
"Ayo masuk sini." ucap ustadzah Reni.
Orang yang masuk adalah seorang pria. Ustadzah Reni menyuruh pria itu untuk duduk di kursi yang memang sudah disediakan.
"Ukhti Ais, kamu kenal dia?" tanya ustadzah Reni.
"Dia.." Ais masih mengerutkan keningnya.
"Ais, kamu kenal dia?" tanya ustadz Yusuf.
"Dia.. siapa mas?" tanya Ais. "Kenapa Ais harus kenal dia?" Ais tambah bingung.
"Nama ukhti ada di surat ini." ucap ustadzah Reni sambil menunjukkan kertas yang dipegangnya tadi. "Dia adalah Danu, pemilik surat ini." ucapnya lagi.
"Kenapa namaku ada di sana? Aku tidak mengenal pria itu. Dan aku tidak punya alasan untuk mengenalnya. Aku tidak tau kenapa namaku bisa ada di sana." balas Ais.
"Karna aku menyukai ukhti." sambar Danu yang langsung berdiri. "Ukhti lupa kita sudah berbalas surat?" tanya Danu.
"Kapan aku membalas surat darimu? Aku tidak pernah menerima surat apa pun. Jangan mengada-ngada." balas Ais yang juga ikut berdiri.
"Kenapa kau berbohong? Sudah 2 minggu kita berbalas surat. Aku tau semua kesukaanmu ukhti. Kau suka warna pink, kau paling suka buah melon dan kau juga suka selai kacang. Aku tau semua tentangmu."
Ais menatap Danu dengan sinis. "Wah.. hebat sekali. Banyak hal yang kau ketahui tentangku. Tapi sayang, semua itu salah." emosi Ais mulai terpancing.
Semua yang Danu katakan itu tidak benar. Ustadz Yusuf sadar kalo Ais mulai tidak terkendali. Ustadz Yusuf juga tau perkataan Danu salah. Ustadz Yusuf berdiri dan mengelus tangan Ais guna menenangkan Ais.
__ADS_1
"Dari mana kau tau semua itu? Siapa yang memberimu informasi itu? Payah sekali. Kau tau, aku paling benci warna pink. Aku tidak suka buah melon dan yang terpenting, aku alergi selai kacang. Suamiku tau semua itu." ucap Ais. Ais mengatur nafasnya yang naik turun.
"Ouh.. jadi ini alasan ustadzah Reni memanggilku? Kalian para ustadz ustadzah beranggapan aku berbalas surat dengan dia? Aku selingkuh gitu, dari suamiku?" Ais menyadari maksud dari ustadzah Reni. Ais juga tau kenapa banyak ustadz ustadzah yang dipanggilnya ke sini. "Heheh.." Ais terkekeh geli.
"Ais.. jaga ucapan kamu ya. Mereka itu guru kamu." bisik ustadz Yusuf pada Ais. Ais melirik ustadz Yusuf. Kali ini dia akan mengikuti ucapan Ais.
"Iya suamiku." balas Ais tersenyum manis.
"Baiklah, aku akan meluruskan masalah ini." ucap Ais setenang mungkin. "Jangankan memiliki hubungan, aku bahkan tidak mengenal dia. Untuk apa aku menghianati suamiku? Jika aku melakukan itu, maka aku bodoh. Sangat bodoh. Aku menyia-nyiakan suami yang begitu baik padaku. Begitu perhatian padaku, begitu menyayangiku dan begitu mencintaiku. Kenapa aku harus meninggalkan suamiku?" jelas Ais.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Ais. "Di luar sana banyak yang menginginkan suamiku. Aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku." tegas Ais.
Apa yang Ais ucapan memang benar. Di luar sana banyak wanita yang ingin menjadikan ustadz Yusuf sebagai imam mereka. Tapi Ais lah yang beruntung mendapatkan ustadz Yusuf. Tidak ada yang ingin bicara.
Semua orang dibuat kaget atas tindakan Ais. Ustadz Yusuf pun kaget karna Ais menggandeng tangannya di depan semua orang. Ais sangat kesal. Sampai kapan hal yang membuatnya kesal akan berakhir?
Sepanjang jalan Ais terus menggandeng tangan ustadz Yusuf. Ais membawa ustadz Yusuf ke rumah. Dia tidak punya tujuan lain membawa ustadz Yusuf ke mana. Sesampainya di rumah, Ais melepaskan tangan ustadz Yusuf. Kekesalan masih terlihat di wajah Ais.
Kia dan umi yang ada di sana bingung melihat Ais yang melepaskan tangannya dari ustadz Yusuf serta wajah Ais yang tampak kesal. Ais langsung masuk ke kamar tanpa mengucapkan salah atau berpamitan.
"Yusuf, istri kamu kenapa?" tanya umi yang bingung. "Kata Kia dia dipanggil Reni. Memang ada apa?"
"Begini umi.." ustadz Yusuf menceritakan apa yang terjadi.
Umi mendengarkan cerita dari putra sulungnya itu. Mimik wajah umi menjadi khawatir. Dia takut Ais akan sakit hati atas apa yang terjadi. Umi Maryam tau kalo Ais sudah berusaha keras untuk bisa berubah. Dia tidak mau hanya karna masalah ini menantunya akan berubah lagi.
__ADS_1
"Yusuf, tenangin istri kamu. Umi yakin sekarang dia pasti sedih." titah umi Maryam.
"Iya umi." ustadz Yusuf pergi ke kamarnya.
"Ais.." panggil ustadz Yusuf.
Tak ada jawaban dari Ais. Ustadz Yusuf tidak mendapati Ais di dalam kamar. Ustadz Yusuf yakin Ais masuk ke dalam kamar.
"Sayang.." panggil ustadz Yusuf.
Masih tak ada jawaban dari Ais. Ustadz Yusuf mendengar suara dari dalam kamar mandi. Dia pun memusatkan pendengarannya pada kamar mandi.
"Hiks.. hiks.. hiks.."
Terdengar suara orang menangis dari dalam sana.
"Sayang.. kamu di dalam?" ustadz Yusuf mengetuk pintu kamar mandi.
"Hiks.. hiks.. hiks.." ustadz Yusuf hanya mendapati suara tangisan saja.
"Sayang.."
Ceklek.. ustadz Yusuf memutar gagang pintu. Beruntung pintu itu tidak dikunci dari dalam.
"Astaghfiirullah, Ais.."
__ADS_1