Imam Hidupku

Imam Hidupku
Pelukan Seorang Ibu


__ADS_3

Ais mengantar ustadz Yusuf ke depan. Dia sangat khawatir karna ini pertama kalinya ustadz Yusuf pergi setelah terserempet motor.


"Mas yakin tangannya udah gak sakit?" tanya Ais memastikan.


"Iya Ais. Tangan mas udah gak sakit kok."


"Jangan kecapean ya. Kalo capek istirahat aja."


"Iya istriku.."


"Kalo laper makan. Jangan ditunda-tunda."


"Iya bidadariku.."


"Kalo kerjaannya udah selesai langsung pulang. Jangan keluyuran."


"Iya sayangku.."


Ais terus saja memberi wejangan pada ustadz Yusuf.


Tin.. tin..


Klakson mobil berbunyi.


"Suf cepetan. Udah jam berapa ini.." panggil ustadz Hanafi dari dalam mobil.


"Iya. Ini juga udah kok." balas ustadz Yusuf.


"Kalian bukan pengantin baru lagi ya. Jadi gak usah so mesra." tegur ustadz Yusuf.


Ais berjalan cepat menuju ustadz Hanafi yang sudah berada dalam mobil.


"Bilang aja kak Hanafi itu iri." balas Ais.


"Apaan. Gak ya aku gak iri sama sekali." sangkal ustadz Hanafi.


"Makannya cari istri dong."


"Aku gak mau punya istri kayak kamu. Galak"


"Apa maksudnya? Aku gak galak." marah Ais.


"Aduh.. kok malah ribut.." gumam ustadz Yusuf menepuk keningnya.


"Sayang udah ya. Mas berangkat dulu." ustadz Yusuf menghampiri Ais dan menjauhkan Ais dari mobil.


"Hati-hati."


"Iya."


Ais mencium tangan ustadz Yusuf.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." ucap ustadz Yusuf.


"Wa'alaikumsalam." balas Ais.


Ustadz Yusuf masuk ke dalam mobil.


"Jangan ngebut bawa mobilnya. Inget kak Hanafi bawa suami aku." ucap Ais mengingatkan ustadz Hanafi yang menyupiri mobil.


"Iya bawel." balas ustadz Hanafi.


Tak lama mobil pun berjalan pergi. Ais kembali masuk ke dalam rumah. Dia hendak membereskan rumah. Saat dia sedang menyapu, ada beberapa orang santriwati yang datang ke rumah.


Ais sudah tau apa tujuan para santriwati itu. Mereka hendak membereskan rumah abi Bahar. Setiap minggu memang selalu ada santriwati yang datang dan akan membereskan rumah. Namun terkadang Ais meminta mereka untuk kembali ke asrama mereka. Ais berpikir dia masih mampu membereskan rumah sendiri. Apalagi ada Kia dan Azka yang selalu membantunya.


seperti sekarang, Ais berusaha membujuk para santriwati itu untuk kembali. Namun mereka tidak mau. Mereka bersikeras ingin membereskan rumah abi Bahar.


Kali ini Ais yang mengalah. Dia membiarkan para santriwati itu yang membereskan rumah.


Ais melihat umi Maryam sedang berjemur. Dia pun memutuskan untuk menemani umi Maryam.


"Umi.." sapa Ais.


"Eh, Ais.."


"Ais boleh ikut duduk?"


"Boleh dong sayang.."


"Umi ada yang mau Ais katakan."


"Apa?"


"Sebenernya Ais udah lama mau bilang ini."


"Emang bilang apa?"


"Ais mau minta maaf."


"Minta maaf kenapa?" umi Maryam tampak bingung mendengar permintaan maaf dari Ais.


"Maaf karna Ais belum bisa jadi menantu yang baik buat umi dan abi. Ais tau dan Ais sadar kalo Ais ini gak baik. Ais bicaranya kasar. Dilihat dari segi mana pun Ais tidak pantas dengan mas Yusuf. Umi dan abi juga pasti tau itu."


