Imam Hidupku

Imam Hidupku
Tamu


__ADS_3

Setelah selesai bicara dengan umi Maryam, Ais memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Tak ada yang bisa dia lakukan. Dia ingin berkeliling pesantren. Tapi dia malas untuk melakukannya. Dia ingat, dia belum membereskan pakaiannya ke dalam lemari. Akhirnya Ais memutuskan merapikan pakaiannya.


Saat sedang fokus merapikan pakaian, ustadz Yusuf masuk ke dalam kamar. Namun Ais tidak nyadari kedatangan suaminya itu.


"Assalamu'alaikum.." sapa ustadz Yusuf.


"..." Ais diam tak menjawab.


Ustadz Yusuf melihat Ais sedang duduk membereskan pakaian sambil melamun. Dia pun segera menghampiri Ais.


"Ais.." panggil ustadz Yusuf.


"Eh, mas Yusuf." ujar Ais sedikit kaget. "Mas kapan datang?"


"Baru aja datang."


"Kenapa gak ngucapin salam?"


"Mas udah ngucapin salam. Cuma kamunya gak denger."


"Benarkah?"


"Iya.."


"Kalo gitu, Wa'alaikumsalam.."


"Lain kali, kamu kalo lagi kerja jangan ngelamun ya. Banyak ngelamun itu gak baik."


"Iya mas.." balas Ais sambil tersenyum.


Ustadz Yusuf ikut duduk bersama Ais.


"Mas bantuin ya." ucap ustadz Yusuf.


"Gak usah mas. Tinggal sedikit kok." tolak Ais.


"Terus mas harus ngapain?" tanya ustadz Yusuf.


"Ya terserah mas. Mas biasanya ngapain?"


"Mas biasanya nemenin kamu"


Ais terdiam. Tanpa berkata lagi, Ais melanjutkan pekerjaannya. Ustadz Yusuf terus memandang Ais. Yang dipandang pun merasa grogi karna terus diperhatikan.


"Mas kenapa malah liatin aku?" tanya Ais.


"Karna mas mau." jawan ustadz Yusuf dengan entengnya.


"Jangan terus liatin aku ah. Nanti suka."


"Mas emang udah suka. Udah cinta malah."


Ais terdiam. Dia salah dengan mengatakan itu pada ustadz Yusuf. Ais melanjutkan pekerjaannya.


10 menit kemudian, Ais sudah selesai dengan pekerjaannya. Dari arah pintu, ada yang mengetuk pintuk. Ustadz Yusuf membuka pintu kamarnya. Dan tampak lah umi berada di depan pintu.


"Umi, ada apa?" tanya ustadz Yusuf.


"Itu di ruang tamu ada yang ingin bertemu dengan Ais." jawab umi.


"Siapa? Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


"Kenapa laki-laki itu mau menemui Ais?" ustadz Yusuf merasa cemburu karna ada pria yang ingin menemui istrinya, Ais.


"Dia seorang pengacara. Dia bilang dia pengacara pak Bayu (ayahnya Ais)." terang umi.


"Oh.. Aku kira siapa."

__ADS_1


"Kamu ini, cemburuan banget."


"Biarin dong umi. Kan sama istri sendiri."


"Heheh.. ya sudah, cepat kalian temui. Tidak baik membuat orang menunggu."


"Baik umi. Nanti aku sama Ais akan temui pengacara itu."


"Sekarang, jangan nanti."


"Iya.. sekarang."


Umi pun pergi dan ustadz Yusuf masuk kembali ke dalam kamar.


"Siapa mas? Kedengarannya seperti suara umi." tanya Ais.


"Itu memang umi." jawab ustadz Yusuf.


"Ada keperluan apa?"


"Umi bilang, di ruang tamu ada pengacara ayah kamu."


"Mau apa dia ke sini?"


"Dia mau ketemu kamu."


"Hah.." Ais menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa?" tanya ustadz Yusuf aneh pada Ais. Karna Ais seperti tidak mau menemui pengacara itu.


"Aku gak mau ketemu sama dia." jawab Ais.


"Kenapa gak mau ketemu?"


"Aku gak suka sama dia. Mas tau, dia itu pria gak baik. Tampangnya aja keliatan baik. Tapi dalemnya, ih.. amit-amit.." cerca Ais.


"Iya aku tau gak baik, tapi itu kenyataannya."


"Udah. Sekarang kamu temui dia ya."


"Gak mau ah." tolak Ais.


"Ais.. ayo. Kasian dia dari tadi nungguin kamu." bujuk ustadz Yusuf.


"Mas.. Aku gak mau ketemu dia. Mas aja yang ketemu sama dia." Ais masih menolak.


"Mas juga akan ketemu dia. Tapi sama kamu. Ayo.."


"Ck ah.. Ya udah iya.." pasrah Ais.


Karna ustadz Yusuf terus membujuknya menemui pengacara itu, dengan terpaksa Ais menuruti ucapan ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf dan Ais pergi ke ruang tamu dan menemui pengacara itu.


"Assalamu'alaikum.." sapa ustadz Yusuf.


"Wa'alaikumsalam.." balas pengacara itu.


Ustadz Yusuf dan mengacara itu saling berjabat tangan. Sementara Ais dia memandang entah ke mana. Yang jelas dia tidak mau melihat wajah pengacara itu.


"Maaf sudah menunggu lama." sesal ustadz Yusuf.


"Tidak juga kok."


"Ada perlu apa, pak pengacara ingin bertemu dengan Ais?" tanya ustadz Yusuf to the point.


