
"Mas Yusuf." lirih Ais.
Ustadz Yusuf menatap Ais dengan teduh.
Apa mas Yusuf mendengar semua ucapanku? Pikir Ais.
"Mas-"
"Ayo pulang." ajak ustadz Yusuf.
Ais mengikuti langkah ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf pasti kecewa mendengar ucapan Ais. Ais menjadi bingung. Bagainana jika ustadz Yusuf benar-benar marah padanya?
Ustadz Yusuf mengajak Ais masuk ke dalam kamar. Ustadz Yusuf mengunci pintu kamar. Ais setia dengan diamnya. Dia tidak mau berbicara. Dia takut dia salah bicara dan membuat ustadz Yusuf tambah marah.
Ais dan ustadz Yusuf duduk bersebelahan di sofa.
"Ais, mas udah bilangkan sama kamu." ustadz Yusuf mulai membuka suaranya.
"Maaf mas." balas Ais.
"Lalu kenapa kamu masih berkata seperti itu?" ustadz Yusuf bertanya dengan lembut pada Ais.
"Aku merasa apa yang terjadi padaku tidak adil mas. Aku merasa Allah menjauhiku. Allah tidak sayang padaku. Allah mengambil semua keluargaku. Setiap aku mengingikan sesuatu, tidak akan terkabul." ucap Ais. Genangan air mata mulai terlihat di mata Ais.
"Ais.. Kamu jangan mikir kayak gitu."
"Itu emang bener mas."
"Ais Istighfar." ustadz Yusuf menggenggam tangan Ais.
"Aku selalu dijauhkan dari orang yang kusayangi. Allah tidak ingin aku bahagia."
Ustadz Yusuf memeluk Ais.
"Ais dengar, segala seuatu di dunia ini terjadi atas izin Allah. Bahkan air yang menetespun terjadi atas izin Allah. Tidak semata-mata Allah memberimu beban ujian kecuali Allah tau kamu itu mampu. Maka bertahanlah dan bersabarlah. Pasti ada kemudahan disetiap kesulitan."
Ais menangis dalam pelukan ustadz Yusuf.
"Kamu harus belajar mengikhlaskan. Bukankah waktu itu kamu bilang kamu akan mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi?"
"Iya. Tapi selalu terpikirkan olehku mas.." rengek Ais.
"Ais, skenario Allah itu tidak untuk dipikirkan. Semakin kita memikirkannya, kita akan semakin jauh dari rencana Allah. Kita hanya perlu meyakini dan menjalaninya dengan ikhlas dan sabar. Allah lah pemberi skenario terbaik baik hambanya."
Ais masih menangis dipelukan ustadz Yusuf. Apa yang dikatakan ustadz Yusuf sampai juga di hati Ais. Pikiran Ais terbuka oleh perkataan ustadz Yusuf. Semua perkataan ustadz Yusuf sangatlah benar. Ais menerima perkataan ustadz Yusuf dengan baik.
Ais berhenti menangis. Ustadz Yusuf pun melepaskan pelukannya. Ustadz Yusuf mengusap sisa air mata di wajah Ais. Ustadz Yusuf tersenyum dan berusaha menguatkan Ais.
"Udah tenang?" tana ustadz Yusuf.
__ADS_1
Ais menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya mas. Mas udah mau nerima aku apa adanya." ucap Ais.
"Mas juga makasih karna kamu menjadi diri kamu sendiri." balas ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf menangkup wajah Ais. Dia memajukan wajahnya pada wajah Ais.
Cup..
Ustadz Yusuf mencium kening Ais. Ais memejamkan matanya saat bibir hangat ustadz Yusuf menempel di keningnya. Ini pertama kalinga ustadz Yusuf mencium Ais saat Ais sadar.
Cup..
Cup..
Setelah dari kening, ustadz Yusuf mencium kedua mata Ais.
Cup..
Satu ciuman lagi mendarat di hidung pesek milik Ais. ustadz Yusuf belum berani mencium Ais dibagian bibirnya.
Ustadz Yusuf menatap Ais. Dia penasaran bagaimana respon Ais setelah dicium oleh ustadz Yusuf. Ais tampak memandang ustadz Yusuf tanpa berkedip.
"Kenapa nggak satu lagi?" tanya Ais.
Kening ustadz Yusuf berkerut. Dia tidak mengerti dengan pertanyaan Ais.
"Ciumnya. Di sini belum." jawab Ais sambil menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk.
"Nanti saja." balas ustadz Yusuf sambil tersenyum.
Aiz tiba-tiba memajukan kepalanya dan mendekati wajah ustadz Yusuf.
Cup..
Ais mencium bibir ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf kaget dengan tindakan Ais. Dia tidak menyangka Ais akan seberani ini padanya.
