Imam Hidupku

Imam Hidupku
Menjauh?


__ADS_3

"Kia kalo ada sesuatu lagi, tolong katakan pada kakak." pinta ustadz Yusuf.


"Iya kak."


"Kakak juga minta sama kamu tolong jaga kakak ipar kamu. Dia memang sudah berubah. Tapi kakak masih takut Kia."


"Tenang aja kak. Aku bakalan jaga kak Ais dengan sangat baik."


Setelah berbicara dengan Kia, Ustadz Yusuf kembali ke kamar. Dia hendak melihat Ais. Saat dia masuk ke dalam kamar, ustadz Yusuf disuguhkan oleh pemandangan yang sangat indah.


Ustadz Yusuf melihat Ais yang sedang tidur di dengan wajah yang sangat tenang. Entah sudah sejak kapan Ais tidur. Ustadz Yusuf duduk di sebelah Ais. Dia mengamati wajah cantik Ais. Tangannya terulur untuk mengelus wajah Ais.


"Em.." Ais merasa terusik oleh kegiatan ustadz Yusuf.


Ustadz Yusuf tersenyum melihat Ais yang terusik. Meskipun tau Ais terusik, ustadz Yusuf tidak menghentikan kegiatannya. Dia merasa sangat gemas melihat wajah Ais.


Perlahan Ais membuka matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah senyuman manis dari suaminya. Ais mengerutkan keningnya. Apakah ustadz Yusuf yang sudah mengganggu tidurnya?


"Maaf. Mas ganggu kamu ya." ucap ustadz Yusuf.


Ais malah menarik tangan ustadz Yusuf dan memeluk sebelah tangannya. Ais menutup kembali matanya.


"Mas tau gak, barusan aku mimpi indah lo." ujar Ais.


"Kamu mimpi apa?" tanya ustadz Yusuf penasaran.


"Aku mimpi aku sama kamu lagi main di taman. Di samping kamu ada anak laki-laki yang usianya kurang dari 5 tahun. Dan perut aku besar, aku lagi hamil. Yang paling buat aku kaget, anak kecil itu manggil aku umi, dan abi sama kamu mas. Kamu juga ngelus perut aku." cerita Ais.


Ustadz Yusuf terdiam. Apa ini pertanda jika ustadz Yusuf harus segera menjadi kan Ais sebagai istri sepenuhnya? Atau ini hanya sebuah bunga tidur semata.


Ustadz Yusuf menanggapi cerita Ais hanya dengan senyuman di bibirnya.


Beberapa jam kemudian. Ais bersiap untuk mandi. Dia dipapah oleh ustadz Yusuf menuju ke kamar mandi. Kakinya masih terasa sakit.


Ais masuk ke kamar mandi sendiri. Ustadz Yusuf tidak ikut masuk.


"Awas jatoh ya." ucap ustadz Yusuf.


"Iya. Mas kamu gak mau bantuin aku mandi?" goda Ais.


Ustadz Yusuf tersenyum. "Yang sakit kan kaki kamu. Bukan tangan kamu. Kamu masih bisa mandi sendiri Ais. Udah ya, di luar dari Ando lagi nungguin mas. Kalo kamu udah selesai, panggil mas aja." balas ustadz Yusuf.

__ADS_1


Ais menatap datar pada ustadz Yusuf. "Iya." Ais menutup pintu kamar mandi.


Kenapa mas Yusuf gak tergoda sama sekali sih? Padahal ini di kamar mandi. Kurang apa coba aku ini? batin Ais.


Ais kesal pada ustadz Yusuf. Ais sadar bukan ustadz Yusuf yang tidak tergoda. Tapi ustadz Yusuf memang menjauhi Ais. Dia tidak mau menyentuh Ais. Dia tidak tertarik sama sekali.


Setelah selesai mandi, Ais keluar sendiri dari kamar mandi. Dia tidak memanggil ustadz Yusuf. Dia masih kesal pada suaminya itu.


Ais keluar dari kamar sambil membawa handuk yang cukup basah. Ais berniat menyimpan handuk itu di jemuran. Jemuran di rumah itu, ada di lantai paling atas. Otomatis Ais harus menaikkan anak tangga yang cukup banyak.


"Bismillah.." ucap Ais menaikkan satu kakinya ke atas anak tangga.


3 anak tangga berhasil Ais lewati dengan susah payah. Masih banyak anak tangga yang harus dilewatinya. Saat dia menaikkan kakinya di anak tangga yang keempat, tiba-tiba seseorang menggendong nya dari belakang. Hal itu membuat Ais kaget.


"Akh.." pekik Ais karna kaget.


Ais menatap orang yang menggendong nya.


"Mas Yusuf." lirih Ais.


Ustadz Yusuf tersenyum pada Ais.


"Mas mau nganter kamu ke atas sayang." tolak ustadz Yusuf.


"Aku mau jalan pake kaki aku sendiri."


"Tapi mas mau bawa kamu ke atas sambil gendong kamu."


"Ih.. Mas.. turunin ih.."


"Gak mau.."


Ustadz Yusuf mulai melangkah menaiki anak tangga. Ais berusaha memberontak. Namun usahanya sia-sia.


Saat sampai di atas, ustadz Yusuf menurunkan Ais. Ais mengerucutkan bibirnya pada ustadz Yusuf. Ais berjalan menuju jemuran yang biasa dia pakai. Saat itu juga ustadz Yusuf mencegah Ais.


"Biar mas aja." pinta ustadz Yusuf.


"Gak usah. Biar aku aja." tolak Ais.


"Ais, biar mas aja."

__ADS_1


"Gak mas. Biar aku aja."


"Kamu lagi sakit."


"Yang sakit kaki aku. Bukan tangan aku. Aku masih bisa jemur handuk ini pakai tangan aku sendiri." balas Ais.


Ustadz Yusuf terdiam. Sepertinya Ais membalikkan ucapannya.


Ais berjalan beberapa langkah lalu sampai di jemuran yang biasa dia pakai. Dia me jemur handuk yang basah. Setelah itu, Ais kembali. Dia berjalan melewati ustadz Yusuf.


Jika kau ingin menghindari ku, baiklah. Aku juga akan menghindari mu. Batin Ais.


Ustadz Yusuf menahan tangan Ais agar tidak pergi. Ais membalikkan tubuhnya saat tangan ustadz Yusuf menahan tangannya.


"Kamu marah sama mas?" tanya ustadz Yusuf.


"Nggak. Siapa yang marah? Itu cuman perasan mas aja." balas Ais.


"Terus kenapa kamu gini?"


"Gini gimana? Aku biasa aja."


Ais melepaskan tangannya dari ustadz Yusuf.


"Ais dengerin mas." saat ustadz Yusuf hendak bicara, tiba-tiba Kia datang ke atas.


Ais dan ustadz Yusuf sedikit kaget atas kehadiran Kia.


"Kebetulan sekali." ujar Ais.


"Kenapa kak?"


"Bisa bantu kakak turun?" tanya Ais.


"Em.." sebelum menjawab, Kia melihat pada ustadz Yusuf.


"Kakak mohon." tambah Ais.


"Bisa kak." balas Kia.


Ais dibantu oleh Kia turun ke bawah.

__ADS_1


__ADS_2