"Begini, sebelumnya perkenalkan nama saya Reyhan. Saya pengacara alm. Pak Bayu. Saya sudah dipercaya sebagai pengacara beliau selama 5 tahun."


Ustadz Yusuf menyimak penjelasan Reyhan.


"Sebulan lalu, dia sudah membuat surat wasiat. Entah itu karna punya pirasat, atau tidak, tapi dia sudah mempersiapkan wasiat untuk anak-anaknya."

__ADS_1


Ustadz Yusuf menganggukkan kepalanya.


"Ais, apa kamu sudah siap mendengar isi wasjatnya?" tanya Reyhan.


"Dengar, kini aku sudah bersuami. Jadi katakan saja pada suamiku. Kau tidak perlu mengajakku bicara." ketus Ais.


"Baiklah.." Reyhan tersenyum nanar.


"Memang bagaimana isi surat wasiat itu pak Reyhan?" tanya ustadz Yusuf.


"Isinya, jika dibandingkan dalam persentase, menjadi 60% untuk Ais. Dan 40% untuk Aqeela."


Ais langsung menatap Reyhan.


"Jangan bohong kamu. Aku tidak mungkin mendapatkan 60%, sedangkan Aqeela hanya 40%." bantah Ais.


"Tapi itulah yang tertulis."


Ais bingung. Dia merasa ayahnya tidak akan memberinya bagian lebih banyak. Karna anak kesayangannya adalah Aqeela. Ais yakin ada yang salah pada surat wasiat itu.


"Baiklah. Jika itu kebenarannya. Terima kasih karna kau sudah menjadi pengacara alm. ayahku selama 5 tahun. Sekarang, kau dibebas tugaskan. Kau bukan lagi pengacara keluargaku. Kau bisa menaruh berkas-berkas keluargaku di sini." ucap Ais.


Reyhan membulatkan matanya sempurna. Apa baru saja dia dipecat? Beberapa menit yang lalu dia baru membacakan wasiat dari ayah Ais. Air liurnya pun belum kering, tapi dia sudah dipecat?


"Tidak bisa seperti itu Ais." protes Reyhan.


"Kenapa? Toh, kamu sudah menyampaikan wasiatnya. Kamu itu dipekerjakan oleh ayahku. Seperti yang kau tau, sekarang ayahku sudah tidak ada. Jadi kau bukan lagi pengacaranya." balas Ais.


Reyhan terdiam.


"Dan satu lagi. Mulai sekarang, semua bisnis ayahku, akan dipegang oleh suamiku."


Reyhan membelalakan matanya tidak percaya. Bagaimana bisa Ais membiarkan ustadz Yusuf memegang semua bisnisnya?


"Tapi itu tidak bisa!" tolak Reyhan.


"Kenapa tidak bisa? Bagianku akan dipegang oleh suamiku. Dan bagian Aqeela, akan diwakafkan untuk pesantren ini."


"Kamu gila? Bisnis sebesar itu mau kamu berikan begitu saja?" desis Reyhan.


"Pak Reyhan, jaga ucapan anda. Ais adalah istri saya." ustadz Yusuf memberi peringatan pada Reyhan.


Reyhan pun diam oleh peringatan ustadz Yusuf.


"Dengar. Untuk urusan akhirat, tidak ada yang mubadzir, tuan Reyhan. Tidak ada juga yang namanya menghambur-hamburkan harta. Dan lagi tidak ada yang namanya percuma. Sekarang Aqeela sudah tenang di sisi Allah. Jika bagian harta yang dia miliki membuat dia terhalang masuk surga, maka lebih baik wakafkan saja. Jika di wakafkan, Aqeela juga akan mendapat pahala. Tak ada yang salah dengan itu. Orang yang yang sudah menginggal tidak akan memperdulikan harta yang ada di dunia." terang Ais.


"Dan lagi.. Keluargaku tidak serakah akan harta. Aku tidak akan mengambil bagia adikku sendiri. Tidak sepertimu." sindir Ais.


Reyhan bungkam. Dia merasa sangat terhina oleh ucapan Ais. Namun Reyhan tidak bisa membalikkan ucapan Ais.


"Jadi tuan Reyhan, kau harus ingat apa yang aku katakan tadi. Mulai sekarang dan seterusnya, kau bukan pengacara keluargaku. Semua bisnis, akan dipegang oleh suamiku. Semuanya. Kau mengerti? Kau boleh pergi." usir Ais.


Bagaimana bisa Reyhan, seorang pengacara terkenal, kalah bicara dengan kliennya? Ralat, maksudnya mantan kliennya. Memalukan sekali.


"Bailah kalo itu yang kamu mau. Aku permisi. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam.." jawab Ais dan ustadz Yusuf.


Setelah meletakan semua dokumen keluarga Ais, Reyhan pergi.


Ais menatap jengah dokumen yang berada di atas meja.


"Ais, kenapa kamu bicara seperti itu pada pak Reyhan?" tanya ustadz Yusuf.


"Mas gak tau bagaimana sipat aslinya dia. Dia lebih najis dari anj1ng. Besok aku akan mengepel rumah. Rumah ini sudah terkena najis anj1ng itu." tekan Ais.


Ais pergi ke kamar meninggalkan ustadz Yusuf di ruang tamu. Ustadz Yusuf berbalik dan dia dikagetkan karna abi, umi, Kia dan Azka berada di sana. Mereka pasti mendengar Ais berbicara kasar.


Tentunya mereka sama terkejutnya dengan ustadz Yusuf. Namun mereka harus ingat, ini Ais. Bukan Aqeela yang selalu bersikap dan berkata lemah lembut. Ustadz Yusuf hanya bisa tersenyum pasrah.

__ADS_1


__ADS_2