
Lamunan Ais terbuyarkan oleh Zea.
"Non Ais kenapa melamun?" tanya Zea.
"Eh.. gak papa kok." balas Ais.
"Saya ke sini mau antar berkas yang harus tuan Yusuf periksa." ucap Zea mengatakan maksud kedatangannya.
"Oh.. iya. Makasih ya kak."
Zea tersenyum dan pergi dari sana.
Ais mengambil berkas yang baru saja Zea letakan di atas meja. Ais membuka berkas itu dan memeriksa isinya. Ais mengambil pensil dan mulai melingkari bagian yang harus direvisi.
Setelah selesai, Ais meletakkan kembali berkas itu. Karena bosan, Ais memilih untuk berjalan-jalan. Ais pergi ke rooftop. Dia ingin menikmati angin yang berhembus dari sana.
Sesampainya di sana, Ais memilih untuk menatap pemandangan. Angin yang berhembus sangatlah segar. Meskipun cuaca sedikit panas, dengan adanya angin yang berhembus, membuat rasa panas berkurang.
Tak terasa sudah 1 jam Ais berada di sana. Kepala Ais terasa pusing. Mungkin karna dia terlalu lama di bawah terik matahari.
Selesai meeting, ustadz Yusuf, Ando dan ustadzah Reni kembali ke ruangan ustadz Yusuf. Saat kembali, mereka tidak melihat Ais.
"Ais pergi ke mana?" tanya ustadz Yusuf.
"Aku tidak tau." jawab ustadzah Reni.
"Mungkin dia berjalan-jalan?" sangka Ando.
Ustadz Yusuf bertanya pada Zea di mana keberatan Ais. Namun Zea menjawab tidak tau. Ustadz Yusuf dan yang lainnya berpencar untuk mencari Ais. 30 menit mencari mereka tak membuahkan hasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengecek CCTV perusahaan.
Setelah mengetahui keberadaan Ais, ustadz Yusuf langsung berlari menuju rooftop. Sesampainya di rooftop, ia menemukan Ais sedang berdiri.
"Ais.." panggil ustadz Yusuf dengan nafas yang terengah-engah.
Ais membalikkan tubuhnya dan menghadap ustadz Yusuf. "Mas Yusuf." lirih Ais.
Ustadz Yusuf berlari dan langsung memeluk Ais dengan erat. Ais bingung kenapa suaminya itu tiba-tiba memeluknya.
"Mas cariin kamu dari tadi." ucap ustadz Yusuf. "Kenapa kamu gak bilang mau ke sini?"
"Maaf mas. Tadi Ais bosen, terus Ais ke sini deh. Ais mau minta izin tapi takut ganggu mas." sesal Ais.
Ustadz Yusuf melepaskan pelukannya. "Lain kali jangan gitu lagi ya. Mas takut kamu kenapa-napa."
__ADS_1
"Iya mas."
Setelah urusan selesai, mereka kembali ke pesantren. Sesampainya di pesantren, Ais menidurkan tubuhnya. Sejak dari perusahaan kepalanya terasa sakit. Ustadz Yusuf pergi untuk mengajar para santri.
Pukul 17.00 kepala Ais masih terasa sakit. Ais tidak tau kenapa kepalanya bisa sesakit ini. Ais duduk di sofa yang ada di kamar.
"St.. kenapa kepalaku sangat sakit?" Ais memegang kepalanya. "Tidak mungkin karna terlalu lama di rooftop kan?"
Cklek..
Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan ustadz Yusuf.
"Assalamualaikum.." seru ustadz Yusuf.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Ais.
Ais berjalan dan mencium tangan ustadz Yusuf. Saat hendak kembali ke sofa, Ais tiba-tiba tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Alhasil dia oleng dan dengan sigap ustadz Yusuf langsung menahan Ais.
"Astaghfiirullah.. Sayang.. kamu kenapa?" tanya ustadz Yusuf khawatir.
"Kepala aku pusing mas." jawab Ais.