Ais tersenyum lucu melihat kekagetan suaminya itu.
"Kalo bisa sekarang, kenapa harus nanti?" ucap Ais kemudian.
Setelah mengatakan itu, Ais memeluk ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf tidak tau arti dari pelukan Ais saat ini.
"Sekali lagi makasih." ucap Ais.
Ustadz Yusuf tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari Ais.
1 bulan berlalu. Ais sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di pesantren. Hanya saja dia masih merasa canggung. Apalagi jika bertemu dengan para santriwan dan santriwati.
__ADS_1
Sekarang status Ais sudah sah secara agama dan hukum sebagai istri ustadz Yusuf. Ais juga sudah mulai memahami ustadz Yusuf. Dari dulu dia juga sudah membuka hatinya untuk ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf juga bergelut dalam bidang bisnis. Pekerjaan ustadz Yusuf bertambah saat dia menikahi Ais. Seluruh perusahaan alm. Ayah Ais, ustadz Yusuf yang memegangnya. Itu atas permintaan Ais.
Banyak ustadz, ustadzah yang sudah mengenal Ais. Santri senior juga banyak yang mengenal Ais. Diantara semua ustadz, ustadzah, Ais lebih dekat pada ustadz Hanafi. Alasannya, karna ustadz Hanapi adalah sahabat karib ustadz Yusuf sekaligues sekretaris ustadz Yusuf.
Ustadz Hanapi belum menikah. Dia ingin mengabdi dulu di pesantren, jika sudah bertemu dengan jodohnya, dia ingin langsung menikah. Sebenarnya ustadz Hanafi tidak mau menjadi sekretaris ustadz Yusuf, namun dia kasihan juga pada sahabat karibnya itu. Dia pun setuju menjadi sekretaris ustadz Yusuf.
Ais sudah hapal bagaimana kehidupan para santri selama di pondok pesantren. Ais salut pada semua santri. Peraturan pesantren memang tidak terlalu ketat, namun pembelajarannya yang lumayan padat. Bagi Ais, itu hal yang luar biasa.
Hal yang paling Ais suka adalah ketika melihat para santri membentuk lingkaran lalu makan bersama dengan beralaskan daun pisang. Kebiasaan itu dilakukan setiap malam minggu. Ingin rasanya Ais bisa bergabung dengan mereka. Tapi Ais terlalu malu untuk bergabung.
Setiap harinya Ais selalu ada di rumah. Setelah kecelakaan beberapa waktu lalu, Ais belum mau melanjutkan sekolahnya. Kalau pun Ais ingin melanjutkan, dia tidak bisa sekolah di luar pesantren. Sebenarnya bisa saja. Hanya saja Ais malas harus bersosialisasi dengan orang baru.
Ais memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di pesantren. Dia akan menunggu Kia naik kelas, setelah itu dia akan kembali bersekolah.
Ais sering berkeliling pesantren seorang diri. Terkadang dia ditemani oleh ustadz Yusuf atau pun Kia. Ais lebih banya menghabiskan waktu di dapur umum pesantren. Di sana dia bisa berbicara dengan Sari, bibi yang suka memasak untuk para santri.
Seperti sekarang. Ais sedang berada di dapur pesantren. Ais mengamati setiap aktivitas Sari yang sedang memasak. Tidak hanya Sari. Di sana juga ada beberapa santriwati senior yang ikut membantu Sari memasak. Kalian hangan mengira Ais tidak membantu ya. Ais baru saja membantu Sari memotong bahan makanan.
"Bi masak buat para santri pasti capek ya." ucap Ais.
"Ya.. Begitulah ustadzah." balas Sari.
"Umur kalian berapa?" tanya Sari pada para santri senior.
"Umurku 20 tahun."
"Aku juga 20 tahun."
"Kalo aku 19 tahu." jawab mereka.
"Hah.. Kalian lebih tua dariku." Ais menutup mulutnya. "Seharusnya aku memanggil kalian kakak."
"Tidak ustadzah. Jangan panggil kami kakak." cegah mereka.
"Kenapa?"
"Karna ustadzah adalah istri dari ustadz Yusuf."
Ais mengatur nafasnya. "Berhentilah memanggilku ustadzah. Aku bukan seorang ustadzah. Aku akan memanggil kalian kakak jika kalian terus memanggilku ustadzah."
"Tidak bisa seperti itu ustadzah."
"Hah.. Berhenti memanggilku ustadzah." Ais frustasi. "Begini saja, kalian bisa memanggilku em.. Apa namanya ughtea.." Ais mengingat-ngingat sebuah kata.
"Ukhti."
"Iya itu. Dan aku juga akan memanggil kalian ukhti."
__ADS_1
"Baik kalo begitu."