anak angkat bu Gracia.
Bu Gracia sendiri adalah adik dari bu Anita.
"Tuan Ben" Panggil Nonik meski agak sedikit ragu.
"Iya" Ben meliriknya sekilas kemudian kembali fokus dengan kemudinya.
"Maaf sebelumnya jika keingintahuan saya tidak berkenan, dan pertanyaan saya terkesan lancang"
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tahu"
Mendapat sinyal persetujuan dari Ben, Nonikpun tanpa ragu langsung mengeluarkan unek-uneknya.
"Apa benar tuan Ben melakukan KDRT pada nona Shanum, menyiksa baik lahir maupun batin?"
Mendengar pertanyaan Nonik, Ben tersenyum tipis.
"Maaf tuan"
"Apa kamu percaya aku menyiksa atasanmu? Aku menyakiti wanita yang ku cintai? Apa kamu percaya dengan apa yang Fabian katakan seperti mommy Anita yang mempercayainya tanpa konfirmasi lebih dulu padaku?"
"Sejujurnya, saya tidak percaya, tuan. Tapi karena tidak ada yang saya tanyai waktu itu, tuan Ben sendiri juga menghilang, jadilah antara percaya dan tidak"
"Aku sama sekali tidak pernah menyakitinya, Nonik. Justru sebaliknya, aku memperlakukan Shanum layaknya ratu, ku penuhi semua permintaannya termasuk apartemen yang saat ini aku tempati. Apartemen itu adalah permintaanya"
"Lalu kenapa nona Shanum terbang ke Jakarta tanpa tuan saat itu?"
Untuk kedua kali pria itu tersenyum smirk.
"Ada seseorang yang menelfonnya" Pungkas Ben sambil terus mengendalikan roda kemudi. "Orang itu mengatakan kalau daddy Emir, mommy, kak Shanas, kak Sheina dan keluarga yang lainnya mengalami kecelakaan di wahana permainan saat menaiki bianglala. Shanum yang panik, langsung percaya dengan orang itu. Dan sayangnya, saat mendapat kabar itu, aku sedang berada di Beijing untuk mengurus bisnis di sana. Tanpa menungguku, mommynya Kayl pulang sendiri ke Jakarta hari itu juga. Padahal mama sudah mencegahnya supaya menungguku dan kami bisa pulang menengok keluarganya sama-sama"
Saat Bercerita, Ben sesekali menjeda kalimatnya untuk sekedar menghirup udara maupun mengingat-ingat kejadian sekitar lima tahun lalu.
"Kecelakaan biang lala?"
"Hmm..." Sahut Ben sebelum kemudian kembali bercerita. "Saat aku cek berita tentang kecelakaan biang lala yang menewaskan puluhan orang, ternyata berita itu memang benar. Aku sendiri panik saat itu. Aku langsung menghubungi pihak wahana untuk menanyakan nama-nama korban sekaligus memastikan apakah keluarga Shanum turut menjadi korban, tapi mereka belum mendapat informasi apapun karena pihaknya sedang dalam mengevakuasi para korban. Mereka lalu menyuruhku untuk menunggu beberapa saat. Namun selang sekitar tiga jam, aku mendapat informasi tentang nama-nama penumpang yang terluka dan tewas. Nama keluarga Shanun tidak ku temukan di daftar penumpang bianglala apalagi menjadi korban. Di situ aku langsung menelfon mommy Anita, tapi ponsel tidak ada yang aktif termasuk nomormu. Saat itu juga aku langsung mencari tiket pesawat untuk pulang ke macau. Dan sesampainya di Macau, Shanum justru sudah pergi ke bandara. Dia menitipkan Kayl pada mama dan berpesan agar aku segera menyusulnya"
"Berulang kali aku menelfon Shanum, tapi ponselnya mati karena dia sedang mengudara"
__ADS_1
Lanjut Ben, entah kenapa dadanya seperti merasakan sesak saat menceritakan itu.
"Aku menyusulnya ke Jakarta, dan setibanya aku di sana, aku kembali menelfon Shanum tapi nomornya tidak bisa di hubungi, aku mencoba telfon mommy, tapi apa yang dia katakan?"
Pria itu memutar roda kemudi ke arah kiri.
