Imam Hidupku

Imam Hidupku
Ungkapan


__ADS_3

Ustadz Yusuf berdiri di hadapan Ais. "Sayang gak ada wanita lain di hati mas selain kamu. Mas gak bohong" ucapnya.


Ais menghapus sisa air mata yang ada di kelopak matanya.


"Kenapa mas gak pernah nanya aku cinta atau enggak ke mas?" tanya Ais.


"Karna mas gak mau denger kamu bilang gak cinta sama mas." jawab ustadz Yusuf.


"Aku cinta sama mas. Aku sayang sama mas." ungkap Ais.


Ustadz yusuf terdiam mendengar pengakuan Ais.


"Kamu beneran cinta sama mas?"


"Iya."


"Kamu serius? Kamu gak bercanda kan?"


"Emang aku kayak lagi bercanda? Wajah aku lagi ngelucu gitu?" Ais masih tidak habis pikir dengan suaminya ini.


Ustadz Yusuf menggelengkan kepalanya. Ustadz Yusuf langsung memeluk Ais dengan erat. Dia tidak percaya Ais sudah mencintainya. Ais membalas pelukan ustadz Yusuf. Pelukan ustadz Yusuf terlalu erat, Sampai-sampai Ais kesulitan bernafas.


"M-mas.."


Ustadz Yusuf segera melepaskan pelukannya.


"Maafin mas sayang. Mas sangat bahagia. Mas sangat bersyukur karna memiliki istri seperti kamu."


"Aku yang lebih bersyukur mas." balas Ais.


4 bulan berlalu. Hubungan Ais dan ustadz Yusuf kian dekat dan semakin mesra. Keduanya sudah mengetahui perasaan masing-masing.


Malam hari.


Saat ini Ais sedang duduk di sofa yang ada di kamar. Ais memperhatikan ustadz Yusuf yang fokus pada layar laptop nya.


"Ah.. mas.." panggil Ais dengan merengek.


"Apa sayang.." balas ustadz Yusuf tanpa menolehkan kepalanya.


"Aku pusing." adu Ais.


"Pusing? Pusing kenapa sayang?" tanya ustadz Yusuf yang masih tidak memusatkan pandangannya pada Ais.


"Pusing mas.." rengek Ais.


"Iya.. pusing kenapa?"

__ADS_1


"Mas ih.. Aku pusing."


Akhirnya ustadz Yusuf memusatkan pandangannya pada Ais. "Iya.. kamu pusing kenapa sayangnya mas. Kamu belum makan ya?"


"Bukan itu."


"Terus kenapa?"


"Aku pusing mikirin kenapa kamu ganteng banget." jawab Ais.


"Heheh.." Ustadz Yusuf tertawa kecil. Dia pun mencubit hidung Ais karna gemas. "Alhamdulillah.. makasih ya pujiannya. Kamu juga cantik sayang."


"Pake banget gak?"


"Iya.. banget."


Ais tersenyum penuh. Ais mendekatkan tubuhnya pada ustadz Yusuf. Kemudian dia memeluknya dengan erat. Ustadz Yusuf membalas pelukan Ais.


"Mas."


"Hm.."


"Aku mau denger cerita." pinta Ais.


"Cerita apa?"


"Masa kecil mas biasa aja. Gak ada yang menarik."


"Eum.. tapi aku mau."


"Mas gak terlalu ingat masa kecil mas sayang."


"Ya udah aku mau tanya umi aja."


Ais melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu. Ais ke luar dari kamar dan menemui umi Maryam. Ais mengetuk pintu kamar umi.


Tok.. tok.. tok..


"Umi.." panggil Ais.


"Iya.." umi keluar dari kamar bersama dengan Abi. "Ais, ada apa?"


"Aku mau denger cerita umi." jawab Ais.


"Cerita apa?" tanya Abi.


"Cerita masa kecil mas Yusuf."

__ADS_1


"Ouh.. mau sekarang?"


"Iya.." Ais menganggukkan kepalanya.


"Gak mau besok aja? Kamu kayak udah ngantuk gitu."


"Gak umi, Ais mah denger sekarang." Ais menggelengkan kepalanya.


Umi dan Abi tersenyum. Mereka merasa lucu karna Ais sudah seperti sangat mengantuk namun dipaksakan untuk tidak tidur.


Ais, ustadz Yusuf, abi dan umi duduk di ruang keluarga. Ais duduk di sebelah ustadz Yusuf dengan tegak. Umi dan abi mulai menceritakan masa kecil ustadz Yusuf. Dengan semangat Ais mendengarkan cerita dari ibu mertuanya itu.


Namun tak beberapa lama, kepala Ais terlihat sesekali menunduk ke bawah. Duduk nya mulai tidak tegak. Matanya terlihat sayu. Siapa pun yang melihat Ais, mereka tau kalo Ais sudah mengantuk.


"Ais.. besok lagi ya ceritanya dilanjut." ucap umi.


"Gak umi. Ais mau sekarang." tolak Ais.


"Tapi kamu sudah mengantuk." bujuk umi.


"Nggak. Ais gak mengantuk." sangkal ustadz Yusuf


"Kamu ngantuk sayang. Tidur yuk." timpal ustadz Yusuf.


"Nggak mas. Aku gak ngantuk Huwahh.." Ais menutup mulutnya karna menguap.


"Itu udah nguap."


"Nggak." keukeuh Ais. "Umi ayo lanjut." pinta Ais.


Ustadz Yusuf hanya menggelengkan kepalanya. Ais memang keras kepala.


Cerita umi mulai berlanjut. Dan hal yang sama terjadi lagi. Ais mengantuk dan kepalanya mengangguk-angguk.


Ustadz Yusuf merangkul Ais dan menempatkan kepalanya di bahu.


"Eumh.." Ais menolak perlakuan ustadz Yusuf. "Aku gak mau tidur mas." kesal Ais.


"Mas gak nyuruh kamu tidur sayang. Mas cuma mau benerin posisi kamu. Ayo kepala kamu di pundak mas, supaya nyaman dengerin cerita umi." alibi ustadz Yusuf.


Ais mengikuti ucapan ustadz Yusuf. Ais menaruh kepalanya di atas pundak ustadz Yusuf. Dan kembali mendengarkan cerita umi. Tak berselang lama, terdengar deru nafas Ais yang halus. Sudah dipastikan Ais tertidur.


"Yusuf, bawa istri kamu ke kamar." ucap abi.


"Iya abi." angguk ustadz Yusuf.


Ustadz Yusuf menggendong Ais masuk ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2