Imam Hidupku

Imam Hidupku
Sekretaris


__ADS_3

Ustadz Yusuf sedang memeriksa beberapa dokumen. Ais keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian tidur dan rambut yang terurai. Ais menghampiri ustadz Yusuf yang sedang duduk di atas sofa panjang. Tatapannya fokus pada kertas yang sedang dia periksa.


Ais tanpa permisi duduk dipangkuan ustadz Yusuf. Tangannya mengalung di leher kokoh ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf kaget karna tindakan Ais. Dia menatap Ais saja dengan bingung.


"Ais ada apa?" tanya ustadz Yusuf yang bingung melihat tingkah laku Ais.


"Gak papa. Mau gini aja." balas Ais.


Ustadz Yusuf kembali fokus pada dokumen yang masih ada di tangannya. Ais terus menatap ustadz Yusuf.


"Mas gak capek?" tanya Ais.


Ustadz Yusuf hanya melirik sekilas pada Ais.


"Seharian mas udah kerja. Masa malem juga mau kerja? Ini waktunya istirahat." ucap Ais.


"Bentar lagi ya." balas ustadz Yusuf.


"5 menit. Hanya lima menit. Setelah itu ayo tidur."


"Iya sayang.."


Ais tersenyum saat ustadz Yusuf memanggilnya dengan kata sayang. Ais mengganggu ustadz Yusuf dengan terus mencium wajah ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf merasa terganggu oleh perlakuan Ais.


Sebelum 5 menit, ustadz Yusuf menutup dokumennya dan menaruh dokumen itu atas meja. Ustadz Yusuf menatap Ais yang masih nyaman dengan posisinya.


"Mau tidur?" tanya ustadz Yusuf dan diangguki oleh Ais.


Ustadz Yusuf bangun sambil menggendong tubuh Ais ala bridal style. Tubuh Ais sangalah ringan bagi ustadz Yusuf. Ais mengalungkan tangannya dengan erat di leher ustadz Yusuf agar tidak jatuh.


Dengan hati-hati ustadz Yusuf membaringkan tubuh Ais di tempat tidur. Perlakuan ustadz Yusuf sangatlah lembut. Membuat Ais merasa nyaman. Ustadz Yusuf ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Ais.


Awalnya mereka tidur dengan posisi menghadap ke langit-langit kamar. Tangan di samping tubuh masing-masing. Namun Ais tergerak untuk masuk ke dalam pelukan suaminya itu. Ustadz Yusuf mengerti keinginan Ais. Dia pun membiarkan tangannya menjadi bantal untuk kepala Ais. Tangan yang satunya memeluk Ais.


"Tidur ya.. Jangan lupa berdoa dulu." ucap ustadz Yusuf.


"Hm.." balas Ais.


Tak lama terdengar dengkuran halus dari Ais. Ustadz Yusuf tau Ais sudah tidur. Dia pun ikut menyusul Ais ke alam mimpi.


Keesokan harinya. Semua anggota keluarga sedang makan bersama. Hanya ada dentingan sendok dan piring yang terdengar. Selesai makan semua orang melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.


Ustadz Yusuf sedang menyiapkan tas kerja berisikan dokumen dan laptop untuk dia bawa. Hari ini jadwalnya adalah meeting di perusahaan peninggalan ayah Ais. Yang sekarang sudah atas nama Ais.


"Sayang.." panggil ustadz Yusuf.


"Iya." balas Ais. Sejak tadi malam ustadz Yusuf memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Mau ikut aku gak?" tanya ustadz Yusuf.

__ADS_1


"Ke mana?" heran Ais.


"Ke perusahaan kamu."


"Kapan aku punya perusahaan?" bingung Ais.


"Perusahaan alm. Ayah kamu."


"Oh.."


"Mau ikut gak?"


"Emang mas mau apa di sana?"


"Ada meeting."


"Gak mau ah. Nanti kalo mas meeting aku sama siapa?"


"Sama ustadzah Reni."


"Apa! Dia juga ikut?"


"Iya."


"Kenapa ikut?"


"Dia mau jadi sekretaris. Jadi mas izinin dia."


"Dia tidak boleh menjadi sekretaris." ucap Ais.


"Kenapa?"


