
Sehabis Asar.
Tok.. tok.. tok..
Kia mengetuk pintu kamar Ais. "Assalamu'alaikum.. Kak ini aku Kia." ucap Kia.
"Wa'alaikumsalam.. Masuk aja Kia, hak dikunci kok." balas Ais dari dalam kamar.
Setelah mendapat persetujuan dari Ais, Kia masuk ke dalam kamar Ais. Kia menghampiri Ais yang sedang duduk di atas sofa. Ais memang tidak keluar rumah karna sedang tidak enak badan. Kia mendaratkan bokongnya di sebelah Ais.
"Ini kak." Kia mengeluarkan benda pipih panjang dan kecil dari saku rok nya.
"Hahh makasih ya." ucap Ais menerima benda itu.
Kalian sudah pasti tahu benda apa itu. Ya, benda itu adalah tespek yang diminta Ais.
"Eh ini ada lagi kak." Kia mengeluarkan beberapa tespek lagi di saku rok sebelahnya.
Ais menatap Kia tak percaya.
"Kia.. banyak banget tespek nya." ucap Ais.
"Biarin kak. Setelah hasilnya keluar, aku yakin kakak pasti ragu. Kakak pasti mau tes ulang. Jadi aku gak beli satu." balas Kia.
"Iya sih. Tapi gak harus 5 juga kan."
"Ya gak papa."
"Hm.. ya udah makasih ya."
"Iya kak sama-sama."
"Ini kamu yang beli tespek nya?" tanya Ais.
"Aku gak sendiri kak. Silvi sama Cica ikut juga kok."
"Gak ada yang curiga sama kalian?"
"Nggak gak. Tenang aja."
"Sekali lagi makasih ya. Bilang makasih sama Silvi dan Cica dari kakak ya."
"Iya kak siap. Ya udah kak cepetan tes. Aku udah gak sabar." girang Kia.
"Kamu ini, kok jadi kamu yang paling semangat sih." kekeh Ais.
"Heheh jelas lah aku kan gak sabar mau punya ponakan dari kakak sama kak Yusuf."
"Tapi kalo belum rezeki, kamu jangan kecewa ya."
"Iya kak. Tapi aku akan berpikir positif." cengir Kia.
Ais tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat antusias adik iparnya itu. Ais masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Kia menunggu dengan harap-harap cemas. Dia tidak sabar mengetahui hasil dari tes kehamilan Ais.
Setelah cukup lama, Ais keluar dari kamar mandi. Mata Ais dipenuhi oleh genangan air mata yang siap keluar. Seketika senyum Kia memudar. Kia panik saat melihat air mata Ais menetes.
"Kia.."
"Kak yang sabar ya.." Kia langsung memeluk Ais guna menenangkannya. "Kakak harus kuat ya kak." Kia mengelus punggung Ais.
Ais menangis dan mengusap air matanya. "Kia.." lirih Ais.
Kia tidak menghiraukan Ais. Dia ikut menangis karna Ais juga menangis.
"Kia.."
"Iya kak, aku gak kecewa kok. Kakak gak usah khawatirin aku." balas Kia.
"Kia ih.." Ais melepaskan diri dari pelukan Kia.
Kia kaget karna Ais tiba-tiba melepaskan pelukannya. "Kakak kenapa?" tanya Kia.
"Ini liat." Ais menunjuk tespek yang ada di tangannya.
Kia membulatkan matanya karna tidak percaya.
"Ini beneran?" tanya Kia.
"Iya.." Ais menganggukkan kepalanya.
"Ahh Alhamdulillah.." syukur Kia. "Selamat ya kak. Aku ikut seneng." ucap Kia.
Ais dan Kia berpelukan.
"Kakak mau langsung kasih tau kak Yusuf?" tanya Kia setelah pelukan mereka terlepas.
"Nggak." Ais menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" bingung Kia.
"Kakak mau coba tes satu kali lagi. Kakak mau lebih yakin lagi Kia."
"Ohh iya, aku ngerti."
Keesokan harinya Ais melakukan tes kehamilan lagi. Dan hasilnya sesuai tes pertama, yaitu positif. Ais sangat bahagia karna mendapat hasil yang sama.
Setelah makan malam, biasanya para anggota keluarga akan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Namun kali ini tidak. Ais menahan semua anggota keluarga dan mengumpulkan mereka di ruang keluarga. Semua orang bingung pada tindakan Ais, kecuali Kia.
"Sayang kenapa kamu ngumpulin kami di sini?" tanya Ustadz Yusuf.
"Aku punya kabar baik untuk kalian." jawab Ais dengan wajah yang berseri.
"Kabar baik apa Ais?" tanya umi.
"Ini dia.." Ais mengeluarkan kotak kecil yang sudah dibungkus oleh kertas kado.
__ADS_1
"Ini apa kak?" tanya Azka yang penasaran.
"Kalo mau tau, buka aja." jawab Ais.
Karna penasaran, Azka membuka kotak itu. Ustadz Yusuf, abi, umi dan Kia hanya melihat Azka yang membuka kotak.
Azka mengambil isi dari kotak itu. Dia mengamati benda yang ada di dalamnya.
"Benda apaan sih ini? Aku gak tau ini benda apa." keluh Azka.
Ustadz Yusuf dan umi segera mengambil benda itu dari tangan Azka.
"Tespek." ujar umi.
Ustadz Yusuf melihat garis dua pada tespek itu. "Masya Allah, sayang ini beneran?" tanya ustadz Yusuf.
Ais menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah.." ujar ustadz Yusuf, abi dan umi secara bersamaan.
Hanya Azka yang tampak bingung dengan situasi sekarang.
Ustadz Yusuf memeluk Ais dengan perasaan senang yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Hanya kalimat hamdalah yang keluar dari bibir ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf menitikan air mata karna tidak menyangka Allah memberikan kebahagian sebesar ini padanya.
"Makasih sayang, kamu udah memberi kabar yang sangat membahagiakan." ucap ustadz Yusuf.
"Iya mas.."
"Emang kenapa sih? Kabar apa? Azka gak ngerti." keluh Azka.
"Kak Ais hamil Azka." balas Kia dengan jengah.
"Hah Masya Allah, Alhamdulillah.." seru Azka. "Selamat ya kak Ais, kak Yusuf." ucap Azka.
"Iya makasih."
Umi secara bergantian memeluk ustadz Yusuf dan Ais. Abi dan umi juga merasa senang karna mereka akan mempunyai cucu.
Saat ini Ais dan ustadz Yusuf bersiap untuk tidur. Ustadz Yusuf memeluk Ais dengan penuh kasih sayang. Sedari tadi tangannya tidak lepas dari mengelus perut Ais.
"Mas tangannya gak cape apa dari tadi ngelus perut aku terus." ucap Ais.
"Nggak sayang. Mas malah seneng." jawab ustadz Yusuf.
Ais tersenyum. Jujur saja dia juga sangat senang dan merasa nyaman atas perlakuan ustadz Yusuf.
"Makasih ya kamu udah memberi kebahagian terbesar bagi aku." ucap ustadz Yusuf.
"Aku juga makasih karna kamu udah mau sabar menuntun aku ke jalan yang diridhoi Allah. Kamu membimbing aku menjadi manusia yang lebih baik. Aku sangat bersyukur mempunyai kamu mas."
"Mas juga bersyukur sayang."
Keduanya mendapat kebahagiaan yang tiada tara. Mereka akan segera menyambut anggota baru dari keluarga kecil ustadz Yusuf dan Ais.
__ADS_1
End.