Ustadz Yusuf membantu Ais duduk di atas sofa. Ustadz Yusuf ikut duduk dan menggenggam tangan mungil Ais.
Ais menggelengkan kepalanya. "Setelah makan siang aku minum obat kok."
Ustadz Yusuf terlihat sangat khawatir.
"Kamu tenang aja mas. Mungkin aku cuma kecapean. Jangan gitu dong mukanya."
"Aku khawatir sama kamu."
"Aku gak papa. Ini cuma pusing biasa. Nanti juga hilang."
Ustadz Yusuf memeluk Ais dengan sayang. Ais dapat merasakan kehangatan dari pelukan ustadz Yusuf.
"Mas kamu sayang gak sama aku." tanya Ais tiba-tiba.
"Kenapa kamu nanya gitu?" ustadz Yusuf malah balik bertanya.
"Gak papa. Aku mau tau aja." jawab Aiz.
"Mas sayang sama kamu karna Allah." jawab ustadz Yusuf.
__ADS_1
Ais tersenyum.
"Mas cinta sama aku?" tanya Ais lagi.
"Mas cinta sama kamu karna Allah." jawab ustadz Yusuf.
Ais kembali tersenyum. Dia merasakan kejujuran dari ucapan suaminya itu. Ais menunggu ustadz Yusuf melontarkan pertanyaan yang sama padanya. Namun dia tak kunjung bertanya. Ustadz Yusuf malah asik memeluk Ais.
3 bulan berlalu. Ais sudah menyiapkan diri untuk bersekolah lagi. Ais akan se kelas bersama Kia. Meskipun ia sudah cukup lama di pesantren, Ais masih belum menemukan orang yang bisa dekat dengannya kecuali Kia.
Ustadzah Reni berhasil menjadi sekretaris ustadz Yusuf. Sebenarnya Ais tidak senang. Namun melihat ustadz Yusuf, Ais menjadi kasihan. Dia mau pekerjaan ustadz Yusuf tidak terlalu berat.
Ando juga berhasil menjadi sekretaris ustadz Yusuf. Ando dan ustadzah Reni memiliki kontrak kerja berbeda. Ando memiliki kontrak kerja selama 1 tahun dan itu pun bisa diperpanjang. Sedangkan ustadzah Reni memiliki kontrak kerja selama 6 bulan. Itu juga sama bisa diperpanjang.
Saat ini Ais dan ustadz Yusuf bersiap untuk tidur. Seperti biasa Ais selalu memeluk ustadz Yusuf setia malam. Dada bidang ustadz Yusuf adalah tempat ternyaman baginya.
"Kamu udah siap masuk sekolah?" tanya ustadz Yusuf sambil mengelus kepala Ais.
"Siap dong mas." balas Ais.
"Bagus deh.."
Hening.
"Mas.."
"Hm.."
"Maafin aku ya." ucap Ais.
"Maaf kenapa?" heran ustadz Yusuf.
"Aku udah kasih kamu banyak masalah. Aku sadar, aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Sikap dan perkataan aku kasar. Banyak orang yang menyayangkan aku menjadi istri kamu. Mereka gak suka aku jadi istri kamu. Aku juga tau di luar sana masih banyak wanita yang lebih baik dan lebih cocok untuk bersanding dengan kamu." jelas Ais.
"Sayang.. kamu bicara apa sih?" resah ustadz.
"Dengerin aku. Jika suatu hari nanti kamu menemukan wanita yang mencintai kamu dan kamu juga mencintai dia, jangan ragu mengatakannya padaku."
"Ais.. udah ah. Jangan bicara itu lagi. Mas tidak pernah berpikir seperti itu. Mas sering jelasin kan sama kamu. Mas menerima kamu apa adanya karna Allah. Mas cinta dan mas sayang sama kamu karna Allah."
Ustadz Yusuf menangkup wajah Ais.
"Kamu segalanya bagi mas." ucap ustadz Yusuf dengan tatapan yang begitu dalam.
__ADS_1
Ais tersenyum. Dia merasa sangat beruntung menjadi istri ustadz Yusuf.