"Mas.. menjadi sekretaris itu harus orang yang berpengalaman. Aku rasa ustadzah Reni tidak mempunyai pengalaman itu. Lagipula ada ustadz Hanafi kan?" jelas Ais.


"Bagaimana mau punya pengalama jika tidak dicoba dulu? Justru ini untuk membantu Hanafi. Agar dia tidak terlalu berat." balas ustadz Yusuf.


Ais tidak bisa membalas. Dia bingung bagaimana caranya melarang ustadz Yusuf menjadikan ustadzah Reni sekretaris. Ustadz Yusuf tau Ais tidak suka pada ustadzah Reni. Dia mencoba memberi pengertian pada Ais.


"Ais.. Izinin ya ustadzah Reni jadi sekretaris. Mas juga gak akan langsung angkat dia sebagai sekretaris. Beri waktu 1 bulan. Jika kinerja ustadzah Reni bagus harus dipertahankan." bujuk ustadz Yusuf.


"Hm.. iya." Ais mengalah. "Tapi aku juga ingin melihat hasil dari waktu 1 bulan itu. Jika aku tidak puas, maka mas jangan larang aku untuk tidak mengizinkan dia bekerja sebagai sekretaris. Aku akan mengenalkanmu pada seseorang."


"Siapa?"


"Nanti saja. Sekarang mas tunggu sebentar. Aku mau siap-siap."


"Mau ke mana?"


"Mau ikut mas."

__ADS_1


"Tadi gak mau."


"sekarang mau."


Ustadz Yusuf dan Ais siap naik ke mobil. Dan jangan lupakan ustadzah Reni yang ikut bersama mereka. Mengetahui Ais ikut, ustadzah Reni tampaknya tidak suka.


Saat itu tiba-tiba seseorang menghampiri mereka. Ais mengenali orang itu. Tapi dia lupa siapa dia. Orang itu berpenampilan modern. Dia seorang pria tampan.


"Ais? Kamu Ais kan?" tanyanya.


Ais, ustadz Yusuf dan ustadzah Reni bingung melihat orang itu.


"Iya.. Kamu Ais.." serunya lagi.


"Kak Ando." ucap Ais mengingat wajah orang itu.


"Ah.." Ando kegirangan mengetahui tebakannya benar.


Ando refleks memeluk Ais. Ais juga girang namun dia tidak balas memeluk Ando.


Melihat istrinya dipeluk oleh pria lain, ustadz Yusuf langsung memisahkan Ais dari pelukan Ando.


"Dia adalah istri saya. Kamu tidak bisa asal memeluknya." ucap ustadz Yusuf memberi peringatan.


"Jadi bener kamu udah nikah?" ucap Ando sedikit kaget. "Dan kamu adalah suaminya?" Ando menunjuk pada ustadz Yusuf.


"Iya. Saya Yusuf, suaminya Ais." balas ustadz Yusuf.


"Wah.. ganteng baget banget.." Ando kembali girang. Dia bahkan memeluk ustadz Yusuf.


Ais tertawa kecil melihat tingkah Ando.


"Siapa kamu?" tanya ustadz Yusuf setelah pelukannya terlepas.


"Kenalkan, ini Ando mas. Dia orang yang mau aku kenalin sama kamu. Dia putra sekretaris ayah aku yang dulu. Dia juga temen masa kecil aku." ucap Ais memperkenalkan Ando.


"Ais, kamu mau ngenalin aku sama suami kamu? Wah.. baru beberapa hari aku di Indonesia, eh udah mau dikenalin sama orang." tanya Ando.


"Iya." jawab Ais. "Mas Ando ini lulusan luar negri. Setelah lulus kuliah, Ando langsung kerja sebagai sekretaris di perusahaan luar negeri. Dia udah punya pengalaman." jelas Ais.


Ustadz Yusuf mengangguk.


"Dia bisa kan, jadi sekretaris kamu?" tanya Ais.


"Apa! Jadi sekretaris? Aduh.. Itu hal kecil bagi aku." balas Ando.


"Boleh." balas ustadz Yusuf.


Ustadzah Reni menatap Ais tidak suka. Apalagi saat dia mengenalkan Ando pada ustadz Yusuf.

__ADS_1


Ais, ustadz Yusuf, ustadzah Reni dan Ando pergi ke perusahaan.


__ADS_2