
"Assalamu'alaikum.."
Tak ada yang membalas salam. Orang yang membalas salam masuk ke dalam rumah. Dia berjalan menuju salah satu kamar. Dia berniat memasuki kamar itu.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Baru satu langkah, suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Mau apa kamu?" tanya Ais dengan sedikit keras.
Orang itu kaget dan langsung berdiri tegak.
Ais berjalan dan berdiri di hadapan orang itu.
"Mau apa kamu masuk ke kamar itu?" tanya Ais.
Orang itu tersenyum. "Kamu tidak tau siapa saya?" orang itu balik bertanya.
Ais diam menunggu ucapannya berlanjut.
"Perkenalkan saya ustadzah Reni. Saya ustadzah di pesantren ini sekaligus sahabat kecil ustadz Yusuf." terangnya dengan bangga.
"Ouh.. Kamu menyebut dirimu sebagai ustadzah, tapi dengan berani masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin." balas Ais.
"Maaf, tapi saya sudah biasa."
"Udah biasa? Apa kamu tidak tau kamar siapa itu?"
"Itu kamar ustadz Yusuf."
"Benar sekali. Siapa kamu sudah biasa masuk ke dalam kamarnya?"
"Saya sudah bilangkan, saya sahabat kecilnya ustadz Yusuf."
"Cuman sahabat kecil tapi kebiasannya sudah seperti seorang istri."
Ustadzah Reni diam menatap Ais dengan tak suka.
"Kamu pasti sudah dengar ustadz Yusuf sudah menikah."
"Iya saya tau."
__ADS_1
"Dan aku adalah istrinya ustadz Muhammad Yusuf Gifari." bangga Ais.
Ustadz Reni tampak kaget. Dia memang tau ustadz Yusuf sudah menikah. Tapi dia tidak menyangka istri ustadz Yusuf akan semuda ini.
"Oh.. Jadi kamu istrinya?" tanya ustadzah Reni sebagai cara menutupi kekagetannya.
"Iya."
"Maaf aku tidak tau."
"Tidak papa. Untuk apa kamu ke sini?"
"Aku mau mengambil buku pelajaran dari ustadz Yusuf. Dia bilang buku itu ada di kamarnya."
"Oh.. Jadi kamu ustadzah Reni itu. Tunggu sebentar."
Ais masuk ke dalam kamar dan mengambil buku pelajaran.
"Ini." Ais memberikan buku itu pada ustadzah Reni. "Ustadz Yusuf sudah menitipkannya padaku."
"Terima kasih." ustadzah Reni menerima buku itu.
"Ingat, lain kali jangan masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin dari pemilik kamar itu." tegur Ais.
"Apa perlu aku ingatkan lagi? Sekarang Ustadz Yusuf sudah menikah. Dan aku adalah istrinya. Meskipun suamiku sudah kengizinkanmu, kau tetap tidak bisa masuk seenaknya. Kini kamar ini juga sudah menjadi milikku. Kau juga perlu izin dariku untuk masuk ke dalam kamar ini. Orang di rumah ini aja gak berani masuk ke kamar ini tanpa izin. Ini orang asing seenaknha aja." jelas Ais. "Gitu aja kok gak tau."
Tanpa berbicara lagi, ustadzah pergi dari hadapan Ais.
"Salamnya mana? Katanya ustadzah, ngucap salah aja kok gak mampu." cibir Ais.
"Assalamu'alaikum." ucap ustadzah Reni dengan terpaksa.
"Wa'alaikumsalam.."balas Ais.
Ustadzah Reni pergi keadaan marah. Dia samgat marah pada perilaku Ais. Dia juga merasa malu akibat cibiran dari Ais. Tidak disangka Ais itu bermulut pedas.
Setelah kepergian ustadzah Reni Ais mendengus kesal. Dia tidak suka pada ustadzah Reni. Ais masuk ke dalam kamar sambil menggerutu.
"Tidak sopan sekali. Main masuk aja ke kamar orang." gerutu Ais. "sombong sekali dia. Dengan bangganya mengatakan 'aku sahabat kecilnya ustadz Yusuf. Aku sudah terbiasa melakukan ini'." Ais merapikan tempat tidur yang sudah rapi.
Ais memegang dada yang sedikit nyeri. Entah kenapa jika dia marah dadanya selalu terasa nyeri. Meski begitu, Ais tidak bisa menahan amarahnya. Jika dia marah, dia memilih untuk meluapkannya daripada harus dipendam.
__ADS_1
"Jika dia sahabat kecilnya, maka aku adalah istrinya. Apa dia tidak mengenalku? Sudah satu bulan aku di sini dan dia tidak mengenaliku? Semua orang tau aku siapa. Tapi aku baru kali ini melihatnya di pesantren."
Ais terus saja mengomel sampai dia tidak tau ada ustadz Yusuf masuk ke dalam kamar. Salam yang ustadz Yusuf sampaikan tidak terdengar oleh Ais. Ustadz Yusuf mendengar Ais yang sedang menggerutu. Dia tidak tau apa yang menyebabkan Ais menggerutu seperti ini.
Ustadz Yusuf tersenyum melihat Ais yang membereskan tempat tidur yang memang sudah rapih. Lucu sekali Ais saat sedang marah.
Ustadz Yusuf memeluk Ais dari belakang. Ais terlonjak kaget saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Namun Ais mengenali hanganya pelukan itu. Itu adalah pelukan yang selalu menghangatkannya setiap malam.
"Kenapa kamu marah-marah?" tanya ustadz yusuf menaruh dagunya di atas bahu Ais.
"Mas.. Kok gak ngucapin salam sih?" tanya Ais.
"Kamunya marah-marah. Jadi gak kedengeran." jawab ustadz Yusuf. "Assalamu'alaikum.." ustadz Yusuf mengulangi salamnya.
"Wa'alaikumsalam.." balas Ais.
Ustadz Yusuf membalikkan tubuh Ais agar menghadapnya. Ustadz Yusuf memegang kedua bahu Ais.
"Kenapa kamu marah-marah?" tanya ustadz Yusuf.
"Tadi ada orang yang mau masuk ke kamar kita. Itupun tanpa seizinku." jawab Ais.
"Siapa?"
"Dia sahabat kecil mas. Ustadzah Reni. Aku gak suka sama dia. Maaf aku mengatakan ini mas. Tapi dia emang ngeselin. Pake banget lagi. Dia itu sombong. Dia bilang dia adalah sahabat mas dan dia udah biasa masuk ke dalam kamar mas." ucap Ais mengeluarkan unek-uneknya.
Ustadz Yusuf hanya diam dan mendengar keluhan Ais. Ais mengatur nafasnya karna marah.
"Apa bener dia biasa masuk ke dalam kamar mas?" tanya Ais dengan mimik wajah yang terlihat khawatir.
"Nggak sering sih. Tapi pernah sekali." jawab ustadz Yusuf dengan jujur.
"Pernah sekali? Kenapa kamu biarin dia masuk?" tanya Ais tak terima.
"Karna waktu itu keadaannya mendesak Ais. Lagi pula ustadzah Reni cuma ngambil amplop aja."
"Untuk kali ini aku maafin dia." ucap Ais. "Heh.. Baru satu kali aja udah bilangnya biasa." sinis Ais berbicara sendiri.
"Udah ah jangan marah-marah lagi. Nanti cantikya ilang." ustadz Yusuf mencubit gemas pipi Ais.
"Ah.. Mas.. jangan gini." keluh Ais.
__ADS_1
"Abisnya kamu lucu." cengir ustadz Yusuf.