Imam Hidupku

Imam Hidupku
Mencurahkan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hari ini hari minggu. Semua santri melakukan kegiatan bersih-bersih di asrama masing-masing. Karna Kia dan Azka tinggal di rumah abi, mereka membersihkan rumah.


Kini Kia dan Azka sedang berebut sapu ijuk di dapur. Mereka ingin membersihkan kamar mereka.


"Kia lepasin sapu ini." ucap Azka.


"Gak, kau saja yang lepaskan." tolak Kia.


"Aku ingin menyapu kamarku."


"Aku juga ingin menyapu kamarku."


"Kau harus mengalah, aku ini abangmu."


"Justru karna kau abangku, kau yang harus mengalah. Aku ini adikmu."


"Adiklah yang harus mengalah. Bukan abang."


"Ih.. aku gak mau mengalah."


Kia dan Azka terus saja berebut sapu. Ais datang ke dapur. Dia juga berniat menyapu kamarnya. Saat dia masuk, dia disuguhkan dengan perebutan sapu oleh saudara kembar.


Ais jadi teringat pada alm. Aqeela. Dia juga sering bertengkar dengan Aqeela. Namun Ais sering mengalah. Kenangannya begitu indah. Hingga dia tidak bisa melupakannya.


Ais berjalan melewati Azka dan Kia. Dia mencari sapu lain di dapur. Namun dia tidak menemukan satu sapu pun. Ais bingung harus mencari sapu ke mana lagi.


Azka dan Kia teralihkan oleh Ais. Mereka heran kenapa Ais tampak kebingungan.


"Kak Ais cari apa?" tanya Kia.


Ais menghadap pada Azka dan Kia.


"Cari sapu. Tapi gak ada." jawab Ais.


Tak tau dari mana, umi datang ke dapur.


"Semua sapu patah Ais." ucap umi.


"Patah? Kenapa patah umi?" tanya Ais bingung.


"Mereka yang patahin." jawab umi.


Azka dan Kia hanya menundukkan kepala tanpa merasa bersalah.


"Coba kamu liat di luar pintu itu." ucap umi.


Ais membuka pintu belakang dapur. Saat dia membuka pintu itu, dia keluar untuk melihat sapu. Dan benar saja. Banyak sapu yang patah.


"Ini semua ulah Azka sama Kia umi?" tanya Ais.

__ADS_1


"Gak kak. Itu salah Azka. Dia yang patahin sapunya" ucap Kia membela diri.


"Ih.. apaan sih. Orang itu salah kamu, Kia. Kamu yang gak mau ngalah." bantah Azka.


Mereka pun kembali berdepat. Umi hanya menggelengkan kepala saja mendengar anak kembarnya berdebat.


Ais berdiri di depan Azka dan Kia.


"Kak Ais kenapa?" tanya Azka.


"Kakak butuh sapu. Karna sapunya hanya tinggal satu.. maka kakak yang akan pakai sapu ini." ucap Ais mengambil alih sapu dari tangan Azka dan Kia.


"Eh.. kak aku yang duluan pegang sapu." ucap Azka yang hendak merebut kembali sapu itu.


"Et.. tapi sekarang sapunya ada di tangan siapa? Di tangan kakak kan? Ya udah, kakak duluan yang nyapu." balas Ais.


"Kak.. aku juga mau nyapu" ucap Azka.


"Iya kak, masih banyak pekerjaan yang belum kami kerjakan." timpal Kia.


"Huh.." Ais meng hembuskan nafas panjang. "Pertama, salah siapa semua sapu di rumah patah? Salah siapa?"


"..." Azka dan Kia diam.


"Kok gak dijawab sih? Gak mungkin kan salah kakak?"


"Iya kak, itu salah kami." ucap Azka dan Kia.


"Iya maaf kak."


"Kedua. Kalian bilang, masih banyak pekerjaan yang harus kalian selesaikan. Kenapa kalian tidak bergantian menyelesaikan pekerjaan? Azka mencuci, Kia menyapu. Azka menyapu, Kia mengepel. Bisakan seperti itu? Tidak perlu berdebat dulu." terang Ais.


"Iya kak."


"Sekarang, kakak yang pertama nyapu. Kalian kerjakan pekerjaan lain. Yang pertama selesai, dia yang akan menyapu setelah kakak."


"Baik kak."


Setelah mengatakan itu, Ais pergi meninggalkan Azka, Kia dan juga umi. Umi sampai tidak bisa berkata-kata melihat Ais mengucapkan semua itu. Ini pertama kalinya Azka dan Kia mengalah soal sapu.


