
Setelah perkenalan, ustadz Yusuf mulai mengajar. Jujur saja, dia merasa sedikit canggung dengan ustadz Yusuf yang kini berperan sebagai gurunya. Hari pertama sekolah berjalan dengan lancar. Ais menikmati hari barunya.
Satu minggu lebih berlalu. Ais sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolahnya. Dia juga sudah mulai bisa akrab dengan santriwati lain. Di sekolah Ais paling dekat dengan Kia, Silvi dan juga Cica.
Ais, Kia, Silvi dan juga Cica sedang berbincang dengan riang.
"Benarkah? Lalu apa yang terjadi padanya?" tanya Ais dengan antusias.
"Dia pulang dan mengadu pada ayah dan ibunya. Kepalanya benjol karna tertimpa jambu biji." jawab Silvi.
"Benarkah? Hahah.. lucu sekali.." Ais tertawa senang.
Silvi juga tertawa melihat Ais tertawa. Kia dan Cica yang menjadi pendengar juga bisa ikut tertawa. Kia senang karna kakak iparnya kini sudah bisa menjalani hidup dengan gembira.
Kak Yusuf, kakak gak perlu khawatir lagi. Kak Ais sangat bahagia berada di sini. Dia bahagia tinggal bersama kita kak. Batin Kia.
Saat sedang asik berbincang, tiba-tiba ada beberapa santriwati yang menghampiri mereka. Ais dan yang lainnya melihat siapa mereka. Ais mengenal 3 dari 4 santriwati itu. Namun dia tidak mengenal seorang santriwati lain.
"Gue mau duduk di sini." ujar seorang santriwati yang tidak Ais kenali, bernama Rina.
Gue? Pikir Ais. Ais langsung tau santriwati ini tidak benar. Dia bukan santriwati biasa, dari cara bicaranya saja sudah terlihat kalo dia memiliki sikap angkuh.
"Rina bangku ini udah di tempatin sama ukhti Ais. Kamu cari aja tempat duduk yang lain." ucap Cica.
"Gak mau. Ge maunya duduk di sini." keukeuh Rina.
"Rina, dari awal masuk kak Ais udah duluan di sini. Kamu gak bisa maen usir aja." ucap Kia.
"Gue gak ngusir. Gue cuman bilang mau duduk di sini."
__ADS_1
"Kalo kamu mau duduk di situ, terus ukhti Ais sama Kia duduk di mana?" tanya Silvi.
"Ya.. cari tempat duduk lain lah." jawab Rina dengan entengnya.
"Iu namanya kamu ngusir." Silvi mulai tersulut.
"Silvi.. sabar.." tegur Cica.
"Kok kalian ngeyel sih! Gue cuman mau duduk di sini, dan kalian malah halangan gue. Apa susahnya sih, kalian tinggal pindah, cari tempat duduk lain. Mudah bukan?" Rina masih tetap mau duduk di tempat Ais.
"Ya udah, kamu aja yang cari tempat duduk lain.." balas Kia yang juga mulai terpancing.
"Kia.. jangan kebawa emosi." tegur Cica.
"Bawel banget sih. Gini aja, gue mau nanya sama yang duduk di sini. Boleh gak gue duduk di sini, terus lo pindah?" tanya Rina menatap Ais.
"Istri ustadz Yusuf? Gue tau kok." jawab Rina sambil menatap Ais.
Sedari tadi Ais hanya diam dan menundukkan kepalanya. Dia ingin tau seberapa jauh Rina akan bertindak.
Rina kesal karna Ais tak kunjung bicara dan malah sibuk menundukkan kepalanya.
"Lo tuli dan bisu ya? Lo bego? Lo buta? Gak liat ada orang di depan lo?" tanya Rina dengan kesal.
"Rina.." Kia, Silvi dan Cica menggeram pada Rina.
"Kenapa? Emang gue salah ya, ngomong gitu?" ucap Rina watados.
"Rina beraninya kamu-" Kia hendak membalas ucapan Rina, namun Ais segera memotongnya.
__ADS_1
"Diam Kia." titah Ais.
Kia langsung diam mendengar perintah Ais.
Ais berdiri dari duduknya dan menghadap Rina yang berada tepat di sampingnya. Ais menatap tajam Rina. Dia menelisik mata Rina yang memancarkan keangkuhan serta kesombongan.
Kia merasa was-was. Dia yakin Ais akan bertindak. Rina belum tau Ais seperti apa. Kia takut akan terjadi masalah jika Ais membalas Rina.
"Ngapain lo natap gue?" kesal Rina yang tidak suka dirinya ditatap oleh Ais.
"Harusnya cacian dan makian itu buat lo bangsa!" tekan Ais.
Rina membelakakan matanya mendengar ucapan Ais. Dia tidak menduga Ais akan berkata sekasar itu.
Tak hanya Rina, Kia, Silvi dan Cica pun ikut kaget mendengar perkataan Ais.
"Kenapa? Kaget ya? Lo pikir gue gak bisa ngelawan lo? Gue gak berani gitu sama lo?" tanya Ais tersenyum sinis.
Rina terpaku. Dia tidak bisa menjawab Ais.
"Denger, gue diem bukan berarti lemah. Gue cuman males ngeladenin orang kayak lo. Gue udah kebal sama sikap orang kayak lo." Ais berhenti sejenak.
"Mata lo buta ya? Gak liat, gue duduk di sini? Lo budek ya? Temen-temen gue udah ngasih tau lo, kalo gue yang duduk di sini. Jadi lo yang harus cari tempat duduk lain." lanjut Ais.
Rina dan yang lainnya tidak percaya Ais mengatakan semua itu. Hening untuk beberapa saat. Ais mengerjapkan matanya menyadari sesuatu.
"Eh.. Astaghfiirullah.." ucap Ais pura-pura kaget. "Maaf ya, aku masih belum bisa merubah kebiasaan ku. Kamu pasti kaget karna aku bicara seperti itu." sesal Ais.
Ais yang tadinya berwajah sangar, tiba-tiba menjadi wajah yang lemah lembut.
__ADS_1