Imam Hidupku

Imam Hidupku
Kesal


__ADS_3

Ais masuk ke kamar dengan perasaan dongkol. Entah kenapa dia merasa marah. Entah itu karna kedatangan Reyhan. Atau karna suaminya yang terkesan membela Reyhan.


Ais duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap tajam ke depan. Entah apa yang dia tatap. Sampai-sampai tatapannya bisa setajam itu.


Sehabis isya.


Ais sedang melipat mukena dan sejadahnya, yang menandakan Ais baru selesai menunaikan ibadah shalat isya.


"Assalamu'alaikum.." ustadz Yusuf masuk ke dalam kamar.


"Wa'alaikumsalam.." balas Ais.


Ais menyalami tangan ustadz Yusuf.


"Kamu udah makan malam?" tanya ustadz Yusuf.


"Belum." jawab Ais.


"Kita makan malam yuk. Abi, umi, Azka dan Kia udah nunggu di meja makan." ajak ustadz Yusuf.


"Aku gak mau makan mas." tolak Ais.


"Kenapa?"


"Ya gak mau."


"Makan yuk. Sedikit.. aja."


"Gak mau mas."


"Ya udah, mas bawa aja makanannya ke sini ya." bujuk ustadz Yusuf.


"Gak usah mas. Aku gak mau makan." Ais menolak lagi.


"Kenapa gak mau makan, Ais?"


"Karna aku gak mau makan."


"Hm.. kalo gitu mas juga gak mau makan." ujar ustadz Yusuf.


"Kenapa?" heran Ais.


"Gak mau." jawab ustadz Yusuf.


"Kenapa mas jadi ikutan gak mau makan?"


"Ya.. Karna mas gak mau makan."


"Mas harus makan."


"Gak mau."


"Makan mas."

__ADS_1


"Gak mau Ais.. Gimana mas mau makan, kalo istri mas aja gak mau makan."


"Ih.. mas. Kok jadi gini sih?" protes Ais.


Ustadz Yusuf diam.


"Huh.." Ais mendengus kesal. "Ya udah, ayo makan." ajak Ais dengan terpaksa.


Ais berjalan mendahului ustadz Yusuf keluar kamar. Ustadz Yusuf tersenyum dan mengikuti langkah Ais.


Ais menuju meja makan, di mana sudah ada semua anggota keluarga yang menunggu kedatangan Ais dan ustadz Yusuf. Mereka heran karena wajah Ais terlihat sangat kesal. Namun berbeda dengan ustadz Yusuf. Wajahnya tersenyum lebar.


Edisi makan malam diiringi dengan keheningan. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu. Setelah selesai makan, Ais pergi ke kamar.


Ais melihat rak buku milik ustadz Yusuf. Dia memutuskan untuk mengambil salah satu buku itu dan membacanya sambil duduk di sofa.


Ais mengambil buku cerita istri Baginda Nabi Muhammad SAW, Siti Khodijah. Ais cukup tertarik pada buku itu.


Setelah 15 menit membaca buku, dia tidak juga mendapati suaminya masuk ke dalam kamar. Dia heran kenapa ustadz Yusuf tidak kembali ke kamar.


"Mas Yusuf ke mana sih? Kok gak balik-balik?" gumam Ais. "Tapi ah.. bodo amat. Aku gak peduli."


Ais berusaha tidak memperdulikan ustadz Yusuf. Dia juga berusaha untuk tidak memikirkannya terus. Tak lama rasa ngantuk mendatangi Ais. Ais tidak bisa menahan kantuknya. Dia tertidur di atas sofa sambil memegang buku ditangannya.


10 menit ke mudian, ustadz Yusuf kembali ke kamar. Saat kembali, dia dikagetkan oleh Ais yang tertidur di atas sofa. Ustadz Yusuf mengambil alih buku yang ada di tangan Ais. Ustadz Yusuf tersenyum saat membaca judul buku yang dibaca Ais.


Ustadz Yusuf menaruh buku itu ke atas meja. Lalu dia mengangkat tubuh Ais dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Ustadz Yusuf menyelimuti Ais.


"Kamu pasti marah sama aku. Maafin aku ya, sudah membuatmu marah dan kesal." ucap ustadz Yusuf.


Ustadz Yusuf menjauh dan pergi ke kamar mandi. Ustadz Yusuf keluar dengan keadaan suci, karna habis berwudhu. Ustadz Yusuf melakukan shalat sunnah.


Setelah selesai, ustadz Yusuf berdo'a dan mengganti pakaiannya. Kemudian dia kembali mendekat ke arah Ais. Dia ikut berbaring di samping Ais.