Umi Maryam mendengarkan ucapan Ais. Dia tidak bisa menyangkal apa yang Ais katakan, karna semua itu kebenaran.


"Tapi Ais bersyukur karna mas Yusuf mau menerima segala kekurangan Ais. Ais harap umi dan abi mau merima kekurangan Ais. Maaf atas segala perilaku kasar Ais. Ais akan berusaha menjadi istri dan menantu yang baik." ucap Ais dengan tulus.


Umi Maryam memandang Ais. Dia tersenyum penuh kebanggaan. Tiba-tiba umi Maryam memeluk Ais dengan penuh kehangatan. Ais membalas pelukan umi.


"Umi sudah menganggap kamu sebagai putri umi. Bukan menantu. Umi tidak bisa menyalahkan perkataan kamu. Namun umi bahagia karna kamu mau berubah."


Ais tersenyum. "Makasih umi."

__ADS_1


"Iya sayang. Umi harap kamu bisa mencintai suami kamu sebagaimana dia mencintai kamu. Kamu juga harus bisa menerima segala kekurangan Yusuf. Bukan hanya kamu yang punya kekurangan. Suami kamu juga manusia. Banyak sekali kekurangan pada dirinya."


Ais menganggukkan kepalanya. "Ais mencintai mas Yusuf lebih dari dia mencintai Ais." ucap Ais.


"Kamu sudah mencintai Yusuf?" tanya umi memegang bahu Ais.


Ais tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah.. berarti umi dan abi akan segera dapet cucu." eletuk umi.


Mendengar kata cucu, seketika senyum Ais memudar. Umi menyadari perubahan Ais.


"Ada apa? Apa kalian tidak mau memberi kami cucu?" tanya umi.


"Tidak umi. Bukan itu. Hanya saja.." Ais menggantungkan ucapannya.


Umi memutuskan untuk pindah ke dalam. Dia dan Ais harus berbicara secara tersembunyi.


Para santriwati yang membereskan rumah abi sudah selesai. Jadi umi dan Ais bisa leluasa berbicara. Ais memilih bercerita di dalam kamarnya. Umi mengikuti keinginan Ais.


Ais mengatakan hal yang sebenarnya pada umi. Dia tidak bisa terus memendam perasaan gelisahnya. Setidaknya dia harus menyampaikan kegelisahannya pada orang mengerti.


"Jadi seperti itu.." ucap Umi setelah mendengar cerita dari Ais.


"Iya umi."


"Kamu harus Ais. Umi yakin Yusuf punya alasan tertentu. Jangan berpikir yang macem-macem ya."


"Iya umi. Makasih ya umi udah mau dengerin cerita Ais. Kalo ibu Ais masih ada, mungkin Ais juga akan bercerita seperti ini." Ais merasa sedih mengingat keluarganya.


"Sabar ya sayang. Umi kan ada. Umi juga ibu kamu. Kamu gak boleh sedih.." umi berusaha menguatkan Ais.


Ais menganggukkan kepalanya sambil mengusap air mata yang keluar.


Umi memeluk Ais dengan penuh kasih sayang. Ais merasa sangat nyaman berada di pelukan umi. Dia merasakan kehangatan seorang ibu.


"Assalamu'alaikum.." ucap seseorang membuka pintu kamar Ais.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Ais dan umi.


Ais lepas dari pelukan umi.


"Mas Yusuf." gumam Ais.


"Ais.. kamu kenapa?" ustadz Yusuf langsung panik melihat ais mata Ais yang keluar. "Umi Ais kenapa?" tanya ustadz Yusuf pada umi.


Umi hanya tersenyum dan menepuk pundak ustadz Yusuf kemudian dia keluar dari kamar. ustadz Yusuf merasa heran melihat umi yang tidak menjawab dan keluar begitu saja.


"Kamu kenapa sayang? Kok nangis sih?"


"Aku kangen keluarga aku mas.." jawab Ais dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Ustadz Yusuf langsung memeluk Ais dengan erat. Ais menangis diperlukan ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf mengelus punggung Ais guna memberi rasa tenang pada Ais.


__ADS_2