"Mommy marah-marah dan mengatakan kalau aku pria kurang ajar yang sudah menyakiti putrinya. Tanpa ku tahu alasannya, dan tanpa mendengar penjelasanku mommy melarangku menemui Shanum. Dia bahkan menuduhku kalau kecelakaan yang menimpa Shanum di sebabkan olehku"
"Lalu kenapa tuan Ben mengatakan kalau bayi yang nona lahirkan meninggal?" Tanya Nonik penasaran.
"Apa yang bisa ku lakukan, Nonik? Mereka sudah mengambil Shanum dariku, apa kamu pikir aku akan menyerahkan putriku pada mereka. Bagaimana hidupku setelah itu jika kehilangan dua orang terpenting sekaligus dalam hidupku?"
"Itu sebabnya tuan Ben membohongi kami kalau bayi kalian tidak selamat?"
Anggukan kepala Ben membuat Nonik cukup paham.
"Aku sudah kehilangan Shanum, itu sebabnya aku tidak menyerahkan Kayl pada mereka"
"Menurut tuan Ben, apakah semua itu adalah manipulasi dari pak Fabian? Mengingat hanya dia orang terakhir yang nona Shanum jumpai sebelum sebuah mobil menghantam dirinya?"
"Seratus persen?"
Mendengar jawaban Ben, Nonik seketika menoleh ke samping kanan untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Iya"
"Astaga!" Lirih Nonik kembali melempar pandangan ke arah depan.
"Aku akan mencari tahu bahwa dialah penyebab semua ini, ku pastikan juga dia akan menerima hukuman atas apa yang dia lakukan padaku dan Shanum jika terbukti dialah pelakunya"
"Tapi tuan, bagaimana caranya?"
Sebelum menjawab, Ben menghentikan mobilnya sebab mereka sudah sampai di apartemen milik Shanum.
"Itu hal yang mudah bagiku, aku bahkan pernah mengungkap kasus nona Eve dan menjebloskan pelaku penculikan yang tidak terkuak sampai dua puluh tiga tahun ke penjara"
Sepersekian detik, Nonik teringat dengan cerita Anita tentang putri dari sahabatnya yang di culik saat bayi. Yaitu nona Eve.
"Saya harap tuan Ben bisa segera menghukum orang yang sudah membuat nona Shanum kehilangan ingatan" Ucap Nonik sembari melepas seatbelt. "Jika tuan Ben membutuhkan bantuan atau informasi apapun, saya siap membantu"
"Terimakasih, Nonik"
__ADS_1
"Sama-sama tuan, karena saya sendiri ingin pelakunya di hukum"
Ben mengangguk untuk meresponnya.
"Terimakasih sudah mengantar saya. Saya permisi, tuan"
"Silahkan!" jawab Ben singkat.
Sesaat setelah Nonik keluar dari mobilnya, Ben membunyikan klakson sebelum kemudian kembali melajukannya.
****
Kurang lebih tiga puluh menit berlalu, Ben sudah kembali sampai di apartemen miliknya, ia lantas segera turun dan bergegas masuk.
Tepat ketika membuka pintu apartemen, sepasang netranya mendapati Shanum tengah duduk di ruang tamu. Pandangan mereka pun bertemu kemudian saling menatap penuh lekat.
Sebelumnya pria itu sedikit terkejut dengan keberadaan Shanum di ruang tamu, namun keterkejutannya itu hanya sesaat.
"Belum istirahat?" Tanya Ben sembari menutup pintu. Matanya melirik arloji di tangannya.
"Bisa kita bicara?" Ucap Shanum konstan.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh menit, para penghuni rumah yang lain termasuk Mikayla jelas sudah terlelap dalam tidurnya.
"Ini sudah malam, kita bicara besok saja"
"Beberapa malam ini saya tidak bisa tidur" ujar Shanum masih bertahan membalas tatapan Ben yang terasa begitu teduh.
Dengan langkah lambat, Ben mengayunkan kakinya menghampiri sang istri.
"Bisa kita bicara sekarang saja? Akan ku buatkan teh untuk menemani kita selagi kita bicara sekaligus untuk menghangatkan badan"
Terdiam sejenak, Ben akhirnya menyetujui permintaan Shanum.
"Dimana kita bicara?"
"Di balkon kamarmu" Jawab Shanum. "Temui putrimu terlebih dulu, lalu tunggu aku di balkon, aku akan membuat teh"
Setelah pria di depannya menganggukkan kepala, Shanum berbalik untuk pergi ke dapur.
Sementara Ben melangkahkan kakinya ke kamar sang putri untuk memberikan kecupan serta ucapan selamat tidur, kemudian baru ke kamarnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG