Imam Hidupku

Imam Hidupku
Terjatuh


__ADS_3

1 bulan berlalu. Ais sudah bertekad akan mengubah sikap dan perilakunya. Dia akan mengubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dia akan sekuat tenaga menghilangkan sifat dendam yang selalu dia rasakan. Dia juga akan menyingkirkan sifat pemarah dalam dirinya. Dan selama 1 bulan itu Ais cukup berhasil melakukan itu. Meskipun banyak yang membuat dia tidak suka dan menaikkan emosinya.


Hari ini kelas Ais memiliki jadwal olahraga. Semua santriwati berkumpul di lapangan. Yang menjadi guru olahraga adalah ustadz Mahmud. Dia berusia 35 tahun, sudah beristri dan sudah mempunyai 2 orang anak. Anak keduanya juga menempuh pendidikan di pesantren. Malah berteman baik dengan Ais. Dia adalah Cica.


"Aku gak suka olahraga." ujar Cica.


"Gak suka gimana?" tanya Silvi.


"Ya gak suka. Olahraga tu bikin capek." jawab Cica.


"Dari mana ceritanya seorang putri dari guru olahraga gak suka olahraga." celetuk Silvi.


"Aku yang bikin ceritanya." balas Cica.


Ais dan Kia tertawa kecil.


"Ukhti suka olahraga gak?" tanya Cica.


"Dibilang suka enggak. Dibilang gak suka juga enggak. Aku biasa aja." jawab Ais.


"Sekarang olahraga apa?" tanya Kia.


"Basket." jawab Cica.


"Wah.. pasti capek banget nih." ucap Silvi.


"Gak papa. Sekali-sekali tubuh harus dibikin capek." balas Kia.


"-_-" tatapan Silvi dan Cica.


Semua santriwati sudah tau bagaimana cara bermain bola basket. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Setelah itu antar kelompok bertanding bola basket.


Ais satu kelompok dengan Kia, Silvi, Cica, Wati dan Nia. Kelompok Ais melawan kelompok Rina. Awalnya pertandingan berjalan dengan lancar. Kelompok Ais menang karna kekompakan yang dimiliki.


Rini tampak tidak suka pada kelompok Ais. Dia paling tidak suka pada Ais. Rina memberikan tatapan tajam pada Ais.


Ais menikmati pertandingan yang sedang berlangsung. Ais menerima operan bola dari Kia. Ais siap meloncat dan memasukkan bola ke ring. Namun saat dia meloncat, tiba-tiba saja Rina mendorongnya. Alhasil Ais terjatuh.


Bruk.. Ais terjatuh dengan keras.


"Akh.." pekik Ais.


"Kak Ais.." pekik Kia yang kaget melihat kakak iparnya terjatuh.


"Ukhti.." semua orang kaget saat Ais jatuh.

__ADS_1


Ais jatuh terduduk. Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Semua orang mulai mengerumuni Ais.


"Kak Ais gak papa kan?" tanya Kia dengan khawatir.


"Ukhti.. gak papa?" teman-teman yang lain pun juga mengkhawatirkan Ais.


"Stt.." Ais merasakan sakit dipergelangan kakinya.


"Kamu gak papa?" tanya ustadz Mahmud.


Ais tidak menjawab. Dia hanya bisa merasakan sakit saja.


Kia melihat Ais yang memegang kakinya. Kia ikut memegang kaki Ais. Baru juga ujung jarinya yang menyentuh kaki Ais, Ais sudah meringis kesakitan.


"Akh.." ringis Ais.


Melihat reaksi Ais, ustadz Mahmud yakin kaki Ais pasti terkilir.


"Sepertinya ukhti Ais terkilir." ucap ustadz Mahmud.


"Kakak harus segera ke UKS." ucap Kia.


"Ayah, bantu ukhti Ais." pinta Cica.


"Kak Ais bisa berdiri gak?"


Kia membantu Ais berdiri. Namun tidak bisa. Lutut kaki Ais yang lain terluka dan mengeluarkan darah. Itu bisa dilihat karna darah menyerap ke celana Ais.


"Lutut ukhti Ais berdarah." ucap Silvi.


Semua tambah panik.


Jika semua orang panik, lain halnya dengan seseorang yang berdiri di belakang kerumunan. Dia tersenyum miring melihat keadaan Ais.


"Aku akan panggil kak Yusuf. Kak Ais tahan dulu ya." ucap Kia.


Ais berusaha menahan sakit pada kakinya. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Ais. Saat ini dia hanya bisa bertahan. Dia tau Rina pasti sengaja mendorongnya. Ingin rasanya Ais memberikan sumpah serapah pada Rina. Namun dia memilih membaca Istighfar dalam hati.


Kia berlari mencari ustadz Yusuf. Dia hendak pergi ke area santriwan, namun di jalan dia bertemu dengan Azka.


"Azka.." panggil Kia dengan nafas yang terengah-engah.


"Kia? Kenapa? Kok kayak yang panik sih?" tanya Azka.


"Di mana kak Yusuf?" Kia tidak memperdulikan pertanyaan saudaranya.

__ADS_1


"Tadi di rumah. Dia mau pergi. Gak tau udah berangkat atau belum."


"Ah.." geram Kia.


"Emang kenapa sih?" kesal Azka.


"Kak Ais jatuh." jawab Kia.


"Jatuh? Astaghfiirullah.."


Kia berlari menuju rumah. Dia berharap ustadz Yusuf masih ada di rumah. Azka ikut berlari mengikuti Kia dari belakang. Tepat beberapa meter lagi menuju rumah, Kia melihat mobil ustadz Yusuf mulai berjalan.


"Kak Yusuf.." teriak Kia sambil mempercepat larinya.


"Kak Yusuf.." Azka juga ikut berteriak dengan Kia.


Kia berhasil menyusul mobil ustadz Yusuf.


"Berhenti.."


Dengan berani dia menghadang mobil dari depan. Ustadz Yusuf yang kaget langsung menginjak rem.


"Astaghfiirullah.. Kia.." gumam ustadz Yusuf kaget.


Kia berdiri di depan mobil ustadz Yusuf dengan nafas yang naik turun. Azka ikut berdiri di samping Kia. Ustadz Yusuf keluar dari mobil dengan tatapan heran.


"Astaghfiirullah.. Kia.. kenapa kamu melakukan itu? Bagaimana kalo kamu tertabrak?" omel ustadz Yusuf.


"Sekarang itu gak penting kak." balas Kia.


"Gak penting gimana? Ini menyangkut keselamatan kamu lho.."


"Kak.. sekarang yang penting itu Kak Ais." gemas Kia.


Ustadz Yusuf terdiam.


"Ais? Ada apa dengan istri kakak?" ustadz Yusuf berubah menjadi khawatir.


"Kak Ais jatuh. Kakinya keseleo. Kaki yang satunya berdarah. Kak Ais gak bisa bangun." jelas Kia.


"Innalillahi.." gumam ustadz Yusuf. "Sekarang di mana Ais?"


"Di lapangan sekolah santriwati."


Ustadz Yusuf berlari menuju tempat Ais berada. Dia sangat khawatir Ais kenapa-napa.

__ADS_1


__ADS_2