
Ais turun dibantu oleh Kia. Kia tidak tau apa yang terjadi pada Ais dan ustadz Yusuf. Tampaknya mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Kak." seru Kia dengan ragu.
"Hm.. ada apa?" tanya Ais.
"Ada yang ingin bertemu kakak." ucap Kia.
Ais menghentikan langkahnya.
"Siapa?" tanya Ais.
"Ustadzah Reni, Rina dan juga.." Kia menggantungkan ucapannya.
"Dan juga.."
"Mantan pengacara keluarga kakak." lanjut Kia.
"Huh..." terdengar hembusan nafas panjang dari Ais. "Kia, tolong panggilin kakak kamu." ucap Ais.
"Tapi kakak gimana?"
"Kakak tunggu di sini."
"Iya kak."
Kia kembali ke atas. Dia menghampiri ustadz Yusuf yang masih berada di sana. Setelah itu Kia turun dengan ustadz Yusuf.
"Kenapa Ais?" tanya ustadz Yusuf memegang tangan Ais.
"Temenin aku ke depan." ucap Ais.
"Ayo." setuju ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf membantu Ais berjalan ke ruang tamu. Setelah sampai, ustadz Yusuf sedikit terkejut saat melihat ustadzah Reni, Rina dan Reyhan ada di sana.
"Assalamu'alaikum.." ucap Ais dan ustadz Yusuf bersama.
"Wa'alaikumsalam.." balas ketiga tamu itu.
"Maaf menunggu lama." ucap Ais tersenyum pada ketiga orang itu.
__ADS_1
"Tidak juga.." balas ustadzah Reni.
Ais duduk bersebelahan dengan ustadz Yusuf.
"Ada keperluan apa ya, ustadzah Reni ke sini?" tanya Ais.
"Begini, aku selaku kakak Rina mau meminta maaf atas kejadian hari ini. Rina tidak sengaja mendorong kamu." ustadzah Reni mengutarakan maksud dan tujuannya bertemu dengan Ais.
"Tidak papa. Lagipula itu tidak sengaja kan. Jadi tidak perlu diperpanjang." balas Ais.
"Tapi Rina sudah membuat kamu cedera."
"Aku cedera memang sudah menjadi takdirku. Dan Allah akan menyembuhkan ku dengan kuasanya." balas Ais. "Ya kan mas?"
"Iya. Dari kejadian ini kita bisa mengambil hikmahnya. Kita harus berhati-hati dalam melakukan segala aktivitas. Agar terhindar dari musibah." timpal ustadz Yusuf.
Ais mengerutkan keningnya. Dari ucapan ustadz Yusuf sepertinya dia sudah tau yang sebenarnya. Tapi dari siapa? Ais belum memberi tahu kejadian yang sebenarnya terjadi.
"Iya, ustadz Yusuf benar." balas ustadzah Reni. "Rina, kamu harus minta maaf pada Ais." ucap ustadzah Reni pada Rina.
"Kenapa aku harus minta maaf? Itu kan gak sengaja." Rina tidak mau meminta maaf.
"Meski begitu, kamu harus tetap minta maaf."
"Meski tidak minta maaf pun aku sudah memaafkan kamu. Karna kita teman kan? Teman harus saling memaafkan." balas Aliza.
"Gue bukan temen lo." bantah Rina.
"Rina! Jaga bicara kamu." tegur ustadzah Reni.
Ustadzah Reni dan Rina heran, kenapa Ais bersikap tenang. Padahal biasanya Ais tidak bisa menahan marah dan sering berbicara kasar. Tapi sekarang? Ada apa dengan Ais.
"Em.. Kenapa pak Reyhan ke sini? Apa ada urusan?" tanya ustadz Yusuf.
"Aku di sini sebagai pengacara Rina." jawab Reyhan.
"Pengacara? Untuk apa menyewa pengacara?" tanya Ais.
"Jaga-jaga. Gue tau lo pasti bakal nuntut gue. Jadi gue persiapan dari sekarang." jawab Rina.
"Rina, jaga ucapanmu." tegur ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf sudah cukup sabar mendengar ucapan Rina yang kasar pada istrinya.
__ADS_1
"Ck.." Rina memutar bola matanya.
"Kenapa harus repot sewa pengacara? Kenapa kau menuduhku akan menuntutmu? Aku tidak sekejam itu Rina. Aku tau aku bukanlah orang baik. Tapi aku berusaha untuk tidak menjadi jahat. Aku tidak akan menuntutmu hanya karna masalah kecil. Kenapa kau begitu tega padaku? Jika aku punya salah, aku minta maaf. Kau beri saja aku hukuman lain. Jangan tuduh aku seperti manusia yang tidak punya perasaan." ucap Ais panjang lebar. Ais menundukkan kepalanya. Dia merasa sedih atas apa yang dilakukan Rina padanya.
Ustadz Yusuf memegang pundak Ais menguatkannya.
"Ais, Rina tidak bermaksud seperti itu." bantah ustadzah Reni.
"Lalu apa maksudnya ustadzah?" tanya Ais.
"Em.. Rina.." ustadzah Reni gelagapan. Dia bingung harus berkata apa. Ucapan Ais tidak bisa disangkal oleh mereka.
Ustadzah Reni menyikut Rina agar dia bicara. Namun Rina menggelengkan kepalanya. Rina pun sama dia tidak bisa menjawab ucapan Ais. Karna sebenarnya Rina memang menuduh Ais akan melaporkannya.
"Maaf sebelumnya Ais. Aku selaku pengacara Rina ingin meluruskan. Rina memintaku untuk menjadi pengacaranya bukan karna kau akan menuntutnya. Tapi hanya untuk berjaga-jaga. Aku meminta maaf selaku pengacaranya, karna klienku sudah membuatmu berpikir seperti itu." ucap reyhan.
Ais dan ustadz Yusuf diam dan mendengarkan.
"Kalo begitu, kami pamit dulu. Sepertinya masalah ini tidak akan berkepanjangan." ucap Reyhan.
"Iya silahkan." balas ustadz Yusuf.
Reyhan, ustadzah Reni dan Rina bangkit dari duduknya.
"Assalamu'alaikum." pamit Reyhan, ustadzah Reni dan Rina.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Ais dan ustadz Yusuf secara bersamaan.
Setelah tamu pergi, ustadz Yusuf menghadap pada Ais. Ais masih menatap pintu yang baru saja dilewati oleh para tamunya.
"Ais.." seru ustadz Yusuf dengan lembut.
Ais menolehkan kepalanya pada ustadz Yusuf.
"Mas boleh tanya sesuatu?"
"Boleh. Kalo aku bisa jawab, aku pasti akan jawab."
"Kenapa kamu tidak memberitahu mas yang sebenarnya terjadi pada kamu saat di lapangan?" tanya ustadz Yusuf.
"Itu.. bukannya aku gak mau beritahu mas. Tapi aku nunggu waktu yang pas aja." jawab Ais.
__ADS_1
"Sayang.. lain kali kamu harus cerita sama mas. Mas kan udah bilang sama kamu."
"Iya mas. Maaf."