"Umi.. apa benar kak Ais itu kakak ipar kita?" tanya Azka.


"Iya umi, aku kok jadi takut ya kalo berhadapan sama kak Ais." timpal Kia.


"Dari dulu kak Ais emang gitu. Dia nyeremin. Beda sama kak Aqeela"


"Syut.. udah ah. Jangan bicara lagi. Kalian cepet selesaikan pekerjaan kalian. Nanti kakak ipar kalian bisa marah lagi sama kalian." ucap umi.


"Iya umi.."


Azka dan Kia pergi. Mereka akan mengerjakan pekerjaan lain.

__ADS_1


Umi tersenyum. Dia suka pada sikap Ais. Ais memang tidak berteriak dan juga tidak membentak. Dia berbicara seperti biasa. Namun ucapannya tegas dan lugas. Sehingga membuat Azka dan Kia menurutinya.


Ais sangat berbeda dengan Aqeela. Mungkin itu yang membuat ustadz Yusuf suka pada Ais.


Ais masuk ke kamar dengan membawa sapu di tangannya. Dia menyapu setiap sudut kamarnya. Setelah menyapu, Ais mengumpulkan pakaian kotor. Ais berniat untuk mencuci pakaian. Ais menaruh pakaian kotor di kamar mandi. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk menyimpan sapu.


Skip.


Ais sudah menyelesaikan pekerjaan rumah. Kini dia sedang berkeliling pesantren dengan ditemani oleh Kia. Sebenarnya Kia sedikit takut pada Ais. Namun apalah daya. Ais itu kan kakak iparnya.


Banyak santri wati yang menyapa Ais dan Kia. Mereka semua mengenal Ais sebagai istri dari ustadz Yusuf. Tapi Ais tidak mengenal mereka semua. Ais hanya tersenyum dan menjawab sekiranya.


"Sejak kapan pesantren ini berdiri?" tanya Ais.


"Sudah lama sekali. Sudah puluhan tahun kak. Abi bilang, pesantren ini dibangun sejak kakek abi. Namun semua keluarga hanya memiliki putra tunggal. Dan baru kali ini keluarga Abi, memikiki 2 putra dan 1 putri." jelas Kia.


Ais menganggukkan kepalanya.


"Berapa umurmu?" tanya Ais.


"Umur aku 17 tahun."


"Beda 1 tahun dengan ku. Sebaiknya kau tidak perlu memanggilku dengan panggilan kakak."


"Tidak bisa seperti itu kak. Kakak adalah kakak iparku. Tidak mungkin aku memanggil kakak dengan nama saja. Lagi pula, ini bentuk dari rasa hormatku pada kak Yusuf." tolak Kia.


"Baiklah.. terserah kau saja."


Ais dan Kia diam. Mereka tiba di taman yang ada di pesantre. Taman itu sangat bagus dan asri. Para santri merawat taman itu dengan baik.


"Kia.." lirih Ais.


"Ya, kak." balas Kia.


"Apa kau pernah merasa takdir tidak berpihak padamu?" tanya Ais.


"Tidak. Aku tidak merasa seperti itu." balas Kia. "Memang kakak merasa seperti itu?" Kia balik bertanya.


"Ya. Takdir selalu enggan berpihak padaku." balas Ais.


Ais menatap ke depan.


"Aku masih bingung. Kenapa Allah memberiku takdir seperti ini? Bukan takdir seperti ini yang aku inginkan. Setiap aku memiliki keinginan, pasti selalu tidak terpenuhi." ucap Ais.


Ais dan Kia terdiam.


"Kenapa aku didekatkan dengan apa yang tidak aku sukai. Aku tidak mau dikelilingi orang saleh. Aku tidak mau tinggal di pesantren. Aku tidak mau berada di lingkungan seperti ini. Aku merasa kecil di depan semua orang."


Tak terasa air mata Ais menetes membasahi pipinya.


"Kau tau Kia, betapa malunya aku saat berbicara kasar di depan keluargamu kemarin malam? Aku ini bukanlah wanita baik. Aku merasa tidak pantas untuk bersanding dengan kakakmu. Dia tidak sebanding denganku. Dia terlalu tinggi bagiku yang rendah, Kia."

__ADS_1


Ais mencurahkan isi hatinya pada Kia. Seelah mencurahkan isi hatinya, Ais berbalik. Betapa terkejutnya Ais, saat melihat orang yang ada di belakangnya bukan Kia, melainkan..


__ADS_2