
Setelah ustadz Yusuf mendengar penjelasan Ais, dia merasa sedikit lega. Ustadz Yusuf yakin kalo Ais berkata jujur padanya. Ustadz Yusuf mengelus kepala Ais dengan lembut.
"Maaf ya kamu harus tau masalah ini dari orang lain." sesal Ais.
"Iya gak papa sayang. Kedepannya kamu yang harus cerita sama aku." balas ustadz Yusuf.
"Iya mas."
Ais dan ustadz Yusuf membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur. Mereka berdua bersiap untuk tidur. Mata ustadz Yusuf sudah hampir terpejam. Namun beda dengan Ais. Matanya tak mau terpejam.
Pikiran Ais terbang ke sana ke mari. Ais memikirkan Rina yang mengadu pada ustadzah Reni. Dan ustadzah Reni yang mengadu ke ustadz Yusuf. Dalam hati Ais merutuki perbuatan Rina dan ustadzah Reni.
Namun pikiran Ais sampai di mana ustadz Yusuf mengelus kepalanya setelah mendengar penjelasan darinya. Perasaan Ais menjadi senang.
Ais merasa dia adalah istri paling beruntung karna mendapat suami seperti ustadz Yusuf. Sikap dan perkataannya yang lembut, tatapannya yang penuh kasih serta wajahnya yang rupawan, mampu membuat hati Ais berdebar.
Yang paling dia syukuri adalah ustadz Yusuf mencintainya dengan tulus. Cinta ustadz Yusuf berhasil membuat Ais nyaman dan yakin kalo ustadz Yusuf memang ditakdirkan untuknya.
Tapi kenapa mas Yusuf gak pernah nanya aku cinta apa enggak sama dia? pikir Ais.
Ingin sekali Ais mendapat pertanyaan itu dari ustadz Yusuf. Jika dia harus mengakui cintanya, itu terlalu malu bagi Ais.
Ais menyampingkan tubuhnya menghadap ustadz Yusuf. Dia melihat ustadz Yusuf yang sudah tidur dengan nyenyak.
"Apa mas Yusuf gak beneran cinta sama aku?" gumam Ais.
Kenapa Ais menanyakan itu, karna semenjak menikah sampai sekarang, ustadz Yusuf belum juga meminta haknya terhadap Ais. Ais tidak tau apa alasannya.
"Gak mungkin mas Yusuf belok kan. Kalo mas Yusuf belok, gak mungkin dia mau nikahin aku. Astaghfiirullah.. Ais kamu ini kenapa sih? Kok malah nuduh suami kamu kayak gitu? Nyebut Ais, nyebut.." guman Ais menyadari ucapannya sudah tidak wajar.
Ais menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Sesudah itu Ais memejamkan matanya dan berusaha tidur.
Ustadz Yusuf membuka matanya. Ustadz Yusuf mendengar semua yang Ais katakan. Awalnya memang dia sudah tertidur. Namun karna pergerakan Ais yang menghadap padanya, membuat ustadz Yusuf tak jadi tertidur. Lalu ustadz Yusuf mendengar gumaman Ais.
Ustadz Yusuf tidak menyangka Ais akan berpikir seperti itu.
Kamu pasti sedih memikirkan hal itu. Maafin mas ya sayang. Mas ingin menjadikan kamu istri mas sepenuhnya. Tapi mas mau saat itu kamu juga sudah mencintai mas. Batin ustadz Yusuf.
Beberapa hari kemudian. Kondisi ustadz Yusuf sudah pulih. Tangannya pun sudah tidak memakai penyangga lagi. Dan sekarang dia bersiap untuk pergi bekerja. Padahal ini hari minggu.
__ADS_1
Ais sedang membereskan tempat tidur. Dan ustadz Yusud sedang memakai baju.
"Eh.." ujar ustadz Yusuf.
"Kenapa mas?" tanya Ais.
"Kancing baju mas lepas." jawab ustadz Yusuf.
"Lepas? Mana sini liat."
Ais berjalan mendekat dan berjinjit untuk melihat kancing yang lepas.
"Sebentar, biar aku jahit."
"Mas ganti baju yang lain aja."
"Gak usah mas. Dijahit gak akan lama juga kok."
Ais mencari jarum dan benang. Setelah ketemu, Ais memasukan benang ke jarum. Ais mendekat lagi pada ustadz Yusuf. Ais menengadahkan kepalanya melihat suaminya yang tinggi.
"Kenapa?" tanya ustadz Yusuf.
"Kamu ketinggian. Aku gak sampe." jawab Ais.
"Sekarang bisa kan?" ucap ustadz Yusuf sambil tersenyum.
"Iya.." balas Ais.
Dengan telaten Ais memasangkan kembali kancing baju ustadz Yusuf. Tangan ustadz Yusuf tidak diam. Tangannya memeluk pinggang Ais. Mata tajamnya menatap mata hitam milik Ais.
"Sayang kamu pake mantra apa sih?" tanya ustadz Yusuf.
"Mantra? Aku gak pake mantra apa-apa mas."
"Masa sih? Kok bisa secantik ini ya?" heran ustadz Yusuf.
Ais tersipu. Wajahnya me-merah mendengar pujian dari suaminya sendiri.
"Kamu mundur gih sedikit." titah ustadz Yusuf.
__ADS_1
"Kenapa?" bingung Ais.
"Cantiknya kelewatan.."
Lagi dan lagi Ais tersipu.
"Kamu cantik."
"Makasih mas."
"Mas suka kalo kamu lagi malu. Cantiknya nambah."
"Mas udah ah. Jangan ngegombal mulu."
"Gak papa dong gombalin istri sendiri."
"Mas belajar dari mana sih."
"Belajar apanya?"
"Belajar ngegombal."
"Dari mertua kamu."
"Abi Bahar?"
Ustadz Yusuf menganggukkan kepalanya.
Ais menutup mulutnya karna tidak percaya. Abi bahar mengajari ustadz Yusuf gombal? Wah.. tidak bisa dipercaya.
Setelah selesai, Ais mengancingkan baju ustadz Yusuf. Dan.. beres.
"Udah selesai." ucap Ais.
"Yah.." lesu ustadz Yusuf.
"Kenapa lesu gitu?"
"Mas masih mau kayak gini." jawab ustadz Yusuf. Sedari tadi ustadz Yusuf tidak merubah posisinya. Kedua lengannya masih setia melingkar di pinggang Ais.
__ADS_1
"Nanti dilanjut ya sayang.." ucap Ais mengelus rahang kokoh ustadz yusuf.
Ustadz yusuf terpaku. Baru kali ini ada seorang wanita yang memegang rahangnya. Uminya saja tidak pernah memegang rahang ustadz Yusuf. Apalagi Ais mengelus rahang ustadz Yusuf dengan sangat lembut.