Ustadz Yusuf melihat wajah tenang Ais. Seketika dia teringat sikap Ais yang begitu kasar pada Reyhan. Entah kenapa Ais terlihat sangat tidak suka pada Reyhan. Sampai-sampai dia berani mengusirnya secara langsung. Dia bahkan menyamakan Reyhan dengan anj1ng. Tak lama ustadz Yusuf pun ikut terlelap bersama Ais.


"Ayah.. Ibu.. ayo pulang. Kita gak usah beli es cream."


"Kenapa? Aku mau beli es cream."


"Gak boleh. Pokoknya kita harus pulang."


"Gak. Aku mau beli es cream."


"Kenapasih kamu ngeyel banget mau es cream? Besok kan bisa?"


"Pokoknya aku mau sekarang."


"Gak boleh. Sekarang, kita harus pulang."


"Gak mau. Aku gak mau pulang sebelum beli es cream."


"Dasar keras kepala"

__ADS_1


"Pokoknya aku mau beli es cream."


"Ayah.. Ibu.. ayo pulang. Kita pulang.."


"Ayah.."


"Ibu.."


"AAA..!"


Ais terbangun dengan peluh yang membasahi wajahnya. Ais mengatur nafasnya. Ustadz Yusuf terbangun karna Ais.


"Ais, kamu kenapa?" tanya ustadz Yusuf.


Ais tidak menjawab. Dia hanya menatap ustadz Yusuf dengan wajah yang masih syok.


"Mimpi buruk lagi?" tebak ustadz Yusuf dan diangguki oleh Ais.


Ustadz Yusuf mengusap pungguh Ais. Sekarang Ais pasti ketakutan. Hampir setiap malam Ais mimpi buruk. Dan mimpi itu adalah mimpi yang sama.


Ustadz Yusuf melihat ke arah jam yang terpasang di dinding. Jam itu menunjukkan pukul 01.15.


"Kita wudhu yuk. Lalu shalat tajahud. Supaya hati kamu lebih tenang"


Ais menganggukki ajakan ustadz Yusuf. Keduanya menjalakan shalat tahajud bersama. Setelah salat tahajud, ustadz Yusuf menuntun Ais untuk tidur kembali.


Entah mimpi apa yang membuat Ais tak bisa tidur dengan nyenyak. Ustadz Yusuf tidak pernah bertanya pada Ais. Begitu pun Ais. Dia tidak mau menceritakan mimpi yang dialaminya. Lagipula, kata orang mimpi buruk memang tidak boleh diceritakan.


Hati Ais merasa lebih tenang. Ais mencoba untuk tidur kembali. Namun matanya tak mau terpejam. Berulang kali Ais hampir terlelap. Namun seketika dia kembali bangun.


Ustadz Yusuf menyadari kegelisahan Ais. Dia merasa sedih melihat Ais seperti ini.


Ustadz Yusuf melihat cairan bening keluar dari sudut mata Ais. Cairan itu segera Ais hapus dengan tangannya. Ais menyadari kalo ustadz Yusuf belum tidur dan melihat dia menangis. Ais membalikkan tubuhnya membelakangi ustadz Yusuf.


Ingin rasanya ustadz Yusuf memeluk Ais dari belakang. Namun dia takut Ais akan marah pada sikapnya. Ustadz Yusuf melihat tubuh Ais bergetar. Dia juga mendengar isak tangis Ais. Rupanya Ais sedang menangis. Tubuhnya bergetar karna menahan tangis.


Tak ada angin, ustadz Yusuf memeluk Ais dari belakang. Dia tak perduli jika nanti Ais marah padanya. Yang jelas kini dia tak tahan melihat Ais seperti ini.


"Lepasin mas.." ucap Ais dengan bibir yang bergetar.


"Gak Ais. Mas gak akan lepasin kamu." tolak Yusuf.


"Lepasin mas.." pinta Ais.


"Gak.."


"Mas.. lepasin.."


Semakin dilarang, ustadz Yusuf semakin mengeratkan pelukannya. Ais berusaha melepaskan diri dari ustadz Yusuf. Namun tenaganya kalah kuat dengan ustadz Yusuf. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dipeluk oleh ustadz Yusuf.


Ustadz Yusuf membalikkan tubuh Ais. Terlihatlah wajah Ais yang basah karna oleh air mata. Ustadz Yusuf kembali memeluk Ais dengan hangat.


Ais yang mendapat pelukan hangat, dia semakin ingin menangis. Dan akhirnya tumpah lah air mata Ais dipelukan ustadz Yusuf. Entah sudah berapa kali Ais menangis dipelukan ustadz Yusuf.

__ADS_1


Ustadz Yusuf miris melihat kondisi Ais. Setelah kecelakaan mobil, wajah Ais terlihat murung. Tak ada kebahagiaan di wajahnya. Dia seperti menyesali sesuatu. Ais selalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia menganggap kecelakaan itu karena ulahnya.


__ADS_2